<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Raditya Dika, dan hal absurd lainnya &#187; lagi bener</title>
	<atom:link href="http://radityadika.com/category/lagi-bener/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://radityadika.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Sat, 21 Aug 2010 04:29:46 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Tentang Mengedit&#8230;</title>
		<link>http://radityadika.com/tentang-mengedit/</link>
		<comments>http://radityadika.com/tentang-mengedit/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Apr 2010 11:57:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>radith</dc:creator>
				<category><![CDATA[lagi bener]]></category>
		<category><![CDATA[menjadi penulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://radityadika.com/?p=928</guid>
		<description><![CDATA[Gue baru aja kelar nyelesein draft pertama dari buku komedi gue yang kelima, Marmut Merah Jambu (akhirnya!). Totalnya ada 101 halaman A4, single-spaced, jadi kalau udah selesai dicetak mungkin jadinya kira-kira setebel buku Radikus Makankakus atau Babi Ngesot.
Setelah nyelesein nulis Marmut Merah Jambu, hal yang gue lakukan selanjutnya adalah mengeditnya (baca: merapihkannya) sendiri sebelum gue kasih ke editor dari penerbit untuk diedit dengan lebih profesional (memakai tanda baca yang benar, EYD, dan lain-lain). Nah, mumpung gue juga lagi ditengah-tengah mengedit buku gue, gue sekalian mau nge-share hal-hal yang biasa gue ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Gue baru aja kelar nyelesein draft pertama dari buku komedi gue yang kelima, <em>Marmut Merah Jambu</em> (akhirnya!). Totalnya ada 101 halaman A4, single-spaced, jadi kalau udah selesai dicetak mungkin jadinya kira-kira setebel buku Radikus Makankakus atau Babi Ngesot.</p>
<p>Setelah nyelesein nulis Marmut Merah Jambu, hal yang gue lakukan selanjutnya adalah mengeditnya (baca: merapihkannya) sendiri sebelum gue kasih ke editor dari penerbit untuk diedit dengan lebih profesional (memakai tanda baca yang benar, EYD, dan lain-lain). Nah, mumpung gue juga lagi ditengah-tengah mengedit buku gue, gue sekalian mau nge-share hal-hal yang biasa gue lakukan ketika lagi mengedit. Siapa tahu membantu temen-temen yang juga juga lagi nulis buku.</p>
<p><img src="http://radityadika.com/wp-content/uploads/2010/04/blognulis.jpg" alt="" /></p>
<p>Here goes:</p>
<p><strong>1. Kasih jarak dulu</strong><br />
Sebelum mengedit tulisan kamu, simpen dulu tulisan tersebut minimal satu minggu. Begitu kamu selesai menulis draft 1, jalan-jalan dulu, lupakan tentang naskah kamu. Baru, setelah seminggu, kembali ke naskah kamu. Dengan memberikan waktu/jarak seperti ini, pasti mata kamu dalam membaca naskah kamu akan lebih fresh. Mata kamu akan menjadi mata seorang pembaca yang bisa melihat kesalahan-kesalahan yang mungkin tidak terlihat sewaktu sedang menulis dulu.</p>
<p><strong>2. Lebih padat lagi!</strong><br />
Bagi gue, mengedit lebih berarti memotong, atau merampingkan. Gue akan lihat kalimat-kalimat yang bisa dibuat lebih &#8220;padet&#8221;.  Gue akan coba menggunakan kata yang lebih sedikit untuk tujuan yang sama. Misalnya, di naskah ada tulisan: &#8220;Gue sama sekali enggak tahu apa gue harus pergi ke sana atau tidak.&#8221; Kalimat ini akan gue buat lebih padet dengan menulisnya seperti ini aja: &#8220;Gue bingung ke sana apa enggak.&#8221; Kalimat dengan jumlah kata yang sedikit seperti ini membuat tulisan kita tidak terasa &#8220;sesak&#8221; dan &#8220;ramai&#8221;.<br />
<strong><br />
3. Kurangi kalimat pasif</strong><br />
Gue pasti sebisa mungkin menggunakan kalimat aktif. Setiap kali gue nemu kalimat pasif, pasti gue ubah menjadi aktif. Seperti misalnya: &#8220;Ketimun itu diambil Edgar&#8221; akan gue ganti menjadi &#8220;Edgar mengambil ketimun&#8221;. Penulisan kalimat dalam bentuk aktif akan membuat pembaca bisa membayangkan kalimat tersebut dengan lebih visual. Kalimat aktif juga membuat pembaca merasa tulisannya bergerak maju, dan orang-orang ditulisan tersebut terasa melakukan kegiatan. </strong></p>
<p><strong>4. Speaker attribution</strong><br />
Speakter attribution berarti frase yang menandakan siapa yang berbicara dalam kalimat langsung. Misalnya &#8220;kata Edgar&#8221;, atau &#8220;kata gue&#8221;, atau &#8220;kata Nyokap&#8221;. Biasanya dalam mengedit gue akan membuat dialog menjadi lebih enak divisualkan dengan mengganti/mencampurkan speaker attribution dengan sebuah kegiatan. </strong></p>
<p>Misalnya:</p>
<p><em>&#8220;Gar, di buku Marmut Merah Jambu ada cerita tentang kamu ya!&#8221; seru gue.<br />
&#8220;Sudah cukup, Bang! Aku udah gak mau lagi ditulis di buku Abang,&#8221; kata Edgar.<br />
&#8220;Tapi Gar, kalo abang kasih sepuluh ribu perak mau?&#8221; tanya gue.<br />
&#8220;Mau, Bang! Mau!&#8221; kata Edgar.</em></p>
<p>Gue edit menjadi lebih visual dan tidak membosankan menjadi:</p>
<p><em>&#8220;Gar, di buku Marmut Merah Jambu ada cerita tentang kamu ya!&#8221; seru gue.<br />
&#8220;Cukup, Bang!&#8221; Edgar menggelengkan kepalanya. &#8220;Aku udah gak mau lagi ditulis di buku Abang!&#8221;<br />
Gue mengeluarkan dompet, &#8220;Tapi, Gar&#8230; Kalo abang kasih sepuluh ribu perak mau?&#8221;<br />
&#8220;MAU BANG! MAU!&#8221;<br />
Harga diri Edgar ternyata lebih murah daripada gue kira.</em></p>
<p><strong>4. Cek typo </strong><br />
Selalu cek dan re-check tulisan kamu sudah bebas kesalahan ketik. Tidak ada yang lebih nyebelin buat editor penerbit baca selain naskah yang banyak salah ketik.<br />
<strong><br />
5. KISS = Keep It Simple, Stupid!</strong><br />
Gue adalah tipe penulis yang selalu menghindari penggunaan kata yang terlalu berat. Kalau gue nemuin kata seperti ini dalam buku gue: &#8220;Dia harus lebih konsisten dalam mengaktualisasikan idenya.&#8221; biasanya gue akan ganti menjadi &#8220;Dia harus lebih sering mewujudkan idenya.&#8221; Kata-kata dalam Bahasa Inggris yang keluar pas lagi nulis draft pertama seperti &#8220;gesture&#8221; gue pasti rubah menjadi &#8220;sikap&#8221;. Sebisa mungkin gue menulis dengan istilah yang lebih banyak orang tahu. Semakin simpel, semakin baik. Menulis bukan untuk memberitahu kamu pintar dan ngerti banyak kata-kata aneh, tapi untuk mengkomunikasikan cerita kamu secara efektif kepada pembaca.<br />
<strong><br />
6. Struktur dulu, baru komedi </strong><br />
Karena gue adalah penulis komedi, sewaktu menulis gue berusaha untuk tertawa pada jokes gue. Kalau gue ketawa, berarti jokesnya berhasil, paling enggak buat gue. Kalau lagi editing, gue emang jarang ketawa sama jokes yang gue buat sebelumnya (karena udah tahu apa jokesnya apa). Tapi, biasanya gue akan selalu mencari celah untuk memasukkan komedi ke dalam tulisan gue sembari gue mengedit. </strong></p>
<p>Buat kamu yang mau menulis komedi, jangan takut kalau dalam draft pertama tulisan kamu belum lucu. Komedi akan datang sendirinya kalau struktur tulisan kamu sudah rapih dan benar. Konsentrasi dulu dengan cerita yang mau kamu sampaikan, dan komedi bisa ditambahkan/dieksplorasi pada saat rewriting. Hindari penulisan komedi yang malas seperti memasukkan tebak-tebakan, cerita lucu, ini semua harus dihapus pas lagi ngedit tulisan kamu.<br />
<strong><br />
7. Hindari hal-hal klise</strong><br />
Gak tahu dengan penulis lain, tapi gue gak terlalu suka dengan penggunaan istilah yang klise seperti &#8220;Dia seperti tong kosong nyaring bunyinya&#8221;, atau &#8220;Dia cewek terindah yang pernah gue lihat&#8221;, atau &#8220;Gue cinta sama dia setengah mati&#8221;. Istilah klise ini selain sudah terlalu sering digunakan, juga tidak memperkaya tulisan kita sendiri. Setiap kali ngedit, gue mencari istilah-istilah klise ini, membuangnya, dan mencari metafor lain yang belum pernah dipakai sebelumnya. </strong></p>
<p><strong>8. Udah kelar? Edit lagi! </strong><br />
Writing is rewriting. Kalau kamu pikir editan kamu udah bagus, kasih jarak seminggu, lalu baca ulang dan edit lagi. Ulangi sampai kamu merasa tulisan kamu sudah benar-benar bagus. Kecuali kalo kamu ditungguin editor dan naskahnya sudah masuk deadline mau terbit kayak gue. Huehehehhe..</p>
<p>Semoga membantu calon-calon penulis yang juga lagi nulis/ngedit tulisannya. <img src='http://radityadika.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://radityadika.com/tentang-mengedit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Konfirmasi Tentang Miyabi-Miyabi-an Ini</title>
		<link>http://radityadika.com/konfirmasi-tentang-miyabi-miyabi-an-ini/</link>
		<comments>http://radityadika.com/konfirmasi-tentang-miyabi-miyabi-an-ini/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Oct 2009 10:32:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>radith</dc:creator>
				<category><![CDATA[lagi bener]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://radityadika.com/?p=856</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah konfirmasi: 
Sebagian besar masyarakat Indonesia mungkin tahu tentang rencana penggarapan film &#8220;Menculik Miyabi&#8221;, sebuah film oleh Maxima Pictures. Dari awal pembentukan ide ini, gue didaulat sebagai penulis naskah (scriptwriter) dan pemeran utama untuk film tersebut. Gue rasa ini akan menjadi film yang cerdas, lucu, dan komedik tanpa harus ada unsur porno sedikit pun. Tadinya gue berpikir seperti itu.
Namun, pada perkembangannya, banyak kontroversi yang ada di dalam masyarakat. Banyak yang menolak, banyak yang menentang, terutama dari FPI dan MUI. Gue pribadi, sebagai penulis naskah yang merasa karya gue tidak akan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebuah konfirmasi: </p>
<p>Sebagian besar masyarakat Indonesia mungkin tahu tentang rencana penggarapan film &#8220;Menculik Miyabi&#8221;, sebuah film oleh Maxima Pictures. Dari awal pembentukan ide ini, gue didaulat sebagai penulis naskah (scriptwriter) dan pemeran utama untuk film tersebut. Gue rasa ini akan menjadi film yang cerdas, lucu, dan komedik tanpa harus ada unsur porno sedikit pun. Tadinya gue berpikir seperti itu.</p>
<p>Namun, pada perkembangannya, banyak kontroversi yang ada di dalam masyarakat. Banyak yang menolak, banyak yang menentang, terutama dari FPI dan MUI. Gue pribadi, sebagai penulis naskah yang merasa karya gue tidak akan jorok dan porno (gue sendiri gak suka komedi seks yang ada marak di bioskop Indonesia), gue maju dengan idealisme gue untuk membuat film komedi dengan Miyabi tanpa harus porno-pornoan. </p>
<p>Perkembangannya pun pesat. Membaca komentar orang-orang, terutama dari orangtua gue, keluarga, dan bahkan dari beberapa situs yang menentang seperti Komisi Pencekalan Miyabi, gue jadi memikirkan ulang atas keterlibatan gue di film ini. Semua hal ini membuat gue jadi berpikir  tentang pembaca gue, yang masih anak SMP, SMA, bahkan anak SD, yang mungkin saja membaca buku gue dan ingin tahu project gue selanjutnya dan malah secara &#8220;tidak sengaja&#8221; berkenalan dengan Miyabi karena gue lagi menggarap film tersebut. Tekanan tanggungjawab moral gue seperti ini kepada pembaca gue, plus tekanan sosial keluarga gue, dan kepentingan gue sendiri, membuat gue pada akhirnya memutuskan untuk <b>mundur dari film ini</b>, baik sebagai penulis skenario maupun pemain di dalamnya. So, there. I quit.</p>
<p>Kabar terakhir yang gue tahu dari Maxima, mereka masih akan menjalankan Menculik Miyabi, sutradaranya tetap mas Rako Prijanto (D&#8217;Bijis, Ungu Violet), dan penulis skenario-nya, seperti gue terakhir ketemu, adalah Raditya Mangunsong (Kamulah Satu-Satunya, Untuk Rena).  Semoga menjawab pertanyaan pembaca, dan teman-teman sekalian. </p>
<p>Always your humble writer,</p>
<p>Raditya Dika</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://radityadika.com/konfirmasi-tentang-miyabi-miyabi-an-ini/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>On In Love and Not Being Able to Write Pretty Words</title>
		<link>http://radityadika.com/on-in-love-and-not-being-able-to-write-pretty-words/</link>
		<comments>http://radityadika.com/on-in-love-and-not-being-able-to-write-pretty-words/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 Aug 2009 05:15:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>radith</dc:creator>
				<category><![CDATA[lagi bener]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://radityadika.com/?p=842</guid>
		<description><![CDATA[Kata orang, kalo mau ngeblog,
tulislah perasaan paling kuat yang lagi kamu rasakan.
Well, saya lagi jatuh cinta,
dan saya ingin menulis tentang itu.
Now, this is the problem. Saya takut menulis tentang cinta. You know, tulisan tentang cinta, adalah tulisan yang paling susah untuk ditulis. Karena, sangat susah menulis tentang cinta tanpa terlihat dangdut, corny, atau downright menya-menye. Saya tidak ingin tulisan yang saya buat jadi terlihat seperti surat cinta mbak-mbak dan mas-mas pembantu rumah: &#8220;Kalau kamu jadi madu, aku jadi lebahnya.&#8221; Hoek. Atau, &#8220;Kalau kamu jadi kumbang, aku jadi sepedanya&#8230; sepeda kumbang.&#8221; ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kata orang, kalo mau ngeblog,<br />
tulislah perasaan paling kuat yang lagi kamu rasakan.</p>
<p>Well, saya lagi jatuh cinta,<br />
dan saya ingin menulis tentang itu.</p>
<p>Now, this is the problem. Saya takut menulis tentang cinta. You know, tulisan tentang cinta, adalah tulisan yang paling susah untuk ditulis. Karena, sangat susah menulis tentang cinta tanpa terlihat <em>dangdut, corny, atau downright menya-menye</em>. Saya tidak ingin tulisan yang saya buat jadi terlihat seperti surat cinta mbak-mbak dan mas-mas pembantu rumah: &#8220;Kalau kamu jadi madu, aku jadi lebahnya.&#8221; Hoek. Atau, &#8220;Kalau kamu jadi kumbang, aku jadi sepedanya&#8230; sepeda kumbang.&#8221; Dobel hoek. </p>
<p>For me, what I have with you now,<br />
lebih dari analogi yang melibatkan serangga.</p>
<p>Hmmmmm&#8230;</p>
<p>Tapi kalau mau dianalogikan, let me get a shot: falling in love with you is like prasmanan tanpa pernah terpuaskan. Semua detail-detail sifat yang kamu tawarkan: quirkiness kamu, ketidaklaziman kamu, kemengertian kamu terhadap keanehanku (begitu pun sebaliknya), seperti di tawarkan dalam piring-piring buffet dengan silver platter yang menyala rapih. Dan kuambil. Kukonsumsi. Namun, aku masih kelaparan. Lalu kuambil, kukonsumsi kembali. Dan aku, tetap kelaparan. Saya bisa menyalahkan ini kepada sifat aku yang menagih -dan tidak pernah puas-, atau kepada kamu yang terus menawarkan cita-rasa yang tak kunjung habis. Atau, kepada keduanya. I can only sum it up: I. Can&#8217;t. Get. Enough. Of. You.</p>
<p>Waduh. Maaf, lagi puasa,<br />
jadi analoginya nyambung ke makanan. <img src='http://radityadika.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Tuh kan. Maybe I can&#8217;t find cool analogies, pretty metaphors, or write a lovey dopey poem (you know, yang kayak &#8220;ketika langit tak berbintang, maka aku..&#8221;. Damn, Triple hoek dengan cuh), I definitely can&#8217;t write music. I&#8217;m a comedy writer, therefore I&#8217;m not even good with words for these kind of things.</p>
<p>So, I&#8217;m gonna make this ultra-simple,<br />
the most primitive form of telling how I feel: &#8220;I love you&#8221;.</p>
<p>And I love being with you! I love your giggle, your silly grin, your energetic story-telling (with your hands waving aroud), your sharp bitchiness. I love our awkwardness when our hands meet, and the fact we act it cool.Oh and I love the way you walk, the way you dance, the way you sing (god, the way you sing make angels sound like Doraemon!) and how you apply your personality in a paste. I love the look in your eyes when you showed me those MJ videos, Bruce Lee interviews, those reflective eyes, longing for perfection, filled with deep thoughts and ambitions. The ambitions that I share. The way of thinking that I understand. The unconventional person, you are. You are the odd-shaped jigsaw puzzle that I&#8217;m looking to fit. And you completed me.</p>
<p>Thus, when they ask me: why do you love her?<br />
I can safely say: what is not to love?</p>
<p>So, I am welcoming you to my life.<br />
Now, let&#8217;s do this together, love. <img src='http://radityadika.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>PS: There. The first rule of blogging: write what you feel. Safely done. No insects involved. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://radityadika.com/on-in-love-and-not-being-able-to-write-pretty-words/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>After The Funeral</title>
		<link>http://radityadika.com/after-the-funeral/</link>
		<comments>http://radityadika.com/after-the-funeral/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Aug 2009 16:02:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>radith</dc:creator>
				<category><![CDATA[lagi bener]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://radityadika.com/?p=834</guid>
		<description><![CDATA[Pertama-tama, sekarang lagi banyak banget lomba penulisan, dan ini yang paling lucu,
lomba ngasih komentar dalam 140 karakter (kayak twitter) hahaha.
Buat yang mo ikutan klik:
http://www.waktunyahpmini.com 
Cuman nulis dikit aja dapet laptop.  
***
Okay. Here goes, gue harus nulis ini:
Temen baik gue meninggal minggu lalu.
Temen gue dari SMA sampe sekarang.
One of the smartest friends I got. 
Kabar duka itu menabrak gue tiba-tiba di tengah pagi buta, lewat sebuah SMS. Begitu gue baca SMS yang mengabarkan dia meninggal, di saat itu pula gue diem lama. It made me think. Ketika salah satu dari ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pertama-tama, sekarang lagi banyak banget lomba penulisan, dan ini yang paling lucu,<br />
lomba ngasih komentar dalam 140 karakter (kayak <a href="http://www.twitter.com/radityadika">twitter</a>) hahaha.</p>
<p>Buat yang mo ikutan klik:</p>
<p><a href="http://www.waktunyahpmini.com ">http://www.waktunyahpmini.com </a></p>
<p>Cuman nulis dikit aja dapet laptop. <img src='http://radityadika.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>***</p>
<p>Okay. Here goes, gue harus nulis ini:</p>
<p>Temen baik gue meninggal minggu lalu.<br />
Temen gue dari SMA sampe sekarang.<br />
One of the smartest friends I got. </p>
<p>Kabar duka itu menabrak gue tiba-tiba di tengah pagi buta, lewat sebuah SMS. Begitu gue baca SMS yang mengabarkan dia meninggal, di saat itu pula gue diem lama. It made me think. Ketika salah satu dari teman baik lo meninggal, di saat itu juga kita sadar bahwa, <em>we are not invincible</em>. Sebelumnya, gue selalu menganggap kematian sebagai suatu hal yang jauh dari diri gue. Gue selalu berpikir, &#8220;Well, men, gue masih 24 tahun, gue gak mungkin kenapa-kenapa! Orang jarang ada meninggal umur 24 tahun. Gue bakal mati karena tua.&#8221; Sekarang, kematian temen gue ini seperti semacam wake-up call bagi gue. Bahwa no, you are <em>not</em> invicible. It could be you. Umur gak ada yang tahu. </p>
<p>So, keesokan harinya,<br />
I came to her funeral. </p>
<p>Dan sewaktu gue dateng ke pemakaman dia, ada temen-temen gue juga di sana. Di antara temen-temen gue yang dateng, ada yang enggak terlalu kenal sama dia. Ada yang udah kenal banget. Ada yang dulu temen sekelas. Ada yang emang baru deket setelah lulus. Bermacam-macam temen dateng ke sana, tapi mereka punya satu kesamaan: <em>they wanted to see her for the last time</em>. Mereka sayang sama temen gue itu. Mereka menyayangkan kenapa hidupnya harus selesai secepet itu. </p>
<p>As I sat outside, di kursi yang disediakan untuk pelayat, ada yang bilang, &#8220;Sayang banget ya, orangnya baik.&#8221; Gue sendiri bilang, &#8220;Dia bener-bener salah satu orang yang menginspirasi gue&#8221;. I know we shouldn&#8217;t talk about the dead pas lagi ngelayat. But I can&#8217;t help it. She really inspires me. Tulisan-tulisan dia witty, cerkas. Dia pintar. Gue suka banget ngobrol sama dia. Dia mengenalkan gue pada banyak penulis. And then I saw her di pembaringan, smiling peacefully. Kayak tidur nyenyak. So, this is death, my friend? Is it this peaceful? </p>
<p>And you know what? Duduk di antara pelayat-pelayat itu, I can&#8217;t help to wonder: <em>gimana ya pemakaman gue nanti?</em> Yes, kadang gue suka berkhayal, seperti apa pemakaman gue nanti. Apa banyak yang datang? Apa <em>ada</em> yang datang? Apa yang mereka bakal bilang tentang gue? Apa kenangan yang mereka inget tetang gue? Apa ada yang rela nyetir mobil, susah-susah parkir, untuk ngeliat gue untuk terakhir kali ya? Apa iya, ada? </p>
<p>Kadang gue ngerasa, kematian adalah topik yang sensitif untuk kita.<br />
Sesuatu yang &#8220;ada&#8221; tapi selalu kita deny keberadaannya.<br />
Living is constant denying for death.</p>
<p>Kita hidup di dunia ini seolah-olah kematian tidak exist. Kita makan, kita bercanda, kita karaoke, kita jatuh cinta. We forget about death. We are too busy with our distraction. But it is there. And when it hits, it hits hard. Gue udah kehilangan nenek gue. Itu sekali. Kehilangan tante gue. Itu dua kali. But I never feel this sad kehilangan temen gue yang satu ini. Gak tau kenapa. Mungkin karena gue keilangan nenek gue sewaktu gue masih kecil? Atau mungkin gue gak terlalu deket sama tante gue? Atau mungkin, temen gue ini, yang gue anggep cerdas, pinter, baik, tadinya invincible tapi akhirnya bisa juga dipanggil sama Yang Maha Kuasa? I don&#8217;t know.</p>
<p>Pulang dari pemakaman, nyetir mobil sendirian, gue ngerasa kecil. Gue ngerasa gue harus make something out of life. Badan ini dipinjamkan. Setiap tarikan napas, adalah satu tarikan napas lagi mendekati kematian. Kita harus ngebuat lebih banyak karya, lebih banyak menikmati hidup, lebih banyak mengambil kesempatan. Hidup ini cuman sekali. Akan sangat sayang untuk kita buang begitu aja. I have to enjoy life. </p>
<p>And, mungkin gue suatu hari bakalan mati, tapi gue pengen ngebuat sesuatu yang enggak bakal mati. Katanya Chuck Palahniuk, &#8220;The goal is not to life forever, but to create something that will.&#8221; Hidup terus. Dengan apa pun.</p>
<p>Temen gue itu,<br />
tidak akan pernah gue lupain. </p>
<p>Gue juga gak mau dilupakan.<br />
Gue gak mau hanya menjadi semacam nama yang hilang begitu saja. </p>
<p>Nama yang dipajang di atas semacam nisan, yang mungkin pertama-tama sering dikunjungi,<br />
namun lama-lama semakin jarang. Hingga pada akhirnya hanya menjelang bulan puasa.<br />
Nama di sebuah nisan yang berlumut. Usang. Bau. Ditakuti orang lewat.</p>
<p>Dan sewaktu hidup, gue gak mau jadi semacam jiwa yang memenuhi bumi ini,<br />
menyesaki kota ini,<br />
sama-sama makan, minum, berak, bicara. Untuk apa?</p>
<p>Gue mau jadi spesial.<br />
Or, I wan&#8217;t to die special.</p>
<p>Goodbye Cindy,<br />
you are special to me.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://radityadika.com/after-the-funeral/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tiga Elemen Penulisan Kreatif dalam Blog</title>
		<link>http://radityadika.com/tiga-elemen-penulisan-kreatif-dalam-blog/</link>
		<comments>http://radityadika.com/tiga-elemen-penulisan-kreatif-dalam-blog/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Jul 2009 09:40:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>radith</dc:creator>
				<category><![CDATA[lagi bener]]></category>
		<category><![CDATA[menjadi penulis]]></category>
		<category><![CDATA[rumah & keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://radityadika.com/tiga-elemen-penulisan-kreatif-dalam-blog/</guid>
		<description><![CDATA[Maap lama belum update. Lagi keranjingan twitter. Hehe. Sejauh ini proyek Alfa masih dapet sekitar 15 halaman-an. Gue baru aja kelar ngerjain draft kerjaan lain. But it&#8217;s all good.
Buat ngisi, gue kemaren baru aja dapet permintaan untuk nulis tulisan buat Bubu Award (yang belum ikutan hayo nominasikan diri kalian di Bubu Award kali ini, siapa tahu blog kamu menang). Kalo gue pribadi sih engga mengikutsertakan blog gue. Hehe.  
Karena lagi aktif nulis buku selanjutnya, untuk Bubu Award gue menulis tulisan dengan judul &#8220;Tiga Elemen Penulisan Kreatif dalam Blog&#8221;. Gue ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Maap lama belum update. Lagi keranjingan <a href="http://www.twutter.com/radityadika">twitter</a>. Hehe. Sejauh ini proyek Alfa masih dapet sekitar 15 halaman-an. Gue baru aja kelar ngerjain draft kerjaan lain. But it&#8217;s all good.</p>
<p>Buat ngisi, gue kemaren baru aja dapet permintaan untuk nulis tulisan buat <a href="ttp://bubuawards.com/">Bubu Award</a> (yang belum ikutan hayo nominasikan diri kalian di Bubu Award kali ini, siapa tahu blog kamu menang). Kalo gue pribadi sih engga mengikutsertakan blog gue. Hehe. <img src='http://radityadika.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Karena lagi aktif nulis buku selanjutnya, untuk Bubu Award gue menulis tulisan dengan judul &#8220;Tiga Elemen Penulisan Kreatif dalam Blog&#8221;. Gue share di sini juga ya, siapa tahu bisa ngebantu temen-temen yang pengen tulisan di blognya bagus, plus siapa tahu bisa ngebantu temen-temen lain yang emang lagi nulis buku..</p>
<p>A real blog entry coming up,<em> I promise</em>.<br />
Tapi untuk kali ini silakan nikmati tulisan gue tentang teknis menulis.</p>
<p>Here goes..</p>
<p>***</p>
<p><strong>Tiga Elemen Penulisan Kreatif dalam Blog</strong><br />
by Raditya Dika</p>
<p>Dalam menulis sebuah entry blog yang asyik, kita dapat menggunakan elemen-elemen penulisan kreatif yang kebanyakan dipelajari untuk membuat sebuah karangan fiksi. Di bawah ini saya mencoba untuk memberikan tiga elemen penulisan kreatif yang bisa diaplikasikan dalam membuat sebuah entry blog yang menarik.</p>
<p><strong>1.	First  Sentences yang Menarik</strong><br />
Let’s face it. Di dalam ranah dunia internet, kita semua somewhat terkena ADD (attention disorder deficit). Pembaca punya attention span yang rendah. Jika mereka tidak suka dengan blog kita mereka bisa dengan mudah langsung pindah ke website lain dengan satu kali klik. </p>
<p>Nah, inilah mengapa kita perlu first sentence yang punya dahsyat di dalam entry kita.</p>
<p>Di dalam dunia perbukuan dan menulis, semua buku yang baik punya first sentences yang engaging untuk membawa pembaca larut ke kalimat-kalimat selanjutnya sampai buku tersebut habis. Di dalam dunia blog, entry Anda juga harus punya first sentences yang cihui agar orang tercantol dalam waktu singkat.</p>
<p>Apa yang terjadi jika Anda tersasar ke sebuah blog dan kalimat pertama yang Anda baca seperti ini:<br />
“Gue pagi ini bangun terus gue mandi. Ke sekolah lagi. Males deh.” Kemungkinan besar, Anda berpikir “Yeah, diary anak sekolahan lagi. Biasa banget. Males ah.” Lantas Anda menutup browser tersebut.</p>
<p>Bandingkan jika Anda tersasar ke sebuah blog dan rangkaian kalimat yang pertama Anda baca seperti ini:<br />
“Untuk pertama kalinya saya akan bercerita tentang sejarah “Seratus” dalam hidup saya. Bukan karena cerita itu teramat penting dan besar, tapi justru karena keremehannya yang luar biasa.” </p>
<p>Saya, begitu membaca first sentences barusan akan berpikir, “Apa sih ‘seratus’ ini? Seberapa remeh dia?” Selanjutnya, saya membaca tulisan tersebut sampai habis. Tulisan yang kedua, saya kutip dari blog Dewi Lestari.</p>
<p>Kecermatan dan kepiawaian kita untuk membuat first sentences yang menarik akan membuat pembaca tergelitik untuk membaca kalimat-kalimat berikutnya. Setelah itu, Anda hanya perlu konsisten untuk membuat kalimat-kalimat berikutnya bisa sebaik kalimat yang pertama Anda buat.</p>
<p>Ingat, tulisan Anda harus punya hook. Anda harus punya sesuatu yang merangsang rasa penasaran sekaligus keinginan pembaca yang tiba-tiba tersasar. Tanyakan ini pada diri Anda sendiri: “Jika gue nyasar ke blog gue sendiri dan ngebaca kalimat pertama ini, gue bakal mau baca sampe abis gak ya?”</p>
<p><strong>2.	Buatlah Tulisan yang Ekonomis</strong><br />
Robert McKee, seorang lecturer dalam bidang penulisan, pernah berkata “90% of first drafts is shit”. Ini berarti, kebanyakan, tulisan yang pertama Anda buat pertama kali adalah jelek. Tulisan dalam sebuah first draft adalah tulisan yang tidak terstruktur, patah-patah, dan lepas dari otak Anda begitu saja. Kemungkinan besar, tulisan di draft pertama Anda juga adalah tulisan yang verbosal, yaitu tulisan yang terlalu boros kata-kata dan tidak ekonomis.</p>
<p>Nah, sebelum Anda mengklik tombol “post” itu, coba cek kembali apa yang telah Anda tulis. Apakah penggunaan kalimatnya sudah logis? Cek kembali logika kalimat yang salah. Cek kembali ejaan, atau terminologi yang benar. Bunuh semua kata yang tidak perlu. Tulisan yang baik adalah tulisan yang tight: kencang dan sempit. Perhatikan pacing tiap kalimat. Kata demi kata. Apakah tulisan Anda punya tempo yang enak untuk diikuti? Tulisan yang baik adalah tulisan yang seperti musik, ada tempo teratur, ada jeda untuk menarik napas, ada nada yang mengalir.</p>
<p>Baca kembali first draft Anda sebagai seorang pembaca, cek dulu apakah diksi yang Anda gunakan tidak redundan. Misalnya, Anda menemukan kalimat: “gue pergi ke rumah gue pas adek gue pulang dari kampus malem-malem”, ini jelas redundan. Coret semua kata “gue” hingga kalimatnya lebih efektif dan ekonomis, menjadi: “Gue pergi ke rumah, pas adek pulang dari kampus.”</p>
<p>Seperti yang kebanyakan orang bilang, first draft ditulis hanya untuk “mengeluarkan apa yang ada di kepala”. Draft kedua ditulis untuk “memperbaiki apa yang sudah ditulis.” Dan draft ketiga untuk “membuat tulisannya bersinar”. Jangan terburu-buru dalam menulis sebuah tulisan, buatlah menjadi semenarik mungkin.</p>
<p><strong>3.	Menemukan dan Menggunakan Voice Anda Sendiri</strong><br />
Pernahkah Anda mengangkat telepon, dan hanya dari mendengar suara orang tersebut Anda mengenali siapa yang sedang berbicara dengan Anda? Setiap manusia diciptakan dengan warna suara yang berbeda-beda. Apa yang cempreng, ada yang berat/husky, ada yang kayak orang kejepit. Apa pun itu, warna suara dapat membedakan antara satu orang dengan orang yang lain.</p>
<p>Seperti halnya dengan dunia penulisan, setiap penulis yang baik pasti punya “voice”-nya sendiri. Anda tahu bagaimana gaya khas Hilman Hariwijaya dalam menulis. Anda tahu, bagaimana tulisan Gunawan Muhammad ketika Anda membacanya. Atau bahkan, Anda bisa menebak diksi (kosakata) apa yang biasanya ada dalam esai-esai politik Eep Saefuloh Fatah. Gaya menulis Djenar Maesa Ayu, gaya Ayu Utami, mereka punya gaya yang khas. Semua penulis tadi punya voice yang begitu khas sehingga orang tahu, begitu membaca tulisan mereka, itu adalah tulisan mereka. </p>
<p>Cara paling gampang untuk tahu apakah Anda sudah punya voice atau belum: jika ibu Anda membaca tulisan Anda, tanpa diberitahu bahwa itu adalah milik Anda, dan dia bisa bilang, “Wah, ini tulisan anak saya.” Berarti selamat, Anda sudah punya voice.</p>
<p>Voice yang khas membantu kita untuk mendeferensiasikan diri dari penulis yang lain. Dalam menulis blog, voice yang khas juga akan membuat kita terlihat berbeda dari penulis blog-blog yang lain. Punya voice akan memisahkan kita dari “blogger lainnya” menjadi “blogger yang itu tuh, yang tulisan begini nih…”. Ndoro Kakung, misalnya masuk ke dalam contoh blogger yang punya voice yang sangat khas.</p>
<p>Lantas, bagaimana cara menemukan voice kita sendiri? Jawabannya sederhana: banyak membaca dan berlatih. Dengan membaca banyak buku yang ditulis penulis lain, sambil menganalisa-nya, kita akan dengan sendirinya mengadaptasi gaya-gaya mereka untuk memperkuat personality dan voice kita sendiri. Mengadaptasi, tentu saja, bukan berarti mencuri. </p>
<p>Layaknya Nidji yang mengagumi britpop, terutama Coldplay, sampai akhirnya bisa menemukan kekhasan aliran lagu miliknya sendiri, mereka berhasil membuat voice yang khas pada karya-karyanya. Atau layaknya Tohpati yang pada awalnya mendengarkan pilihan-pilihan nada yang dimainkan gitaris John Scofield, pada akhirnya Tohpati memelajari dan mengadaptasi permainan gitar orang lain hingga akhirnya dia menemukan sebuah gaya yang uniquely his. </p>
<p>Pelajari bagaimana kekuatan Haruki Murakami dalam mengkonstruksi sebuah dialog, pelajari narasi Chuck Palahniuk yang minimalistik dan maskulin, pelajari bagaimana Hilman Hariwijaya menggiring orang untuk tertawa. Satukan apa yang telah Anda pelajari, tanamkan dalam-dalam dalam diri Anda, dan keluarkan personality Anda sendiri. Keluarkan voice Anda. </p>
<p>Dengan banyak membaca Anda akan mendapatkan banyak referensi. Di samping itu, dengan banyak berlatih Anda akan tahu cara penyampaian seperti apa yang paling asik untuk Anda. Anda akan memilih diksi yang paling mewakili gaya tulisan Anda. Menulis dan berlatih, dan jadilah berbeda dari orang-orang yang lain.<br />
Tentu saja, tiga elemen di atas hanya sebagian kecil contoh bagaimana kita menggunakan elemen penulisan kreatif untuk membuat postingan blog kita menjadi lebih baik. Masih banyak elemen-elemen lain: komposisi narasi vs dialog, deskripsi yang efektif, setting dan konteks, dan lain-lain. </p>
<p>Hope that helps!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://radityadika.com/tiga-elemen-penulisan-kreatif-dalam-blog/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Untungnya Pacar Saya Tidak Mirip Megawati</title>
		<link>http://radityadika.com/untungnya-pacar-saya-tidak-mirip-megawati/</link>
		<comments>http://radityadika.com/untungnya-pacar-saya-tidak-mirip-megawati/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 May 2009 10:35:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>radith</dc:creator>
				<category><![CDATA[lagi bener]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://radityadika.com/?p=722</guid>
		<description><![CDATA[Gue lagi pending dulu ngerjain buku kelima dan komik kambingjantan 2. Soalnya, gue lagi Ujian Akhir Semester. Ini berarti begadang ampe pagi ngerjain makalah, fotocopy semua bahan yang ketinggalan, daaaan mempersiapkan otot mata supaya nyonteknya lancar. Haaaaah&#8230; nasib jadi mahasiswa gak lulus-lulus.  
Ngomong-ngomong soal kuliah, karena gue kuliah di Politik UI, gue seneng banget untuk tahu ada website politik 2.0 di mana temen-temen bisa belajar/menulis soal politik, bernama Politikana. Wajib ikut.
Gue sempet nulis satu artikel di sana, ini gue post di ini, itung-itung jadi postingan ganjelan. Hehehe.   ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Gue lagi pending dulu ngerjain buku kelima dan komik kambingjantan 2. Soalnya, gue lagi Ujian Akhir Semester. Ini berarti begadang ampe pagi ngerjain makalah, fotocopy semua bahan yang ketinggalan, daaaan mempersiapkan otot mata supaya nyonteknya lancar. Haaaaah&#8230; nasib jadi mahasiswa gak lulus-lulus. <img src='http://radityadika.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Ngomong-ngomong soal kuliah, karena gue kuliah di Politik UI, gue seneng banget untuk tahu ada website politik 2.0 di mana temen-temen bisa belajar/menulis soal politik, bernama <a href="http://www.politikana.com">Politikana.</a> Wajib ikut.</p>
<p>Gue sempet nulis satu artikel di sana, ini gue post di ini, itung-itung jadi postingan ganjelan. Hehehe. <img src='http://radityadika.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' />  Tulisan asli beserta komentar orang-orangnya bisa dilihat di sini <a href="http://politikana.com/baca/2009/05/08/dia-masuk-dpr-soalnya-mukanya-mirip-pacar-gue.html">http://politikana.com/baca/2009/05/08/dia-masuk-dpr-soalnya-mukanya-mirip-pacar-gue.html</a></p>
<p>***</p>
<p>Kadang saya berpikir tentang teman-teman muda saya yang memilih dengan kurang rasional sewaktu pemilihan legislatif lalu. Alasan-alasan mengapa mereka memilih seorang caleg -yang sebenarnya seharusnya lebih kepada performa politik, background, integritas, dan visi-misi mereka- terkadang sangat absurd.</p>
<p>Salah satu teman yang saya kenal menyatakan bahwa &#8220;Gue milih si Anu, soalnya itu temennya pacar gue&#8221;. Kabar terakhir, si Anu masuk DPR. Beruntunglah si Anu karena berteman dengan orang yang benar.</p>
<p>Teman yang lain, menyatakan memilih si Ani karena menurut dia, &#8220;Titelnya paling banyak. Berarti dia pinter.&#8221;</p>
<p>Ada yang memilih dengan sangat asal: begitu masuk bilik suara dia langsung mencoblos salah satu nama secara random, benar-benar ngacak, kalau ada waktu lebih -biar lebih ngacak- dia mungkin akan berputar-putar sampai muntah, baru menyoblos lalu kemudian pingsan. &#8220;Yang beruntung yang terpilih,&#8221; begitu moto dia.</p>
<p>Ada teman yang ketika sudah di bilik suara, kebingungan, dia lalu menelepon temannya minta diberikan petunjuk. Seakan-akan ini adalah Who Want&#8217;s to Be A Millionaire, dan dia baru menggunakan bantuan Phone a Friend.</p>
<p>Ada seorang teman, kali ini sudah cukup tua, yang memilih karena nomor urut si caleg rendah. Katanya dengan muka serius, &#8220;Nomor urut rendah, biasanya berarti dia gak punya banyak duit buat beli nomor urut yang atas, kita kan harus membela orang yang lemah!&#8221;. Sungguh, baik hati sekali teman saya itu. Saya jadi merasa terharu.</p>
<p>Sebelum pemilu berlangsung, beberapa teman saya first time voters yang baru lulus SMU ramai-ramai merencanakan memilih seorang X dari Gerindra karena kata mereka &#8220;Ih dia ganteng banget lho di baliho itu&#8221;. Mereka kompakan, janjian ingin memilih X. Pada akhirnya, mereka mengurungkan niat untuk untuk memilihnya karena &#8220;pas di tipi ternyata jelek!&#8221; Gedubrak.</p>
<p>Tentu, tidak semua teman muda saya seperti itu. </p>
<p>Ada mereka yang memang informed voters, terutama teman kampus. Yah, walaupun kebanyakan juga pseudo-intellectual juga (you know, yang di setiap percakapan bawaannya nge-quote Hegel, Weber, atau Marx. Berasa keren ya, Bang?). Tapi setidaknya, mereka lebih punya basis yang lebih &#8220;asik&#8221; dalam memilih.</p>
<p>Kembali lagi, salah satu alasan paling absurd dari teman saya ketika menentukan pilihannya, get this: &#8220;Gue milih dia habisnya, mukanya mirip pacar gue.&#8221;</p>
<p>Gedubrak.</p>
<p>Bisa jadi, mereka yang terpilih di DPR adalah mereka yang mukanya paling banyak mirip dengan pacar orang-orang, mereka yang ganteng, atau mereka yang punya banyak titel. Either way, ada yang salah dengan sosialisasi parpol atau ada yang salah dengan anak-anak muda&#8230; atau mungkin, saya berteman dengan orang yang salah.</p>
<p>Bagaimana dengan Pilpres nanti?<br />
Masih ada alasan ganteng, banyak titel, mirip pacar?</p>
<p>Entahlah,<br />
Tapi untungnya, pacar saya tidak mirip Megawati.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://radityadika.com/untungnya-pacar-saya-tidak-mirip-megawati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ini Mantra Patronus Gue..</title>
		<link>http://radityadika.com/ini-mantra-patronus-gue/</link>
		<comments>http://radityadika.com/ini-mantra-patronus-gue/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Apr 2009 06:42:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>radith</dc:creator>
				<category><![CDATA[lagi bener]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://radityadika.com/ini-mantra-patronus-gue/</guid>
		<description><![CDATA[Kalau ada yang baca Harry Potter (and I&#8217;m sure lots of you do), pasti tau Dementor.

Heri dan Dementor
Bagi yang gak tahu, Dementor adalah &#8220;makhluk penghisap kebahagiaan&#8221; yang membuat korban mereka berpikir tidak akan bisa bahagia lagi. Satu-satunya cara untuk mengusir Dementor, Harry Potter harus mengeluarkan mantra yang bernama Patronus. Nah, untuk mengeluarkan mantra Patronus dengan baik, Harry harus mengingat tentang hal-hal yang ngebuat dia bahagia sambil mengarahkan tongkat sihirnya ke Dementor.

Heri dengan Mantra Patronus vs Dementor
Konsep yang keren banget ya?
To be honest, akhir-akhir ini lagi banyak Dementor di hidup gue; ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kalau ada yang baca Harry Potter (and I&#8217;m sure lots of you do), pasti tau <a href="http://harrypotter.wikia.com/wiki/Dementor">Dementor</a>.</p>
<p><img src="http://radityadika.com/wp-content/uploads/2009/04/dementorheri.jpg" /><br />
<em>Heri dan Dementor</em></p>
<p>Bagi yang gak tahu, Dementor adalah &#8220;makhluk penghisap kebahagiaan&#8221; yang membuat korban mereka berpikir tidak akan bisa bahagia lagi. Satu-satunya cara untuk mengusir Dementor, Harry Potter harus mengeluarkan mantra yang bernama <a href="http://harrypotter.wikia.com/wiki/Patronus_Charm">Patronus</a>. Nah, untuk mengeluarkan mantra Patronus dengan baik, Harry <em>harus mengingat tentang hal-hal yang ngebuat dia bahagia sambil mengarahkan tongkat sihirnya ke Dementor</em>.</p>
<p><img src="http://radityadika.com/wp-content/uploads/2009/04/patronus-spell.jpg" /><br />
<em>Heri dengan Mantra Patronus vs Dementor</em></p>
<p>Konsep yang keren banget ya?</p>
<p>To be honest, akhir-akhir ini <em>lagi banyak Dementor di hidup gue</em>; that means lagi banyak pikiran yang menggangu, yang ngebuat gue jadi down, jadi gak seneng, jadi males ngapa-ngapainnya. Dan gue akhirnya berpikir, untuk mengusirnya, gue perlu mengeluarkan mantra Patronus gue sendiri.</p>
<p>Maka, inilah mantra Patronus gue, atau dengan kata lain,<br />
hal-hal bahagia yang gue pikirin untuk mengusir Dementor gue:</p>
<p>1. Pergi bareng pacar ke tempat seafood (ngemilin kerang dara rebus! hahahah), nonton TV, atau cuman berduaan diem aja, our quality time together <img src='http://radityadika.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /><br />
2. Inget-inget lagi &#8220;Adelaide Ceria&#8221;, dan bagaimana senangnya kita dulu..<br />
3. Lari sendirian di Senayan, gak ada pikiran apa-apa, ngeliatin pintu demi pintu kelewat..<br />
4. Minggu pagi di Kemang sambil ngopi dan ngobrol sok berat tapi santai. Nge-quote Nietzche, Freud, Schopenhauer, dan mencoba untuk memahami &#8220;why we are so unbeliavable fucked up?&#8221;. Man, I miss pseudo-intellectual conversation..<br />
5. Mendengarkan <a href="http://www.youtube.com/watch?v=92T4DQqQApE">A Love Supreme &#8211; John Coltrane</a><br />
6. Menonton <a href="http://www.youtube.com/watch?v=1GiLxkDK8sI">Eternal Sunshine of The Spotless Mind</a><br />
7. Hari Minggu yang mendung, di mobil sendirian, lalu radio memutarkan lagu-lagu ringan..<br />
8. Talkshow di <a href="http://www.youtube.com/watch?v=382a9ZDclMk">auditorium dengan penonton yang asik banget</a>..<br />
9. Ngedenger nyokap gue bilang, &#8220;Paling engga, anak mama yang paling gede udah jadi orang.&#8221;<br />
10. Momogi coklat &amp; Pocky rasa pisang plusss Coca-Cola dingin yang es-nya agak cair.<br />
11. Membaca email terimakasih dari pembaca, disamperin orang dan bilang terimakasih sudah membuat buku, melihat orang membaca buku gue di jalanan sambil melihat mereka ketawa malu-malu..<br />
12. Duduk di pojokan sebuah jazz club di Adelaide bersama Darius, sambil melihat penyanyi amatir-tapi-bagus bernyanyi manis.<br />
13. Nulis sambil tidur, dan besoknya pas bangun, ketawa ngebaca tulisan sendiri..<br />
14. Makan indomie telor kornet keju jam satu pagi di warung deket rumah..</p>
<p>Gue jadi inget, gak selamanya gue bakal ada di dalam posisinya jelek. Gak selamanya bernasib buruk. Kadang, kalau kita sedih, kita berpikir, kita gak akan bisa ngelewatin ini&#8230; kita gak bahagia.. dan kita orang paling miserable di dunia ini. Dengan mengingat-ingat yang seneng-seneng lagi, gue jadi sadar, yah mungkin hidup gak selamanya di atas. Gue pernah bahagia, dan beberapa saat lagi I will get my spirit back.</p>
<p>Walaupun gak punya tongkat sihir..<br />
my Patronus charm works.<br />
Sekarang gue lagi senyum. <img src='http://radityadika.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Apa mantra Patronus kamu?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://radityadika.com/ini-mantra-patronus-gue/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>What I Did Long Weekend Ini&#8230;</title>
		<link>http://radityadika.com/what-i-did-long-weekend-ini/</link>
		<comments>http://radityadika.com/what-i-did-long-weekend-ini/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Apr 2009 04:56:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>radith</dc:creator>
				<category><![CDATA[lagi bener]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://radityadika.com/what-i-did-long-weekend-ini/</guid>
		<description><![CDATA[Akhir-akhir ini gue lagi ngerasa lesu banget deh. &#8220;Motor&#8221; gue lagi gak jalan kenceng, beda sama gue yang biasanya: kerja, kerja, dan kerja terus. Demit, gue lagi boseeeeen banget ngapa-ngapain. Lagi gampang depresi. Lagi susah konsentrasi. Lagi gak pengen mikir berat. Inilah masa di mana gue lagi kehilangan semangat buat ngapa-ngapain. Lagi gak pengen ngapa-ngapain. Bahkan buat ngeblog aja jadi berasa sebagai sebuah &#8220;pekerjaan&#8221;. I feel uninspired. Apa ini fase yang wajar ya?
Apa gue kena quarter-life crisis?
Seharusnya weekend kemaren gue ngelarin nulis sebuah show di AnTV, gue juga lagi proses ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Akhir-akhir ini gue lagi ngerasa lesu banget deh. &#8220;Motor&#8221; gue lagi gak jalan kenceng, beda sama gue yang biasanya: kerja, kerja, dan kerja terus. Demit, gue lagi boseeeeen banget ngapa-ngapain. Lagi gampang depresi. Lagi susah konsentrasi. Lagi gak pengen mikir berat. Inilah masa di mana gue lagi kehilangan semangat buat ngapa-ngapain. Lagi gak pengen ngapa-ngapain. Bahkan buat ngeblog aja jadi berasa sebagai sebuah &#8220;pekerjaan&#8221;. I feel uninspired. Apa ini fase yang wajar ya?</p>
<p>Apa gue kena <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Quarter-life_crisis">quarter-life crisis</a>?</p>
<p>Seharusnya weekend kemaren gue ngelarin nulis sebuah show di AnTV, gue juga lagi proses bikin pilot acara di TV, gue juga belom ngelarin skrip komik kambingjantan jantan 2, belom juga ngelarin buku ke-5 (yang gue tulis ulang gara-gara hardisk rusak).  Tapi kok rasanya lagi gak mooood bangeeeeeeeeeeeeeetttttt&#8230; Gak ada yang kelar! Hahahah.</p>
<p>I need to go out from Jakarta.</p>
<p>***</p>
<p>Long weekend kemarin, dalam usaha untuk ngebalikin mood, gue nonton beberapa TV Shows, dan yang menjadi favorit gue nomor satu untuk saat ini adalah serial TV ini:</p>
<p>The Big Bang Theory.<br />
<img src="http://radityadika.com/wp-content/uploads/2009/04/big_bang_theory.jpg" alt="" /></p>
<p>Terus terang, gue gak pernah suka sitkom Amerika. Gue gak pernah ngerasa Friends lucu, atau Everybody Loves Raymond, atau Fraiser, yang gitu-gitu deh. Pengecualiannya tentu saja Seinfeld, since Seinfeld bagi gue lucu banget. Nah, Big Bang Theory ini adalah salah satu dari sedikit sitkom yang bisa bikin gue ketawa, relateable sama ceritanya, dan bikin gue ngakak-ngakak sampe kedengeran keluar kamar. Kenapa? Karena The Big Bang Theory adalah sitkom tentang nerd/kutubuku. Dan gue adalah seorang nerd super.</p>
<p>The Big Bang Theory bercerita tentang empat nerd dan bagaimana mereka menjalani kehidupannya sehari-hari. Akhirnya ada juga serial TV yang ketawa bareng kutubuku, bukan ngetawain kutubuku (big difference!). Kutubuku di serial ini bukan digambarkan sebagai stereotype dengan kacamata besar dan susah ngomong.. tapi digambarkan punya pandangan &#8220;cupu&#8221; tapi tetep kompleks. Nonton serial TV ini kaya berkali-kali ngomong &#8220;anjing, itu gue banget!&#8221; terus ngetawain diri gue sendiri. Hahahaha.</p>
<p>Oh man, I&#8217;m such a nerd.</p>
<p>Ngomong-ngomong soal nerd, gue ngabisin waktu liburan gue juga sambil maen game Fallout 3 di Xbox:</p>
<p><img src="http://radityadika.com/wp-content/uploads/2009/04/256px-fallout_3_cover_art.jpg" alt="" /></p>
<p>Which was wicked!</p>
<p>Semasa long weekend gue juga berolahraga, dua kali lari di Senayan. Gue juga nyari tempat makan baru. Gue juga gangguin Alfa setiap saat. Tapi kebanyakan waktu yang gue habiskan adalah dengan &#8220;mati suri&#8221;: tidur lamaaa banget di kamar, gak mau ngapa-ngapain.</p>
<p>Hayo Dith, semangat nulis lagi.</p>
<p>Duh, gue bener-bener butuh injeksi penyemangat nih&#8230;<br />
gila udah lama banget gak nulis apa-apa! <img src='http://radityadika.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://radityadika.com/what-i-did-long-weekend-ini/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kepada Kamu Dengan Penuh Kebencian*</title>
		<link>http://radityadika.com/kepada-kamu-dengan-penuh-kebencian/</link>
		<comments>http://radityadika.com/kepada-kamu-dengan-penuh-kebencian/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Apr 2009 18:12:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>radith</dc:creator>
				<category><![CDATA[lagi bener]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://radityadika.com/kepada-kamu-dengan-penuh-kebencian/</guid>
		<description><![CDATA[Kepada kamu,
Dengan penuh kebencian.
Aku benci jatuh cinta. Aku benci merasa senang bertemu lagi dengan kamu, tersenyum malu-malu, dan menebak-nebak, selalu menebak-nebak. Aku benci deg-degan menunggu kamu online. Dan di saat kamu muncul, aku akan tiduran tengkurap, bantal di bawah dagu, lalu berpikir, tersenyum, dan berusaha mencari kalimat-kalimat lucu agar kamu, di seberang sana, bisa tertawa. Karena, kata orang, cara mudah membuat orang suka denganmu adalah dengan membuatnya tertawa. Mudah-mudahan itu benar.
Aku benci terkejut melihat SMS kamu nongol di inbox-ku dan aku benci kenapa aku harus memakan waktu begitu lama untuk ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kepada kamu,<br />
Dengan penuh kebencian.</p>
<p>Aku benci jatuh cinta. Aku benci merasa senang bertemu lagi dengan kamu, tersenyum malu-malu, dan menebak-nebak, selalu menebak-nebak. Aku benci deg-degan menunggu kamu online. Dan di saat kamu muncul, aku akan tiduran tengkurap, bantal di bawah dagu, lalu berpikir, tersenyum, dan berusaha mencari kalimat-kalimat lucu agar kamu, di seberang sana, bisa tertawa. Karena, kata orang, cara mudah membuat orang suka denganmu adalah dengan membuatnya tertawa. Mudah-mudahan itu benar.</p>
<p>Aku benci terkejut melihat SMS kamu nongol di inbox-ku dan aku benci kenapa aku harus memakan waktu begitu lama untuk membalasnya, menghapusnya, memikirkan kata demi kata. Aku benci ketika jatuh cinta, semua detail yang aku ucapkan, katakan, kirimkan, tuliskan ke kamu menjadi penting, seolah-olah harus tanpa cacat, atau aku bisa jadi kehilangan kamu. Aku benci harus berada dalam posisi seperti itu. Tapi, aku tidak bisa menawar, ya?</p>
<p>Aku benci harus menerjemahkan isyarat-isyarat kamu itu. Apakah pertanyaan kamu itu sekadar pancingan atau retorika atau pertanyaan biasa yang aku salah artikan dengan penuh percaya diri? Apakah kepalamu yang kamu senderkan di bahuku kemarin hanya gesture biasa, atau ada maksud lain, atau aku yang-sekali lagi-salah mengartikan dengan penuh percaya diri?</p>
<p>Aku benci harus memikirkan kamu sebelum tidur dan merasakan sesuatu yang bergerak dari dalam dada, menjalar ke sekujur tubuh, dan aku merasa pasrah, gelisah. Aku benci untuk berpikir aku bisa begini terus semalaman, tanpa harus tidur. Cukup begini saja.</p>
<p>Aku benci ketika kamu menempelkan kepalamu ke sisi kepalaku, saat kamu mencoba untuk melihat sesuatu di handycam yang sedang aku pegang. Oh, aku benci kenapa ketika kepala kita bersentuhan, aku tidak bernapas, aku merasa canggung, aku ingin berlari jauh. Aku benci aku harus sadar atas semua kecanggungan itu&#8230;, tapi tidak bisa melakukan apa-apa.</p>
<p>Aku benci ketika logika aku bersuara dan mengingatkan, &#8220;Hey! Ini hanya ketertarikan fisik semata, pada akhirnya kamu akan tahu, kalian berdua tidak punya anything in common,&#8221; harus dimentahkan oleh hati yang berkata, &#8220;Jangan hiraukan logikamu.&#8221;</p>
<p>Aku benci harus mencari-cari kesalahan kecil yang ada di dalam diri kamu. Kesalahan yang secara desperate aku cari dengan paksa karena aku benci untuk tahu bahwa kamu bisa saja sempurna, kamu bisa saja tanpa cela, dan aku, bisa saja benar-benar jatuh hati kepadamu.</p>
<p>Aku benci jatuh cinta, terutama kepada kamu. Demi Tuhan, aku benci jatuh cinta kepada kamu. Karena, di dalam perasaan menggebu-gebu ini; di balik semua rasa kangen, takut, canggung, yang bergumul di dalam dan meletup pelan-pelan&#8230;</p>
<p>aku takut sendirian.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>*<em>Tulisan ini terdapat dalam buku <a href="http://www.kutukutubuku.com/2008/open/13734/kepada_cinta_true_love_keeps_no_secret_">Kepada Cinta (Gagasmedia, 2009)</a>, buku kumpulan surat cinta dari berbagai macam penulis. Selain memuat 25 cinta para pemenang Sayembara Menulis Surat Cinta GagasMedia 2008, ada juga surat cinta dari Adhitya Mulya, Christian Simamora, Andi Eriawan, Ita Sembiring dan penulis lainnya. Gue nulis surat ini dari tahun lalu, eh baru inget pas ada beberapa orang yang nulis ini di notes mereka di Facebook. Gue taro sini deh.</em> <img src='http://radityadika.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://radityadika.com/kepada-kamu-dengan-penuh-kebencian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dan Di Saat Ini Gue Berpikir Atas Hal-Hal yang Tidak Jelas</title>
		<link>http://radityadika.com/dan-di-saat-ini-gue-berpikir-atas-hal-hal-yang-tidak-jelas/</link>
		<comments>http://radityadika.com/dan-di-saat-ini-gue-berpikir-atas-hal-hal-yang-tidak-jelas/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Jan 2009 08:06:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>radith</dc:creator>
				<category><![CDATA[lagi bener]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://radityadika.com/dan-di-saat-ini-gue-berpikir-atas-hal-hal-yang-tidak-jelas/</guid>
		<description><![CDATA[Gue bikin Facebook yang ketiga, karena yang pertama dan yang kedua udah penuh. Yang belom jadi temen gue di facebook bisa add gue di http://www.facebook.com/people/Raditya-Dika-Tiga/1367115017 ya.
Sekarang, kita ngobrolin apa ya?
Hmmmmmmmm, banyak&#8230;
tapi gue gak tau harus mulai dari mana.
Kadang ada banyak yang ada di kepala gue, tapi gue gak tau gimana cara menuliskannya, karena&#8230; well, saking banyaknya. Saking pusingnya. Something happened and I have been thinking heavily ever since. Gue coba tarik napas dalem-dalem, dan coba gue urain satu persatu apa yang bersliweran di kepala gue saat ini, gue coba biarin ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Gue bikin Facebook yang ketiga, karena yang pertama dan yang kedua udah penuh. Yang belom jadi temen gue di facebook bisa add gue di <a href="http://www.facebook.com/people/Raditya-Dika-Tiga/1367115017">http://www.facebook.com/people/Raditya-Dika-Tiga/1367115017</a> ya.</p>
<p>Sekarang, kita ngobrolin apa ya?</p>
<p>Hmmmmmmmm, banyak&#8230;<br />
tapi gue gak tau harus mulai dari mana.</p>
<p>Kadang ada banyak yang ada di kepala gue, tapi gue gak tau gimana cara menuliskannya, karena&#8230; well, saking banyaknya. Saking pusingnya. Something happened and I have been thinking heavily ever since. Gue coba tarik napas dalem-dalem, dan coba gue urain satu persatu apa yang bersliweran di kepala gue saat ini, gue coba biarin jari gue gerak sendiri, menyampaikan apa yang ada di kepala.</p>
<p><img src="http://radityadika.com/wp-content/uploads/2009/01/di-depan-pintu.jpg" /></p>
<p>Here goes:</p>
<p>1. Gue gak pernah ngerti sama diri gue sendiri kenapa terkadang sebuah hal yang (kayaknya) kecil bisa begitu jadi besar buat gue. Bisa ngebuat gue kecewa, dan gue gak pernah ngerti kenapa kekecewaan ini bisa berubah seperti kanker yang menyebar dan menggerogoti perasaan gue sendiri&#8230; lama-lama ngebunuh dari dalam&#8230; dan mati. Gue gak pernah mengerti bagaimana harus mensiasati ini. Gue gak pernah ngerti kenapa buat gue, what has done yah done.. the damage has been done, and nothing we can do about it. There is absolutely nothing we can do about it. Kenapa? Kenapa gue gak bisa membuat semua ini seolah gak nampak, dan jalan terus. Kenapa? Kenapa? Kenapa gue harus membuat semua hal sempurna? Mungkin ini kutukan sekaligus berkah menjadi seorang perfeksionis&#8230; atau menjadi orang yang tak pernah puas?</p>
<p>2. Kalau yang namanya kesempurnaan itu gak ada, dan kita terus mengejar kesempurnaan, apa gue berarti mengejar sesuatu yang tidak ada? Dan kalau yang namanya memaafkan itu berarti melupakan, bagaimana cara melupakan sesuatu yang telah kita maafkan? Bahkan jika hal tersebut tidak seharusnya terjadi?</p>
<p>3. Gue sangat kagum bagaimana sebuah kejadian bisa terjadi. Katakanlah begini, jika seseorang menikah karena kenalan di facebook, bagaimana jika facebook tidak diciptakan? Bagaimana jika komputer tidak diciptakan? Bagaimana jika Bill Gates pada waktu itu meneruskan kuliahnya di Harvard Law dan melupakan mimpinya untuk membuat personal computer? Maka komputer  (windows) tidak akan ada, facebook tidak punya wadah, dan dua orang ini tidak akan kenalan. Mereka mungkin akan menikah dengan orang lain, dan cerita hidup mereka akan completely berbeda, anak-anak yang berbeda, nasib yang berbeda. Setiap elemen-elemen dalam semesta ini mempertemukan kita ke jalan yang kita ambil. Apa ini semua sudah diatur, atau kita membuat ilusi bahwa sesungguhnya kita bisa mengatur ini? Apakah, perpisahan juga sudah diatur rapi? Ya, itu pertanyaannya, jika pertemuan seseorang direncanakan oleh &#8220;nasib&#8221; apakah perpisahan juga seperti itu? Dan jika iya, siapa yang bisa disalahkan?</p>
<p>4. Bagaimana kita tahu apa yang pilih itu &#8220;benar&#8221;? Bagaimana kita tahu apakah kita akan bahagia dengan pilihan kita. Aksi kita. Konsekuensi kita. Relativisme dalam contoh yang paling sempurna. Filsafat katanya bisa membantu kita memecahkan permasalahan-permasalahan dalam hidup, tapi yang ada justru pertanyaan satu mengikuti pertanyaan lain. Cuih.</p>
<p>5. Belakangan ini quote King Lear dari Shakespear terus ada di kepala: &#8220;If you prick us do we not bleed? If you tickle us do we not laugh? If you poison us do we not die? And if you wrong us shall we not revenge? ? If we are like you in the rest, we will resemble you in that.&#8221;</p>
<p>6. Lagi pengen Pocky rasa coklat. Eh Lucky lebih enak. Lay&#8217;s rumput laut juga enak.</p>
<p>7. Butterfly effect adalah terminologi yang keren banget, yang membuktikan bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini terkoneksi dengan kejadian-kejadian lainnya. Sub-bagian dari Chaos Theory yang paling gue suka. Tapi, semenjak ada film Butterfly Effect, apalagi yang meranin Ashton Kutcher, kok terminologi ini gak kedengeran seksi lagi ya.</p>
<p>8. Komedian dan filsuf adalah perpaduan yang asik banget. Gue cuman bisa menemukan ini di Woody Allen. Gue pengen kayak Woody Allen, tapi&#8230; Woody Allen led an empty life. Gue gak mau led an empty life. And Woody Allen have issues. Eh tunggu, hampir semua komedian yang gue tahu have issues: Jerry Seinfeld &#8211; cranky, Jerry Lewis -  komitmen phobia, Larry David &#8211; sangat-sangat cranky, Mitch Hedbgerg &#8211; mati overdosis, Mitch Fatel &#8211; pervert, bahkan Parto pernah menembakkan pistol ke udara di tempat umum. We are a bunch of complex creatures. Semua komedian adalah makhluk yang kompleks. Tanpa kecuali. And we hate it so much. At least I know I do.</p>
<p>9. Gue pengen punya mesin waktu.</p>
<p>Gue nulis apa sih? Buset, gue bahkan gak tau gue nulis apa.<br />
Mohon maaf telah menyampah.</p>
<p>Be right back. Lagi perlu mikir.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://radityadika.com/dan-di-saat-ini-gue-berpikir-atas-hal-hal-yang-tidak-jelas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
