Deg-Degan

April 18, 2008 , 5:40 pm

Menjelang Babi Ngesot keluar di toko buku (tanggal 25 bulan ini.. SEMINGGU LAGI!!!!!), gue makin deg-degan. Ini perasaan yang selalu gue rasain setiap buku baru mau keluar: gelisah. Kegelisahan yang paling utama sih jelas gelisah akan dibanding-bandingkan dengan buku lain. Tapi, menurut Christian Simamora (editor Radikus Makankakus), kita gak bisa memuaskan semua pihak akan ada yang suka buku kita yang ini, ada juga yang suka buku yang lama ada yang baru. Sedangkan, bagi gue, untuk melawan kegelisahan, biasanya gue pede aja. Selama gue pede dengan hasil karya gue, gak ada yang bisa membuat gue gelisah lagi.

Anyway, setelah nulis Babi Ngesot, kayak gue mau istirahat dulu bikin buku pengalaman pribadi. Biasanya, sebelum tidur gue pasti nulis entah satu atau dua halaman berisi cerita pengalaman pribadi untuk nanti dikumpulkan menjadi buku baru. Sekarang gue udah berhenti total. Gue mau istirahat dulu bikin buku model Cinta Brontosaurus, Radikus Makankakus, atau Babi Ngesot. Gue mau konsentrasi ke tipe buku yang lain, seperti komik Kambingjantan yang lagi di-pending, nungguin Dio -komikusnya- selesai UAN (ayo beri Dio semangat biar lulus UAN di friendsternya). Pengen buat buku komedi yang bentuknya lain, tapi apa ya? Sambil mikir-mikir ahh.

On a lighter note, beberapa orang yang udah baca duluan Babi Ngesot sih merespon positif. Rata-rata mereka lebih suka Babi Ngesot dibandingkan Radikus Makankakus, entah kenapa ya? Entah kenapa juga, gue menemukan beda grup pembaca beda buku kesukaannya. Misalnya, anak-anak SMP/SMA biasanya lebih suka sama Kambingjantan karena, kata mereka, lebih spontan. Orang perbukuan (editor gue, penulis, editor penerbit lain, atau karyawan pada umumnya) lebih suka Cinta Brontosaurus. Radikus Makankakus biasanya langsung jadi favorit orang yang pertama kali baca buku gue. Kalau Babi Ngesot, keluar aja belum. Sedangkan, orang yang waras biasanya langsung beramai-ramai membakar buku gue. Hehe.

Ngomong-ngomong soal buku dan perbandingan,
ada comment seorang pembaca di postingan gue seperti ini:

inthemiso:
hai dika.. ? gw uda buku lo baca 3-3nya..
gue suka Radikus Makankakus
klo dika dr smuanya apa yg disuka.. ?

Hmmm kalo secara pribadi sih gue engga suka memperbandingkan buku gue. Gue memandang buku-buku itu seperti anak yang gue lahirkan. Jadi, masing-masing anak yah berbeda antara satu dengan lainnya. Suka, jelas suka semuanya. Semuanya punya ceritanya pembuatan sendiri yang menurut gue sangat menarik. Tapi, kalau boleh memilih cerita mana yang paling berbekas.. gue milih Di Balik Jendela, salah satu cerita di Cinta Brontosaurus yang menceritakan waktu gue naik bus setelah diputusin sama si Kebo. Jujur, gue waktu itu nulis di bus pake kertas notes dan pulpen. Rasanya gimanaaa gitu. Nulisnya sampai mencret air mata.. akhirnya gue dehidrasi dan pingsan (ekstrim). It is one of my favorite stories.

Salah satu pertanyaan lain yang sering gue dapet dan gak gue bisa jawab sampai sekarang justru: tulisan gue masuk kategori buku apa ya? Fiksi, jelas tidak. Tapi, non-fiksi juga gak mungkin gabung sama buku seperti Quantum Ikhlas, bisa-bisa buku Quantum Ikhlas meledak kalo ditaro berdampingan dengan buku gue. Memoar atau biografi, juga gak mungkin. Terlalu pendek untuk sebuah biografi. Dari semua pilihan itu, ternyata, di Jambi buku gue masuk ke dalam rak Misteri & Kejahatan. Sungguh, tempat yang cocok untuk buku ini!!!!! Mhuahahahaha (ketawa setan).


tempat yang cocok untuk buku pengundang arwah jahat

Begitu gue ngadu ke temen gue atas pelabelan buku gue sebagai buku Misteri dan Kejahatan, dia jawab simpel, ‘Liat aja di cover, tampang lu tampang kriminal, kali.’ Oh Tuhan, benarkah? BENARKAH? (sambil meraba-raba muka sendiri). Gue punya muka ini dari lahir (ya iyalah) dan gue tau banget: tampang gue bukan tampang kriminal. Tampang gue adalah tampang kiyut. Liat aja, foto berikut ini:


ABG yang tersesat

Gimana? Bukan tampang kriminal kan?
Btw, foto di atas adalah foto yang dipakai untuk profil penulis di buku Babi Ngesot (gak penting).

Topik lain lagi, sekarang design website ini sudah jadi. Designnya finalnya akan seperti yang kalian sekarang lihat ini. Gue dapet jatah ganti design dua kali setahun sama developernya, so… moga-moga selama 6 bulan bulan ke depan kalian suka dengan design yang ini. Gue ngambil yang simpel soalnya sebelum jadi buku, blog gue identik dengan ruang kosong dengan satu header di atas.

Salah satu perubahan major di website ini adalah pemasangan iklan (baca: adsense) dan spase promosi di bagian bawah. Hal ini gue nilai penting, soalnya gue bisa dapet uang yang akan gue investasikan kembali untuk perkembangan website ini. Sebuah website, semakin rame tentu biaya pengelolaannya semakin mahal. Jadi, mari sama-sama berkembang (dan bermain-main) dengan website ini.

Untuk film Kambingjantan, setelah komentar di postingan tentang kemungkinan pemeran film, kita kayaknya gak milih Raffi Ahmad. Perkembangan filmnya sampai saat ini, kita akhirnya dapet investor, setelah nyari-nyari investor dengan penuh perjuangan dan puasa selama lima menit… kita akhirnya dapat juga. Perkembangannya berlansung pesat, semuanya jalan terus. Kegiatan pre-produksi lagi dipersiapkan. Seharusnya gue ikut meeting sama Mas Rudi Soedjarwo pagi ini, tapi gue ternyata harus ngisi untuk pelatihan editor.. Huhuhuhu. But, all is well.

Oh ya, di rumah gue ada binatang peliharaan baru, si Yudhit baru dikasih kucing Persia sama temannya. Bagi yang udah baca Cinta Brontosaurus, pasti mengerti bagaimana Neko, kucing Persia yang kita pelihara tiba-tiba kabur karena masalah cinta. Apakah kucing ini akan bernasib sama dengan Neko? Entahlah, kita tunggu saja. Di postingan berikutnya gue bakalan tampilkan kucing yang menunggu mati yang beruntung untuk dipelihara kami sekeluarga itu.

So, see ya around!

Post in : Blog | 367 Comments »


Balik lagi deh aaah

April 15, 2008 , 7:01 pm

I’m back readers, dengan tampilan design baru. Hehe. Banyak hal-hal yang gue ubah sedikit seperti postingan menjadi satu halaman saja ini sekaligus memotivasi gue untuk menulis panjang, gak sedikit-sedikit. Masih ada hal yang kurang bagus seperti font, atau margin di kiri-kanan dan sekarang lagi diperbaiki sama developer web-nya, moga-mogaan beberapa hari lagi semuanya bisa bener-bener beres. Kalau ada masukan buat tampilannya, yah silakan. :D

Eniwei, perjalanan gue mengarungi Purwokerto membawa suka-duka tersendiri. Pertama-tama soal suka, gue seneng soalnya talkshow-nya rame banget. Gue sampai terharu, soalnya penontonnya sampai meluber ke tempat parkir. Entah emang mau nonton gue, atau gak sengaja kebetulan lewat dan berpikir, ‘Eh, ada debus… nonton ah.’ Saking terharunya sampai kalo lagi boker gue suka ingat atas hangatnya sambutan Purwokerto lalu gue menangis sambil jongkok. Hehe.

Di antara pembaca gue (atau dengan kata lain: orang-orang yang “tersesat”) yang dateng di Purwokerto, ada yang namanya Tiwi. Jadi, pas lagi sesi tandatangan, Tiwi tiba-tiba nongol dengan kaos ber-print muka gue dengan tulisan Radith For President 2009. Kasihan sekali dia. Ini potonya:


akibat pergaulan bebas

Terimakasih buat Tiwi yang rela-relanya bikin sendiri kaosnya. Menurut laporan panitia, orangtua Tiwi juga dateng buat nemenin dia di talkshow. Entah nemenin Tiwi, atau emang minta pertanggungjawaban kepada gue atas rusaknya putri mereka. Maafkan aku tante, oom. Oh ya, terimakasih juga buat temen-temen SMA 1 Purwokerto yang berkali-kali nyegatin gue di radio pas lagi talkshow. Juga buat Shiva yang berpesan, ‘Radith! Gue masuk blog lo dong ya! Lo sebut nama gue ya!’. Nih tuh ditulis deh. Hehe.

Ada satu contoh kegoblokan diri gue yang keliatan pas di Purwokerto. Jadi ceritanya pas baru mulai talkshow gue mau sok-sok keren ala rockstar teriak-teriak menyapa kota Purwokerto. Dan gue, mengira Purwakarta = Purwokerto teriak dengan mantap, ‘Selamat malam Purwakarta!!!!!!!!!’ Eh penonton malah teriak, ‘PURWOKERTO!!! BUKAN PURWAKARTA!!!!’ Emang beda ya? Ternyata beda sodara-sodara. Purwakarta ada di bagian Jawa yang lain. Ya maaappp!! Padahal, dari rumah gue pamit ke nyokap kalo gue mo ke Purwakarta. Ternyata beda toh. Huhuhu. Maafkan geografi gue yang buruk.

Kadang gue suka heran kenapa geografi gue sangat-sangat buruk. Sewaktu gue SMA dulu, geografi adalah pelajaran dengan nilai yang terburuk. Pelajaran lain oke lah: olahraga, matematika, atau bahasa indonesia, tapi geografi? Nilai geografi gue di rapot seperti 9 dibalik lalu dicincang kecil-kecil. I dont like geography. Mungkin gue trauma waktu kecil pernah digebukin orang pake bola dunia, tapi entahlah.

Sesi booksigning juga berlangsung lancar,


sesi poto-poto, gigi sampai bernanah

Itu sukanya,
sekarang dukanya.

Duka pertama datang dari masalah perjalanan. Gue pulang-pergi ke Purwokerto naik mobil, hal ini cukup menyebabkan pantat gue peyang akibat 10 jam duduk di bangku terus-menerus. Kalo itu aja sih gak papa, tapi yang bawa mobil (nama tidak sebutkan untuk keselamatan karir kepenulisan hehe) menyetir dengan sangat brutal. Baru setengah jam duduk di mobil aja gue udah mual-mual. Untungnya, gue udah sedia antimo yang akan membuat gue pingsan sejenak. Nevertheless, kita sempet stop di beberapa titik untuk makan dan ngeteh-ngeteh sebentar.

Dukanya lagi, pergi ke Purwokerto berarti menambah jumlah absen gue di kegiatan perkuliahan. Gara-gara sering talkshow di luar kota, kuliah gue jadi lumayan terabaikan. Dampaknya, selain banyak mata kuliah yang gue gak mengerti, gue juga terancam gak lulus karena Universitas Indonesia hanya memperbolehkan 3 kali absen… kalo lebih dari tiga kali? Mendingan makan spageti dari idung! (UI tidak benar-benar mengancam seperti itu, tapi kira-kira gitu deh). Sedangkan absen gue udah setara dengan mahasiswi-mahasiswi yang cuti hamil. Ah, saatnya merengek-rengek sama dosen supaya diberikan kompensasi absen deh.

Lagi-lagi dukanya, gue balik lagi ke semrawutnya kota Jakarta dan harga kebutuhan hidup yang tinggi. Ini jelas berbeda dengan Purwokerto yang sepi dan semua serba murah. Bayangin, makan rame-rame aja cuman ngabisin 18 ribu rupiah (!!!!!). Minum susu sambil makan juga paling mentok 2000 perak. Gue sempet curiga susu apakah bisa semurah itu? Apakah susu kucing? Agak serem juga sih ngebayangin keenam tete kucing dipenyet-penyet untuk diperah susunya. Tapi yang jelas, kemurahmeriahan makanan itu gue manfaatin dengan makan bubur, tempe medoan, dan lain-lain.

Oke deh,
sekian cerita-cerita dari Purwokerto.

Terimakasih buat temen-temen yang udah komentar di blog ini, I always read ‘em all, dan kalo gue punya kesempatan pasti gue balesin kok, tapi jujur akhir-akhir ini hidup gue udah kayak mencret: kencang dan melelahkan. Gue sih berniat, sebagai bentuk apresiasi bagi yang udah ngirim komen/email, maka dalam setiap posting akan ada satu pertanyaan yang gue jawab dari komen/email yang masuk, let’s see how I try that one in the next post. Seperti yang sekarang gue lakuin:


email dari Salfia Agustina (agustinasalxxx@yahoo.co.id):

kak dika, koq novel ka2k rata2 pd gokil semua, lucu banget. terus yang “radikus makankakus” itu,itu beneran kisah nyata ya kak.Endingnya nyentuh banget…,darimana inspirasinya kak…terus,ada niat buat bikin novel yang rada2 serius nggak..,yang ekstrim,atau horor misalnya..salam kenal ya kak..makasih…

Hay Salfia,

Untuk Radikus Makankakus, inspirasinya yah seperti biasa dari pengalaman sehari-hari. Sedangkan, untuk saat ini gue belom niat untuk bikin novel yang rada serius. Walaupun sebenernya, sebelum Kambingjantan diterbitkan, gue lagi bikin satu naskah novel serius yang rada-rada filsafatis gitu. Setelah Kambingjantan terbit, rencananya gue mau ngelanjutin novel itu lagi. Eh, ternyata gue malah keasyikan nulis Cinta Brontosaurus, akhirnya sampai sekarang novel tersebut blom gue lanjutin lagi (nyangkut di halaman 40-an). Terus terang, gue belom sempet kepikiran lagi buat nulis buku/novel serius, untuk saat ini gue lebih enjoy bikin buku-buku komedi. Menurut gue, semakin kita mendalami apa yang kita kerjakan, hasilnya akan semakin tajam.

Thx for asking!

Oke deh, over and out!

PS: Tadi gue blogwalking dan menemukan karikatur gue yang digambar oleh blogger ini, thank you! Satu hal lagi, pemberitahuan titipan dari penerbit gue: buat kalian yang ikutan Kontes Aku dan Buku Radithku, mohon cek imel ada form dari Gagasmedia. Thank you lagi!

Post in : Blog | 310 Comments »


<< Previous|    |Next >>