Tiga Elemen Penulisan Kreatif dalam Blog

Maap lama belum update. Lagi keranjingan twitter. Hehe. Sejauh ini proyek Alfa masih dapet sekitar 15 halaman-an. Gue baru aja kelar ngerjain draft kerjaan lain. But it’s all good.

Buat ngisi, gue kemaren baru aja dapet permintaan untuk nulis tulisan buat Bubu Award (yang belum ikutan hayo nominasikan diri kalian di Bubu Award kali ini, siapa tahu blog kamu menang). Kalo gue pribadi sih engga mengikutsertakan blog gue. Hehe. :)

Karena lagi aktif nulis buku selanjutnya, untuk Bubu Award gue menulis tulisan dengan judul “Tiga Elemen Penulisan Kreatif dalam Blog”. Gue share di sini juga ya, siapa tahu bisa ngebantu temen-temen yang pengen tulisan di blognya bagus, plus siapa tahu bisa ngebantu temen-temen lain yang emang lagi nulis buku..

A real blog entry coming up, I promise.
Tapi untuk kali ini silakan nikmati tulisan gue tentang teknis menulis.

Here goes..

***

Tiga Elemen Penulisan Kreatif dalam Blog
by Raditya Dika

Dalam menulis sebuah entry blog yang asyik, kita dapat menggunakan elemen-elemen penulisan kreatif yang kebanyakan dipelajari untuk membuat sebuah karangan fiksi. Di bawah ini saya mencoba untuk memberikan tiga elemen penulisan kreatif yang bisa diaplikasikan dalam membuat sebuah entry blog yang menarik.

1. First Sentences yang Menarik
Let’s face it. Di dalam ranah dunia internet, kita semua somewhat terkena ADD (attention disorder deficit). Pembaca punya attention span yang rendah. Jika mereka tidak suka dengan blog kita mereka bisa dengan mudah langsung pindah ke website lain dengan satu kali klik.

Nah, inilah mengapa kita perlu first sentence yang punya dahsyat di dalam entry kita.

Di dalam dunia perbukuan dan menulis, semua buku yang baik punya first sentences yang engaging untuk membawa pembaca larut ke kalimat-kalimat selanjutnya sampai buku tersebut habis. Di dalam dunia blog, entry Anda juga harus punya first sentences yang cihui agar orang tercantol dalam waktu singkat.

Apa yang terjadi jika Anda tersasar ke sebuah blog dan kalimat pertama yang Anda baca seperti ini:
“Gue pagi ini bangun terus gue mandi. Ke sekolah lagi. Males deh.” Kemungkinan besar, Anda berpikir “Yeah, diary anak sekolahan lagi. Biasa banget. Males ah.” Lantas Anda menutup browser tersebut.

Bandingkan jika Anda tersasar ke sebuah blog dan rangkaian kalimat yang pertama Anda baca seperti ini:
“Untuk pertama kalinya saya akan bercerita tentang sejarah “Seratus” dalam hidup saya. Bukan karena cerita itu teramat penting dan besar, tapi justru karena keremehannya yang luar biasa.”

Saya, begitu membaca first sentences barusan akan berpikir, “Apa sih ‘seratus’ ini? Seberapa remeh dia?” Selanjutnya, saya membaca tulisan tersebut sampai habis. Tulisan yang kedua, saya kutip dari blog Dewi Lestari.

Kecermatan dan kepiawaian kita untuk membuat first sentences yang menarik akan membuat pembaca tergelitik untuk membaca kalimat-kalimat berikutnya. Setelah itu, Anda hanya perlu konsisten untuk membuat kalimat-kalimat berikutnya bisa sebaik kalimat yang pertama Anda buat.

Ingat, tulisan Anda harus punya hook. Anda harus punya sesuatu yang merangsang rasa penasaran sekaligus keinginan pembaca yang tiba-tiba tersasar. Tanyakan ini pada diri Anda sendiri: “Jika gue nyasar ke blog gue sendiri dan ngebaca kalimat pertama ini, gue bakal mau baca sampe abis gak ya?”

2. Buatlah Tulisan yang Ekonomis
Robert McKee, seorang lecturer dalam bidang penulisan, pernah berkata “90% of first drafts is shit”. Ini berarti, kebanyakan, tulisan yang pertama Anda buat pertama kali adalah jelek. Tulisan dalam sebuah first draft adalah tulisan yang tidak terstruktur, patah-patah, dan lepas dari otak Anda begitu saja. Kemungkinan besar, tulisan di draft pertama Anda juga adalah tulisan yang verbosal, yaitu tulisan yang terlalu boros kata-kata dan tidak ekonomis.

Nah, sebelum Anda mengklik tombol “post” itu, coba cek kembali apa yang telah Anda tulis. Apakah penggunaan kalimatnya sudah logis? Cek kembali logika kalimat yang salah. Cek kembali ejaan, atau terminologi yang benar. Bunuh semua kata yang tidak perlu. Tulisan yang baik adalah tulisan yang tight: kencang dan sempit. Perhatikan pacing tiap kalimat. Kata demi kata. Apakah tulisan Anda punya tempo yang enak untuk diikuti? Tulisan yang baik adalah tulisan yang seperti musik, ada tempo teratur, ada jeda untuk menarik napas, ada nada yang mengalir.

Baca kembali first draft Anda sebagai seorang pembaca, cek dulu apakah diksi yang Anda gunakan tidak redundan. Misalnya, Anda menemukan kalimat: “gue pergi ke rumah gue pas adek gue pulang dari kampus malem-malem”, ini jelas redundan. Coret semua kata “gue” hingga kalimatnya lebih efektif dan ekonomis, menjadi: “Gue pergi ke rumah, pas adek pulang dari kampus.”

Seperti yang kebanyakan orang bilang, first draft ditulis hanya untuk “mengeluarkan apa yang ada di kepala”. Draft kedua ditulis untuk “memperbaiki apa yang sudah ditulis.” Dan draft ketiga untuk “membuat tulisannya bersinar”. Jangan terburu-buru dalam menulis sebuah tulisan, buatlah menjadi semenarik mungkin.

3. Menemukan dan Menggunakan Voice Anda Sendiri
Pernahkah Anda mengangkat telepon, dan hanya dari mendengar suara orang tersebut Anda mengenali siapa yang sedang berbicara dengan Anda? Setiap manusia diciptakan dengan warna suara yang berbeda-beda. Apa yang cempreng, ada yang berat/husky, ada yang kayak orang kejepit. Apa pun itu, warna suara dapat membedakan antara satu orang dengan orang yang lain.

Seperti halnya dengan dunia penulisan, setiap penulis yang baik pasti punya “voice”-nya sendiri. Anda tahu bagaimana gaya khas Hilman Hariwijaya dalam menulis. Anda tahu, bagaimana tulisan Gunawan Muhammad ketika Anda membacanya. Atau bahkan, Anda bisa menebak diksi (kosakata) apa yang biasanya ada dalam esai-esai politik Eep Saefuloh Fatah. Gaya menulis Djenar Maesa Ayu, gaya Ayu Utami, mereka punya gaya yang khas. Semua penulis tadi punya voice yang begitu khas sehingga orang tahu, begitu membaca tulisan mereka, itu adalah tulisan mereka.

Cara paling gampang untuk tahu apakah Anda sudah punya voice atau belum: jika ibu Anda membaca tulisan Anda, tanpa diberitahu bahwa itu adalah milik Anda, dan dia bisa bilang, “Wah, ini tulisan anak saya.” Berarti selamat, Anda sudah punya voice.

Voice yang khas membantu kita untuk mendeferensiasikan diri dari penulis yang lain. Dalam menulis blog, voice yang khas juga akan membuat kita terlihat berbeda dari penulis blog-blog yang lain. Punya voice akan memisahkan kita dari “blogger lainnya” menjadi “blogger yang itu tuh, yang tulisan begini nih…”. Ndoro Kakung, misalnya masuk ke dalam contoh blogger yang punya voice yang sangat khas.

Lantas, bagaimana cara menemukan voice kita sendiri? Jawabannya sederhana: banyak membaca dan berlatih. Dengan membaca banyak buku yang ditulis penulis lain, sambil menganalisa-nya, kita akan dengan sendirinya mengadaptasi gaya-gaya mereka untuk memperkuat personality dan voice kita sendiri. Mengadaptasi, tentu saja, bukan berarti mencuri.

Layaknya Nidji yang mengagumi britpop, terutama Coldplay, sampai akhirnya bisa menemukan kekhasan aliran lagu miliknya sendiri, mereka berhasil membuat voice yang khas pada karya-karyanya. Atau layaknya Tohpati yang pada awalnya mendengarkan pilihan-pilihan nada yang dimainkan gitaris John Scofield, pada akhirnya Tohpati memelajari dan mengadaptasi permainan gitar orang lain hingga akhirnya dia menemukan sebuah gaya yang uniquely his.

Pelajari bagaimana kekuatan Haruki Murakami dalam mengkonstruksi sebuah dialog, pelajari narasi Chuck Palahniuk yang minimalistik dan maskulin, pelajari bagaimana Hilman Hariwijaya menggiring orang untuk tertawa. Satukan apa yang telah Anda pelajari, tanamkan dalam-dalam dalam diri Anda, dan keluarkan personality Anda sendiri. Keluarkan voice Anda.

Dengan banyak membaca Anda akan mendapatkan banyak referensi. Di samping itu, dengan banyak berlatih Anda akan tahu cara penyampaian seperti apa yang paling asik untuk Anda. Anda akan memilih diksi yang paling mewakili gaya tulisan Anda. Menulis dan berlatih, dan jadilah berbeda dari orang-orang yang lain.
Tentu saja, tiga elemen di atas hanya sebagian kecil contoh bagaimana kita menggunakan elemen penulisan kreatif untuk membuat postingan blog kita menjadi lebih baik. Masih banyak elemen-elemen lain: komposisi narasi vs dialog, deskripsi yang efektif, setting dan konteks, dan lain-lain.

Hope that helps!

Untungnya Pacar Saya Tidak Mirip Megawati

Gue lagi pending dulu ngerjain buku kelima dan komik kambingjantan 2. Soalnya, gue lagi Ujian Akhir Semester. Ini berarti begadang ampe pagi ngerjain makalah, fotocopy semua bahan yang ketinggalan, daaaan mempersiapkan otot mata supaya nyonteknya lancar. Haaaaah… nasib jadi mahasiswa gak lulus-lulus. :P

Ngomong-ngomong soal kuliah, karena gue kuliah di Politik UI, gue seneng banget untuk tahu ada website politik 2.0 di mana temen-temen bisa belajar/menulis soal politik, bernama Politikana. Wajib ikut.

Gue sempet nulis satu artikel di sana, ini gue post di ini, itung-itung jadi postingan ganjelan. Hehehe. :P Tulisan asli beserta komentar orang-orangnya bisa dilihat di sini http://politikana.com/baca/2009/05/08/dia-masuk-dpr-soalnya-mukanya-mirip-pacar-gue.html

***

Kadang saya berpikir tentang teman-teman muda saya yang memilih dengan kurang rasional sewaktu pemilihan legislatif lalu. Alasan-alasan mengapa mereka memilih seorang caleg -yang sebenarnya seharusnya lebih kepada performa politik, background, integritas, dan visi-misi mereka- terkadang sangat absurd.

Salah satu teman yang saya kenal menyatakan bahwa “Gue milih si Anu, soalnya itu temennya pacar gue”. Kabar terakhir, si Anu masuk DPR. Beruntunglah si Anu karena berteman dengan orang yang benar.

Teman yang lain, menyatakan memilih si Ani karena menurut dia, “Titelnya paling banyak. Berarti dia pinter.”

Ada yang memilih dengan sangat asal: begitu masuk bilik suara dia langsung mencoblos salah satu nama secara random, benar-benar ngacak, kalau ada waktu lebih -biar lebih ngacak- dia mungkin akan berputar-putar sampai muntah, baru menyoblos lalu kemudian pingsan. “Yang beruntung yang terpilih,” begitu moto dia.

Ada teman yang ketika sudah di bilik suara, kebingungan, dia lalu menelepon temannya minta diberikan petunjuk. Seakan-akan ini adalah Who Want’s to Be A Millionaire, dan dia baru menggunakan bantuan Phone a Friend.

Ada seorang teman, kali ini sudah cukup tua, yang memilih karena nomor urut si caleg rendah. Katanya dengan muka serius, “Nomor urut rendah, biasanya berarti dia gak punya banyak duit buat beli nomor urut yang atas, kita kan harus membela orang yang lemah!”. Sungguh, baik hati sekali teman saya itu. Saya jadi merasa terharu.

Sebelum pemilu berlangsung, beberapa teman saya first time voters yang baru lulus SMU ramai-ramai merencanakan memilih seorang X dari Gerindra karena kata mereka “Ih dia ganteng banget lho di baliho itu”. Mereka kompakan, janjian ingin memilih X. Pada akhirnya, mereka mengurungkan niat untuk untuk memilihnya karena “pas di tipi ternyata jelek!” Gedubrak.

Tentu, tidak semua teman muda saya seperti itu.

Ada mereka yang memang informed voters, terutama teman kampus. Yah, walaupun kebanyakan juga pseudo-intellectual juga (you know, yang di setiap percakapan bawaannya nge-quote Hegel, Weber, atau Marx. Berasa keren ya, Bang?). Tapi setidaknya, mereka lebih punya basis yang lebih “asik” dalam memilih.

Kembali lagi, salah satu alasan paling absurd dari teman saya ketika menentukan pilihannya, get this: “Gue milih dia habisnya, mukanya mirip pacar gue.”

Gedubrak.

Bisa jadi, mereka yang terpilih di DPR adalah mereka yang mukanya paling banyak mirip dengan pacar orang-orang, mereka yang ganteng, atau mereka yang punya banyak titel. Either way, ada yang salah dengan sosialisasi parpol atau ada yang salah dengan anak-anak muda… atau mungkin, saya berteman dengan orang yang salah.

Bagaimana dengan Pilpres nanti?
Masih ada alasan ganteng, banyak titel, mirip pacar?

Entahlah,
Tapi untungnya, pacar saya tidak mirip Megawati.

Ini Mantra Patronus Gue..

Kalau ada yang baca Harry Potter (and I’m sure lots of you do), pasti tau Dementor.


Heri dan Dementor

Bagi yang gak tahu, Dementor adalah “makhluk penghisap kebahagiaan” yang membuat korban mereka berpikir tidak akan bisa bahagia lagi. Satu-satunya cara untuk mengusir Dementor, Harry Potter harus mengeluarkan mantra yang bernama Patronus. Nah, untuk mengeluarkan mantra Patronus dengan baik, Harry harus mengingat tentang hal-hal yang ngebuat dia bahagia sambil mengarahkan tongkat sihirnya ke Dementor.


Heri dengan Mantra Patronus vs Dementor

Konsep yang keren banget ya?

To be honest, akhir-akhir ini lagi banyak Dementor di hidup gue; that means lagi banyak pikiran yang menggangu, yang ngebuat gue jadi down, jadi gak seneng, jadi males ngapa-ngapainnya. Dan gue akhirnya berpikir, untuk mengusirnya, gue perlu mengeluarkan mantra Patronus gue sendiri.

Maka, inilah mantra Patronus gue, atau dengan kata lain,
hal-hal bahagia yang gue pikirin untuk mengusir Dementor gue:

1. Pergi bareng pacar ke tempat seafood (ngemilin kerang dara rebus! hahahah), nonton TV, atau cuman berduaan diem aja, our quality time together :)
2. Inget-inget lagi “Adelaide Ceria”, dan bagaimana senangnya kita dulu..
3. Lari sendirian di Senayan, gak ada pikiran apa-apa, ngeliatin pintu demi pintu kelewat..
4. Minggu pagi di Kemang sambil ngopi dan ngobrol sok berat tapi santai. Nge-quote Nietzche, Freud, Schopenhauer, dan mencoba untuk memahami “why we are so unbeliavable fucked up?”. Man, I miss pseudo-intellectual conversation..
5. Mendengarkan A Love Supreme – John Coltrane
6. Menonton Eternal Sunshine of The Spotless Mind
7. Hari Minggu yang mendung, di mobil sendirian, lalu radio memutarkan lagu-lagu ringan..
8. Talkshow di auditorium dengan penonton yang asik banget..
9. Ngedenger nyokap gue bilang, “Paling engga, anak mama yang paling gede udah jadi orang.”
10. Momogi coklat & Pocky rasa pisang plusss Coca-Cola dingin yang es-nya agak cair.
11. Membaca email terimakasih dari pembaca, disamperin orang dan bilang terimakasih sudah membuat buku, melihat orang membaca buku gue di jalanan sambil melihat mereka ketawa malu-malu..
12. Duduk di pojokan sebuah jazz club di Adelaide bersama Darius, sambil melihat penyanyi amatir-tapi-bagus bernyanyi manis.
13. Nulis sambil tidur, dan besoknya pas bangun, ketawa ngebaca tulisan sendiri..
14. Makan indomie telor kornet keju jam satu pagi di warung deket rumah..

Gue jadi inget, gak selamanya gue bakal ada di dalam posisinya jelek. Gak selamanya bernasib buruk. Kadang, kalau kita sedih, kita berpikir, kita gak akan bisa ngelewatin ini… kita gak bahagia.. dan kita orang paling miserable di dunia ini. Dengan mengingat-ingat yang seneng-seneng lagi, gue jadi sadar, yah mungkin hidup gak selamanya di atas. Gue pernah bahagia, dan beberapa saat lagi I will get my spirit back.

Walaupun gak punya tongkat sihir..
my Patronus charm works.
Sekarang gue lagi senyum. :)

Apa mantra Patronus kamu?

What I Did Long Weekend Ini…

Akhir-akhir ini gue lagi ngerasa lesu banget deh. “Motor” gue lagi gak jalan kenceng, beda sama gue yang biasanya: kerja, kerja, dan kerja terus. Demit, gue lagi boseeeeen banget ngapa-ngapain. Lagi gampang depresi. Lagi susah konsentrasi. Lagi gak pengen mikir berat. Inilah masa di mana gue lagi kehilangan semangat buat ngapa-ngapain. Lagi gak pengen ngapa-ngapain. Bahkan buat ngeblog aja jadi berasa sebagai sebuah “pekerjaan”. I feel uninspired. Apa ini fase yang wajar ya?

Apa gue kena quarter-life crisis?

Seharusnya weekend kemaren gue ngelarin nulis sebuah show di AnTV, gue juga lagi proses bikin pilot acara di TV, gue juga belom ngelarin skrip komik kambingjantan jantan 2, belom juga ngelarin buku ke-5 (yang gue tulis ulang gara-gara hardisk rusak). Tapi kok rasanya lagi gak mooood bangeeeeeeeeeeeeeetttttt… Gak ada yang kelar! Hahahah.

I need to go out from Jakarta.

***

Long weekend kemarin, dalam usaha untuk ngebalikin mood, gue nonton beberapa TV Shows, dan yang menjadi favorit gue nomor satu untuk saat ini adalah serial TV ini:

The Big Bang Theory.

Terus terang, gue gak pernah suka sitkom Amerika. Gue gak pernah ngerasa Friends lucu, atau Everybody Loves Raymond, atau Fraiser, yang gitu-gitu deh. Pengecualiannya tentu saja Seinfeld, since Seinfeld bagi gue lucu banget. Nah, Big Bang Theory ini adalah salah satu dari sedikit sitkom yang bisa bikin gue ketawa, relateable sama ceritanya, dan bikin gue ngakak-ngakak sampe kedengeran keluar kamar. Kenapa? Karena The Big Bang Theory adalah sitkom tentang nerd/kutubuku. Dan gue adalah seorang nerd super.

The Big Bang Theory bercerita tentang empat nerd dan bagaimana mereka menjalani kehidupannya sehari-hari. Akhirnya ada juga serial TV yang ketawa bareng kutubuku, bukan ngetawain kutubuku (big difference!). Kutubuku di serial ini bukan digambarkan sebagai stereotype dengan kacamata besar dan susah ngomong.. tapi digambarkan punya pandangan “cupu” tapi tetep kompleks. Nonton serial TV ini kaya berkali-kali ngomong “anjing, itu gue banget!” terus ngetawain diri gue sendiri. Hahahaha.

Oh man, I’m such a nerd.

Ngomong-ngomong soal nerd, gue ngabisin waktu liburan gue juga sambil maen game Fallout 3 di Xbox:

Which was wicked!

Semasa long weekend gue juga berolahraga, dua kali lari di Senayan. Gue juga nyari tempat makan baru. Gue juga gangguin Alfa setiap saat. Tapi kebanyakan waktu yang gue habiskan adalah dengan “mati suri”: tidur lamaaa banget di kamar, gak mau ngapa-ngapain.

Hayo Dith, semangat nulis lagi.

Duh, gue bener-bener butuh injeksi penyemangat nih…
gila udah lama banget gak nulis apa-apa! :(

Kepada Kamu Dengan Penuh Kebencian*

Kepada kamu,
Dengan penuh kebencian.

Aku benci jatuh cinta. Aku benci merasa senang bertemu lagi dengan kamu, tersenyum malu-malu, dan menebak-nebak, selalu menebak-nebak. Aku benci deg-degan menunggu kamu online. Dan di saat kamu muncul, aku akan tiduran tengkurap, bantal di bawah dagu, lalu berpikir, tersenyum, dan berusaha mencari kalimat-kalimat lucu agar kamu, di seberang sana, bisa tertawa. Karena, kata orang, cara mudah membuat orang suka denganmu adalah dengan membuatnya tertawa. Mudah-mudahan itu benar.

Aku benci terkejut melihat SMS kamu nongol di inbox-ku dan aku benci kenapa aku harus memakan waktu begitu lama untuk membalasnya, menghapusnya, memikirkan kata demi kata. Aku benci ketika jatuh cinta, semua detail yang aku ucapkan, katakan, kirimkan, tuliskan ke kamu menjadi penting, seolah-olah harus tanpa cacat, atau aku bisa jadi kehilangan kamu. Aku benci harus berada dalam posisi seperti itu. Tapi, aku tidak bisa menawar, ya?

Aku benci harus menerjemahkan isyarat-isyarat kamu itu. Apakah pertanyaan kamu itu sekadar pancingan atau retorika atau pertanyaan biasa yang aku salah artikan dengan penuh percaya diri? Apakah kepalamu yang kamu senderkan di bahuku kemarin hanya gesture biasa, atau ada maksud lain, atau aku yang-sekali lagi-salah mengartikan dengan penuh percaya diri?

Aku benci harus memikirkan kamu sebelum tidur dan merasakan sesuatu yang bergerak dari dalam dada, menjalar ke sekujur tubuh, dan aku merasa pasrah, gelisah. Aku benci untuk berpikir aku bisa begini terus semalaman, tanpa harus tidur. Cukup begini saja.

Aku benci ketika kamu menempelkan kepalamu ke sisi kepalaku, saat kamu mencoba untuk melihat sesuatu di handycam yang sedang aku pegang. Oh, aku benci kenapa ketika kepala kita bersentuhan, aku tidak bernapas, aku merasa canggung, aku ingin berlari jauh. Aku benci aku harus sadar atas semua kecanggungan itu…, tapi tidak bisa melakukan apa-apa.

Aku benci ketika logika aku bersuara dan mengingatkan, “Hey! Ini hanya ketertarikan fisik semata, pada akhirnya kamu akan tahu, kalian berdua tidak punya anything in common,” harus dimentahkan oleh hati yang berkata, “Jangan hiraukan logikamu.”

Aku benci harus mencari-cari kesalahan kecil yang ada di dalam diri kamu. Kesalahan yang secara desperate aku cari dengan paksa karena aku benci untuk tahu bahwa kamu bisa saja sempurna, kamu bisa saja tanpa cela, dan aku, bisa saja benar-benar jatuh hati kepadamu.

Aku benci jatuh cinta, terutama kepada kamu. Demi Tuhan, aku benci jatuh cinta kepada kamu. Karena, di dalam perasaan menggebu-gebu ini; di balik semua rasa kangen, takut, canggung, yang bergumul di dalam dan meletup pelan-pelan…

aku takut sendirian.

*Tulisan ini terdapat dalam buku Kepada Cinta (Gagasmedia, 2009), buku kumpulan surat cinta dari berbagai macam penulis. Selain memuat 25 cinta para pemenang Sayembara Menulis Surat Cinta GagasMedia 2008, ada juga surat cinta dari Adhitya Mulya, Christian Simamora, Andi Eriawan, Ita Sembiring dan penulis lainnya. Gue nulis surat ini dari tahun lalu, eh baru inget pas ada beberapa orang yang nulis ini di notes mereka di Facebook. Gue taro sini deh. :D