Archive for the ‘lagi bener’ Category

Ini Mantra Patronus Gue..

Comment by Email

di simpan di : lagi bener
April 16, 2009 , 1:42 pm

Kalau ada yang baca Harry Potter (and I’m sure lots of you do), pasti tau Dementor.


Heri dan Dementor

Bagi yang gak tahu, Dementor adalah “makhluk penghisap kebahagiaan” yang membuat korban mereka berpikir tidak akan bisa bahagia lagi. Satu-satunya cara untuk mengusir Dementor, Harry Potter harus mengeluarkan mantra yang bernama Patronus. Nah, untuk mengeluarkan mantra Patronus dengan baik, Harry harus mengingat tentang hal-hal yang ngebuat dia bahagia sambil mengarahkan tongkat sihirnya ke Dementor.


Heri dengan Mantra Patronus vs Dementor

Konsep yang keren banget ya?

To be honest, akhir-akhir ini lagi banyak Dementor di hidup gue; that means lagi banyak pikiran yang menggangu, yang ngebuat gue jadi down, jadi gak seneng, jadi males ngapa-ngapainnya. Dan gue akhirnya berpikir, untuk mengusirnya, gue perlu mengeluarkan mantra Patronus gue sendiri.

Maka, inilah mantra Patronus gue, atau dengan kata lain,
hal-hal bahagia yang gue pikirin untuk mengusir Dementor gue:

1. Pergi bareng pacar ke tempat seafood (ngemilin kerang dara rebus! hahahah), nonton TV, atau cuman berduaan diem aja, our quality time together :)
2. Inget-inget lagi “Adelaide Ceria”, dan bagaimana senangnya kita dulu..
3. Lari sendirian di Senayan, gak ada pikiran apa-apa, ngeliatin pintu demi pintu kelewat..
4. Minggu pagi di Kemang sambil ngopi dan ngobrol sok berat tapi santai. Nge-quote Nietzche, Freud, Schopenhauer, dan mencoba untuk memahami “why we are so unbeliavable fucked up?”. Man, I miss pseudo-intellectual conversation..
5. Mendengarkan A Love Supreme – John Coltrane
6. Menonton Eternal Sunshine of The Spotless Mind
7. Hari Minggu yang mendung, di mobil sendirian, lalu radio memutarkan lagu-lagu ringan..
8. Talkshow di auditorium dengan penonton yang asik banget..
9. Ngedenger nyokap gue bilang, “Paling engga, anak mama yang paling gede udah jadi orang.”
10. Momogi coklat & Pocky rasa pisang plusss Coca-Cola dingin yang es-nya agak cair.
11. Membaca email terimakasih dari pembaca, disamperin orang dan bilang terimakasih sudah membuat buku, melihat orang membaca buku gue di jalanan sambil melihat mereka ketawa malu-malu..
12. Duduk di pojokan sebuah jazz club di Adelaide bersama Darius, sambil melihat penyanyi amatir-tapi-bagus bernyanyi manis.
13. Nulis sambil tidur, dan besoknya pas bangun, ketawa ngebaca tulisan sendiri..
14. Makan indomie telor kornet keju jam satu pagi di warung deket rumah..

Gue jadi inget, gak selamanya gue bakal ada di dalam posisinya jelek. Gak selamanya bernasib buruk. Kadang, kalau kita sedih, kita berpikir, kita gak akan bisa ngelewatin ini… kita gak bahagia.. dan kita orang paling miserable di dunia ini. Dengan mengingat-ingat yang seneng-seneng lagi, gue jadi sadar, yah mungkin hidup gak selamanya di atas. Gue pernah bahagia, dan beberapa saat lagi I will get my spirit back.

Walaupun gak punya tongkat sihir..
my Patronus charm works.
Sekarang gue lagi senyum. :)

Apa mantra Patronus kamu?

What I Did Long Weekend Ini…

Comment by Email

di simpan di : lagi bener
April 13, 2009 , 11:56 am

Akhir-akhir ini gue lagi ngerasa lesu banget deh. “Motor” gue lagi gak jalan kenceng, beda sama gue yang biasanya: kerja, kerja, dan kerja terus. Demit, gue lagi boseeeeen banget ngapa-ngapain. Lagi gampang depresi. Lagi susah konsentrasi. Lagi gak pengen mikir berat. Inilah masa di mana gue lagi kehilangan semangat buat ngapa-ngapain. Lagi gak pengen ngapa-ngapain. Bahkan buat ngeblog aja jadi berasa sebagai sebuah “pekerjaan”. I feel uninspired. Apa ini fase yang wajar ya?

Apa gue kena quarter-life crisis?

Seharusnya weekend kemaren gue ngelarin nulis sebuah show di AnTV, gue juga lagi proses bikin pilot acara di TV, gue juga belom ngelarin skrip komik kambingjantan jantan 2, belom juga ngelarin buku ke-5 (yang gue tulis ulang gara-gara hardisk rusak). Tapi kok rasanya lagi gak mooood bangeeeeeeeeeeeeeetttttt… Gak ada yang kelar! Hahahah.

I need to go out from Jakarta.

***

Long weekend kemarin, dalam usaha untuk ngebalikin mood, gue nonton beberapa TV Shows, dan yang menjadi favorit gue nomor satu untuk saat ini adalah serial TV ini:

The Big Bang Theory.

Terus terang, gue gak pernah suka sitkom Amerika. Gue gak pernah ngerasa Friends lucu, atau Everybody Loves Raymond, atau Fraiser, yang gitu-gitu deh. Pengecualiannya tentu saja Seinfeld, since Seinfeld bagi gue lucu banget. Nah, Big Bang Theory ini adalah salah satu dari sedikit sitkom yang bisa bikin gue ketawa, relateable sama ceritanya, dan bikin gue ngakak-ngakak sampe kedengeran keluar kamar. Kenapa? Karena The Big Bang Theory adalah sitkom tentang nerd/kutubuku. Dan gue adalah seorang nerd super.

The Big Bang Theory bercerita tentang empat nerd dan bagaimana mereka menjalani kehidupannya sehari-hari. Akhirnya ada juga serial TV yang ketawa bareng kutubuku, bukan ngetawain kutubuku (big difference!). Kutubuku di serial ini bukan digambarkan sebagai stereotype dengan kacamata besar dan susah ngomong.. tapi digambarkan punya pandangan “cupu” tapi tetep kompleks. Nonton serial TV ini kaya berkali-kali ngomong “anjing, itu gue banget!” terus ngetawain diri gue sendiri. Hahahaha.

Oh man, I’m such a nerd.

Ngomong-ngomong soal nerd, gue ngabisin waktu liburan gue juga sambil maen game Fallout 3 di Xbox:

Which was wicked!

Semasa long weekend gue juga berolahraga, dua kali lari di Senayan. Gue juga nyari tempat makan baru. Gue juga gangguin Alfa setiap saat. Tapi kebanyakan waktu yang gue habiskan adalah dengan “mati suri”: tidur lamaaa banget di kamar, gak mau ngapa-ngapain.

Hayo Dith, semangat nulis lagi.

Duh, gue bener-bener butuh injeksi penyemangat nih…
gila udah lama banget gak nulis apa-apa! :(

Kepada Kamu Dengan Penuh Kebencian*

Comment by Email

di simpan di : lagi bener
April 3, 2009 , 1:12 am

Kepada kamu,
Dengan penuh kebencian.

Aku benci jatuh cinta. Aku benci merasa senang bertemu lagi dengan kamu, tersenyum malu-malu, dan menebak-nebak, selalu menebak-nebak. Aku benci deg-degan menunggu kamu online. Dan di saat kamu muncul, aku akan tiduran tengkurap, bantal di bawah dagu, lalu berpikir, tersenyum, dan berusaha mencari kalimat-kalimat lucu agar kamu, di seberang sana, bisa tertawa. Karena, kata orang, cara mudah membuat orang suka denganmu adalah dengan membuatnya tertawa. Mudah-mudahan itu benar.

Aku benci terkejut melihat SMS kamu nongol di inbox-ku dan aku benci kenapa aku harus memakan waktu begitu lama untuk membalasnya, menghapusnya, memikirkan kata demi kata. Aku benci ketika jatuh cinta, semua detail yang aku ucapkan, katakan, kirimkan, tuliskan ke kamu menjadi penting, seolah-olah harus tanpa cacat, atau aku bisa jadi kehilangan kamu. Aku benci harus berada dalam posisi seperti itu. Tapi, aku tidak bisa menawar, ya?

Aku benci harus menerjemahkan isyarat-isyarat kamu itu. Apakah pertanyaan kamu itu sekadar pancingan atau retorika atau pertanyaan biasa yang aku salah artikan dengan penuh percaya diri? Apakah kepalamu yang kamu senderkan di bahuku kemarin hanya gesture biasa, atau ada maksud lain, atau aku yang-sekali lagi-salah mengartikan dengan penuh percaya diri?

Aku benci harus memikirkan kamu sebelum tidur dan merasakan sesuatu yang bergerak dari dalam dada, menjalar ke sekujur tubuh, dan aku merasa pasrah, gelisah. Aku benci untuk berpikir aku bisa begini terus semalaman, tanpa harus tidur. Cukup begini saja.

Aku benci ketika kamu menempelkan kepalamu ke sisi kepalaku, saat kamu mencoba untuk melihat sesuatu di handycam yang sedang aku pegang. Oh, aku benci kenapa ketika kepala kita bersentuhan, aku tidak bernapas, aku merasa canggung, aku ingin berlari jauh. Aku benci aku harus sadar atas semua kecanggungan itu…, tapi tidak bisa melakukan apa-apa.

Aku benci ketika logika aku bersuara dan mengingatkan, “Hey! Ini hanya ketertarikan fisik semata, pada akhirnya kamu akan tahu, kalian berdua tidak punya anything in common,” harus dimentahkan oleh hati yang berkata, “Jangan hiraukan logikamu.”

Aku benci harus mencari-cari kesalahan kecil yang ada di dalam diri kamu. Kesalahan yang secara desperate aku cari dengan paksa karena aku benci untuk tahu bahwa kamu bisa saja sempurna, kamu bisa saja tanpa cela, dan aku, bisa saja benar-benar jatuh hati kepadamu.

Aku benci jatuh cinta, terutama kepada kamu. Demi Tuhan, aku benci jatuh cinta kepada kamu. Karena, di dalam perasaan menggebu-gebu ini; di balik semua rasa kangen, takut, canggung, yang bergumul di dalam dan meletup pelan-pelan…

aku takut sendirian.

*Tulisan ini terdapat dalam buku Kepada Cinta (Gagasmedia, 2009), buku kumpulan surat cinta dari berbagai macam penulis. Selain memuat 25 cinta para pemenang Sayembara Menulis Surat Cinta GagasMedia 2008, ada juga surat cinta dari Adhitya Mulya, Christian Simamora, Andi Eriawan, Ita Sembiring dan penulis lainnya. Gue nulis surat ini dari tahun lalu, eh baru inget pas ada beberapa orang yang nulis ini di notes mereka di Facebook. Gue taro sini deh. :D