Menjelang Babi Ngesot keluar di toko buku (tanggal 25 bulan ini.. SEMINGGU LAGI!!!!!), gue makin deg-degan. Ini perasaan yang selalu gue rasain setiap buku baru mau keluar: gelisah. Kegelisahan yang paling utama sih jelas gelisah akan dibanding-bandingkan dengan buku lain. Tapi, menurut Christian Simamora (editor Radikus Makankakus), kita gak bisa memuaskan semua pihak akan ada yang suka buku kita yang ini, ada juga yang suka buku yang lama ada yang baru. Sedangkan, bagi gue, untuk melawan kegelisahan, biasanya gue pede aja. Selama gue pede dengan hasil karya gue, gak ada yang bisa membuat gue gelisah lagi.
Anyway, setelah nulis Babi Ngesot, kayak gue mau istirahat dulu bikin buku pengalaman pribadi. Biasanya, sebelum tidur gue pasti nulis entah satu atau dua halaman berisi cerita pengalaman pribadi untuk nanti dikumpulkan menjadi buku baru. Sekarang gue udah berhenti total. Gue mau istirahat dulu bikin buku model Cinta Brontosaurus, Radikus Makankakus, atau Babi Ngesot. Gue mau konsentrasi ke tipe buku yang lain, seperti komik Kambingjantan yang lagi di-pending, nungguin Dio -komikusnya- selesai UAN (ayo beri Dio semangat biar lulus UAN di friendsternya). Pengen buat buku komedi yang bentuknya lain, tapi apa ya? Sambil mikir-mikir ahh.
On a lighter note, beberapa orang yang udah baca duluan Babi Ngesot sih merespon positif. Rata-rata mereka lebih suka Babi Ngesot dibandingkan Radikus Makankakus, entah kenapa ya? Entah kenapa juga, gue menemukan beda grup pembaca beda buku kesukaannya. Misalnya, anak-anak SMP/SMA biasanya lebih suka sama Kambingjantan karena, kata mereka, lebih spontan. Orang perbukuan (editor gue, penulis, editor penerbit lain, atau karyawan pada umumnya) lebih suka Cinta Brontosaurus. Radikus Makankakus biasanya langsung jadi favorit orang yang pertama kali baca buku gue. Kalau Babi Ngesot, keluar aja belum. Sedangkan, orang yang waras biasanya langsung beramai-ramai membakar buku gue. Hehe.
Ngomong-ngomong soal buku dan perbandingan,
ada comment seorang pembaca di postingan gue seperti ini:
inthemiso:
hai dika.. ? gw uda buku lo baca 3-3nya..
gue suka Radikus Makankakus
klo dika dr smuanya apa yg disuka.. ?
Hmmm kalo secara pribadi sih gue engga suka memperbandingkan buku gue. Gue memandang buku-buku itu seperti anak yang gue lahirkan. Jadi, masing-masing anak yah berbeda antara satu dengan lainnya. Suka, jelas suka semuanya. Semuanya punya ceritanya pembuatan sendiri yang menurut gue sangat menarik. Tapi, kalau boleh memilih cerita mana yang paling berbekas.. gue milih Di Balik Jendela, salah satu cerita di Cinta Brontosaurus yang menceritakan waktu gue naik bus setelah diputusin sama si Kebo. Jujur, gue waktu itu nulis di bus pake kertas notes dan pulpen. Rasanya gimanaaa gitu. Nulisnya sampai mencret air mata.. akhirnya gue dehidrasi dan pingsan (ekstrim). It is one of my favorite stories.
Salah satu pertanyaan lain yang sering gue dapet dan gak gue bisa jawab sampai sekarang justru: tulisan gue masuk kategori buku apa ya? Fiksi, jelas tidak. Tapi, non-fiksi juga gak mungkin gabung sama buku seperti Quantum Ikhlas, bisa-bisa buku Quantum Ikhlas meledak kalo ditaro berdampingan dengan buku gue. Memoar atau biografi, juga gak mungkin. Terlalu pendek untuk sebuah biografi. Dari semua pilihan itu, ternyata, di Jambi buku gue masuk ke dalam rak Misteri & Kejahatan. Sungguh, tempat yang cocok untuk buku ini!!!!! Mhuahahahaha (ketawa setan).

tempat yang cocok untuk buku pengundang arwah jahat
Begitu gue ngadu ke temen gue atas pelabelan buku gue sebagai buku Misteri dan Kejahatan, dia jawab simpel, ‘Liat aja di cover, tampang lu tampang kriminal, kali.’ Oh Tuhan, benarkah? BENARKAH? (sambil meraba-raba muka sendiri). Gue punya muka ini dari lahir (ya iyalah) dan gue tau banget: tampang gue bukan tampang kriminal. Tampang gue adalah tampang kiyut. Liat aja, foto berikut ini:

ABG yang tersesat
Gimana? Bukan tampang kriminal kan?
Btw, foto di atas adalah foto yang dipakai untuk profil penulis di buku Babi Ngesot (gak penting).
Topik lain lagi, sekarang design website ini sudah jadi. Designnya finalnya akan seperti yang kalian sekarang lihat ini. Gue dapet jatah ganti design dua kali setahun sama developernya, so… moga-moga selama 6 bulan bulan ke depan kalian suka dengan design yang ini. Gue ngambil yang simpel soalnya sebelum jadi buku, blog gue identik dengan ruang kosong dengan satu header di atas.
Salah satu perubahan major di website ini adalah pemasangan iklan (baca: adsense) dan spase promosi di bagian bawah. Hal ini gue nilai penting, soalnya gue bisa dapet uang yang akan gue investasikan kembali untuk perkembangan website ini. Sebuah website, semakin rame tentu biaya pengelolaannya semakin mahal. Jadi, mari sama-sama berkembang (dan bermain-main) dengan website ini.
Untuk film Kambingjantan, setelah komentar di postingan tentang kemungkinan pemeran film, kita kayaknya gak milih Raffi Ahmad. Perkembangan filmnya sampai saat ini, kita akhirnya dapet investor, setelah nyari-nyari investor dengan penuh perjuangan dan puasa selama lima menit… kita akhirnya dapat juga. Perkembangannya berlansung pesat, semuanya jalan terus. Kegiatan pre-produksi lagi dipersiapkan. Seharusnya gue ikut meeting sama Mas Rudi Soedjarwo pagi ini, tapi gue ternyata harus ngisi untuk pelatihan editor.. Huhuhuhu. But, all is well.
Oh ya, di rumah gue ada binatang peliharaan baru, si Yudhit baru dikasih kucing Persia sama temannya. Bagi yang udah baca Cinta Brontosaurus, pasti mengerti bagaimana Neko, kucing Persia yang kita pelihara tiba-tiba kabur karena masalah cinta. Apakah kucing ini akan bernasib sama dengan Neko? Entahlah, kita tunggu saja. Di postingan berikutnya gue bakalan tampilkan kucing yang menunggu mati yang beruntung untuk dipelihara kami sekeluarga itu.
So, see ya around!





