Yes, gue sekarang lagi di Utrecht, Belanda.
Ada baiknya gue ceritakan kembali secara kronologis, bagaimana gue bisa terdampar di Utrecht. Pertama-tama, gue dapet invitation dari Netherland Education Support Office Indonesia untuk belajar di Utrecht, semacem beasiswa gitu. Karena gue lagi libur kuliah, dan course-nya cuman dua minggu, gue pikir, “Kenapa engga?”. Lalu gue urus VISA Eropa (Schengen) yang surprisingly bener-bener gampang), lalu gue ke airport, ngurus fiskal, bla bla bla… 12 jam penerbangan kemudian… gue tiba di bandara Schipol, Belanda, dengan leher bengkok ke kanan gara-gara salah tidur.
Lanjut,
Ketakutan terbesar gue di Belanda adalah kendala bahasa. Gue SAMA SEKALI gak bisa bahasa Belanda. Namun, begitu sampe bandara Schipol, gue cukup merasa lega karena kendala bahasa tidak menjadi masalah. Hal ini disebabkan oleh:
1. Gue dijemput di Schipol sama Rizky, mahasiswa S3 Indonesia yang lagi belajar di Utrecht yang sangat-sangat baik sekali bantuin beli tiket kereta, beli kartu telepon, dan lain-lain.
2. Ternyata orang Belanda cukup fasih berbicara bahasa Inggris.
3. Jika ternyata lawan bicara gue gak bisa bahasa Inggris, gue akan menggunakan bahasa pergaulan dunia yang bisa diterima di mana saja di dunia, yaitu: bahasa Tarzan. Bahasa Tarzan adalah sejenis bahasa yang menggunakan kombinasi gerakan tangan, kaki, serta mulut buka-tutup tanpa suara untuk menunjukkan maksud tertentu.
Belum ada satu jam turun pesawat,
Rizky langsung ngajakin gue ke Amsterdam,
Rizky: Kita kemana? Mau langsung ke Utrecht? Apa Amsterdam?
Gue: Koper gue gimana ntar kalo langsung ke Ams?
Rizky: Taro di penitipan koper aja di Amsterdam.
Gue: Bisa ya? Hmmm.
Wah, dilematis nih.
Gue belom mandi, baru turun dari pesawat, dan mata udah mulai berkantung,
meskipun begitu, gue pengen banget jalan-jalan.
Rizky: Gimana, Dit? Ke Amsterdam gak?
Gue: (tanpa pikir panjang) BERANGKAAAAT!
So, sambil geret-geret koper, kita ngambil kereta ke Amsterdam.
dua puluh menit kemudian, gue tiba.
Kita ngider-ngider kota Amsterdam, yang sepi banget berhubung kita jalan jam sembilan pagi, jadi toko masih belum pada buka. Setelah agak capek dan laper, kita berhenti untuk sarapan di sebuah kedai kecil di pinggir jalan. Wisata kuliner Belanda gue pun dimulai dengan menghantam sandwich italian bread yang rasanya agak-agak salty gitu. Hmmmmm… enak tenan.

muka penuh rasa lapar
Memenuhi tantangan pembaca gue di postingan yang ini, gue pun kayang di depan Royal Palace, di Dam Square, Amsterdam. Oh indahnya kayangku, dengan bentuk U terbalik yang sempurna. Penuh kedamaian, sungguh menggugah hati.

tidak ada turis sekampung ini
Gue dan Rizky kembali ngider-ngider kota Amsterdam. To be honest, gue kira Amsterdam bakalan seperti New York yang megah, besar, kosmopolit. Tapi ternyata lebih sepi dari yang gue bayangin. Kalau dibandingin, Jakarta sama Amsterdam jauuuuuh banget lebih rame Jakarta. Mall-nya juga banyakan Jakarta, macetnya juga, dan sibuknya juga. Amsterdam ternyata lebih relaxed dari yang gue bayangkan.
Yang bagus dari Amsterdam, tramnya cantik-cantik, dan susunan kotanya bener-bener rapi. Pemandangannya juga menarik, dengan bangunan tua yang dilestarikan, dihiasi oleh taman-taman kota yang kecil. Banyak anjing yang lucu-lucu berjalan-jalan di Amsterdam. Di dalam tram gue sempet ngeliat keluar ada satu anjing kecil yang berjalan sama pemiliknya, dan gue bilang dengan nada sok imut, “Ih liat, anjingnya lucu banget. Ih liat anjing lari-lari ke deket kanal. Ih liat anjingnya.. anjingnya.. MASYALLAH ANJINGNYA E’EK!!!!!” Gue mau muntah.
Ngomong-ngomong kanal,
begitu ketemu kanal, gue langsung kayang.

tetep: tidak ada turis sekampung ini
Nah, I keep my promise don’t I?
Sekarang, gantian gue menantang,
TANTANGAN RADITH:
Bagi yang lagi liburan, beranikah Anda kayang di tempat liburan Anda?!
kirimkan foto kayang Anda ke raditya.dika@gmail.com.
Foto kayang paling menarik akan dipajang di website ini.
Dari Amsterdam gue balik lagi Utrecht,
dan sekarang lagi ngaso-ngaso di flat-nya Rizky.
Oke,
segitu dulu deh.
Kelas gue di Utrecht University baru mulai Senin depan, so I have plenty of time untuk main-main (dan istirahat). Kabarnya, dormitori tempat gue tinggal nanti punya akses internet sepanjang hari. Ini berarti: bisa posting seenak jidat. Hohohohoho.
Nantikan cerita hari-hari gue jadi international student lagi di Belanda!