Untuk Indonesia yang Lebih Baik dan Untuk Membantu Saya Membeli Barang-Barang yang Saya Inginkan!

Saudara-saudaraku sebangsa dan setanah air..

Izinkan saya memperkenalkan diri saya, Raditya Dika
sebagai calon legislatif dari Partai Indah Kapuk.

Teman-teman berbangsa yang berbahagia, Indonesia sekarang sedang dilanda oleh marabahaya. Di televisi marak dengan berita yang seram. Di televisi kita melihat cowok bertingkah seperti cewek, cewek seperti cowok, dan cowok seperti bukan cewek dan cowok… aduh saya kok juga jadi bingung. Indonesia di ambang kehancuran, saudara-saudaraku! Kita melihat artis-artis kawin sirih, kurang kerjaan banget! Saya sih ogah kawin sama sirih… denger-denger pedes banget lho. Tetangga saya pernah kawin sama sirih, sampai sekarang pipisnya bengkok.

Saya kan memberanikan diri mencalonkan diri menjadi anggota legislatif.
Untuk Indonesia yang lebih baik!

Saya akan membuat kontrak politik. Jika, saya terpilih dan terbukti melakukan korupsi… Saya rela dikelitikin empat jam nonstop! Sekadar catatan saja: saya tidak tahan dikelitikin. Waktu itu saya pernah dikelitik secara paksa sama adik saya, dan saya koma empat bulan.

Ini billboard saya yang mungkin Anda telah lihat di jalan-jalan (biar biayanya murah saya pasang semua billboard saya di Kalimantan Barat. Belakangan saya sadar… saya kan caleg dari Jakarta? Makanya saya stress.):

(Maaf muka saya seperti itu, maklum baru bangun tidur. Pake celana aja belom sempet udah difoto. Tukang foto sialan! Gak mau dihutangin pula. Maaf, saya jadi curhat.)

VISI:
- Menjadikan Indonesia makmur di tahun 2322.

MISI:
- Menjadi presiden agar dapet duit banyak dan bisa beli album Afghan yang baru.
- Mengajak Doraemon datang ke Indonesia agar dapat membantu membangun bangsa ini.
- Menyelamatkan tahanan tanpa kena tembak musuk di level 4 . Lho? Ini misi maen Counter Strike apa jadi presiden sih?

TESTIMONIAL:

Inah, pembantu: “Pokoke pilih Abang Dika. Pasti Indonesia hebat! Hebat!”

Yudhita Nasution, adik: “Abang Dika cool abis.”

Edgar Nasution, adik:  “Abang Dika akan memimpin bangsa ini menuju kemakmuran. Nah, itu udah aku bilang. Sekarang lepasin rantaiku dong, Bang. Please, Bang.”

Sulaiman, penjual nasi goreng:  “Nasi gorengnya pake cabe gak, Mas?”

RADITYA DIKA! UNTUK INDONESIA YANG LEBIH BAIK! BERSATU KITA BAU (INGET PAS DESEK-DESEKAN DI METRO MINI)! JANGAN SALAH PILIH! JANGAN BUANG SAMPAH SEMBARANGAN! INI CARA MATIIN CAPSLOCKNYA GIMANA?!

Hot Guys (?)

Kabar mengejutkan datang hari ini,
ketika gue disodorin majalah Cita Cinta yang terbaru.

Di halaman tengah terpampang hasil wawancara plus foto gue satu halaman full. Foto gue lumayan bikin shock, soalnya di sana gue mukanya kayak bocah tak berdosa abis. Foto gue sambil tersenyum seolah tanpa beban hidup.

Percakapan ini pun terjadi..

Gue: Buset muka gue jadi beda banget
Temen kantor: Ini mah biasanya di redaksinya diutak-atik supaya muka lo bersih, gak jerawatan, dan jadi bagus kayak gini. Jadi, muka yang tadinya jelek, bisa keliatan bagus banget!
Gue: …
Temen kantor: Dit?
Gue: Makasih atas informasinya.

Tapi, begitu gue ngeliat cover Cita Cintanya, gue menemukan kejanggalan luar biasa.
Perhatikan covernya di bawah ini:

Nama gue dimasukkan dalam kolom hot guys bersama Michael Phelps dan William Moseley! Ini jelas-jelas pelecehan bagi si Michael dan si William (sok akrab abis). Gue gak tau kesalahan apa yang terjadi, tapi yang jelas gak mungkin gue bisa di satu liga yang sama dengan mereka. Sebagai perbandingan:

WILLIAM MOSELEY

MICHAEL PHELPS


RADITYA DIKA

***

Lagi mulai baca American Gods – Neil Gaiman. Sebenernya, gue beli buku ini udah lama, tapi selama gak ada keinginan buat baca… mungkin karena fantasy kali ya? Niat gue baca timbul hari ini dari iseng-iseng main ke situs merchandising-nya Neil Gaiman, dan nemuin quote yang bagus banget dari American Gods, yang di print di salah satu kaosnya.

Quote-nya najis keren banget. Terutama bagian: “I believe that life is a game, that life is a cruel joke, and that life is what happens when you’re alive and that you might as well lie back and enjoy it.” dan “I believe that all men are just overgrown boys with deep problems communicating“. Woo-Hoo. Personal abis. Gue selalu kagum dengan penulis yang mempunyai prosanya unik dan orisinil.

Oh ya, pengen kaosnya!

Alfa, si Kucing Iblis

Oke, gue berubah pikiran.

Ternyata nge-Plurk ngebuat gue ngerasa jadi harus maintain dua blog, yang berarti sangat tidak mungkin bisa gue lakukan dua-duanya dengan fokus. Jadi, daripada yang Plurk jadi terbengkalai (response temen-temen di tiap Plurk gak dibales-bales), dan blog juga ikutan terbengkalai (jadi lebih giat nge-Plurk daripada ngeblog… sumpah, tendensinya jadi kayak gitu!), gue memutuskan tetap stay fokus ngeblog aja.

So, gue bakal ngapus account Plurk gue dan bar Plurk yang di kanan akan ilang hari Senen nanti. Bagi yang udah terlanjur keracunan Plurk yah monggo dilanjutkan. Makasih buat temen-temen Plukers gue yang chatting seru: Lumiere, pewe, giginyakuning, blue9lazses, dan lain-lain. Kita ketemu di blog ini lagi aja ya. Mohon dimaklumi. Hehe. :)

Oke, urusan Plurk beres,
gue mau curhat…

Salah satu kegiatan rutin yang gue lakukan sebelom Sahur adalah ngagetin Alfa, kucing keluarga kita. Biasanya, pas gue baru bangun saur dengan mata setengah kebuka, Alfa udah ngeong-ngeong di lantai dua, tanda pengen dikasih makan. Kalau udah gitu, gue suka lari dari jauh dan ngagetin Alfa sambil bilang “DHUAAARRRR!!!!” sampai dia loncat ketakutan. Hal ini gue lakukan terus dari hari pertama puasa. Memompa adrenalin. Memancing ego manusia. Sungguh menyenangkan.

Anehnya, kemarin pagi, begitu gue keluar kamar, gue ngeliat Alfa duduk di deket tangga. Engga ngeong. Engga ngapa-ngapain. Hanya duduk di deket tangga tanpa perasaan bersalah. Seperti biasa, dari kejauhan gue berlari, gue mencoba ngagetin si Alfa. Eh si Alfa ngibrit ke bawah tangga. Karena semangat, gue terus lari ngejar Alfa… Dia tiba-tiba STOP, gantian gue yang KAGET, dan… gedubrak, gedubrak, gedubrak… gue JATOH KE BAWAH TANGGA!!!!!

Gue langsung mengerang kesakitan, duduk di sofa.
Nyokap teriak dari dalam kamarnya.

Nyokap: Ya ampunnn… suara apa itu?
Gue: *suara sok melas* Barusan jatoh, Ma… dari tangga… Aduhh…
Nyokap: *santai* Oh, kirain tasnya Anggi-Inggi jatoh.
Gue: …


korban tipu muslihat Alfa

Gue melihat ke arah kaki gue, ternyata jari tengah kaki kanan gue kukunya biru. Lengkap dengan lecet di bagian tengah. Pas gue cari-cari Alfa ke sana-ke sini, dia tidak terlihat. Dia telah kabur. Dia telah kabur dengan penuh kemenangan. Inilah tanda kucing menunjukkan supremasinya terhadap majikannya. Inilah Alfa, si kucing iblis… licik dan penuh strategi! Gue menjadi korban pembalasan dendam Alfa. Besok pasti gue bales lu, Fa. Tunggu pembalasan gue. Karena dendam di hati orang yang dikhianati kucingnya tidak mudah hilang.


wujud asli alfa

Ya, tidak mudah hilang.

Namaku Alfa, dan aku kucing gaul

Selamat siang manusia-manusia.

Maaf, tapi hari ini yang ngeblog bukan Bang Dika.
Tapi aku, Alfa, si kucing betina keren keluarga Bang Dika.

Ini fotoku:


kayaknya kedeketan deh

Aku kesel karena Bang Dika gak update-update blognya. Ya udah, pas Bang Dika lagi pipis, aku templok dari belakang, aku tutup bolongan idungnya, dia megap-megap, sempet jerit-jerit kayak cewek, dan dia sekarang pingsan setengah telanjang di WC deket ruang tamu. Terus aku ke kamarnya, nyalain laptop, dan langsung login ke blognya dia. Maaf Bang, tapi aku harus melakukan ini.

Jujur, aku pengen juga nulis blog. Berbagi cerita. Yah, kucing juga manusia. Eh, tapi kan kucing bukan manusia. Ah, ngertikan maksudku? Ngerti dong, masa yah ngerti lah. Kan kedondong, bukannya kedonglah. Lihat, sebagai kucing aku cukup gaul bukan? Aku suka sekali infotaiment. Artis favoritku adalah Glen Alinsky. Suatu saat aku pengen digendong sama dia.


maaf, idung kamu kecolok ya…

Mumpung aku lagi bisa ngeblog, aku mau cerita sesuatu. Di antara kalian mungkin sudah ada yang punya banyak pertanyaan kepadaku, si kucing betina gaul ini, seperti “Alfa, apa sih rasanya jadi peliharaannya Bang Dika?” atau “Alfa, Bang Dika di rumah juga ganteng gak?” atau “Alfa, apa sih rasanya punya tete enam?” Sayang sekali, dalam kesempatan ini, aku hanya mau membersihkan nama baik Edgar.

Ya, Edgar. Aku engga terima Edgar selalu dijelekkan di bukunya Bang Dika. Edgar itu majikanku yang paling baik. Paling mengerti aku. Dia yang paling sering ngasih aku makan. Paling ngerasa deket sama aku. Buktinya, udah dua hari ini Edgar salah make ngambil sampo pas lagi mandi – dia make sampoku. Sepanjang hari dia digodain sama kucing jantan tetangga.

Edgar itu baik.
Ingatlah itu, pembacanya Bang Dika. Edgar itu baik.

Hari ini Edgar minta dijilat mukanya sama aku. Ya udah aku jilat aja. Sayang, dia engga tau, kucing selalu membersihkan pantatnya dengan lidah. Makanya, sepanjang hari ini Edgar nanya ke Mbak, “Mbak, siapa yang kentut ya? Kok dari tadi aku ke mana-mana ada bau kentut teruuus?”

Lihat kan? Edgar itu polos banget.

Aku suka nonton Naruto sama Edgar. Menurutku Naruto itu cool abis. Naruto itu siluman rubah. Rubah dan kucing itu saudaraan lho. Ah, aku juga jadi kepengen jadi siluman rubah yang lincah. Aku sering lho, latihan malem-malem, sampai memakan korban segala. Waktu itu aku lagi latihan malem-malem, pas aku lagi salto-salto, eh aku kepleset, jatoh dari lantai tiga, dan nimpa kepala si Mbak. Mbak langsung lari ke luar rumah ketakutan. Dia tidak pernah kembali.

Eh, Bang Dika kayaknya mau sadar.
Aku harus udahan dulu.

Untuk menutup, aku pengen ngasih kepanjangan namaku, kayak yang Edgar buat di buku organizernya.

A = Alfa namanya
L = Lucu buntutnya
F = Funky buntutnya
A = Asoy buntutnya

(aku memang engga kreatif)

EH! Bang Dika udah sadar! Dia lagi jalan ke sini! Udah dulu ya.
Sampai bertemu lagi, manusia-manusia.

Oh ya, kalau ada yang kenal sama trio macan, salamin ya. Aku ngefans banget sama mereka. Aku suka lirik lagunya, “Kelakuan si kucing garong, kalau lihat mangsa mengeong, main sikat main embat, mangsanya lewat.” Begitu denger lagu itu, aku langsung terhipnotis. Aku langsung mikir ternyata kucing garong jahat-jahat. Aku langsung ngejauhin semua temenku yang kucing garong. Saking sebelnya sama kucing garong, kemaren ada yang lewat depan rumah, aku jorokin aja ke comberan. Sekarang aku punya obsesi pengen jadi anggota keempat trio macan.


impian seekor kucing biasa

Salam ngeong-ngeong,

Alfa

Tantangan Balik!

Yes, gue sekarang lagi di Utrecht, Belanda.

Ada baiknya gue ceritakan kembali secara kronologis, bagaimana gue bisa terdampar di Utrecht. Pertama-tama, gue dapet invitation dari Netherland Education Support Office Indonesia untuk belajar di Utrecht, semacem beasiswa gitu. Karena gue lagi libur kuliah, dan course-nya cuman dua minggu, gue pikir, “Kenapa engga?”. Lalu gue urus VISA Eropa (Schengen) yang surprisingly bener-bener gampang), lalu gue ke airport, ngurus fiskal, bla bla bla… 12 jam penerbangan kemudian… gue tiba di bandara Schipol, Belanda, dengan leher bengkok ke kanan gara-gara salah tidur.

Lanjut,

Ketakutan terbesar gue di Belanda adalah kendala bahasa. Gue SAMA SEKALI gak bisa bahasa Belanda. Namun, begitu sampe bandara Schipol, gue cukup merasa lega karena kendala bahasa tidak menjadi masalah. Hal ini disebabkan oleh:

1. Gue dijemput di Schipol sama Rizky, mahasiswa S3 Indonesia yang lagi belajar di Utrecht yang sangat-sangat baik sekali bantuin beli tiket kereta, beli kartu telepon, dan lain-lain.
2. Ternyata orang Belanda cukup fasih berbicara bahasa Inggris.
3. Jika ternyata lawan bicara gue gak bisa bahasa Inggris, gue akan menggunakan bahasa pergaulan dunia yang bisa diterima di mana saja di dunia, yaitu: bahasa Tarzan. Bahasa Tarzan adalah sejenis bahasa yang menggunakan kombinasi gerakan tangan, kaki, serta mulut buka-tutup tanpa suara untuk menunjukkan maksud tertentu.

Belum ada satu jam turun pesawat,
Rizky langsung ngajakin gue ke Amsterdam,

Rizky: Kita kemana? Mau langsung ke Utrecht? Apa Amsterdam?
Gue: Koper gue gimana ntar kalo langsung ke Ams?
Rizky: Taro di penitipan koper aja di Amsterdam.
Gue: Bisa ya? Hmmm.

Wah, dilematis nih.

Gue belom mandi, baru turun dari pesawat, dan mata udah mulai berkantung,
meskipun begitu, gue pengen banget jalan-jalan.

Rizky: Gimana, Dit? Ke Amsterdam gak?
Gue: (tanpa pikir panjang) BERANGKAAAAT!

So, sambil geret-geret koper, kita ngambil kereta ke Amsterdam.
dua puluh menit kemudian, gue tiba.

Kita ngider-ngider kota Amsterdam, yang sepi banget berhubung kita jalan jam sembilan pagi, jadi toko masih belum pada buka. Setelah agak capek dan laper, kita berhenti untuk sarapan di sebuah kedai kecil di pinggir jalan. Wisata kuliner Belanda gue pun dimulai dengan menghantam sandwich italian bread yang rasanya agak-agak salty gitu. Hmmmmm… enak tenan.


muka penuh rasa lapar

Memenuhi tantangan pembaca gue di postingan yang ini, gue pun kayang di depan Royal Palace, di Dam Square, Amsterdam. Oh indahnya kayangku, dengan bentuk U terbalik yang sempurna. Penuh kedamaian, sungguh menggugah hati.


tidak ada turis sekampung ini

Gue dan Rizky kembali ngider-ngider kota Amsterdam. To be honest, gue kira Amsterdam bakalan seperti New York yang megah, besar, kosmopolit. Tapi ternyata lebih sepi dari yang gue bayangin. Kalau dibandingin, Jakarta sama Amsterdam jauuuuuh banget lebih rame Jakarta. Mall-nya juga banyakan Jakarta, macetnya juga, dan sibuknya juga. Amsterdam ternyata lebih relaxed dari yang gue bayangkan.

Yang bagus dari Amsterdam, tramnya cantik-cantik, dan susunan kotanya bener-bener rapi. Pemandangannya juga menarik, dengan bangunan tua yang dilestarikan, dihiasi oleh taman-taman kota yang kecil. Banyak anjing yang lucu-lucu berjalan-jalan di Amsterdam. Di dalam tram gue sempet ngeliat keluar ada satu anjing kecil yang berjalan sama pemiliknya, dan gue bilang dengan nada sok imut, “Ih liat, anjingnya lucu banget. Ih liat anjing lari-lari ke deket kanal. Ih liat anjingnya.. anjingnya.. MASYALLAH ANJINGNYA E’EK!!!!!” Gue mau muntah.

Ngomong-ngomong kanal,
begitu ketemu kanal, gue langsung kayang.


tetep: tidak ada turis sekampung ini

Nah, I keep my promise don’t I?
Sekarang, gantian gue menantang,

    TANTANGAN RADITH:
    Bagi yang lagi liburan, beranikah Anda kayang di tempat liburan Anda?!
    kirimkan foto kayang Anda ke raditya.dika@gmail.com.
    Foto kayang paling menarik akan dipajang di website ini.

Dari Amsterdam gue balik lagi Utrecht,
dan sekarang lagi ngaso-ngaso di flat-nya Rizky.

Oke,
segitu dulu deh.

Kelas gue di Utrecht University baru mulai Senin depan, so I have plenty of time untuk main-main (dan istirahat). Kabarnya, dormitori tempat gue tinggal nanti punya akses internet sepanjang hari. Ini berarti: bisa posting seenak jidat. Hohohohoho.

Nantikan cerita hari-hari gue jadi international student lagi di Belanda!