Video Stand Up Comedy di Bandung

Hari Minggu kemarin, anak2 stand up comedy Indonesia bikin stand up nite untuk yang ke dua kalinya. Kali ini tempatnya di Bandung, dan seperti yang pertama.. PENUH MAMPUS. Orang-orang pada duduk di lantai, dan masih banyak orang di luar cafe yang enggak bisa masuk.

Nah, kalo ada yang suka sama video gue stand up comedy di stand up nite yang pertama, ini ada lagi yang baru hasil dari perform di Bandung kemarin.

Ini bagian pertama:

dan ini bagian kedua:

Enjoy. :D

Video Stand Up Comedy Gue

Hari Rabu minggu lalu adalah hari yang penting untuk Stand Up Comedy Indonesia,
karena kami (gue, ernest, ryan, pandji, intan, isman, dkk) sepakat untuk nyobain stand up comedy di Kemang,
yang dateng banyak banget, tempatnya sampai penuh meluber hingga keluar-keluar.

Dan ini lah, video gue pas stand up di sana,
bagian satu:

bagian dua:

bagian tiga:

Enjoy. :)

Perbedaan Saya Dengan Raul Lemos

Seminggu yang lalu gue potong rambut cepak-mohawk,
dan fotonya gue jadikan avatar di Twitter,
tapi ternyata hal tersebut menimbulkan kehebohan,
karena gaya rambut gue yang terlalu g4uL,
banyak yang bilang rambut gue kayak TNI yang abis diseret dari aspal,
ada yang bilang rambut gue kayak sushi…
Pokoknya banyak komentar yang membuat menghela napas..

Yang paling parah adalah yang bilang gue mirip banget sama Raul Lemos..
sampai2 banyak followers gue yang manggil gue “Raul”..

Karena gak tahan lagi,
dan untuk menghindari orang yang salah paham,
berikut gue kasih bagan perbedaan antara gue dengan RauL Lemos:

Ketika Alay Dahulu..

Beberapa hari yang lalu gue nulis di Detik.com,
tentang betapa alay-nya gue beberapa tahun lalu.

Karena banyak yang baca di sana, dan di twitter gue juga rame,
ini gue post lagi di blog gue ya..

Here goes..

**

Ada satu hal yang menganggu gue ketika gue ngeliat alay-alay yang ada di Facebook atau Twitter. Yang pertama, jelas cara penggunaan bahasanya yang sangat memusingkan, seperti misalnya “cEumungudh yAch Qaqa!!!!” atau “h41.. l3h n4L?”. Yang kedua, adalah foto-foto profile mereka yang ada di Facebook atau Tiwtter, pasti gayanya di antara: 1) foto dengan telunjuk nempel di bibir, 2) bibir manyun-manyun kayak mau nyium kamera, atau 3) jari tangan membentuk huruf “O” nempel di mata.

Nah, gue kemaren lagi iseng aja ngoprek-ngoprek Friendster (ya, Friendster) gue dari zaman entah kapan. Gue melihat banyak foto-foto lama yang gue upload ke sana, lalu gue berpikir… KENAPA DULU GUE ALAY BANGET YA?! Ternyata gue punya masa-masa menjadi alay lengkap dengan foto dengan pose yang aneh-aneh.

Karena gue sering ngeledekin alay, biar fair, gue bakal kasih liat foto-foto gue jaman masih alay dulu. Berikut adalah foto-fotonya, yang di ambil antara tahun 2003 – 2005:

1. Pose Ihhh Aku Imyut Qaqa

Gue gak ngerti apa yang ada di pikiran gue saat ngambil foto ini. Yang jelas jari gue gak langsung nempel ke pipi sewaktu baru lahir, dan gue gak pernah jalan-jalan ke mall dengan pose seperti ini.

2. Pose Rambut Lancip Deket Jendela Mulut Mangap Dikit

Oke, dulu gue masih pake kacamata, belom di lasik, jadi pandangan mata gue obviously burem pas lagi ngambil foto ini. Kalo gue dulu tau betapa alaynya foto ini, pasti gue langsung buka jendela sebelah dan loncat ke bawah.

3. Pose Rambut Cet Tengah

Dulu rambut gue di cet tengahnya warna pirang. Gue dulu berpikir gila gue gaul banget dengan rambut seperti itu. Sekarang, gue berpikir.. kenapa gue kayak mas-mas pengkolan baru kenal sama cet rambut..

4. Pose Dengan Rambut Pantat Ayam

Gue dulu suka banget nge-cat rambut (iya, gak papa, ketawa aja). Ini adalah salah satu rambut gue di masa-masa labil itu. Ya, rambut gue mirip banget kayak pantat ayam. Tidak, rambut gue gak bisa pup.

5. Pose Mataku Gak Bisa Balik

Ini pose paling lumayan lah, yang lebih gak alay dari yang lainnya. Tapi tetep, pose seolah-olah ngelirik ini masih cenderung ke alay-alayan buat gue.

Nah, begitulah. Semua orang punya masa lalu..
Dan gue pun, punya masa-masa alay.

**

Balada Sunatan Edgar

Yes, I know. I’ve been a very very bad blogger.
15 hari gak ngeblog. What the hell happened?

Honestly, ini semua gara-gara twitter (menyalahkan aplikasi lain. Huehehe)! Twitter membuat gue punya perasaan “kayaknya gue udah ngeblog, deh?” tapi ternyata sebenernya gue cuman nge-twit. Bagi yang belom ikutan Twitter gue, silakan follow jika mau di http://www.twitter.com/radityadika.

Now, apa yang telah terjadi selama 15 hari ini?
Banyak, actually.

Tapi kali ini gue hanya akan menceritakan kejadian yang paling penting: Edgar disunat. Yak benar saudara-saudaraku sebangsa dan setanah air. Titit Edgar yang gue ceritakan di Cinta Brontosaurus, Kambingjantan, dan lain-lain, sekarang sudah dimutilasi, dicabik-cabi, dan dihabisi. Tunggu dulu, ini sunatan apa dihakimi massa?

Oke. Jujur aja,
perjuangan meyakinan Edgar untuk disunat sebenarnya cukup sulit.

Bulan-bulan yang lalu, Edgar adalah anak yang susah banget disuruh disunat. Ada aja alesannya. Dari mulai lagi gak enak badan, sampai nunggu naik-naikan kelas. Nah, suatu hari, Edgar bikin Twitter (http://www.twitter.com/edgar_nasution). Begitu tahu dia bikin twitter, gue bilang ke follower gue di twitter untuk ngebujuk Edgar supaya mau disunat. It works. Orang-orang mengirim pesan menyemangati Edgar agar dia mau disunat. Setelah dapet banyak reply, keesokan harinya Edgar mau disunat. Nyokap gue heran atas perubahan keteguhan hati Edgar ini, dan bilang, “Kamu nulis apa sih di twitter sampai Edgar jadi ngerengek minta disunat gini? Dia malu katanya banyak yang nyuruh dia sunat.” Gue menjawab dengan halus, “Sudah waktunya, Ma. Sudah waktunya tiba untuk titit Edgar.”

Waktu sunatan pun ditentukan, yaitu 1 hari setelah libur sekolah usai,
agar Edgar liburnya lebih lama dengan alasan penyembuhan setelah sunatan (ya, dia memang licik)

Sebelum sunatan dilakukan, Edgar juga sempet menonton berita di televisi tentang bocah 9 tahun yang disunat dan tititnya putus (bisa dibaca di: http://news.okezone.com/read/2009/07/14/1/238378/lagi-burung-bocah-9-tahun-terpotong-saat-sunat). Edgar menonton berita tersebut dengan tampang horror. Dia diam bertanya, “Ma, kemarin aku nonton tivi, masa ada yang disunat terus tititnya putus”. Oke, kita sepakat, mungkin sebaiknya Edgar tidak usah menonton televisi dulu.

Lalu, hari yang besar pun tiba. Edgar disunat di RS Pertamina. Operasi sunatnya berlangsung sukses. Dokternya enggak kenapa-napa (thanks god, kamu tidak tahu apa yang akan terjadi kalau berhadapan dengan tititnya Edgar). Edgarnya juga udah baik-baik aja. Dia udah bisa pake celana (sebelom disunat juga udah bisa pake celana sih, but you know what I mean).

Sepulangnya dari sunatan Edgar dari RS, nyokap menangis terharu. Dia bangga sekali dengan hasil sunatan Edgar. Mungkin tidak ada ukiran naruto, atau lambang Louis Vitton di tititnya, tapi nyokap sangat banget dengan apa yang dokter telah lakukan. Nyokap sempet nanya ke gue, “Bang, kamu mau lihat hasil sunat Edgar? Rapi lho?” Yang gue jawab dengan jujur, “Engga ma, makasih. Lagi gak pengen trauma.”

Hari demi hari berlalu, dan tadi pagi, sebelom gue pergi dari rumah, nyokap gue memegang pundak gue dan dia bilang, “Bang, nengok belakang deh.” Pas gue nengok belakang, ada Edgar, tidak bercelana dengan titit barunya yang menjutai indah. Edgar bilang, “Bang, aku udah sembuh, Bang. Aku sudah sembuh.” Ah adikku. Aku ingin memelukmu, tapi aku tak ingin terkena tititmu.

Cepatlah besar adikku.
banggalah dengan apa yang kau punya sekarang..
Tapi jangan tunjukkan kepada dunia. Kasian orang-orang.