On My Own Books

Tiga hari lalu, di sebuah talkshow, ada orang nanya:
“Dari semua buku yang lo tulis, mana favorit lo?”

Terus terang,
gue bingung.

Gue mengibaratkan buku-buku gue sebagai bayi-bayi gue sendiri. Bukan berarti buku ini ada di perut gue selama 9 bulan, lalu di suatu pagi air ketuban gue pecah, gue ngangkang, dan mejret keluar begitu saja. Tapi lebih kepada, buku-buku ini adalah buah hati gue, semacam sesuatu yang gue nurture dengan begitu lama, hati-hati, dan akhirnya lahir dan dipajang di toko buku. Seperti orangtua lain, gue ngerasa buku-buku gue punya personality sendiri, punya kepribadian sendiri yang berbeda dengan buku yang lain. Seperti orang tua lain, tentu susah dong milih anak sendiri yang paling favorit?

Kambingjantan, bagi gue terlihat seperti seorang rebel, anak pembangkang yang “kasar”. Cinta Brontosaurus di mata gue lebih pemalu, kontemplatif, jujur, dan rapuh. Radikus Makankakus lebih biasa-biasa saja, terkadang wise. Babi Ngesot, hampir sama kayak Kambingjantan, dia juga lebih “kasar” dan, ehm, pemberani. Gak banyak yang bisa gue bilang soal Komik Kambingjantan karena gue ngelahirin itu bersama Dio, kami berdua adalah orangtuanya (okay, this sentence sounds very wrong).

Satu hal yang gue sadari, ketika lagi menulis buku-buku ini, apa yang lagi gue tonton, baca, atau pikirkan, atau kondisi mental gue saat itu, sangat mempengaruhi hasil akhir tulisan gue. Kambingjantan gue tulis ketika gue lagi sangat-sangat suka Lupus, mau gak mau banyak influence Hilman Hariwijaya di situ. Cinta Brontosaurus, ketika gue lagi tergila-gila sama filsafat dan David Sedaris. I had the contemplation part from philosophy, sedangkan komedinya dan cara penuturannya dari David Sedaris. Radikus Makankakus, gue lagi suka sama Ellen Degeneres, lebih eksperimental dan eksposisif. Babi Ngesot gue buat ketika gue lagi suka nonton stand-up orang-orang kulit hitam terutama yang ada di showcase Def Jam, yang terkenal dengan kekasaran komedinya. Makanya, draft pertama buku Babi Ngesot sangat-sangat kasar sekali komedinya, sampai editor gue, mbak Windy Ariestanty harus merevisi dan mengedit bagian-bagian yang keterlaluan. Begitu dibilang mbak Windy, “Kamu jadi kayak orang yang kasar banget”. Gue langsung jawab, “Haduh, maap mbak kebawa influence.”

Gak cuman dari komedian atau buku yang gue baca, influence juga bisa didapatkan dari film yang lagi gue tonton, “aura film” yang pas ngebuat gue jadi satu nada dengan tulisan gue sendiri. Sebagai contoh, bab Di Balik Jendela – Cinta Brontosaurus gue tulis di saat gue lagi suka sama film Eternal Sunshine of The Spotless Mind. Ceritanya beda, temanya beda, tidak ada karakter yang sama, issue-nya beda, tapi “feel” sewaktu nulis Di Balik Jendela adalah feel yang gue rasakan sewaktu nonton film Eternal Sunshine of The Spotless Mind. Gue ngerasa rapuh.

AS Laksana, seorang sastrawan dan mantan bos gue (merangkap guru menulis, yang ini dia gak pernah sadar.. Hihihi), pernah mengatakan untuk membaca sebanyak-banyaknya buku dan menonton sebanyak-banyaknya film. Karena penulis yang baik adalah penulis yang punya referensi yang banyak. Menurut gue sangat benar. Penulis yang baik juga akan selalu mengadopsi dan mempelajari, tapi tidak pernah mencuri.

Kenapa gue bisa kepikiran sampai sejauh ini?

Gue sekarang lagi nulis buku kelima, dan gue saat ini gue lagi suka banget kolom Modern Love-nya New York Times, kolom berisi tulisan-tulisan orang tentang “cinta di zaman modern” yang memang sangat absurd itu. Gue juga lagi berulang-ulang baca (dan tidak pernah bosan) The Things They Carried – Tim O Brien; penulisannya sangat-sangat rapi, halus, dan bisa ngebawa kita “masuk” ke dalam tulisannya. Untuk komedi, gue lagi suka The Office, dengan comedic timing yang perfecto. Stand up comedian, gue lagi giat-giatnya membedah Dave Chappelle yang sarkastik dan sinis. Gue juga lagi memelajari buku-buku komedi lamanya Woody Allen kayak Without Feathers. Gue mencoba untuk membentuk bayi kelima gue melalui influence-influence ini.

Saatnya menulis kembali berarti saatnya belajar kembali.
Banyak sekali hal yang gue belom ngerti dalam menulis dan komedi.

Gue ingin membuat buku komedi yang kelima lepas dari “bego-begoan, tolol-tololan” yang sekarang udah terlalu bikin jengah di toko buku. Gue pengen back to basic: contemplative comedy. Sebuah komedi yang lucu, ngebuat ngakak sambil guling-guling, tetep “bodoh”, tapi kontemplatif, relateable, dan pada akhirnya -yang paling penting- berbekas. Seperti Supernova, Fight Club, Things They Carried, atau Annie Hall yang begitu ngebekas di hati gue setelah konsumsi. Karena pada akhirnya, komedi adalah cara kita untuk memahami hal-hal yang kita tidak bisa pahami. Seperti kata Moliere, “The duty of comedy is to correct men by amusing them.”

Mudah-mudahan, gue bisa. :)

Untungnya Pacar Saya Tidak Mirip Megawati

Gue lagi pending dulu ngerjain buku kelima dan komik kambingjantan 2. Soalnya, gue lagi Ujian Akhir Semester. Ini berarti begadang ampe pagi ngerjain makalah, fotocopy semua bahan yang ketinggalan, daaaan mempersiapkan otot mata supaya nyonteknya lancar. Haaaaah… nasib jadi mahasiswa gak lulus-lulus. :P

Ngomong-ngomong soal kuliah, karena gue kuliah di Politik UI, gue seneng banget untuk tahu ada website politik 2.0 di mana temen-temen bisa belajar/menulis soal politik, bernama Politikana. Wajib ikut.

Gue sempet nulis satu artikel di sana, ini gue post di ini, itung-itung jadi postingan ganjelan. Hehehe. :P Tulisan asli beserta komentar orang-orangnya bisa dilihat di sini http://politikana.com/baca/2009/05/08/dia-masuk-dpr-soalnya-mukanya-mirip-pacar-gue.html

***

Kadang saya berpikir tentang teman-teman muda saya yang memilih dengan kurang rasional sewaktu pemilihan legislatif lalu. Alasan-alasan mengapa mereka memilih seorang caleg -yang sebenarnya seharusnya lebih kepada performa politik, background, integritas, dan visi-misi mereka- terkadang sangat absurd.

Salah satu teman yang saya kenal menyatakan bahwa “Gue milih si Anu, soalnya itu temennya pacar gue”. Kabar terakhir, si Anu masuk DPR. Beruntunglah si Anu karena berteman dengan orang yang benar.

Teman yang lain, menyatakan memilih si Ani karena menurut dia, “Titelnya paling banyak. Berarti dia pinter.”

Ada yang memilih dengan sangat asal: begitu masuk bilik suara dia langsung mencoblos salah satu nama secara random, benar-benar ngacak, kalau ada waktu lebih -biar lebih ngacak- dia mungkin akan berputar-putar sampai muntah, baru menyoblos lalu kemudian pingsan. “Yang beruntung yang terpilih,” begitu moto dia.

Ada teman yang ketika sudah di bilik suara, kebingungan, dia lalu menelepon temannya minta diberikan petunjuk. Seakan-akan ini adalah Who Want’s to Be A Millionaire, dan dia baru menggunakan bantuan Phone a Friend.

Ada seorang teman, kali ini sudah cukup tua, yang memilih karena nomor urut si caleg rendah. Katanya dengan muka serius, “Nomor urut rendah, biasanya berarti dia gak punya banyak duit buat beli nomor urut yang atas, kita kan harus membela orang yang lemah!”. Sungguh, baik hati sekali teman saya itu. Saya jadi merasa terharu.

Sebelum pemilu berlangsung, beberapa teman saya first time voters yang baru lulus SMU ramai-ramai merencanakan memilih seorang X dari Gerindra karena kata mereka “Ih dia ganteng banget lho di baliho itu”. Mereka kompakan, janjian ingin memilih X. Pada akhirnya, mereka mengurungkan niat untuk untuk memilihnya karena “pas di tipi ternyata jelek!” Gedubrak.

Tentu, tidak semua teman muda saya seperti itu.

Ada mereka yang memang informed voters, terutama teman kampus. Yah, walaupun kebanyakan juga pseudo-intellectual juga (you know, yang di setiap percakapan bawaannya nge-quote Hegel, Weber, atau Marx. Berasa keren ya, Bang?). Tapi setidaknya, mereka lebih punya basis yang lebih “asik” dalam memilih.

Kembali lagi, salah satu alasan paling absurd dari teman saya ketika menentukan pilihannya, get this: “Gue milih dia habisnya, mukanya mirip pacar gue.”

Gedubrak.

Bisa jadi, mereka yang terpilih di DPR adalah mereka yang mukanya paling banyak mirip dengan pacar orang-orang, mereka yang ganteng, atau mereka yang punya banyak titel. Either way, ada yang salah dengan sosialisasi parpol atau ada yang salah dengan anak-anak muda… atau mungkin, saya berteman dengan orang yang salah.

Bagaimana dengan Pilpres nanti?
Masih ada alasan ganteng, banyak titel, mirip pacar?

Entahlah,
Tapi untungnya, pacar saya tidak mirip Megawati.

Postingan sehabis mata bernanah

Yesterday was a blast.
Jadi kemarin gue taping buat acara Narsis TV Award di Global TV.

Ceritanya gue -bareng Edric- di sana jadi binatang bintang tamu yang ngomentarin video-video narsis yang dilombakan. Acaranya seru, terutama ada Fitri Tropica dan Edric yang kamera belom roll aja udah heboh sampe capek. Deswita juga terlihat luwes banget dalam membawakan acara. Sementara gue, si penulis kekurangan nutrisi, cuman bisa nyeletuk sambil ketawa-ketawa ngeliatin mereka yang sangat heboh sekali. And when I say heboh, I mean heboh. Belom pernah gue taping ada presenternya ngesot-ngesot sampai harus di retake. Hahaha.

Dari semua video yang ditayangin, video favorit gue actually berjudul Aura Sapi yaitu gerombolan laki-laki dengan tete kemana-mana menyanyikan lagu Aura Kasih. Wajib dilihat:

Najis. Video ini bikin mata gue bernanah.

Malemnya gue nongkrong di Kemang Food Festival bareng Edric, Fitri, sama beberapa orang managemennya Edric. Entah kebetulan atau engga, ketemu juga sama Aura Kasih pas lagi nongkrong di Kemang. Hahaha! Kita bubar jam 12 malem, dan gue gak bisa pulang… karena mobil gue gak ada di mana-mana. Blackberry baterenya abis, jadi supir juga gak bisa ditelepon. Akhirnya setelah sejam menyusuri Kemang layaknya anak tiri yang dibuang bapaknya, gue pulang naik ojek. Sampai rumah gue telepon supir gue, nampaknya dia tidak bisa membedakan antara Codefin dengan Kemang Food Festival. Gedubrak.

Eniwei, bagi yang mau lihat, bisa tonton gue dan teman-teman di:

Narsis Award
Global TV
Minggu, 10 Mei 2009
Pukul 10.30 (pagi) WIB

Makasih buat team Global TV yang ngundang gue,
dan udah rapi banget bikin acara ini.

Oh ya, satu hal, pas lagi di segmen 5, tiba-tiba ada Roy Suryo dateng ikutan jadi komentator. Now, if you are a blogger and you have Roy Suryo on the stage with you, well… you have to resist the urge to kill. :D

Have a great weekend, readers!

Saya menggendut dengan sangat mengerikan dan mengapa saya tidak mau menjadi caddy

Perut gue jadi buncit nih sekarang.

Gila, biasanya gue kemana-mana kalo gak pake iket pinggang pasti celana gue jadi kedodoran. Lah, kemaren dan hari ini gue keluar rumah gak pake iket pinggat, KENAPA KOK CELANANYA JADI MUAT?! Oh, ini sungguh buruk. Kenapa gue jadi gendut gini?!

Mungkin ini akibat dari tiap malem kerjaannya ngemil, kalo makan seafood pasti nasinya dua, kalo pagi minum 2 botol susu yoghurt, dan coklat satu box gede di rumah gue abisin dalam tempo dua hari saja.

Wajar,
saya menggendut dengan sangat mengerikan.

***

Email dari Indah:

Hai Dith, apa kabar???
Radith…..jangan sampe kalah lo sama Rani Juliani….
Pengunjung blognya udah ratusan ribu lebih……
Dia baru posting 2 artikel aja udah segitu yang kunjungin….
Radith nggak usah bikin skandal yah hanya untuk menyaingi blog Rani (www.rani-juliani.blogspot.com).
hwekekekekek.
Kali aja gitu, lo punya ide jadi caddy di tempat golf deket kandang kambing…dan lo bikin skandal sama kambingnya Antasari…..hehehehe.

Nah, kasus Rani Juliani si caddy maut ini emang lagi heboh banget di Indonesia. Semua pemberitaan di media, di koran, di internet, di blog penuh dengan si Rani Juliani ini. Dari semua berita ini, tidak ada pemberitaan yang lebih bikin gue kaget dari detik.com yang mempublikasikan nilai-nilai pelajaran si Rani Juliani. Ini gue kutip:

Bila soal penampilan memikat, nilai pelajaran Rhani justru tidak demikian. Dalam Surat Tanda Lulus (STL) SMU, nilai Rhani biasa-biasa saja. Nilai untuk Pancasila dan kewarganegaraan tertulis 5,84. Pendidikan Agama tertulis 6,43 dan praktek 8,0. Lalu bahasa dan sastra Indonesia tertulis 5,61 dan praktek 7,33. Sedangkan sejarah nasional dan sejarah umum 6,69.

Buset. Parah abis. Nilai orang dipajang-pajang buat publik gini. Caddy juga manusia, Bung. Pelajaran yang bisa diambil: kalau nilai pelajaran SMU kamu jelek, jangan jadi caddy… kalau suatu waktu terlibat kasus begini bisa malu nilai lo disebar kemana-mana! Menjadi caddy gue coret dari daftar cita-cita gue.

***

Email dari Andince:

Ada apa dengan radit+dinda ‘baby’ kepompong???? Radiiiittt!!!!! Barusan gue liat di salah satu infotainment yang cukup berjaya di Indonesia *halah*. Lo lg ngerayain ultahnya dinda yaa? Emg lo siapana dinda? Supir, tukang kebon, ato bermutasi jd dika anduk? *soalna gue liat lo lagi pegang2 andukna dinda*. Ga dijawab mandul! Hehe. Pisot!

I am a fan of serial Kepompong, dan waktu itu pas Dinda lagi ultah aja sekalian nyelametin. Hehe. Oh iya, itu bukan handuknya Dinda, tapi handuk yang gue pegang-pegang dan pake di kepala itu adalah handuknya… Derby Romero. Okeee… kenapa kedengerannya justru jadi rada serem ya?

***

Email dari Lia:

kenalin, aku lia dari jogja. sebenernya apa sih tujuan utama kmu nulis di blog(saat ini) bang dik ? aku sering bgt menemukan kata2 keluh kesah di dalem postinganmu, tpi kmu tetep smangat nulis HANYA untuk sekedar MENENTRAMKAN para readersmu yang nunggu2 postinganmu. waktu kmu sakit, waktu kmu lagi bnyak job, tetep disempetin nulis blog. kalo dipikir2 dalam keadaan keak gitu, jarang bgt skrang, ada org mau menghibur orang lain.

so, nulis untuk duit, sekedar hobi, atau bener2 untuk readers?

Secara general I love my job (writing), karena gue hidup dari hal yang gue senangi, dan ini berarti gue menyenangi hidup gue. Sedangkan gue nulis blog, karena gue emang dari dulu terbiasa menulis blog, dan agak aneh untuk engga nulis blog sama sekali. Plus, blog gue sekarang juga lebih jadi semacam sarana kabar-kabaran ke pembaca, dan tempat gue “pemanasan” sebelom bener-bener ngelanjutin nulis buat buku. Sekarang motivasi gue menulis buku, karena gue gak kepengen jadi “orang biasa aja”..

Because there’s nothing worse in life than being ordinary – American Beauty.

Tolong, Saya Kekurangan Celana Dalam

Sekarang jam 01.12 pagi.

gue lagi di 24/7 Cafe di Panglima Polim,
ngerjain makalah geopolitik yang akan dipresentasikan kurang dari 8 jam lagi.
dan sekarang baru dapet 3 halaman.

Fak.

di saat gue menulis ini mata gue tinggal setengah.
ini tampang gue:

Anyway, one random important stuff:
lagi ada hal aneh terjadi di rumah gue,
celana dalem gue banyak yang ilang.
Ini serius. Gue sedang defisit celana dalem.

Tiap pagi abis mandi kerjaan gue sekarang nyariin celana dalem yang masih punya kemungkinan untuk dipakai dengan nyaman. Ini agak susah, karena celana dalem yang tersisa di lemari gue adalah: 1) celana dalem lama yang udah sempit, dan 2) celana dalem yang udah sobek (jangan tanya kenapa).

Pertanyaannya sekarang: siapakah maling kolor di rumah gue?
Hmmmm..

Haduh jadi ngalor-ngidur.
kembali menulis makalah.