Malang and Surabaya, here I come!

Yes, saatnya roadshow daerah lagi. Kali ini gue bersama dua penulis lainnya, Christian Simamora dan Windy Ariestanty (keduanya penulis buku Shit Happens), akan melakukan roadshow ke Malang dan Surabaya di minggu ini. Oh ya, selain menjadi penulis, Christian juga editor gue untuk buku Radikus Makankakus. Sedangkan, Windy Ariestanty adalah pimpinan redaksi Gagasmedia, sekaligus editor buku Cinta Brontosaurus. Keduanya sangat-sangat bocor, jadi kayaknya bakalan banyak cerita menarik sepulang dari sana nih.

Berikut susunan acara yang bakalan gue datengin:

--

Jadwal KOTA MALANG

Kamis, 29 November
10. 00 : Pembicara Pembanding atas novel Shit Happens di Universitas Brawijaya, Malang
19.00 : Talkshow di Gramedia Malang Town Square

Jumat, 30 November
14.30 : Pembicara di acara Bengkel Naskah, Perpustakaan Kota Malang
19.00 : Pembicara di acara "Menjadi Penulis Yuk!", Plaza Araya

Jadwal KOTA SURABAYA

Sabtu, 1 Desember: Pembicara seminar "Menulis Komedi", Universitas Airlangga
(untuk ikutan, bisa telpon ke Nunung - 031-71921911)
Minggu, 2 Desember: Talkshow di Dunkin Donut Surabaya (waktu tempat masih TBA)

--

Eniwei, rangkaian talkshow buku Radikus Makankakus gue di Jakarta gue sebentar lagi akan berakhir. Two more talkshows to go! Selama beberapa minggu ini gue dapet banyak banget kesan yang oke. Apalagi, beberapa pembaca juga banyak ngasih barang yang aneh-aneh. Sebagai wujud terimakasih, ini adalah dua barang terabsurd yang gue dapet sepanjang rangkaian talkshow akhir tahun ini:

1. Tali Beha Nyokap + Papan

tali beha sapa neh?
bagi yang kehilangan tali beha, coba tolong diambil ya sebelum dikerubungin lalet

Ini gue dapet waktu talkshow di Gunung Agung Kelapa Gading. Tadinya gue pikir ini cuman papan biasa yang digantung pake tali rafia, ternyata setelah diteliti dan diraba-raba lebih lanjut.. karton ini digantung pake TALI BEHA SESEORANG. Udah gitu besi di tali behanya udah karatan pula. Huhuhu. Gue mendengar bisikan samar-samar ketika lagi minta dipoto dengan memakai papan ini. "Dith, ini tali beha emak gue lhoooo." Oh tante, maafkan dosa anakmu. Mungkin kalo suatu hari gue depresi dan niat bunuh diri, gue bakal sumpelin satu tali ini buat nyumbet bolongan idung gue.

Papan ini akhirnya gue simpen di deket rak buku di kamar.
Siapa tau kalo ada maling, bisa gue cekek pake tali beha ini.

2. Stereofoam


Stereofoam pink

Stereofoam ini gue dapet pas talkshow di Gramedia Cinere. Lucu abis. Ada tulisan "oom godain kita dong" yang ditaro di atas foto bayi (bayinya sapa tuh kasian banget). Ada tulisan "Bukan Binatang Biasa" yang didapet dari motong-motong dari poster (?) Bukan Bintang Biasa terus dikasih tambahan "A". Hahaha. Kreatif abis.

Eniwei, sekarang seharusnya musim hujan, tapi kenapa kok UDARANYA PANAS BANGET YEH? Mudah-mudahan di daerah gak sepanas ini deh, amin. Sekarang, waktunya packing dan milih-milih baju buat nanti. Semangat! All in all, see you at Malang and Surabaya guys! :D

PS: Friendster terakhir gue penuh, gue baru bikin yang baru. Silakan add gue di: kambingdioz@hotmail.com. Cheers!


jadwal talkshow

Nama gue..

Apalah arti sebuah nama? Sebener-benernya, menurut gue, nama seseorang itu berpengaruh. Katakanlah gini, ada seorang cowok lagi di mall, terus ada dua cewek ngajak kenalan. Mereka level cantiknya sama, sosial ekonominya sama, semuanya sama, tapi yang satu namanya Maemonah dan yang satu lagi namanya Vira. Pasti kalau berlangsung ke kegiatan menggebet, si cowok lebih milih yang Vira, bukan? Kecuali kalau nama panjang Vira itu Vira Bokerdikali.

Lucunya, nama gue yang sebenarnya bukan Raditya Dika. Gue terlahir sebagai Dika Angkasaputra Moerwani. Perubahan nama ini terjadi ketika gue kelas 4 SD. Saat itu, tanpa ada pertanda apa pun, gue bilang ke nyokap, "Ma, aku pengen ganti nama." Nyokap gue bilang, "Mau jadi apa namanya?" seolah-olah ganti nama adalah sesuatu yang lazim dilakukan oleh anak kecil. Setelah bepikir cukup lama, karena kedengerannya keren, terpilihlah nama "Raditya". Jadi, mulai kelas 4 SD, nama gue secara (tidak) resmi menjadi Raditya Dika.

Lucunya, begitu gue mau ujian nasional kelulusan SD, gue diminta sekolah untuk menuliskan nama gue. Gue tulis nama gue di lembar formulir yang diberikan sekolah jadi "Raditya Dika", bukan nama terlahir gue. Eh, sekolah engga cross-check sama akte kelahiran, jadilah nama gue di ijazah SD menjadi Raditya Dika.

Begonya, pas masuk SMP, pihak SMP engga ngikutin nama di akte kelahiran, tapi nama di ijazah SD. Gue terdaftar di SMP Tarakanita I sebagai Raditya Dika. Semenjak saat itu, dalam kehidupan pendidikan gue, nama Dika Angkasaputra Moerwani pun berganti dengan Raditya Dika. Ijazah SMP juga memakai nama "Raditya Dika", orang-orang mulai manggil gue "Radith", bukannya "Dika" lagi. And so on. Pas umur 17, karena kelurahan gak ngecek, KTP gue pun namanya jadi Raditya Dika. SIM, karena ngikutin KTP, juga make nama itu.


seperti tampang narapidana

Masalah baru timbul pas gue mau kuliah ke luar negeri. Ketika itu, mereka meminta akte kelahiran gue dan mencocokannya sama ijazah SMA. Nah lho, kok gak sama? Pasport, karena make akte kelahiran, jadi masalah. Tiket pesawat yang gue pesen ke sana juga atas nama Raditya Dika, bukan nama terlahir gue. Itu juga menjadi masalah. Akhirnya, pihak imigrasi membuatkan gue nama alias. Jadinya, di halaman kedua pasport gue ada tulisan: "The bearer of this passport is also know as Raditya Dika" yang disahkan oleh kepala imigrasi. Heboh. Gue berasa agen rahasia di negara-negara bule yang punya nama alias.


dia bukan teroris

Setelah gue pikir-pikir, ternyata gue cukup heboh juga pake acara ganti nama segala. Tapi, gue cukup beruntung dibandingin temennya temen gue yang namanya ASU (ini beneran). Katanya, nama adiknya malah DAPUR. Gue curiga jangan-jangan bapaknya namanya KONDOM. Huhuhuhu.


sehari-hari

Gosip

Belom lagi developer website ini mindahin ke unlimited bandwidth ehhh udah over-bandwidth lagi. Maaf buat pembaca yang sempet ke sini tapi ternyata over-bandwidth ya, gue harap minggu ini developer gue udah bisa membuat radityadika.com jadi unlimited bandwidth. Gue udah bayar ke developernya pas kejadian over-bandwidth bulan lalu, tapi emang proses pindah hostingnya cukup lama. Nah, kalau udah jadi unlimited gue mau upload lagu-lagu band gue biar kalian bisa download (banyak yang nanya pas talkshow soalnya), so, stay tune on this website ya! :D

Eniwei, gue sekarang ini jarang banget nonton tipi. Lagi gak sempet banget soalnya. Tapi, weekend kemaren gue nonton tipi dan terus terang gue shock. Kesimpulan yang bisa gue ambil adalah: acara gosip di televisi kita cenderung mengarah ke.. ajaib.

Gue nonton Silet di RCTI, di mana Fenny Rose, si presenternya, kalo ngomong seolah-olah berita yang dia katakan bener-bener penting. Dengan background item dan serem, badan si presenter berdiri tegap mengarah ke samping. Fenny Rose lalu ngeliat ke arah kamera dengan tatapan tajam dan berkata dengan suara yang dibuat-buat berat (atau emang dulunya cowok? Hmmm..), "Pemirsa. Apakah ini berarti Maia Ahmad akan melupakan cintanya yang sudah terjalin lama itu? Apakah ini berarti, cinta suci ini akan berhenti ketika ada pihak ketiga? Apakah pernikahan, lembaga yang sakral itu, akan putus di tengah jalannya?" Lalu tiba-tiba muncul liputan tentang Maia Ahmad dan suaminya yang jenggotan itu.

Contoh lain, bulan Ramadhan yang lalu gue nonton gosip tentang Bams yang putus ama Nia Rahmadani. Presenternya bilang, "Setelah putus, ini berarti mereka tidak akan memadu kasih di bulan Ramadhan ini, pemirsa. Di bulan suci ini, cinta mereka tidak lagi bersama. Mereka akan menjalankan ibadahnya masing-masing," si presenter diem bentar, lalu melanjutkan penuh penekanan, "Sendirian." Setelah ngomong gitu, muka si presenter nunduk dikit ke bawah, bibirnya dimajuin, seolah-olah neneknya mati dimakan jerapah. Dramatis abis.

Bukan gak mungkin kalo suatu saat Ian Kasela go public untuk ngelepas kacamatanya, si presenter gosip itu akan bilang, "Ini momen besar bagi masyarakat Indonesia, pemirsa. Siaran langsung pelepasan kacamata Ian Kasela, live dari lapangan banteng. Bersiaplah pemirsa, ketika melihat sebuah kacamata hitam terlepas dari muka orang paling terkenal di kalangan peternak sapi Indonesia. Ini momen besar. Kita akan tahu, pemirsa, apakah memang pupil Ian Kasela bentuknya seperti kacang mede. Selamat menyaksikan. Oh iya, kami anjurkan untuk tidak makan sewaktu menyaksikan acara ini."


bukan, ini bukan fotonya Ian Kasela

Acara gosip jadi hiburan tersendiri bagi gue. Ngeliat orang ramai-ramai berantem, atau si artis anu pacaran ama artis anu. Emang beneran penting ya? Terus terang, gue orang yang sangat ketinggalan dalam dunia pergosipan Indonesia. Cinta Laura, misalnya, jadi nama yang lagi ngetrend setiap kali gue ngobrol ama temen-temen. Pertanyaan terbesar gue adalah: Cinta Laura itu siapa ya? Dan punya hubungan apa dia dengan aksen bule? Kayaknya, gue harus lebih rajin lagi nonton gosip nih.

Ngomong-ngomong soal gosip, ada kejadian lucu pas gue dateng ke Semarang.
Ceritanya gue baru aja nyampe Semarang, tiba-tiba Liasion Officer gue nanya,

Arly: Mas Radith, saya mau tanya.
Gue: Iya, kenapa?
Arly: Tapi sebelumnya aku minta maaf ya, kalau nanti tersinggung..
Gue: Kenapa?
Arly: Istri Mas Radith gak dibawa?
Gue: HAH? GUE GAK PUNYA ISTRI KALI.

Kali gitu punya istri. Melihara Edgar aja kadang masih sering lupa dikasih makan, eh mau melihara istri pula.

Gue: Emang tau darimana aku punya istri?
Arly: Engga, abis ada pembaca yang ngasih tau aku pas dari pameran, katanya Mas Radith udah punya istri.
Gue: Buset.

Eh, bener aja, pas gue talkshow di radio ada penelpon yang nanya, "Mas Radith, istrinya gak dibawa?" Nampaknya, satu-satu penjelasan yang masuk akal adalah banyak orang yang salah sangka membaca cerita ini. Huhuhuhu. Oh ya, tadi gue dikasi tau temen gue yang lagi blogwalking, kalo ada yang naro poto gue kayang di Semarang di sini. Setelah gue liat-liat, kok muka gue kesiksa banget yah pas lagi kayang? Hehehe.


sehari-hari

 1 2 3 Next