Rasa Selai Kacang Itu…

Before we hit anything off, gue bakalan ada di talkshow di Bandung, see ya there people! :D

Tempat: Universitas Parahyangan, Jln. Ciumbuleuit, Bandung
Waktu: jumat, 28 maret 2008, jam 13.00 – Selesai

Oke, here goes…

Salah dua film favorit gue adalah Before Sunrise dan Before Sunset. Bener-bener filmnya bener-bener thought-provoking abis. Waktu itu, setelah nonton keduanya, gue langsung ajak temen gue ke Coffee Bean, dan kita ngomongin beberapa line-line dalam film itu, yang menurut kita… it’s so freakin true. Salah satu line yang paling memukau kita adalah ini, yang diucapkan oleh Celine, karakter utama wanita dalam film itu: The idea that we can only be complete with another person is evil! Right?

Ya, gue setuju. Jahat banget. Pemikiran yang bilang, ‘Kita hanya bisa sempurna jika ketemu dengan soulmate kita’ adalah sesuatu yang jahat. Bagaimana kita bisa tahu itu soulmate kita? Bagaimana kita bisa yakin, terhadap orang yang kita cintai bahwa dia… memang the one. Lagian, apa pula konsep “the one” itu? Konsep yang berkata kita hanya sempurna dengan orang lain, adalah konsep yang benar-benar absurd.

Di dalem Coffee Bean yang surprisingly sepi hari itu, dia duduk di depan gue,
Gue meneguk iced cappucino yang gue pesan setengah jam yang lalu.

Dia: Kenapa sih kita baru bisa dibilang komplit dengan kehadiran orang lain itu?
Gue: Maksud lo?
Dia: Kenapa gak dengan kehadiran sebuah barang, atau… atau hobi? Baru kita bisa dibilang komplit? Kenapa harus dihubungkan dengan orang lain? Kenapa kesempurnaan kita, sebagai manusia, harus diindikasikan dengan kita bertemu dengan soulmate kita?

Bener juga sih… Bagaimana dengan para jomblo abadi, yang mungkin mati sendirian? Bagaimana dengan orang yang memilih untuk tidak pernah mencintai orang lain? Atau, ini yang paling parah: Bagaimana dengan orang yang cintanya selalu bertepuk sebelah tangan?

Unrequited love, atau cinta yang tak berbalas, rasanya adalah hal yang paling bikin ngais tanah yang bisa terjadi pada diri kita. Untuk tahu kalau cinta kita tak berbalas, rasanya seperti diberitahu bahwa kita tidak pantas untuk mendapatkan orang tersebut. Rasanya, seperti diingatkan bahwa kita, memang tidak sempurna, atau setidaknya tidak cukup sempurna untuk orang tersebut.

Sedangkan, perjuangan melawan cinta adalah perjuangan melawan ingatan. Bagi orang yang cintanya tak berbalas, melupakan seseorang adalah tahap yang paling krusial sekaligus paling susah untuk dilakukan. Bengong dikit, keinget dia lagi. Nyoba kenalan sama orang baru, eh inget lagi. Makanya, sekarang ada istilah “mentok” yang dipakai untuk menggambarkan orang yang gak bisa move on. Sedihnya, dan gak ada istilah “bablas”.

Kita ngobrol ngalur-ngidul sampai Coffee Bean tutup dan Mas-Masnya mengusir kita pulang.
Di mobil, dia duduk di sebelah gue. Begitu deket dengan rumahnya, gue bilang…

Gue: Unrequited love itu gak enak banget. Kayak itu, tau gak, katanya Charlie Brown di komik Peanuts: Tidak ada yang bisa menghilangkan rasa selai kacang seperti cinta yang tak berbalas.
Dia: “Nothing takes the flavor out of peanut butter quite like unrequited love.”
Gue: Ya, bener. Semuanya jadi gak ada rasanya.


Charlie Brown: the loser/philosopher

Kita berdua diem.

Dia: Kalo elo, pernah gak dapet cinta yang tak berbalas?
Gue: Pernah.
Dia: Oh ya?
Gue: Iya.

Satu hal yang tidak dia tahu adalah, gue pernah suka banget sama dia. Dan dia, waktu itu, tidak pernah menunjukkan hal yang sama. Ini yang ironis, dia adalah orang yang menghilangkan rasa selai kacang di lidah gue.

kematian, menurut Allen

Pernah mikirin dan takut gak kalau suatu saat orangtua kita bisa meninggal? Kadang gue ngerasa pengen mati muda, you know, biar gue gak usah ngeliat mereka -semua orang yang gue sayangin- meninggal.

Ya, kematian ngebuat gue ngerasa gak nyaman. Adeknya salah satu temen gue meninggal kemaren. Dia masih duduk di bangku SD. You see, hal-hal mengejutkan seperti ini ngebuat gue ngerasa bahwa semua yang kita punya sekarang ini bisa aja diambil. Seolah-olah benang yang nyambungin idup kita bisa dipotong begitu aja. Lalu ilang. Gak ada lagi. Nothing matters.

Secara kebetulan, sewaktu membuka email kemaren, seorang teman gue lulusan Filsafat UGM, Adi Baskoro, mengirimkan email berisi essai yang membedah buku Radikus Makankakus secara filosofis. Dalam esainya, dia membedah tulisan gue tentang kematian dan hidup dalam buku Radikus Makankakus. Ini cuplikannya:

“Kisah Radith semasa SMA mengandung pertanyaan klasik mendasar tentang apa itu hidup [Arti Hidup? , Radikus Makankakus halaman 87].Yakni ketika ketika Radith presentasi pada pelajaran Biologi soal asal usul kehidupan. Walaupun berujung tak terjawab, kisah Radith semasa SMA cukup mengusik ketenangan kita. Juga soal meninggalnya Bu Irfah dan keluarganya secara tak disangka-sangka. Kisah ini cukup untuk membuat kita hening sejenak dan melupakan tawa. Mengakui adanya peristiwa kematian adalah mengakui konsekuensi dari eksistensi, seperti kata Martin Heidegger, seorang filsuf Jerman.”

Sejujurnya, sewaktu gue nulis cerita itu, gue juga semakin berpikir tentang kematian. Gue jadi inget, seorang filsuf Amerika, Mark Conard, pernah menulis esai God, Suicide, and the Meaning of Life yang membedah film-film Woody Allen dan hubungannya tentang hidup. Nah, dalam esai itu, dengan menggunakan cerita film Shadows and Fog-nya Woody Allen sebagai alat bantu, Mark Conrad mengatakan, “Kita butuh distraction, kita butuh ilusi dan penipuan-diri, untuk menghindarkan kita terhadap “kenyataan menyakitkan dari hidup”. Kenyataan, bahwa apa yang kita punya sekarang hanyalah sementara. Engga ada kekal, engga ada yang selamanya.”

Memang, ilusi-ilusi kesenangan yang kita ciptakan ini: jatuh cinta, bekerja di bidang yang disukai, nonton film, marathon DVD sampai pagi, makan sampai kekenyangan, bisa membantu kita dalam menghadapi kenyataan paling pahit dalam hidup.. kita bisa aja tiba-tiba mati.

Ah, nulis cerita Arti Hidup dalam Radikus Makankakus, ngebuat gue jadi takut lagi pada kematian. Tapi, memang “distraction” adalah kata kuncinya untuk tetap jalan seperti biasa tanpa memikirkan kematian. Seperti yang ada dalam film September-nya Woody Allen, Stephanie berkata pada Lane yang mencoba untuk bunuh diri:

Stephanie: Besok akan datang dan kamu akan menemukan beberapa distraction. Kamu akan pergi dari tempat tempat ini, kamu akan kembali ke kota, kamu akan bekerja, kamu akan jatuh cinta, dan mungkin itu akan work out, atau mungkin tidak, tapi kamu akan menemukan sejuta hal-hal kecil yang akan membuat kamu terus berjalan, dan distraction yang akan menjauhkan kamu dalam memikirkan…
Lane: Kebenaran.

Maka, ketika Sabtu kemarin ada temen gue curhat, “Gue gak seneng deh ama pacar gue. Berantem mulu kerjaannya. Dia tuh demanding banget. Manja, dikit-dikit ngambek, dikit-dikit marah, pake teriak-teriak pula.” Gue cuman bisa bilang, “Lah, pacaran sama yang gitu-gituan kan hanya distraction kita. Pil injeksi kesenangan. Kalo udah kebanyakan gak enak daripada enaknya ngapain diterusin? Hidup terlalu singkat buat dijalanin dengan rasa gak nyaman.”

Balik ke Woody Allen, karakter-karakter dalam filmnya, walaupun mereka selalu takut dan insecure atas kematian, karakter-karakter ini menanggapinya dengan biasa: mereka semua seolah-olah hidup bahagia, terlepas dari semua chaos, kekosongan, dan kedinginan alam semesta yang mereka alami. Mereka bisa berinvestasi dalam kehidupan individual masing-masing dengan menggunakan nilai-nilai dan pemahaman sebuah relationship sebagai sarana untuk itu.

mirip gak ama gue? hehehe
Woody Allen lupa minum panadol

That’s what I love from Woody Allen. Dia selalu bisa menghadirkan humor kontemplatif yang memberitahu bahwa ketawa aja gak cukup, tapi kita butuh pemahaman. Atau seperti kata Socrates, “An unexamined life is a life not worth living.” Sebuah hidup tanpa pemahaman, adalah hidup yang tak layak untuk dijalani. Sedangkan, humor yang bagus, menurut gue, adalah humor yang membuat kita berpikir, and that’s what Allen do best.

Lanjut, seperti tokoh Ben yang religius dalam film Crimes-nya Woody Allen, kita juga mempunyai Tuhan untuk bersandar, dan menjadi sarana untuk menjalani hal-hal keras dalam hidup. Berhubungan dengan Tuhan, bulan Ramadhan, dan kematian; setidaknya kita saat ini bisa “nabung” pahala. Setidaknya, ketika kematian itu datang dan membawa kita pergi ke alam lain itu, kita bisa berada di tempat yang lebih baik. Tempat yang engga cuman ilusi, tapi kekekalan penuh rasa senang, dan kebanggaan karena kita bisa menaklukan hidup, dan pada akhirnya.. end up eternally happy.

pacar

*tulisan berikut ini dimuat di kolom Endnote majalah perbukuan Bukune vol 1 no 11/September 2007

Menemukan buku untuk dibaca itu seperti menemukan pacar. Pertama-tama dilihat-lihat dulu dengan seksama, kalau cover-nya oke, baru deh dideketin. Bedanya, setelah ngerasa oke dengan pandangan pertama, bagian belakang bukunya bisa dipegang. Lah kalo nyari pacar dengan cara seperti itu (langsung pegang belakangnya) bisa ditabok kiri-kanan lah! Selanjutnya bisa ditebak, menemukan buku untuk dibaca berarti membaca lembaran demi lembaran pertamanya, kalau kita tertarik dengan paragraf pertamanya, kita akan baca lembaran berikut dan berikutnya dan berikutnya.

Menemukan pacar, juga seperti itu. Kita pergi keluar pertama dengan sang gebetan, duduk berdua di sebuah restoran atau café yang nyaman, berusaha saling membuka lembaran masing-masing. Membedah mereka seperti buku: narasi seperti apa yang mereka katakan (penuh nostalgia kah, atau sekadar memaparkan pengalaman), apakah diksi yang mereka pakai menarik (kasar kah, atau justru sangat sopan), apakah gaya tubuh mereka cocok, dan yang paling penting: nantinya, tahankah saya “membaca” dia untuk waktu yang sangaaaaaaaaaaaaat lama.

Setelah semua cocok,
baru masuk ke jenjang yang lebih mantep: pacaran.

Gue sering ngerasa emotionally attached dengan sebuah buku, kangen kalau ngga ngebaca tuh buku setelah waktu yang cukup lama. Ngerasa sayang, sampai-sampai kalau orang mau pinjem gue bakalan dengan galak teriak “engga boleh!”. Perjalanan panjang untuk jatuh cinta dengan sebuah buku, setelah dipikir-pikir cukup sama dengan merasa nyaman dengan pacar kita masing-masing.

kanan sayang kiri..
kanan sayang kiri

Namun, pacaran dengan orang yang tepat punya satu kriteria khusus: sanggupkah kita, setelah membaca lembaran demi lembaran hidup masing-masing, tumbuh tua bareng, dan pada akhirnya ketika ketemu hanya bisa diam karena tidak ada lagi yang bisa diceritakan.. sanggupkah kita berdua untuk gandengan tangan saja dan berada dalam suasana sunyi yang penuh kenyamanan.

Sanggupkah?

Pertanyaan itu tidak bisa dijawab dengan jawaban simpel seperti: “Kalau gak mampu, cari aja yang baru”. Tapi untuk direnungkan, dipikirkan, dan pada akhirnya berkata, “Oh, bagaimana kalau kita tulis kisah kita berdua sendiri. Cerita dari hasil pemahaman kita atas diri masing-masing, dan ekspektasi atas apa yang mungkin nanti terjadi.”

berkah bjah

Gak nyangka sama sekali, setelah 6 hari buku gue keluar, buku Radikus Makankakus udah cetak ulang yang kedua. Terimakasih buat temen-temen yang udah beli bukunya (yang minjem, awas lo! Hehe). Owe you to you guys! Eniwei, kegiatan promosional buku ketiga gue dibuka dengan dua talkshow ini:

1. Gramedia Bintaro Plaza
Minggu, 9 September 2007
Pukul 16.00

2. TM Bookstore, Depok Town Square
Sabtu, 29 September 2007
Pukul (To Be Announced)

Sampai ketemu di sana yaaa!

Selain itu, beberapa bulan ke depan gue akan ada seminar di Universitas Sahid dan Universitas Indonesia. Gue juga, masih tentatif, akan ada talkshow bareng dengan Pameran Buka Buku Production di Semarang, Solo, Surabaya, Jogja. Kalau ada tempat lain yang mau ngundang boleh-boleh aja. Hehe. Semua pemberitahuan akan dilakukan dari website ini.

Lanjut, ngomong-ngomong soal seminar, seminar gue di Fakultas Kesehatan Masyarakat UI cukup menyenangkan. Pesertanya antusias, walaupun gue rada kebanting sama pembicara yang lain (pembicara yang lain adalah praktisi TV dan media cetak yang sudah tidak muda lagi, sedangkan gue? Pembicara paling idiot). Gue ngasih seminar membahas media on-line dan makalah gue ngomongin soal Blog dan Citizen Journalism.

Ada satu ide yang gue tawarkan bagi kalian-kalian para blogger di luar sana dalam makalah gue, yang gue ingin bagi di sini. Yaitu dengan memposisikan blog sebagai sebuah produk. Intinya sih gini, jika kita memperlakukan blog sebagai produk, kita bisa memaksimalkan traffic ke dalam blog kita dengan strategi-strategi pemasaran yang efektif. Bisa dengan guerilla marketing dengan nyebar-nyebarin viral mail ke mailing list, jaringan friendster yang oke, atau mungkin gimmick yang keren bisa ngebuat blog kita semakin dibaca orang.

Strategi menemukan “nafas” dan diferensiasi blog yang tepat juga bisa membantu blog kita semakin “laku”. Misalnya, dalam ilmu pemasaran ada yang namanya Blue Ocean Strategy, yaitu bagaimana kita membuat blog kita jadi benar-benar berbeda sehingga kita hanya berlayar di “samudra biru” yang kosong melompong bukannya “samudra merah” yang sudah berdarah-darah karena kebanyakan kompetisi. Blog-blog yang ada di “samudra biru” seperti ini biasanya laku keras.

Contohnya, ada satu blog tentang cewek panggilan di London yang laku keras, bukan karena tulisannya bagus atau gimana ya, tapi karena tema yang dia tawarkan beda dan belom ada blog serupa di luar sana. Blog jktstreetlooks yang menampilkan foto-foto baju orang yang oke juga beda dan lagi jadi bahan omongan yang “hot” banget di antara temen-temen gue yang fashionista.

hoi, ini seminar bukan lawak

Berhubungan dengan teknik pemasaran yang tidak lazim, ada satu taktik yang gue lakuin sewaktu masih zaman-zaman dulu ngeblog untuk mendapatkan traffic yang banyak ke dalam website gue. Waktu itu ceritanya lagi heboh foto panas Bjah dan Sukma Ayu. Gue pun memasukkan kalimat “foto panas Bjah dan Sukma Ayu ada di sini” di dalam blog gue, padahal gak ada sama sekali. Hasilnya? Begitu orang-orang mesum mencari di google dengan keywords “foto” “bjah” atau “sukma ayu”, yang keluar justru website gue! Dalam sehari gue dapet lonjakan pengunjung sampai 2000 orang. Katakanlah sesial-sialnya 10% dari mereka jadi suka sama blog gue, berarti gue dapet tambahan 200 orang per hari. Kesimpulan dari kasus Bjah dan Sukma Ayu ini ada dua: 1. strategi gue berhasil, 2. orang Indonesia kebanyakan yang mesum. Hehe. (Makasih yah Bjah, gara-gara lo mesum blog gue jadi rame).

Ada case study dan pointers teknik-teknik lain yang gue masukin dalam makalah gue,
tapi kayaknya kepanjangan buat dimasukin ke sini.

And in all, kuliah gue udah dimulai lagi. Ini berarti membagi waktu lagi dan menemukan sela untuk kuliah sambil bekerja. Agak berat juga sih, mengingat semester kemaren gue sempet sampe kena gejala typhus gara-gara kecapean kuliah dan kerja. We’ll see how it goes.

Oh ya, untuk menutup, dan masih berhubungan dengan blog, gue baru menemukan terminologi baru buat orang yang suka nulis pengalaman sehari-harinya di blog: escribitionist. Escribitionist artinya “orang yang suka menulis pengalaman sehari-harinya melalui medium internet”. Nah lho, berarti gue escribitionist tulen dong? Mending lah dibandingin jadi exhibitionist. Hehe. :P

crazy things

Bagi yang masih mo pre-order, masih bisa kok. Tapi hari rabu pelayanan pre-order di tutup. Kalo gak mo preorder, bukunya sendiri masih keluar di toko buku tanggal 29 Agustus (plus seminggu/dua minggu bagi di daerah).

Oke, here goes..
this is my long weekend bonanza..

Love makes you do crazy things, indeed. Jadi ceritanya hari Selasa minggu lalu Si Pacar pergi liburan ke Bali bersama sahabat deketnya berdua. Berhubung gue masih ngantor dan jadwal lumayan bikin pala meledug, gue cuman bisa melepas kepergian dia lewat telepon dengan pesan singkat dari dia, “Jangan bandel-bandel, ya. Aku pulangnya masih hari Minggu.”

Gila bo, baru aja pacaran beberapa minggu udah ditinggal pergi ke Bali selama SATU MINGGU. Daripada gue mati kekangenan (emang ada gitu?), akhirnya gue nyusul aja ke Bali tanpa sepengetahuan Si Pacar. So, hari Jumat, gue naek Lion Air pergi ke Bali, cs-an ama temennya untuk ngagetin Si Pacar di McD Kuta.

Begitu sampe, dengan kaos, celana pendek, dan sendal, gue berdiri di depan McD Kuta. Temennya langsung nyamperin gue di depan, dan bilang, “Sumpah ya, dia gak tau apa-apa. Dia gak curiga sama sekali lo bakalan dateng ke sini! Aduh, gue takut dimarahin dia nih.” Gue cuman manggut-manggut dan bilang, “Iya, dia pasti bakalan kaget banget! Ihihihihi.”

Dengan semangat kepahlawanan (berhubung hari Jumat tgl 17 agustus) gue masuk ke McD Kuta, sementara si pacar masih makan ayam goreng dan sunglasses yang nempel di kepala. Temennya langsung nyamperin dia dan bilang, “Duh, sori banget ya!”

Gue langsung nongol ala setan film Indonesia dan bilang, “Hai!”.
Si Pacar jerit, “AAAAAAAAAAAAAAAAAAKKKKKK!”

Sunglasses-nya copot, ayam gorengnya terlepas, dan tangannya gemeteran. Semua orang di dalem ngeliatin dia. Pala-pala orang semuanya nengok ke arah kita. Gue senyum puas. Karena panik, langsung aja gue bilang, “Bagi minumnya ya.” Dia masih gemeteran. Gue masih senyum najong. “Aku sebel sama kamu!” Kata Si Pacar. Orang-orang masih ngeliatin, karena salting gue ngambilin kulit sisa ayamnya dia dan bilang, “Enak kulitnya ya!”. Dia melotot. Gue cengengesan.

Dua jam kemudian..
we kissed, di bawah langit kemerahan sunset Pantai Kuta. :)