Pada Sebuah Malam
Kadang,
sakit hati bisa membuat seseorang susah tidur.
Tengah malem kemarin, gue baca lagi postingan gue yang ini. Sambil ngebaca tulisan itu, gue juga mendengarkan lagu ini. Gak tahu kenapa, ngebaca sambil mendengarkan lagu tersebut ngebuat gue ngerasa sedih, nostalgic, dan ada urgensi untuk nulis sesuatu. Ada semacam perasaan yang pengen keluar, pengen cerita, yang tidak bisa gue definisikan.
Di tengah perasaan yang menggebu-gebu, gue mulai menulis pengalaman gue yang paling menyakitkan dalam hidup: cinta yang tak berbalas. Huruf demi huruf merangkai kalimat merangkai paragraf, dan tanpa gue sadari… satu halaman jadi. Lalu gue menyederkan badan ke kursi. Membaca tiap huruf, dan gue tertawa sambil menggelengkan kepala. Belum pernah gue ngerasa begitu deket dengan tulisan gue, begitu rapuh, begitu lancar, seperti mengobrol dengan teman lama yang sudah lama hilang. Seperti mengobrol dengan seorang teman, yang baru pulang dari suatu tempat yang jauh.
Gue keluar kamar,
bikin kopi panas.
Lalu gue melanjutkan menulis. Satu demi satu gue tulis, dan gue menyelesaikan empat file tulisan setengah jadi. Gue baca ulang, resapi, tertawa, sedih. Saat itu, baru gue menyadari, ternyata gue udah lama gak menulis humor yang kontemplatif. Udah lama gak ngebuat sebuah tulisan yang ngebuat gue berpikir kembali tentang hal-hal pahit yang gue alami dalam hidup, lalu di saat yang bersamaan, menertawakannya.
Udah lama gue gak keluar dari comfort zone gue, menceritakan sesuatu yang ngebuat gue tutup mata, lalu balik lagi ke waktu yang gue ceritakan. Memberitahu pembaca kalau hidup gue gak selalu seneng. Membuat orang paham bahwa gue punya masa-masa gelap dalam hidup gue. Bahwa, pada satu masa, gue pernah sakit hati, pernah ngerasa kehilangan, pernah ngerasa paling bodoh, paling lemah. Pernah merasakan apa yang orang-orang lain pernah rasakan. Pernah menjadi manusia.
You see, seseorang bisa menjadi lucu ketika jujur bercerita. Seseorang juga bisa menjadi menangis ketika bercerita tentang cinta. Gue pengen menulis keduanya. Gue pengen membuat sesuatu yang membuat orang tertawa dan menangis. Karena itulah inti dari hidup ini: tertawa, dan menangis.
Gue menulis, menulis, dan menulis. Sampai capek menulis, gue ngeliat ke langit-langit kamar… merenung sendirian. Di sini lah gue: ribuan kilometer dari rumah, menulis tentang seseorang yang tidak pernah gue dapatkan. Seseorang yang pernah membuat hati gue dipecahkan menjadi ribuan serpihan kecil yang lalu coba gue kumpulkan kembali. Yang gue coba, perlahan-lahan, bentuk kembali..untuk bisa diberikan kepada orang lain.
Kopi di cangkir putih,
habis gue teguk.
Gue melihat jam, sudah jam dua pagi. Lalu gue membuat satu folder baru di desktop gue. Gue mengisi folder tersebut dengan semua tulisan yang baru gue buat. Lalu gue namain folder baru tersebut: BUKU KELIMA - WORK ON PROGRESS. Tidak berapa lama, gue membuang waktu dengan mengedip, tanpa berpikir apa-apa. Gue menutup laptop, lalu dengan malas tiduran di atas tempat tidur.
Sepuluh, dua puluh menit,
gue masih gak bisa tidur.
Mungkin memang benar:
kadang, sakit hati bisa membuat seseorang susah tidur.
Untuk Kalian yang Tidak Bisa Duduk…
UPDATE: Errr… buset yang komentar kok pada serius, harap kalian ketahui si Ahmad Syaltut ini ngirim email dengan nada becanda bukan protes beneran. Jawaban gue adalah tanggepan atas becandaan dia. Nampaknya orang-orang pada nganggep in si Ahamd beneran protes dan isi komentar malah kebanyakan berdebat jongkok vs duduk. Hahaha. Mari kita bergandengan tangan dan bersatu dalam boker yang khusyuk.
–
Di buku Babi Ngesot, gue menulis: “Gue sempet beberapa kali antriannya disela sama orang yang kampungan yang gak mau ngantri. Bagi gue, orang yang gak bisa ngantri adalah orang kampungan. Tau kan, tipe-tipe orang yang kalo masuk di WC duduk pas boker bakalan tetep nangkring jongkok. Ada apa sih dengan orang-orang ini?”
Minggu lalu,
ada email masuk seperti ini:
- email Ahmad Syaltut
Kepada Yang terhormat Saudara Raditya Dika,
Dengan e-mail ini saya ingin menyatakan keberatan saya atas beberapa tulisan yang telah anda tulis dalam buku terbaru anda yang berjudul Babi Ngesot. Ada beberapa komentar yang anda tulis dalam buku tersebut telah menyinggung perasaan beberapa orang, termasuk saya. Tulisan yang saya maksud tersebut adalah ketika anda menyinggung sikap “orang kampungan” yang anda gambarkan sebagai orang-orang yang tidak mau mengantre dengan semestinya, dst, dst.
Poin yang saya maksud adalah ketika anda setelah memaparkan sikap-sikap kampungan tersebut lalu anda menulis “tau kan, jenis orang-orang yang cuman bisa BAB di WC jongkok ( ada apa sih dengan orang-orang seperti itu?) dengan tidak berperasaannya. Harap anda ketahui saja, ada beberapa jenis orang yang tidak bisa melakukan panggilan ilahinya dengan cara-cara tertentu yang telah ditetapkan oleh society modern secara umum, seperti misalnya BAB di WC duduk, dan saya adalah salah satu di antaranya. Asal anda pahami lebih dalam, Kami ( orang2 yang hanya bisa BAB di WC jongkok) pun tidak mempunyai alasan yang spesifik mengenai tata cara buang air besar yang baik dan benar. Karena cara tersebut kami dapati adalah cara yang paling nyaman untuk melakukan”nya”. Tidak ada alasan secara medis maupun psikologis dari hal ini.Teima kasih atas perhatiannya,
harap anda lebih peka mengenai hal-hal yang lebih sensitif dalam buku berikutnya,
semoga sukses.
Bay de wey IDUP BOKER DI WE CE JONGKOK
peace out
Kepada Bapak Ahmad Syaltut,
di mana pun Anda jongkok.
Terus terang saya terkejut dengan email Anda. Saya kaget. Saya syok. Saya sampai gosok gigi. Saya tidak mengira bahwa ada orang-orang yang memang “dari sono”-nya tidak bisa pup duduk di WC duduk. Percayalah, Bapak, saya sungguh-sungguh prihatin atas kondisi Anda.
Membaca kalimat demi kalimat yang ada di dalam email Anda, secara tak sadar… saya menangis. Badan saya bergetar. Gigi saya gemertak. Upil saya meledak. Saya sedih. Sedih sekali. Saya tidak bisa mengerti kenapa Yang Maha Esa tidak bisa mengizinkan Anda duduk di WC duduk.
Sebagai lambang permohonan maaf saya, dan wujud dari rasa penyesalan saya,
mulai saat ini saya akan pup duduk di WC jongkok. Semoga Anda menerima penyesalan ini.
Dengan kekuatan bulan,
Raditya Dika
Post in: Blog | 261 Comments »Mmmmm.. Yoghurt..
Summer course gue di Utrecht University bakalan kelar empat hari lagi.
Sedihnyaaaa… masih pengen di sini nih.Sejauh ini it’s been fun.
Satu hal yang gue masih gak pas adalah makanan orang Eropa yang kebanyakan roti. Dikit-dikit makan roti. Pagi makan roti, siang roti, malem baru makanan “panas”. Bagi gue, yang perutnya Indonesia banget, kalo gak makan nasi rasanya gak kenyang. Sedihnya, makan siang nasi di sini gak bisa diandalkan. Kentucky Fried Chicken di sini gak ada nasinya, dan kalo mo maksa makan nasi di restoran… jatoh-jatohnya mahal banget.
Nevertheless, di Utrecht gue mengembara mencoba makanan di beberapa tempat. Sejauh ini ada dua hal yang gue suka dari menu makanan di Utrecht:
1. Roast Duck di Paradijs

mana yang bebek, mana yang makan?
Hmmmmm… bebeknya enak banget. Gue dapet rekomendasi tempat makan ini dari Mas Eka, produser radio Netherlands yang mewawancarai gue. Kita melakukan sesi interview di restoran ini. Seperti kata Mas Eka, Paradijs memang restoran paling enak di Utrecht. Gue gak bakalan bisa nemuin tempat makan lain seenak ini di Utrecht. Bebeknya beda-beda tipis sama restoran Xin di Jakarta, salah satu tempat makan bebek favorit gue di Indonesia.
2. Yoghurt McD Netherlands

makanan sadis
McDonald’s di luar negeri selalu punya menu sampingan yang dasyat abis. Kalau di Adelaide ada Apple Pie, yang sumpah makanan dewa… enak banget! Kalau di Belanda, McDnya punya menu fruit yoghurt. Begitu gue liat bentuknya di menu, gue langsung kebayang blueberry Yoghurt ala Yunani gitu. Gue langsung pesen. Harganya murah, cuman satu euro doang. Begitu gue makan… MAMPUS… ENAK BANGET!!!! Rasanya autentik, yoghurt Yunani banget. Blueberry dan Raspberry yang ada di atasnya juga ngebuat makan yoghurt ini makin nikmat. Sadis. Ini makanan sadis. Gue tiap hari pasti makan paling enggak satu cup. This will be the most thing I miss from Netherlands.
Selain makanan-makanan dewa di atas,
gue juga nyoba makanan khas Belanda: ikan haring mentah.
Yup, ikan haring mentah. Jangan berpikir makanan ini bakalan sama kayak sushi, no no no. Ikan haring ini dimakan bulet-bulet, kulitnya gak dikupas, masukin mulut dari atas, langsung gigit. Mau mampus gak lo? Berhubung gue anaknya santai kayak anak pantai, pas kita ke Den Haag kemarin gue nyobain. Dan apa yang terjadi saudara-saudara? Lihat perubahan mimik wajah gue pas lagi nyoba makan ikan ini:

ah cemen ginian doang… HUP! Hmmm… HOEEEEEEEEKKKK!!!!
Amis abis. Dengan bawang segitu banyak aja masih kerasa amis.
Tapi kalau tahan sama amisnya sih berasa rada enak.
Gak tau juga deh kenapa orang Belanda betah makan ikan kayak gini.
Dan setelah lama gak muncul,
pertanyaan dari pembaca…
- email dari Asti Pamungkas:aslm bang brad,,,kenalin, aku asti di makassar. aku mau nanya nih bang dan harus dijawab dengan penuh kejujuran. he..he..he.. (ketawa setan)nih pertanyaan sih udah aku tanyain di commentnya bang brad, tapi supaya bang brad mau jawab, aku tampilin lagi deh lewat email. gini, pertanyaanQ ada 2
1. bang, temen2 bule bego abang yang ga tau indonesia itu tau ga kalo abang itu penulis sinting yang dielu2kan di indonesia??? abang pernah gak nyeritain kesuksesan abang dalam menebar virus kambing di indonesia??? kira-kira apa yah reaksi mereka kalo tahu abang ini sebenarnya capres 2009 eh salah maksudQ selebritis kambing di indonesia??? mungkin mereka koprol ke samping sambil minum susu kali ya bang??? he he he
2. abang kan sering banget nyeritain tentang kebudegan orang-orang bule kalo soal nyebut nama indonesia, nah abang pernah juga gak kesulitan saat berkenalan dengan orang yang memiliki nama aneh banget kayak perek, eh merek, siapa tadi tuh??? yerek yah… ah apaun itu. hayo….. jangan-jangan abang juga suka budeg kalo kenalan dengan orang yang namanya seperti bahasa planet pluto itu, nagku deh bang brad…itu dia pertanyaanQ bang, dijawab yah plis……….. supaya asti ga penasaran lagi nih.
Welll, cuman si Yerek yang tahu kalo gue penulis buku, dan dia kayaknya biasa aja. Haha. Gue juga gak ngerasa gimana-gimana kok. Kebanyakan orang Indonesia yang jadi temen maen gue di sini juga gak tau kalo gue penulis buku. Jadi santai-santai aja sih ya. Iya, gue juga sering lupa cara nyebutin nama temen-temen gue yang bule, terutama yang berasal dari Eropa Timur. Mereka punya nama yang aneh-aneh seperti… seperti… nah itu aja gue dah lupa. Tapi gue tahu satu hal: cewek-cewek Eropa Timur cantik-cantik abis.
Oh ya, satu hal lagi, gue gak ada rencana bakalan ada foto kayang lagi di sini, dan jangan kirim email yang berisi pertanyaan tentang tabib ke email gue, karena gak bakalan dibales/ditaro website juga. Semua pertanyaan di bab “Pertanyaan Untuk Tabib” di buku gue berasal dari email ke majalah Bukune (yang mana majalahnya udah gak terbit lagi). So, there it goes.
Udah ah, capek.
Makan malem dulu ah dan mengerjakan assignment (masih jaman?).


