Dan Di Saat Ini Gue Berpikir Atas Hal-Hal yang Tidak Jelas

Gue bikin Facebook yang ketiga, karena yang pertama dan yang kedua udah penuh. Yang belom jadi temen gue di facebook bisa add gue di http://www.facebook.com/people/Raditya-Dika-Tiga/1367115017 ya.

Sekarang, kita ngobrolin apa ya?

Hmmmmmmmm, banyak…
tapi gue gak tau harus mulai dari mana.

Kadang ada banyak yang ada di kepala gue, tapi gue gak tau gimana cara menuliskannya, karena… well, saking banyaknya. Saking pusingnya. Something happened and I have been thinking heavily ever since. Gue coba tarik napas dalem-dalem, dan coba gue urain satu persatu apa yang bersliweran di kepala gue saat ini, gue coba biarin jari gue gerak sendiri, menyampaikan apa yang ada di kepala.

Here goes:

1. Gue gak pernah ngerti sama diri gue sendiri kenapa terkadang sebuah hal yang (kayaknya) kecil bisa begitu jadi besar buat gue. Bisa ngebuat gue kecewa, dan gue gak pernah ngerti kenapa kekecewaan ini bisa berubah seperti kanker yang menyebar dan menggerogoti perasaan gue sendiri… lama-lama ngebunuh dari dalam… dan mati. Gue gak pernah mengerti bagaimana harus mensiasati ini. Gue gak pernah ngerti kenapa buat gue, what has done yah done.. the damage has been done, and nothing we can do about it. There is absolutely nothing we can do about it. Kenapa? Kenapa gue gak bisa membuat semua ini seolah gak nampak, dan jalan terus. Kenapa? Kenapa? Kenapa gue harus membuat semua hal sempurna? Mungkin ini kutukan sekaligus berkah menjadi seorang perfeksionis… atau menjadi orang yang tak pernah puas?

2. Kalau yang namanya kesempurnaan itu gak ada, dan kita terus mengejar kesempurnaan, apa gue berarti mengejar sesuatu yang tidak ada? Dan kalau yang namanya memaafkan itu berarti melupakan, bagaimana cara melupakan sesuatu yang telah kita maafkan? Bahkan jika hal tersebut tidak seharusnya terjadi?

3. Gue sangat kagum bagaimana sebuah kejadian bisa terjadi. Katakanlah begini, jika seseorang menikah karena kenalan di facebook, bagaimana jika facebook tidak diciptakan? Bagaimana jika komputer tidak diciptakan? Bagaimana jika Bill Gates pada waktu itu meneruskan kuliahnya di Harvard Law dan melupakan mimpinya untuk membuat personal computer? Maka komputer (windows) tidak akan ada, facebook tidak punya wadah, dan dua orang ini tidak akan kenalan. Mereka mungkin akan menikah dengan orang lain, dan cerita hidup mereka akan completely berbeda, anak-anak yang berbeda, nasib yang berbeda. Setiap elemen-elemen dalam semesta ini mempertemukan kita ke jalan yang kita ambil. Apa ini semua sudah diatur, atau kita membuat ilusi bahwa sesungguhnya kita bisa mengatur ini? Apakah, perpisahan juga sudah diatur rapi? Ya, itu pertanyaannya, jika pertemuan seseorang direncanakan oleh “nasib” apakah perpisahan juga seperti itu? Dan jika iya, siapa yang bisa disalahkan?

4. Bagaimana kita tahu apa yang pilih itu “benar”? Bagaimana kita tahu apakah kita akan bahagia dengan pilihan kita. Aksi kita. Konsekuensi kita. Relativisme dalam contoh yang paling sempurna. Filsafat katanya bisa membantu kita memecahkan permasalahan-permasalahan dalam hidup, tapi yang ada justru pertanyaan satu mengikuti pertanyaan lain. Cuih.

5. Belakangan ini quote King Lear dari Shakespear terus ada di kepala: “If you prick us do we not bleed? If you tickle us do we not laugh? If you poison us do we not die? And if you wrong us shall we not revenge? ? If we are like you in the rest, we will resemble you in that.”

6. Lagi pengen Pocky rasa coklat. Eh Lucky lebih enak. Lay’s rumput laut juga enak.

7. Butterfly effect adalah terminologi yang keren banget, yang membuktikan bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini terkoneksi dengan kejadian-kejadian lainnya. Sub-bagian dari Chaos Theory yang paling gue suka. Tapi, semenjak ada film Butterfly Effect, apalagi yang meranin Ashton Kutcher, kok terminologi ini gak kedengeran seksi lagi ya.

8. Komedian dan filsuf adalah perpaduan yang asik banget. Gue cuman bisa menemukan ini di Woody Allen. Gue pengen kayak Woody Allen, tapi… Woody Allen led an empty life. Gue gak mau led an empty life. And Woody Allen have issues. Eh tunggu, hampir semua komedian yang gue tahu have issues: Jerry Seinfeld – cranky, Jerry Lewis -  komitmen phobia, Larry David – sangat-sangat cranky, Mitch Hedbgerg – mati overdosis, Mitch Fatel – pervert, bahkan Parto pernah menembakkan pistol ke udara di tempat umum. We are a bunch of complex creatures. Semua komedian adalah makhluk yang kompleks. Tanpa kecuali. And we hate it so much. At least I know I do.

9. Gue pengen punya mesin waktu.

Gue nulis apa sih? Buset, gue bahkan gak tau gue nulis apa.
Mohon maaf telah menyampah.

Be right back. Lagi perlu mikir.

Hujan di Bulan Januari Ini…

Bagi temen-temen yang udah beli komik Kambingjantan dan ingin meminta pertanggungjawaban atas rusaknya otak, susah makan, atau busa yang keluar dari semua lubang tubuh… silakan datang ke:

Talkshow komik Kambingjantan

17 Januari 2009: 14.00 WIB Gramedia Depok
18 Januari 2009: 14.00 WIB Gramedia Pondok Indah Mall
24 Januari 2009: 14.00 WIB Gramedia Citraland
25 Januari 2009: Pameran Buku Cikarang (info menyusul)

Dio dan gue bakal ada di sana. Kita bakalan talkshow, makan beling, loncat melalui lingkaran api, dan narik truk pake gigi… oke, mungkin tidak. Bagi yang mau nanya-nanya soal cara bikin komik sama Dio, silakan dateng. Bagi yang mau nanya caranya bikin Ayam Goreng Saus Mentega sama gue, silakan dateng. Kebetulan gue emang baru belajar masak. See ya there.

***

Dan sesuatu yang gue tulis di dalam Kedai Kemang, di saat hujan mengguyur di luar:

Life is not about waiting the storm to pass. It is about dancing in the rain.”

Ah, musim hujan. Aku selalu suka hujan. Ada romantisme tersendiri dari hujan, entah kenapa, mungkin datang dari percampuran antara cemas menemukan tempat berteduh, pengharapan melihat pelangi pas hujan selesai, dan merenung sendiri dari balik kacamata yang berembun. Hujan membawa itu semua: cemas, harap, dan perenungan.

Aku suka hujan. Aku suka menyetir mobil di bawah hujan sambil melamun, melihat jalanan melalui kaca yang dipenuhi oleh titik-titik air. Lalu aku menghapusnya dengan wiper, yang tentu saja percuma, hanya untuk melihatnya basah kembali: setitik demi setitik demi setitik demi setitik… hingga aku menghapusnya lagi. Dan ulangi. Lalu aku menyetel radio, bernyanyi sumbang, yang tersamarkan oleh bunyi kaca yang ditempa air. Aku suka tidak bisa mendengar suaraku sendiri. Aku suka dibungkam tanpa sengaja.

Aku suka hujan. Terutama aku suka bau air yang bercampur dengan tanah, bau lumpur samar itu. Aku selalu menciumnya dengan brutal, menghirup dalam-dalam dan menahan napas, supaya tidak terlupakan oleh bau yang lain. Aku ingat, sewaktu masih kecil, aku selalu suka menari di bawah hujan, teriak bersama teman-teman dan mengecap rasa asin yang mampir di bibir. Dan ketika keesokannya harinya meriang? Aku gak peduli.

Tapi aku selalu takut dengan badai. Dengan kemampuannya untuk merusak, menghancurkan yang telah ada. Menyapu bersih apa yang pernah aku bangun. Menelan semuanya dalam satu kali jentikan jari, atau kurang. Badai dengan angin kencang, petir nyaring, dan kilatan yang menyilaukan mata. Badai bisa membuat orang hilang. Badai bisa membuat orang bimbang. Badai bisa, menyesatkan.

Dan ketika badai semacam itu datang,
yang diperlukan hanyalah keberanian untuk menari di bawah hujan.

Hei, kamu. Pegang tanganku.
Kita menari bersama. Ya?

Postingan yang Seharusnya Gak Penting Untuk Ditulis.. Hehe..

Tadinya gue gak mau nanggepin sih dan mau posting foto-foto shooting,
tapi gerah juga lama-lama..

Nampaknya postingan gue yang kemaren menimbulkan banyak asumsi-asumsi yang aneh-aneh. Jadi daripada banyak yang salah nebak dan jadinya rancu, gue mau jelaskan sedikit bahwa: 1) Iya, gue jadian sama Fiza (bukan Edric! Demi Tuhan, bukan Edric!) 2) gue putus sama Diva bukan gara-gara Fiza, dan 3) gue masih orang yang sama seperti dulu.

Kenapa bisa timbul asumsi-asumsi aneh, komentar-komentar miring,
sampai gue harus bikin postingan seperti ini?

Gampang aja: gue baru saja sadar bahwa banyak banget orang yang menilai sebuah kejadian tanpa tahu apa yang terjadi sebenarnya. Banyak orang yang mengambil kesimpulan hanya dari apa yang mereka lihat, baca, dan tiba-tiba nebak sendiri. Banyak yang mengambil kesimpulan tanpa tahu apa yang terjadi di antara gue dan Diva, bahkan gue dan Kebo. Mereka tidak tahu apa yang sebenar-benarnya terjadi, lalu merajut informasi yang sepotong-sepotong ini menjadi fantasi mereka sendiri. Alesan gampangnya: orang selalu tertarik dengan cerita-cerita yang bombastis… jadi dengan informasi sepotong-sepotong ini mereka akan berusaha untuk membuatnya jadi sedramatis mungkin.

Begitu gue nulis ini gue juga baru selesai telponan sama Diva, dan gue cerita tentang banyak komen-komen seperti itu. Lucunya, dia biasa aja. Dia tahu sekarang gue jadian ama Fiza, dan dia juga gak pernah cerita apa pun ke orang lain. Gue masih baik-baik aja sama Diva, kita masih temenan baik. Diva bahkan mau rekaman satu lagu untuk album soundtrack KambingJantan The Movie, yang akan diproduseri Yoyo Padi.

Jadi,
semua asumsi itu salah.

Hmmmmmm… Gue jadi inget lagi kenapa gue harus berhenti menulis cerita yang terlalu pribadi dan sensitif ini di blog: karena tidak semua yang terjadi pada diri gue dan hubungan-hubungan gue harus gue ceritakan. Dan tidak banyak orang yang cukup dewasa untuk tidak mengambil kesimpulan sendiri dan menilai cerita orang lain dengan setengah matang.

Banyak hal yang tidak bisa gue buka di sini karena memang terlalu pribadi: alesan gue kenapa gak bisa balik lagi sama Kebo hingga detik ini (dan itu bagi gue sakiiiiiit banget) atau alesan kenapa gue putus sama Diva. Gue gak bisa cerita, karena… it’s too personal, bukan diumbar untuk dibaca 4000 orang per hari blog ini dan banyak hidup yang terlibat di cerita gue. Kalau gue cerita, gak bakalan jadi fair buat Kebo, gak bakalan jadi fair buat Diva. Yang jelas, gue gak pernah mutusin orang gara-gara ketemu orang baru. Yang jelas, gue gak pernah membuat mereka sebagai korban.

Jujur, gue bisa sama Fiza karena waktu itu gue udah putus sama Diva, dan gue menemukan orang yang bisa “ada” di sebelah gue, setidaknya saat itu. Gue ngerasa kalau gue ketemu Fiza di kesempatan yang lain, katakanlah di sebuah pesta ulangtahun, atau apa pun itu, pasti gue bakalan “jadi” juga sama dia. Sesimpel itu aja. Sama seperti orang-orang pada umumnya: mereka lagi gak ada pacar, ketemu orang cocok, dan semuanya lancar-lancar aja… jadi deh. Wajar kan? Jadi gue heran… kenapa harus dibuat gak wajar.

Rasanya cukup ah gue ngebahas ini di satu posting aja. Postingan berikutnya gue mau balik lagi ngomongin filmnya, ngomongin komik. Rasa-rasanya gue juga kapok untuk ngomongin hal-hal pribadi lagi di blog gue ini. Gue jadi nyadar, banyak kepala yang membaca bisa berarti banyak penilaian yang aneh. Gue paham itu.

Banyak juga yang merasa takut gue akan “berubah” setelah film ini. Satu hal yang harus temen-temen tahu: pembaca gue adalah segalanya buat gue. Gue bisa besar dan tumbuh dan difilmkan seperti ini adalah karena pembaca gue. Gak banyak hal yang bisa gue janjiin, tapi satu yang gue bisa pegang pasti: gue gak pernah lupa sama orang yang membesarkan gue. Gue gak pernah lupa sama pembaca gue, semua adegan yang ada di film, semua tulisan yang ada di buku, adalah jembatan emosional gue dengan orang yang mengapresiasi karya-karya gue.

Satu hal yang gue sangat sukai dengan menjadi penulis: menulis sesuatu adalah kegiatan yang sangat emosional, dan buku gue adalah media yang selalu gue pake untuk bercerita ke orang lain, untuk punya perasaan di dengarkan, untuk tahu bahwa di suatu tempat di suatu waktu, ada orang yang baca buku gue dan tertawa atas sesuatu yang gue tulis. Itu terlalu berharga untuk gue tutupin demi popularitas dan gaya-gayaan belaka. It’s true.

So, don’t you all worry, I won’t forget my roots. Gue gak bakalan jadi orang songong ala ala artis-artis itu lah. Gue gak bakalan operasi plastik, kawin di Amerika, atau punya anak adopsi dari Etiopia. Suwer samber geledek.

Satu hal lagi yang harus gue sampaikan:

I might not always know what I want.
But I always be true to myself.

Udah ah. Cukup ngomongin beginian. Gak penting abis. Berasa artis sinetron aja. Gue sampai detik ini selalu merasa, gue hanya seorang anak muda biasa yang cukup beruntung untuk punya buku, dan sekarang lain main film. Gue hanyalah orang yang berusaha memanfaatkan kesempatan yang gue dapat dengan sebaik-baiknya. Sama seperti kalian. :)

PS: Foto-foto syuting udah menumpuk, gue kayaknya mau bikinin FLICKR dan segala macemnya. Ada saran tempat nyimpen foto online di internet gak?

PS lagi: Hari ini gue ada di O Channel di program Work Hard Play Hard jam 22.30, dan besok gue ada di O Channel jam 23.00

Tentang Cinta di Film Ini…

Sepertinya cerita-cerita tentang gue shooting adegan-adegan gue yang dulu dengan Si Kebo menimbulkan email-email seperti ini:

    Email dari DendiHalo Dit, salam olah raga.Kenalin nama gue Dendi.Ada satu hal yang udah lama pengen gue tanyain ke elo sejak Cinta Brontosaurus terbit sampe sekarang FIlm Kambing Jantan dibuat. Di buku Cinta Brontosaurus banyak nyeritain tentang kisah cinta lo sama si Kebo, meskipun ketika buku itu terbit lo dah putus sama si Kebo. Trus, di Film KJ (Kambing Jantan or Kris Jayanti) juga nyeritain ketika lo masih pacaran sama si Kebo.

    Nah yang gue pengen tanyain, kira2 lo tau ga sih gimana perasaan si Kebo karena kisah cintanya sama lo waktu dulu dijadiin film gitu. Lo udah minta ijin belum sama dia? Terus gimana perasaan Diva, cewe lo sekarang tentang ini? maksud gue bukan tentang lo berakting mesra sama Fiza yang meranin si Kebo, tapi tentang lo yang mengulang kembali kisah cinta lo sama mantan lo di film ini.
    Apalagi sekarang lo lagi syuting scene yang-menurut-gue-paling-romantis-di-buku-cinta-brontosaurus yaitu nonton Kulturfest di FIBUI.
    Dan (apalagi) ngebaca tulisan lo di blog lo dulu, ketika dia nanya “mungkin ga kalo lo berdua bareng lagi?”….. wuiiih, gue ga ngebayangin aja perasaan si Kebo if she watch this movie.

    So, i’m waiting your answer….and if you have guts, i dare you to post the answer in your blog…
    hawahwahwhahwahwahhahwahahhhwhawhahhawhah

    Salam Mulikum.

    Dendi Riandi

Jujur, sewaktu gue ngasih tau ke Si Kebo kalo gue bakalan memfilmkan Kambing Jantan dan kisah cinta kita bakal jadi salah satu tema sentral di sana, dia gak setuju. Dia gak pengen gue memfilmkan apa yang pernah terjadi di antara kita berdua, entah dengan alesan apa. Tapi, setelah gue nelpon dia, ngomong baik-baik dan ketemu… dia akhirnya setuju. Gue juga yakin Si Kebo yang asli adalah orang yang cukup dewasa dan terbuka untuk hal-hal seperti ini.

Banyak yang nanya juga ke gue, “Nanti Si Kebo ngeliat filmnya gimana ya? Bakal nostalgia gak ya? Kalo lo gimana Dith? Bakal keinget-inget yang lama-lama gak?” Terus terang gue bakalan jawab film ini tidak akan mengubah apa-apa di antara kita berdua. Si Kebo, gue yakin, bakalan nonton film ini dengan biasa-biasa aja… karena kita emang udah waaaaaaaaaaaaaaaay over it banget. Hubungan kita emang udah putus sejak tiga tahun yang lalu, dan bagi gue emang udah jadi cerita lama aja. Gue juga selama memfilmkan film ini, gak pernah membayangkan Fiza sebagai Kebo dan mengingat kembali adegan-adegan kita… karena emang gue udah jauh berjalan dari situ. Cerita antara gue-Kebo hanya akan jadi semacam cerita cinta manis-pahit yang orang lain biasa alamin, yang coba gue share melalui media film. Gue dan Kebo yang ada di dalam cerita film ini bagi gue seperti orang lain aja, yang gak ada hubungannya dengan gue dan Kebo yang sekarang.

Masalah Diva… Hmmmmm, satu hal yang temen-temen juga harus tahu, gue udah dua bulan ini putus sama Diva.  We have our own reasons, termasuk soal kesibukan dan hal lainnya… putusnya juga baik-baik. Gue mulai dari tahun lalu agak gak suka kalo gue nge-share hal pribadi banget dalam hidup gue, jadi emang gak pernah gue bagi di sini. Diva dan gue remains good friend. Menjawab email di atas, sewaktu KJ akan di filmkan dan gue bilang ke Diva dulu pas dia masih jadi pacar gue, “Nanti di film ini aku memainkan kisah cinta aku dengan Si Kebo lho. Kamu gimana?” Diva waktu itu santai-santai aja, dia juga tahu ini untuk film.

Untuk saat ini, gue baru jadian sama orang lain. Siapakah dia? Tebak sajaaa. Hehehe. :P

***

Komik KambingJantan dalam proses naik cetak. Dalam waktu dekat gue bakalan ngebahas habis di blog tentang komik ini. Dan gue sangat sangat sangat percaya, komik ini adalah salah satu karya gue yang paling lucu, all out, dan serius ngegarapnya yang pernah gue bikin, thanks to Dio.

****

Beberapa hari yang lalu Fiza menjajah laptop gue dan menulis ini di draft posting gue:

    Hallo hallo temen2 pembaca raditya dika.Back with me (caelah..) Herfiza Novianti.ini sekarang Fiza (kebo) lg yg nulis blog nya dika. hehe.. lama2 ini blog jadi punya gwe deh. hahahahaa..Jujur,gara2 kmrn dika nyuruh gwe buat nulis surat konfirmasi di blog ini, gwe jadi ketagihan buat nulis blog lg. Yang ada sekarang kalo kita lg di lokasi pasti gwe selalu bilang “mbing,posting blog lg doonk.. aku yg ngetik deh. yah? yahh?!” klo Dika sih seneng2 aja soalnya gwe minta nya sambil peluk2 Dika (loh!? enggak denng..) hahahaa..Makanya gw mau minta izin dulu sama temen2 pembacanya raditya dika. klo gwe suka iseng nulis di blog nya dika. maap2 klo besok2 gw lagi yg nulis bog nya dika. boleh yah.. yah.. yaaaahhhh?!!Apa temen2 pembaca juga setuju klo nama blog nya kita ganti aja.. jadi herfizanovianti.com???? oke,klo kalian pada setuju. yg cowo gw jadiin pacar (ehem..!!!) klo yg cewe gw jadiin sahabat.. hihihihih.. gak deng bcanda, yg ada gwe besok2 dibakar ama temen2 pembacanya Dika.

    Oia,kata nya Dika banyak yg pengen kenal lebih deket sama gwe yah (pede abis..) hehe.. boleh2 aja kok klo temen2 mau ngasih pertanyaan2 buat gwe,nanti dikirim aja pertanyaan2 nya ke raditya.dika@gmail.com trus nanti pertanyaan2 itu dipilih sama Dika abis itu gwe jawab deh. oke setuju temen2?? toss dulu ah biar ga slek!!!

    Yaudh,gwe tunggu pertanyaan2 dari temen2 yah. seneng deh bisa kenal sama kalian semua!! sampe bertemu di postingan2 berikutnya (kalo dikasih izin juga sama Dika..) hehe.. makasih banyak ya temen2. dadaaaaaahhh!!!! kisskiss :)

Fiza emang cukup kagum dengan gue yang sangat dekat dengan pembaca gue. Dia juga pengen kenal, pengen ngejawabin, dan terbuka ngejawabin semua pertanyaan dari pembaca yang ada hubungannya dengan dia sebagai pemeran Si Kebo, atau hanya sekadar lawan main gue di film Kambingjantan. So, kalau ada yang tertarik, be a nice guy/girl and ask her anything di raditya.dika@gmail.com, pake Subject “Pertanyaan Untuk Fiza” biar gampang misahinnya ya. :D

***

Masih nyambung, setelah gue ngepost foto-foto gue sama Fiza kayaknya banyak yang ngefans sama dia, terutama cowok-cowok…

    Komen dari oedhien:bos fotonya fiza seutuhnya dunk ditampilin di blok loe,, :)

So, here you go:


gimana gue gak kebanting coba? 


adegan di mobil dengan Fiza berdandan ala setan cina

***

Shooting film KambingJantan makin mendekati masa-masa akhir! Deg-degan banget. Di postingan-postingan berikutnya gue bakal share lagi beberapa foto shootingnya yah. Kemaren-kemaren gue udah terlalu ribet sama acting dan dialog gue, jadi sering banget lupa bawa kamera ke lokasi. Hahahaha.

Stay tune in this blog, guys.
Kalo ada apa-apa kalian bisa nanya atau apa pun ke raditya.dika@gmail.com.

Thanks for reading! Love my readers so much! :D

Sebuah puisi terlupakan yang sempat gue bikin yang gue temukan ketika beres-beres kamar

Jika saja
kamu sesimpel 1 + 1 = 2
maka aku tidak perlu susah-susah
mencari kalkulator
atau menemukan formula

untuk membuat kamu
lebih mudah untuk dimengerti.

- kepada dia (Adelaide, 2006)