radith + sapardi = … ?

Dari penyair-penyair Indonesia, cuman Sapardi Djoko Damono yang bisa bikin gue jadi “aaaaaaaaah” sambil bikin lemes. Gue jatuh cinta sama dia semenjak baca puisinya yang ini, yang udah lumayan banyak dikutip orang-orang..

AKU INGIN

aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Aaaaah. Pak Sapardi, kalo mo bunuh gue, bunuh aja pake piso, gak usah pake kata-kata. Kalo aja Pak Sapardi cewek, pasti udah gue kawinin. Gue sering berandai-andai, kalo gue kawin sama Sapardi, anaknya bakalan kayak gimana ya? Hmmmmmmmm. Mari kita lakukan eksperimen.

radith sebelom dikawinin
ini lah radith pembawa gen ganteng

dikawinkan dengan..

sapardi sebelom kena musibah
sapardi, si pujangga keren bangetz (sampe harus pake “z”)

anaknya akan menjadi..

alien nyasar
SAPARDITH DJOKO DAMONO, alias alien nyasar

Wah, ganteng juga anak kita berdua.
Jadi terharu.

In the end, gue jadi ngebacain puisi-puisi Sapardi Djoko Damono di internet. Ini membuat gue ngerti bahwa ternyata kata-kata, yang tadinya cuman kumpulan huruf, bisa punya kekuatan yang begitu dasyat untuk ngebuat dada ini ngerasa anget. My favorite pick, untuk bulan puasa ini..

SAJAK-SAJAK KECIL TENTANG CINTA

/1/
mencintai angin
harus menjadi siut
mencintai air
harus menjadi ricik
mencintai gunung
harus menjadi terjal
mencintai api
harus menjadi jilat
/2/
mencintai cakrawala
harus menebas jarak
/3/
mencintai-Mu
harus menjelma aku

Aaaaaaaaaaaaaah. Lemes gue.

percakapan sehat antara ibu dan anak

Nyokap: Dika, coba kamu ke sini dulu
Gue: Kenapa ma?
Nyokap: Mama denger dari Ingga-Anggi..
Gue: Apaan?
Nyokap: Katanya, judul buku baru kamu ada Makankakus-makankakus-nya ya?
Gue: Iya, kenapa emang?
Nyokap: (ngamuk) KAMU NGAPAIN LAGI SAMPAI MAKAN KAKUS?
Gue: Hah?
Nyokap: Iya, di buku baru kamu itu, kamu makan kakus?
Gue: Engga! Itu judulnya Radikus Makankakus tapi gak ada makan kakusnya

buku dan kaos

Nyokap: Katanya Ingga-Anggi, dalem buku itu ada potonya segala. Itu poto kamu makan kakus?
Gue: BUKAAAAN! Di buku itu ada poto-poto, tapi gak ada poto makan kakus, ya ampun.. makan kakus itu bagian dari judulnya.. Radikus Makankakus gitu lho.. Makanya, beli dulu bukunyaaa!
Nyokap: BENER?
Gue: Ya ampuuunnnn.. Bener. Beli aja bukunya!
Nyokap: Jadi gak ada makan kakusnya ya?
Gue: *ngeloyor pergi*

PS: image diambil dari sini, makasi yah windy :)

pacar

*tulisan berikut ini dimuat di kolom Endnote majalah perbukuan Bukune vol 1 no 11/September 2007

Menemukan buku untuk dibaca itu seperti menemukan pacar. Pertama-tama dilihat-lihat dulu dengan seksama, kalau cover-nya oke, baru deh dideketin. Bedanya, setelah ngerasa oke dengan pandangan pertama, bagian belakang bukunya bisa dipegang. Lah kalo nyari pacar dengan cara seperti itu (langsung pegang belakangnya) bisa ditabok kiri-kanan lah! Selanjutnya bisa ditebak, menemukan buku untuk dibaca berarti membaca lembaran demi lembaran pertamanya, kalau kita tertarik dengan paragraf pertamanya, kita akan baca lembaran berikut dan berikutnya dan berikutnya.

Menemukan pacar, juga seperti itu. Kita pergi keluar pertama dengan sang gebetan, duduk berdua di sebuah restoran atau café yang nyaman, berusaha saling membuka lembaran masing-masing. Membedah mereka seperti buku: narasi seperti apa yang mereka katakan (penuh nostalgia kah, atau sekadar memaparkan pengalaman), apakah diksi yang mereka pakai menarik (kasar kah, atau justru sangat sopan), apakah gaya tubuh mereka cocok, dan yang paling penting: nantinya, tahankah saya “membaca” dia untuk waktu yang sangaaaaaaaaaaaaat lama.

Setelah semua cocok,
baru masuk ke jenjang yang lebih mantep: pacaran.

Gue sering ngerasa emotionally attached dengan sebuah buku, kangen kalau ngga ngebaca tuh buku setelah waktu yang cukup lama. Ngerasa sayang, sampai-sampai kalau orang mau pinjem gue bakalan dengan galak teriak “engga boleh!”. Perjalanan panjang untuk jatuh cinta dengan sebuah buku, setelah dipikir-pikir cukup sama dengan merasa nyaman dengan pacar kita masing-masing.

kanan sayang kiri..
kanan sayang kiri

Namun, pacaran dengan orang yang tepat punya satu kriteria khusus: sanggupkah kita, setelah membaca lembaran demi lembaran hidup masing-masing, tumbuh tua bareng, dan pada akhirnya ketika ketemu hanya bisa diam karena tidak ada lagi yang bisa diceritakan.. sanggupkah kita berdua untuk gandengan tangan saja dan berada dalam suasana sunyi yang penuh kenyamanan.

Sanggupkah?

Pertanyaan itu tidak bisa dijawab dengan jawaban simpel seperti: “Kalau gak mampu, cari aja yang baru”. Tapi untuk direnungkan, dipikirkan, dan pada akhirnya berkata, “Oh, bagaimana kalau kita tulis kisah kita berdua sendiri. Cerita dari hasil pemahaman kita atas diri masing-masing, dan ekspektasi atas apa yang mungkin nanti terjadi.”

berkah bjah

Gak nyangka sama sekali, setelah 6 hari buku gue keluar, buku Radikus Makankakus udah cetak ulang yang kedua. Terimakasih buat temen-temen yang udah beli bukunya (yang minjem, awas lo! Hehe). Owe you to you guys! Eniwei, kegiatan promosional buku ketiga gue dibuka dengan dua talkshow ini:

1. Gramedia Bintaro Plaza
Minggu, 9 September 2007
Pukul 16.00

2. TM Bookstore, Depok Town Square
Sabtu, 29 September 2007
Pukul (To Be Announced)

Sampai ketemu di sana yaaa!

Selain itu, beberapa bulan ke depan gue akan ada seminar di Universitas Sahid dan Universitas Indonesia. Gue juga, masih tentatif, akan ada talkshow bareng dengan Pameran Buka Buku Production di Semarang, Solo, Surabaya, Jogja. Kalau ada tempat lain yang mau ngundang boleh-boleh aja. Hehe. Semua pemberitahuan akan dilakukan dari website ini.

Lanjut, ngomong-ngomong soal seminar, seminar gue di Fakultas Kesehatan Masyarakat UI cukup menyenangkan. Pesertanya antusias, walaupun gue rada kebanting sama pembicara yang lain (pembicara yang lain adalah praktisi TV dan media cetak yang sudah tidak muda lagi, sedangkan gue? Pembicara paling idiot). Gue ngasih seminar membahas media on-line dan makalah gue ngomongin soal Blog dan Citizen Journalism.

Ada satu ide yang gue tawarkan bagi kalian-kalian para blogger di luar sana dalam makalah gue, yang gue ingin bagi di sini. Yaitu dengan memposisikan blog sebagai sebuah produk. Intinya sih gini, jika kita memperlakukan blog sebagai produk, kita bisa memaksimalkan traffic ke dalam blog kita dengan strategi-strategi pemasaran yang efektif. Bisa dengan guerilla marketing dengan nyebar-nyebarin viral mail ke mailing list, jaringan friendster yang oke, atau mungkin gimmick yang keren bisa ngebuat blog kita semakin dibaca orang.

Strategi menemukan “nafas” dan diferensiasi blog yang tepat juga bisa membantu blog kita semakin “laku”. Misalnya, dalam ilmu pemasaran ada yang namanya Blue Ocean Strategy, yaitu bagaimana kita membuat blog kita jadi benar-benar berbeda sehingga kita hanya berlayar di “samudra biru” yang kosong melompong bukannya “samudra merah” yang sudah berdarah-darah karena kebanyakan kompetisi. Blog-blog yang ada di “samudra biru” seperti ini biasanya laku keras.

Contohnya, ada satu blog tentang cewek panggilan di London yang laku keras, bukan karena tulisannya bagus atau gimana ya, tapi karena tema yang dia tawarkan beda dan belom ada blog serupa di luar sana. Blog jktstreetlooks yang menampilkan foto-foto baju orang yang oke juga beda dan lagi jadi bahan omongan yang “hot” banget di antara temen-temen gue yang fashionista.

hoi, ini seminar bukan lawak

Berhubungan dengan teknik pemasaran yang tidak lazim, ada satu taktik yang gue lakuin sewaktu masih zaman-zaman dulu ngeblog untuk mendapatkan traffic yang banyak ke dalam website gue. Waktu itu ceritanya lagi heboh foto panas Bjah dan Sukma Ayu. Gue pun memasukkan kalimat “foto panas Bjah dan Sukma Ayu ada di sini” di dalam blog gue, padahal gak ada sama sekali. Hasilnya? Begitu orang-orang mesum mencari di google dengan keywords “foto” “bjah” atau “sukma ayu”, yang keluar justru website gue! Dalam sehari gue dapet lonjakan pengunjung sampai 2000 orang. Katakanlah sesial-sialnya 10% dari mereka jadi suka sama blog gue, berarti gue dapet tambahan 200 orang per hari. Kesimpulan dari kasus Bjah dan Sukma Ayu ini ada dua: 1. strategi gue berhasil, 2. orang Indonesia kebanyakan yang mesum. Hehe. (Makasih yah Bjah, gara-gara lo mesum blog gue jadi rame).

Ada case study dan pointers teknik-teknik lain yang gue masukin dalam makalah gue,
tapi kayaknya kepanjangan buat dimasukin ke sini.

And in all, kuliah gue udah dimulai lagi. Ini berarti membagi waktu lagi dan menemukan sela untuk kuliah sambil bekerja. Agak berat juga sih, mengingat semester kemaren gue sempet sampe kena gejala typhus gara-gara kecapean kuliah dan kerja. We’ll see how it goes.

Oh ya, untuk menutup, dan masih berhubungan dengan blog, gue baru menemukan terminologi baru buat orang yang suka nulis pengalaman sehari-harinya di blog: escribitionist. Escribitionist artinya “orang yang suka menulis pengalaman sehari-harinya melalui medium internet”. Nah lho, berarti gue escribitionist tulen dong? Mending lah dibandingin jadi exhibitionist. Hehe. :P

lose some, gain some

Di beberapa Gramedia di Jakarta buku terbaru gue, Radikus Makankakus: Bukan Binatang Biasa, udah tersedia. Ini poto yang gue ambil di Gramedia Plaza Semanggi.

gramedia semanggi

Seneng rasanya ngeliat buku baru ter-display di toko seperti itu. Ada rasa geli-geli gimanaaa gitu. Walopun malu juga pas nanya ke mas-mas toko buku tentang buku gue, “Mas, ada buku Radikus Makankakus gak?” Rasanya aneh bertanya tentang buku sendiri.

Lanjut, beberapa minggu lalu gue mengalami kejadian yang sangat-sangat tidak mengenakkan. Mobil gue dijebol waktu gue lagi jalan ke daerah Pejaten. Mobil baru aja gue tinggal parkir satu jam, eh pas balik.. kaca sebelah kirinya dipecahin berantakan dan tas gue yang BERISI LAPTOP digandol sama maling. Waktu gue balik ke mobil dan melihat kaca yang berantakan, gue masih bisa senyum-senyum dan berpikir “Oh, ntar diganti sama asuransi”. Tapi begitu gue tau laptop dicolong, gue langsung pengen bunuh diri nabrakin diri ke angkot.

Hilang bersama laptop tersebut adalah segala data di dalamnya. Yang berarti: naskah buku keempat yang udah jadi sebanyak 60 halaman, lalu naskah dari penulis-penulis lain yang minta dikasih endorsement, sama naskah dari orang-orang yang pengen jadi penulis. Nah, kalo malingnya pinter dan bisa nerbitin buku, bisa dibayangkan betapa banyak penulis yang akan terlukai. Oh, the drama! Jadi, hari-hari ini gue hanya bisa berdoa dengan kushyuk: “Tuhan, semoga maling saya bego.”

Ehm.

Nevertheless, gue langsung ngelapor ke Polsek di daerah Mampang mengenai insiden yang membuat kepala pusing ini. Dasar emang banci poto, bukannya ngelapor dengan baik dan benar, gue malah minta poto-poto sama si Pak Polisi. “Pak, saya kan jarang ke kantor polisi, poto-poto ya,” kata gue. Si Polisi yang gemar memelihara kumis itu pun hanya bisa tersenyum kecut.

pak polisi, malingnya dong

Tapi Pak Polisi yang berkumis eksotis itu tidak menjanjikan apa-apa ke gue. “Susah dek,” katanya. “Kalo kasus kecolongan laptop dengan mobil dijebol seperti ini malingnya akan sangat susah untuk ditangkap. Jangan terlalu banyak berharap ya.”

Gue hanya mengangguk lemas.

Jadi, kalo biasanya gue menulis tiap hari Minggu duduk di pojokan QB Kemang dengan laptop yang menyala, sekarang-sekarang ini gue cuman bengong di rumah. Paling engga, gue bisa jadiin laptop gue itu alesan buat pacaran. Ya tho, kalo gak nulis, kenapa gak pacaran aja? Hehe.

Tapi, emang bener kata orang: lose some, gain some. Ada yang ilang dalam idup gue, tapi gue juga dapet sesuatu dari hal lain. Laptop gue boleh ilang, tapi buku baru gue alhamdulilah dapet start sangat baik. Kata manager produksi Gagasmedia, dalam beberapa hari ini buku gue udah kejual rata-rata 50 eksemplar per toko buku. That’s really great to know, melebihi rasa sedih dari keilangan laptop. :)