setelah penyerahan naskah

Oh ya, sebelum lupa, buat temen-temen di Bandung, gue ada talkshow di..

Pesta Buku Murah Bandung 2007
Paris Van Java, Bandung
Sabtu, 30 Juni 2007
18.30 - 20.00
Panggung Utama (Depan Gramedia)

Oke deh,
sampai ketemu di sana yak!

On an unrelated note, akhirnya gue menyerahkan naskah buku ketiga gue ke redaksi Gagasmedia minggu lalu. Ada perasaan geli-geli basah setiap kali gue ngasih naskah baru ke Gagas, semacem perasaan gelisah, penasaran, dan gak sabar ngeliat bukunya terbit. Tadinya sih, gue pengen tuh buku ketiga keluar bulan September, tapi pas ngasih ke Redaktur Pelaksana Gagas, Mbak Windy, gue bilang..

Gue: Mbak Windy, terbitnya gak usah September aja deh..
Mbak Windy: Jadi?
Gue: Yah, aku terserah Gagas aja.. kalo bisa sih cepetan..
Mbak Windy: Katanya tadi terserah?!
Gue: Terserah, tapi lebih cepet dari September..
Mbak Windy: Dit, namanya itu bukan terserah!
Gue: TERSERAH DEHHHH!

Sama halnya ketika gue ngasih lihat design covernya (gue berusaha design sendiri tiap cover buku gue, makanya jelek semua mehehehe)..

Gue: Mbak Windy, ini design cover bukunya
Mbak Windy: Oke..
Gue: Terserah aja ntar mo digimanain, pokoknya kayak gini dari aku
Mbak Windy: Oke..
Gue: Kalo bisa sih gak banyak berubah, gini aja..
Mbak Windy: KATANYA TERSERAH!

Untuk judul bukunya, gue dapetin tuh judul baru tiga hari sebelum naskah dikasih ke Gagasmedia. Nyari judul buku emang susah mampus, harus yang unik dan menarik. Setelah pertapaan yang cukup panjang (dan dapet inspirasi dari nungguin nonton film di 21) akhirnya gue dapet judul yang pas. Untuk judulnya, Mbak Windy bilang, "Lucu nih judulnya!" Judulnya apa? Ada deeeh. Hehe.

Yang lucu sebenernya proses penulisan buku terbaru gue ini, karena gue nulis nih buku dan ngumpulin bahan mulai dari Cinta Brontosaurus keluar.. eh tau-tau jadi buku! So, sekarang tuh buku ada di Gagasmedia, gue gak tau dapet jadwal di-edit kapan, begitu selesai di-edit mereka akan setting untuk pra-cetak, abis itu dicetak dan akhirnya masuk ke toko buku. I hope it wont take too long! :)

PS: Gue udah ngapus comment moderation, jadi semua orang bisa langsung comment tanpa harus gue approve. Gue baru tau caranya soalnya, gue kira kalo pake Worpress (dan jujur, lebih keren ini daripada pake Blogger.com) semua comment harus di moderate. Hehe. :P


menjadi penulis

studying comedy

Banyak orang yang gak tahu, sebenernya menulis komedi itu gak cuman bermodal "genetik" dan "bakat" ngelucu aja. Emang sih, ada orang yang punya bakat untuk bisa membuat komentar-komentar bego dan langsung diketawain orang, tapi sebenernya komedi itu lebih banyak ke arah seni dibandingkan science. Nah, seperti kebanyakan seni, teknik-tekniknya bisa dipelajari.

Tema ini gue sempet bawa waktu acara Rotaract di Wahid Institute, di mana gue mencoba untuk presentasi makalah super singkat gue yang berjudul "Tentang Menulis Komedi". Tapi, dasar gue orangnya gak bisa serius, waktu presentasi makalah cuman kepake 10 menit, sisanya cerita-cerita pengalaman nulis dengan bodohnya.

Eniwei, gue coba buat ringkasan terhadap makalah super singkat gue,
dan berharap bisa berbagi buat temen-temen pembaca di sini. I'm open for discussion! :)

gaya banget

Sewaktu masih di Australia, gue suka banget nonton stand-up comedy dan menganalisa bagaimana bermacam-macam orang ngelawak. Sesuai dengan namanya, stand-up comedy berarti stand-up (berdiri) di atas panggung, memegang mic sendirian, lalu menceritakan jokes-jokes secara langsung. Hal ini pernah dicoba oleh Taufik Savalas di acara Comedy Club, tapi gak berhasil karena Taufik Savalas hanya menghapalkan cerita-cerita lucu dari buku, bukannya membuat cerita dan personality-nya sendiri. Stand up comedy sangat berbeda dengan “menceritakan cerita lucu”.

Dengan ngebedah stand-up comedy gue jadi tahu bahwa semua joke itu terdiri dari dua buah kompenen dasar. Pertama setup, yaitu penjelasan dari sebuah joke, bagian dari joke itu sendiri yang tidak untuk ditertawai tapi menjadi sebuah eksposisi atau pengantar dari joke itu sendiri. Setup akan mengarah kepada punch line, ini adalah bagian yang lucu dari sebuah joke.

Berikut ini contoh dari joke dengan tipe observational comedy yang dilakukan oleh Jerry Seinfeld:

SET-UP:
Kenapa orang harus memberikan bunga? Untuk merayakan cinta saja mereka kok harus membunuh makhluk hidup, kenapa harus dibatasi dengan bunga saja?

PUNCHLINE:
Kenapa gak bilang, “Sayang, baikan yuk. Nih, bangkai tupai.”

Kita bisa mengadaptasi ini untuk novel atau tulisan komedi yang kita buat, set up bisa terdiri dari beberapa kalimat, bahkan beberapa paragraf. Contoh lain dari penggunaan setup dan punchline dapat kita lihat berikut, yang gue coba buat sendiri...

SET-UP:

Edgar mengambil botol minum, tas ransel, dan kotak makanannya. Dia memang masih kelas 4 SD, tapi sifat rajinnya udah mulai muncul. Edgar tersenyum kepada ibunya dan berkata, “Mak! Berangkat sekolah dulu ya.”
Ibunya bilang, “Oke. Hati-hati di sekolah ya.”

PUNCH-LINE:

“Edgar! Tunggu!” Bapaknya keluar dari ruang tamu dan menghampirinya. “Kamu belum bercelana, Nak!”

Menurut gue, menganalisa hubungan setup dengan punchline sebanyak-banyaknya komedian yang kita tahu, bisa membuat kita jadi semakin tajam membuat joke sendiri.

Gue setuju banget dengan apa yang ditulis Sastrawan Pilihan Tempo 2004 yang sempet jadi bos gue, AS Laksana, di harian Pikiran Rakyat: “riwayat hidup seorang penulis biasanya adalah juga riwayat hidup seorang pembaca. Ia melahap banyak bacaan, penasaran pada karya-karya yang sudah ditulis orang, dan kemudian menjadi penulis. Pada mulanya mungkin ia melakukan beberapa peniruan (bukan penjiplakan); itu proses yang wajar untuk akhirnya menemukan otentitas.”

Di Indonesia, gue suka sama Samuel Mulya, menurut gue dia termasuk orang yang benar-benar tajam, lucu, dan cerdas sekaligus sewaktu menulis kolomnya yang hadir di Kompas akhir pekan. Gaya humornya yang kasual, cynical, dan sarkastik bisa membuat pembaca tersenyum dan mengangguk-angguk sendiri.

Di Amerika sendiri, komedi telah menjadi sebuah industri besar. Mereka berhasil menelurkan komedian-komedian baru yang mengambil perspektif yang sangat unik. Membedah bagaimana American comics (orang yang bekerja sebagai stand up comedian) perform di atas panggung dengan jokes-jokesnya itu sangat menyenangkan. Aura dan personality mereka pun bermacam-macam. Robin Williams sang improvisationalist terlihat seperti orang yang kerjaannya marah melulu. Jerry Seinfeld mengungkapkan keheranannya dengan dunia kita sehari-hari (observational comedy). David Letterman bener-bener wacky. Woody Allen.. wow, he's just the best! Salah satu transkrip dari komedian paling intelek sepanjang zaman (menurut gue), Woody Allen, bisa dibaca sepenuhnya di http://ibras.dk/comedy/allen.htm.

Itu tadi para stand up comedian, kalau untuk penulis komedi, gue suka memperhatikan bagaimana Hilman Hariwijaya dengan kosakatanya yang lucu dapat ngebuat gue ketawa geli, atau gimana Sophie Kinsella yang pendekatan komedinya lebih ke situasional. David Sedaris, dengan bukunya yang baru diterjemahkan Me Talk Pretty One Day (Transmedia, 2007) jago banget ngebuat humor dengan what-if-nya dia. Sekali lagi, gue termasuk orang yang percaya semakin banyak stand up comedian yang kita tonton, dan buku humor yang kita baca, semakin tajam insting kita untuk menulis komedi.

Tapi ingat, tentu aja ada perbedaan mendasar antara mempelajari dengan meng-copy. Yang boleh dilakukan, untuk pembelajaran, adalah menganalisa struktur komedi dan formula komedi yang orang lakukan lalu menuliskannya kembali (rewrite). Dengan rewriting kita pasti akan punya gambaran jelas dalam menemukan gaya komedi sendiri.

Wah, kok jadi panjang ya..
Hehehe..

Ada banyak hal lagi yang sebenernya pengen dibahas, seperti gue kemaren baru aja baca buku yang membedah komedi secara filosofis dengan Schopenhauer sebagai pisau analisanya. Yang dibedah? Jokes-jokesnya Woody Allen di film Annie Hall. Menarik banget! Tapi itu untuk lain waktu kali ya.. Hehe.

Intinya, komedi itu suatu dunia luas untuk ngejawab satu pertanyaan..
Pertanyaan yang sebenernya, simpel banget: "Apa yang membuat saya tertawa?"

PS: Tengkiu berat buat club Rotaract yang mengundang gue di Wahid Institute. Foto-foto lain bisa dilihat di web para peserta Ardian, Yuniar, Jejen, Tuhu


lagi bener

masuk minggu baru lagi

gila. minggu kemaren jadwal gue kayak pantat. bener-bener bikin pusing. selasa sampe jumat ngajar kelas creative writing di SMA santa ursula BSD, abis itu sabtunya talkshow di pesta buku jakarta, abis itu minggunya ngisi materi sharing ttg dunia penulisan di wahid institute. satu hal yang bisa gue sebut untuk menggambarkan seluruh pengalaman tersebut: MUNTAH DARAH.

minggu ini juga gak jauh beda sih,
untungnya kuliah lagi libur.

kemaren meeting terakhir draft film kambingjantan. so far so good, gue suka banget ama endingnya. dan setuhan mas aris (salman aristo) sebagai head scriptwriter ngebuat tuh film jadi berasa comedic banget, lucu yang bego tapi anehnya berasa cerdas juga.

sampai saat ini sih belom ada casting. option pertama untuk jadi pemeran utamanya kayaknya sih gue (memainkan diri gue sendiri, meheheh). tapi salah satu produsernya, mbak tyas, sempet bilang gini ke gue beberapa minggu lalu: "iya dik, kalau kamu jadi pemeran utama.. kamu kan gak terkenal dan jelek, nah pemeran sisanya harus artis semua buat ngimbangin kamu!" gue gak tau mesti bangga atau menunduk lemas!

meeting terakhir kita running through dengan draft skenario sebanyak 87 halaman. alhasil, meeting yang dimulai jam 7 malem akhirnya baru selesai jam 1 pagi, dengan gue yang end up nyetir sambil mencong-mencong.

eniwei,
ada penulis yang bilang ketakutan seorang penulis ketika mengeluarkan karya berikutnya adalah fear of rejection. kayaknya, ini yang gue rasain dengan buku ketiga gue. sampai saat ini gue belom ngasih ke gagas, walaupun naskahnya emang udah jadi. masih gue baca ulang berulang berulang berulang kali. gue baca sambil melakukan perubahan-perubahan kecil, pengen aja biar naskahnya bener-bener lucu dan bagus.

adhit (jomblo, gege mengejar cinta) aja pernah bilang ke gue,
kalau naskah novelnya biasanya sampai belasan kali draft.

hmmmmm...


menjadi penulis

 1 2 Next