Four Little Things

Beberapa hari libur ini bukannya nyantai tapi banyak banget yang harus dikerjain. Berasa kaya lagunya Arkana nih.. So little time so much to do. So, I’ll keep this post short, berikut beberapa hal yang mau gue sampein:

1. Buat temen-temen di Jogja, jadwal talkshow di Jogjakarta gue sebagai berikut:

28 Desember: Togamas Galeria, 13.30 WIB
29 Desember: Pameran Bukabuku, GOR UNY Jl. Colombo, 15.30 WIB

Sisanya ada talkshow radio tapi belom tau apa aja. Hehehehe. Eniwei, see ya there.

2. Ternyata tulisan gue sebelumnya tentang Cinta Laura kemaren lumayan heboh, sampe ada di forum kaskus segala. Huhuhuhu. Nah, makanya, gue mau klarifikasi sedikit, gue engga ada niat ngatain Cinta Laura. Karena gue ngefans banget sama dia (Oh my god Cinta, kyaaa kyaaaa). Gue sama Cinlau (panggilan akrab Cinta Laura) bersahabat sangat erat sekali, laksana tukang beras dengan berasnya. Untuk membuktikan, berikut di bawah ini foto gue sama Cinta Laura (yak emang pupil mata gue agak tebelan di poto ini):


best friend forever

3. Gue nulis tentang menulis humor di blognya Bukune. Judul tulisannya Schopenhauer dan Konseptualisasi Komedi. Bagi yang mau tau inspirasi nulis komedi gue, dan liat-liat gimana gue kalo nulis yang rada ilmiah bisa dilihat di situ. Hehehe.

4. Talkshow untuk buku Radikus Makankakus di Jakarta sendiri udah berakhir, so there will be no more talkshows di toko buku untuk buku ketiga gue itu. Rencananya sih pengen talkshow ke sekolah-sekolah kalau buku keempat udah terbit. Mudah-mudahan dikabulin ama bagian promosi sang penerbit. Hehe. Eniwei, untung minggu ini ada talkshow di Jogja, jadi bisa sekalian jalan-jalan liburan. Hehe.

Oke deh, over and out! Btw, maap rada telat, tapi selamat Idul Adha, selamat Hari Natal, dan kalo gue gak sempet ngepost lagi sampai tanggal satu nanti.. Met tahun baru semuanya! Over and out.

Analisa Setan Indonesia

Waktu gue nonton film Pocong 3 beberapa bulan lalu, ada adegan di mana si pocong berantem sama kuntilanak merah. Adegan berantemnya gak dikasih liat, tapi kalau begini mah udah jelas yang menang. Coba bayangin yang satu tangannya diiket, kalau bergerak harus lompat dulu, yang satu lagi rambutnya panjang dan bebas keliaran kemana aja. Ini jelas tidak fair! (emosi).

Maka, inilah waktunya gue sebagai mahasiswa Politik Universitas Indonesia unjuk gigi dan menganalisa setan Indonesia yang sering muncul di tipi berdasarkan keseramannya. Iya, emang gak nyambung sama jurusannya, tapi.. EMANG GUE PIKIRIN, NYET! Ehm, ini dia.. Analisa Setan Indonesia by Prof. Dr. Raditya Dika, M.Gt (maha ganteng)..

Pocong

Memang kasian sekali setan yang satu ini. Udah mati, bau, didandanin kayak permen pula. Sampai sekarang pocong masih bertanya dengan kritis, “Kenapa kalo gue udah mati tangan masih diiket juga?”. Pocong mungkin salah satu setan yang paling dirugikan: engga bisa nyetir, engga bisa maen Dance Dance Revolution, dan kalau kesenggol dikit guling-guling. Kasian deh.
Tingkat keseraman: 4

Suster Ngesot

Si suster yang satu ini sudah terlebih dahulu terkenal di dunia perhorroan. Kekuatan terbesarnya adalah jika sakit dapat mengobati dirinya sendiri.. namanya juga suster! Sayangnya, si suster tidak bisa punya hobi naik gunung. Cobain aja sendiri ngesot sambil ngedaki Gunung Salak. Buntung, buntung deh lo.
Tingkat keseraman: 7

Tuyul

Botak, kecil, dan menyerupai klitoris. Tuyul memang tidak bisa dianggap remeh. Tubuhnya yang kecil memungkinkan dia untuk menyelinap ke mana saja. Lari dengan lincah. Kalau ngelepas baju (kayak di Tuyul dan Mbak Yul), bisa tidak terlihat dari mata manusia. Sayangnya, kelemahan tuyul yang paling kentara adalah suka bermain Yuyu Kangkang. Tuyul juga terkenal mata duitan, makanya ada beberapa Tuyul yang menjadi pejabat negara.
Tingkat keseraman: 8

Cinta Laura

Berwajah manis seperti kumis, Cinta Laura mungkin tidak terlihat menyeramkan bagi sebagaian orang. Tapi, begitu dia membuka mulutnya untuk berbicara, di sinilah keseraman terjadi. Mulutnya tiba-tiba mencong kayak ikan mas sumbing. Lalu begitu dia berbicara, terdengar aksen yang katanya Mama Loreng (sodara tirinya Mama Lauren) merupakan aksen dari dunia hantu, seperti, ‘Hay akhyuuu cinta lauraaaa.. oeeek.. oeeeek.. oeeek.. akyuuuu abegeyyy gahuull gichu locchhh.. kikikikikiki’. Di daerah Banten sana, dikabarkan beberapa orang kesurupan setiap Cinta Laura berbicara di televisi. MENYERAMKAN!
Tingkat keseraman: 0 (kalo diem aja) ; 17,2 miliyar (kalo ngomong)

Ada yang mau menganalisa setan lainnya? Oh ya, talkshow Radikus Makankakus yang terakhir di Jakarta di Gramedia MM Bekasi tanggal 24 Desember jam 2 siang. Setelah kurang lebih dua bulan talkshow di toko-toko buku, rangkaian talkshow di Jakarta berakhir juga. Akan ada kejutan spesial di MM Bekasi.. Hohohoho.. See ya there!

PS: bagi yang udah ikutan kontes ini, kita lagi memilih-milih pemenangnya + mereka yang masuk ke buku, so stay tune for more.

the serem thing is..

Tiga bulan yang lalu, waktu gue lagi asik-asiknya jalan di koridor FISIP UI menuju kelas,
ada cewek yang manggil gue.

Dia: Eh, sori. Lo Raditya Dika bukan?
Gue: Iya..
Dia: Gue minta tanda tangan lo dong. (buru-buru) Eh bukan berarti gue ngefans ama lo ya! Ini buat temen gue yang suka baca buku lo! Bukan buat gue! Gue gak ngefans sama lo. INI BUAT TEMEN GUE!

Dalam hati gue, segitu hinakah kalau suka sama tulisan-tulisan gue? Hehe. Akhirnya, setelah mengurungkan niat untuk menggebug kepalanya pake tong sampah yang ada di deket gue, gue mengiyakan untuk menandatangani buku Radikus Makankakus yang dibawanya.

Gue: Ini buat temen lo?
Dia: Iya..
Gue: Dianya dimana?
Dia: Dia lagi dirawat di rumah sakit. Sakit bronchitis.

Bronchitis, kayaknya gue pernah denger penyakit itu di mana gitu. Gue mulai menerka penyakit apa itu.. Bronch- artinya segala sesuatu yang berhubungan dengan paru-paru, sedangkan -tis adalah kependekan dari testis. Jadi logikanya, bronchitis berarti penyakit di mana ada testis numbuh di paru-paru.

Gue: (sambil menandatangani) Bronchitis ya.. hmmm.. hmmm..
Dia: Bronchitis, radang paru-paru.
Gue: (lega) OOOOOOOOOHH! Oke, salam yah buat temen lo.

Kemarin, gue sedang berjalan di koridor yang sama, kali ini mau masuk kelas ujian Metode Penelitian Sosial yang diajar oleh dosen yang mirip banget sama dokter Boyke tapi dengan celana lebih sempit dan lebih “cowok”. Gue dipanggil oleh cewek yang sama.

Dia: Dit!
Gue: Eh elu..
Dia: Masih inget gue gak?
Gue: (sambil mengingat-ingat) Masih, masih. Gimana temen lo? Udah baikan belom?
Dia: Nah itu dia..
Gue: Apa?
Dia: Dia meninggal..
Gue: Hah? Yang bener lo?!
Dia: Iya.. Gue udah lama pengen ngasih tau lo. Tapi baru ketemu sekarang. Gue gak sempet ngasih dia buku yang lo tandatanganin itu.

Gue diem aja, gak tau harus ngapain. Ada keheningan yang engga enak. Kalau abis denger berita sedih seperti ini, gue bingung harus ngomong apa. Kalau diem aja, suasana tambah gak enak. Kalau gue nyanyi dengan histeris “Potong bebek angsa.. Masak di kuali.. ” untuk menyegarkan suasana, dikira nanti engga senstif. Dia ngomong lagi.

Dia: Tau gak, sebelum temen gue itu meninggal, gue sempet telpon-telponan ama dia, dia di telepon nyeritain cerita lo kebelet boker (baca: Radikus Makankakus, Gak.Bisa.Jongkok). Dia ketawa sambil batuk-batuk.. Makanya, pas gue baca buku lo, gue gak baca bagian itu..

Sehabis ngobrol dikit-dikit lagi, gue ke ruang ujian. Pikiran gue penuh sama cerita yang barusan gue denger. Sampai-sampai pas gue ujian, gue gak bisa ngejawab apa-apa (Oke, itu juga karena gue gak belajar sih). Intinya, it moved me. Di umur-umur segini, di mana udah ada temen yang meninggal duluan, gue jadi tersadarkan: gak ada yang abadi. Mungkin, itu tantangan kita sebagai manusia, bagaimana caranya supaya setelah kita mati nanti, masih ada orang yang menyebut nama kita untuk diobrolkan dengan orang lain. Bukan sekadar singgah, mati, dan terlupakan.

Atau mungkin, seharusnya dunia seperti apa yang ditulis Pramoedya,
di buku Bukan Pasar Malam:

“Dan di dunia ini manusia bukan berduyun-duyun lahir di dunia dan berduyun-duyun pula mati seperti dunia dalam pasar malam. Seorang-seorang mereka datang dan pergi. Dan, yang belum pergi dengan cemas-cemas menunggu saat nyawanya terbang entah kemana.”

Seandainya aja, kali ya..

Cita-cita

Updated (14/12/07): Gue bakalan ada di Program Pagi Jakarta O Channel TV hari Senin 17 Desember 2007, dari jam 07.00 – 08.00 WIB. Nonton yak! Huehehehe (narsis abis).

“Apa cita-cita kamu?” kayaknya itu pertanyaan paling standar yang orang tanyain ke anak kecil. Begitu pula dengan adek-adek gue. Anggi, misalnya, kalau ditanya mau jadi apa dia jawab dengan mantap, “Aku ingin menjadi komikus Bang!”. Sedangkan Ingga, pengen menjadi perancang baju. Edgar, ketika ditanya cita-citanya apa, masih tidak tahu harus menjawab apa. Tapi, menilai dari tampang Edgar, gue berkesimpulan cita-cita dia saat ini hanya satu: ingin kembali menjadi manusia.

Sebagai kakak yang baik, gue selalu mengajarkan mereka wejangan yang akan berguna untuk kehidupan mereka kelak. Gue selalu berkata, untuk survive di dunia kerja, mereka harus jadi orang yang berbeda, biar dilihat oleh orang banyak. Ingga, misalnya, dia seharusnya bikin baju yang benar-benar menghebohkan dunia fashion Indonesia, seperti bikin baju dengan bolong di bagian tete. Gue rasa bakalan banyak yang make, walaupun harus sedikit, ehm, gundal gandul.

Eniwei, gue sendiri waktu zaman SD punya cita-cita pengen pacaran sama Lia, primadona kelas gue. Begitu SMP gue pengen jadi insinyur (tergila-gila ama Si Doel, soalnya). Baru pas SMA mau jadi akuntan. Eh setelah gede ternyata gue menemukan diri gue bekerja di bidang media.

Pekerjaan pertama gue di media adalah menjadi reporter di Metro TV. Kalau ada yang ngeliat orang lari-lari telanjang dikejar satpam pas Meutia Hafidz lagi bacain berita.. nah itu bukan gue. Jadi reporter di sana lumayan seru dapet banyak pengetahuan dan banyak berita yang lucu-lucu. Pas zaman gue kerja ada berita yang gue dapet dari Antara yang isinya tentang kerbau yang gak sengaja ketabrak pas ada pesawat landing. Ada juga berita tentang cowok patah hati yang membalas dendam dengan mengawini ayam si cewek di depan rumah si cewek (ini beneran). Pelajaran yang timbul setelah kerja di Metro TV: orang Indonesia banyak yang sarap.

Gue dapet banyak email yang nanyain gue kerja di mana sekarang. Well, gue sekarang kerja di penerbit Bukune. Penerbitan buku untuk anak muda. And honestly, gue sangat menikmati pekerjaan gue ini. Gue banyak denger cerita orang yang membenci pekerjaannya. Bagi sebagian orang, kerja emang berarti “mencret dari jam 8 sampai jam 5 sore”. Tapi bagi gue, kerja adalah tempat gue bermain dengan kreativitas gue, dan beli gorengan yang enak di depan kantor.

Eniwei, ada satu buku dari Penerbit Bukune yang mau gue promosiin adalah buku panduan mendapatkan pacar dalam 28  hari yang ditulis sama Rizal Khadafi dan Mala Aprilia. Setan, coba aja gue punya buku ini sewaktu gue jomblo dulu, pasti dapetin pacar bakalan lebih gampang. Hehe.

Judul: 28 Hari Mendapatkan Pacar: Panduan Anti Jomblo
Penulis: Rizal Khadafi dan Mala Aprilia
Harga: Rp 19.500
Tebal: 168 halaman
Penerbit: Bukune

Buku ini tentang apa? Well, basically sih cara mendapatkan pacar dalam 28 hari. Buku ini buku panduan bebas dari kejombloan tapi ditulis dengan gaya humor. Niatnya Rizal dan Mala sebagai penulis ingin membuat buku panduan yang bisa dibaca sambil ketawa, mudah-mudahan mereka bisa deh. Hohohoho.

Oh ya, gue sekalian mau ngundang temen-temen yang punya novel atau naskah non-fiksi, kirimin aja langsung ke email Penerbit Bukune di redaksi@bukune.com, atau telpon ke Tata – 08158822200 dan Rizal – 08998766847. Kirim aja, siapa tahu ada pembaca yang akhirnya jadi penulis. :)

Khusus buat temen-temen di Jogja, gue bakalan talkshow di Jogja tanggal 28 Desember – 29 Desember 2007. Tempat yang udah pasti sih di Pameran Buka Buku Jogjakarta. Detail lebih lanjut gue pasti kabarin di website ini. Adios! :D

writing mode: ON!

Saatnya untuk menulis buku baru lagi. Minggu ini gue lagi semangat-semangatnya memulai nulis buku empat kembali. Kenapa gue bilang kembali? Karena gue sempet ngerjain sebanyak 60 halaman di laptop, terus mobil gue dibobol maling, laptop ilang bersama dengan draft tulisan gue. Cerita lengkap ada di sini. Sambel.

Kayaknya, tragedi hilangnya laptop adalah karma Mbip gue deh (baca: Radikus Makankakus, Ketika Kau Menebeng). Mbip, di mana pun kamu berada, tolong.. AMPUNI DOSA-DOSA GUE, KUNYUK! Ehm, maaf. Maksud gue, ampuni dosa-dosa gue, manisku, *uhuk* kunyuk *uhuk*.

Seperti biasa, pas mau nulis buku baru, gue udah siap ngumpulin notes gue di hanphone yang selama ini gue kumpulkan. Memang kebiasaan gue dari mulai punya blog (pas masih jadi cowok ABG kiyut berumur 17 tahun) adalah mencatat hal-hal lucu yang gue alamin di notes handphone. Pas dilihat sekarang ternyata udah banyak banget.

Lalu, untuk mencari inspirasi, gue juga ubek-ubek kamar gue dan ngeliatin diary-diary yang pernah gue tulis. Gue juga baca kembali beberapa cerita yang gak masuk di buku Kambingjantan (pas gue nawarin ke Gagasmedia pertama kali, naskah Kambingjantan tuh tebel banget -600 halaman-, akhirnya gue pilih sekitar 200 untuk dijadikan buku).

Anehnya, gue kemaren pas beres-beres kamar nemuin buku notes hitam tebal dengan judul yang gue tulis pake tip-ex “mindful”. Isinya diary gue selama masih di Australia yang gue tulis pake Bahasa Inggris. Engga, isinya bukan cuman bahasa Inggris standar seperti “no smoking, yes thank you”. Tapi juga ada “How are you? I’m fine thank you”. Sama aja ya? Hehe. Maksud gue adalah, gue dapet bahan yang lucu-lucu dari diary gue yang sempet lama gue lupakan itu.

Dari hasil pengumpulan tulisan itu,
gue udah siap untuk nulis sekitar 20 cerita untuk dijadikan buku.

Nah, sekarang masuk ke bagian yang susah: penulisannya itu sendiri. Seperti biasa, begitu gue mulai nulis untuk buku baru, gue tiba-tiba berubah jadi procrastinator; yaitu orang yang suka menunda-nunda untuk mengerjakan sesuatu. Biasanya yang kejadian seperti ini: pas pagi-pagi tiba di kantor gue kepikiran “Ah, nulis buku baru lagi ah!” tapi begitu mau nulis gue beralasan “Entar aja deh pas jam 11″. Begitu udah jam 11, gue malah mikir “Entar ah, abis makan siang.” Begitu selesai makan siang, kerjaan numpuk dan gue beralasan “Nanggung, nulis bukunya pas gue di kampus aja deh pas lagi nunggu jam kuliah.” Sampe di kampus lebih parah, “Entar aja deh pas udah sampe rumah”. Biasanya, gue sampe rumah jam 10 dan gue beralasan lagi, “Nulis buku ntar deh kalo udah mandi”. Begitu selesai mandi? Gue langsung tidur. Ulangi terus tiap hari.

Kalau engga ada alasan, bukan gak mungkin gue bikin alasan sendiri, “Ah nulisnya entar aja ah. Abis celana gue kesempitan). Susah banget rasanya untuk memecut pantat sendiri (salah satunya, karena toko pecut gak ada di Jakarta). Biasanya penyakit procrastinator ini gue akalin dengan cara memaksakan diri untuk nulis. Gak bisa engga, jam 11 sampai jam 1 pagi gue harus nulis. Mau tulisannya jelek, juga gak papa.. toh besok paginya baru akan gue benerin. Tulisan jelek lebih baik daripada tidak ada tulisan sama sekali. Lagian, nulis satu cerita aja bisa sampai beberapa draft, masih ada kemungkinan untuk diperbaiki di kemudian hari kalau mood lagi bagus.

Menulis bagi gue adalah kegiatan habitual. Tempat favorit gue menulis dari dulu sampai sekarang juga sama aja: kalo engga Starbucks Kemang yah di QB Bookstore Kemang. Tempat favorite gue di QB ada di pojokan dengan sofa empuk bewarna putih itu. Hmmmmm. Biasanya gue tinggal pesen satu kaleng Diet Coke dan nulis sampai tokonya tutup. Kebiasaan ini jadi lumayan membantu dalam proses penulisan gue, biasanya kalau gue nulis di tempat-tempat yang biasa gue datengin ini, menulis bakalan jadi lancar.


ada kaki di QB Kemang

Eniwei, gue mau talkshow ke Bandung dulu hari ini. Minggu ini minggu Ujian Akhir Semester.. doh, bakalan jadi procrastinator lagi deh. Doakan gue lulus dengan cemerlang! Eniwei, dua dari talkshow terakhir buku Radikus Makankakus bakalan ada di Gramedia Kelapa Gading hari Minggu, tanggal 16 Desember 2007 ini. Untuk talkshow di Jogjakarta, minggu depan gue baru dapet jadwal, stay tune in this web. So, meet you guys there!