Tentang Mengedit…

Gue baru aja kelar nyelesein draft pertama dari buku komedi gue yang kelima, Marmut Merah Jambu (akhirnya!). Totalnya ada 101 halaman A4, single-spaced, jadi kalau udah selesai dicetak mungkin jadinya kira-kira setebel buku Radikus Makankakus atau Babi Ngesot.

Setelah nyelesein nulis Marmut Merah Jambu, hal yang gue lakukan selanjutnya adalah mengeditnya (baca: merapihkannya) sendiri sebelum gue kasih ke editor dari penerbit untuk diedit dengan lebih profesional (memakai tanda baca yang benar, EYD, dan lain-lain). Nah, mumpung gue juga lagi ditengah-tengah mengedit buku gue, gue sekalian mau nge-share hal-hal yang biasa gue lakukan ketika lagi mengedit. Siapa tahu membantu temen-temen yang juga juga lagi nulis buku.

Here goes:

1. Kasih jarak dulu
Sebelum mengedit tulisan kamu, simpen dulu tulisan tersebut minimal satu minggu. Begitu kamu selesai menulis draft 1, jalan-jalan dulu, lupakan tentang naskah kamu. Baru, setelah seminggu, kembali ke naskah kamu. Dengan memberikan waktu/jarak seperti ini, pasti mata kamu dalam membaca naskah kamu akan lebih fresh. Mata kamu akan menjadi mata seorang pembaca yang bisa melihat kesalahan-kesalahan yang mungkin tidak terlihat sewaktu sedang menulis dulu.

2. Lebih padat lagi!
Bagi gue, mengedit lebih berarti memotong, atau merampingkan. Gue akan lihat kalimat-kalimat yang bisa dibuat lebih “padet”. Gue akan coba menggunakan kata yang lebih sedikit untuk tujuan yang sama. Misalnya, di naskah ada tulisan: “Gue sama sekali enggak tahu apa gue harus pergi ke sana atau tidak.” Kalimat ini akan gue buat lebih padet dengan menulisnya seperti ini aja: “Gue bingung ke sana apa enggak.” Kalimat dengan jumlah kata yang sedikit seperti ini membuat tulisan kita tidak terasa “sesak” dan “ramai”.

3. Kurangi kalimat pasif

Gue pasti sebisa mungkin menggunakan kalimat aktif. Setiap kali gue nemu kalimat pasif, pasti gue ubah menjadi aktif. Seperti misalnya: “Ketimun itu diambil Edgar” akan gue ganti menjadi “Edgar mengambil ketimun”. Penulisan kalimat dalam bentuk aktif akan membuat pembaca bisa membayangkan kalimat tersebut dengan lebih visual. Kalimat aktif juga membuat pembaca merasa tulisannya bergerak maju, dan orang-orang ditulisan tersebut terasa melakukan kegiatan.

4. Speaker attribution
Speakter attribution berarti frase yang menandakan siapa yang berbicara dalam kalimat langsung. Misalnya “kata Edgar”, atau “kata gue”, atau “kata Nyokap”. Biasanya dalam mengedit gue akan membuat dialog menjadi lebih enak divisualkan dengan mengganti/mencampurkan speaker attribution dengan sebuah kegiatan.

Misalnya:

“Gar, di buku Marmut Merah Jambu ada cerita tentang kamu ya!” seru gue.
“Sudah cukup, Bang! Aku udah gak mau lagi ditulis di buku Abang,” kata Edgar.
“Tapi Gar, kalo abang kasih sepuluh ribu perak mau?” tanya gue.
“Mau, Bang! Mau!” kata Edgar.

Gue edit menjadi lebih visual dan tidak membosankan menjadi:

“Gar, di buku Marmut Merah Jambu ada cerita tentang kamu ya!” seru gue.
“Cukup, Bang!” Edgar menggelengkan kepalanya. “Aku udah gak mau lagi ditulis di buku Abang!”
Gue mengeluarkan dompet, “Tapi, Gar… Kalo abang kasih sepuluh ribu perak mau?”
“MAU BANG! MAU!”
Harga diri Edgar ternyata lebih murah daripada gue kira.

4. Cek typo
Selalu cek dan re-check tulisan kamu sudah bebas kesalahan ketik. Tidak ada yang lebih nyebelin buat editor penerbit baca selain naskah yang banyak salah ketik.

5. KISS = Keep It Simple, Stupid!

Gue adalah tipe penulis yang selalu menghindari penggunaan kata yang terlalu berat. Kalau gue nemuin kata seperti ini dalam buku gue: “Dia harus lebih konsisten dalam mengaktualisasikan idenya.” biasanya gue akan ganti menjadi “Dia harus lebih sering mewujudkan idenya.” Kata-kata dalam Bahasa Inggris yang keluar pas lagi nulis draft pertama seperti “gesture” gue pasti rubah menjadi “sikap”. Sebisa mungkin gue menulis dengan istilah yang lebih banyak orang tahu. Semakin simpel, semakin baik. Menulis bukan untuk memberitahu kamu pintar dan ngerti banyak kata-kata aneh, tapi untuk mengkomunikasikan cerita kamu secara efektif kepada pembaca.

6. Struktur dulu, baru komedi

Karena gue adalah penulis komedi, sewaktu menulis gue berusaha untuk tertawa pada jokes gue. Kalau gue ketawa, berarti jokesnya berhasil, paling enggak buat gue. Kalau lagi editing, gue emang jarang ketawa sama jokes yang gue buat sebelumnya (karena udah tahu apa jokesnya apa). Tapi, biasanya gue akan selalu mencari celah untuk memasukkan komedi ke dalam tulisan gue sembari gue mengedit.

Buat kamu yang mau menulis komedi, jangan takut kalau dalam draft pertama tulisan kamu belum lucu. Komedi akan datang sendirinya kalau struktur tulisan kamu sudah rapih dan benar. Konsentrasi dulu dengan cerita yang mau kamu sampaikan, dan komedi bisa ditambahkan/dieksplorasi pada saat rewriting. Hindari penulisan komedi yang malas seperti memasukkan tebak-tebakan, cerita lucu, ini semua harus dihapus pas lagi ngedit tulisan kamu.

7. Hindari hal-hal klise

Gak tahu dengan penulis lain, tapi gue gak terlalu suka dengan penggunaan istilah yang klise seperti “Dia seperti tong kosong nyaring bunyinya”, atau “Dia cewek terindah yang pernah gue lihat”, atau “Gue cinta sama dia setengah mati”. Istilah klise ini selain sudah terlalu sering digunakan, juga tidak memperkaya tulisan kita sendiri. Setiap kali ngedit, gue mencari istilah-istilah klise ini, membuangnya, dan mencari metafor lain yang belum pernah dipakai sebelumnya.

8. Udah kelar? Edit lagi!
Writing is rewriting. Kalau kamu pikir editan kamu udah bagus, kasih jarak seminggu, lalu baca ulang dan edit lagi. Ulangi sampai kamu merasa tulisan kamu sudah benar-benar bagus. Kecuali kalo kamu ditungguin editor dan naskahnya sudah masuk deadline mau terbit kayak gue. Huehehehhe..

Semoga membantu calon-calon penulis yang juga lagi nulis/ngedit tulisannya. :D

Tiga Elemen Penulisan Kreatif dalam Blog

Maap lama belum update. Lagi keranjingan twitter. Hehe. Sejauh ini proyek Alfa masih dapet sekitar 15 halaman-an. Gue baru aja kelar ngerjain draft kerjaan lain. But it’s all good.

Buat ngisi, gue kemaren baru aja dapet permintaan untuk nulis tulisan buat Bubu Award (yang belum ikutan hayo nominasikan diri kalian di Bubu Award kali ini, siapa tahu blog kamu menang). Kalo gue pribadi sih engga mengikutsertakan blog gue. Hehe. :)

Karena lagi aktif nulis buku selanjutnya, untuk Bubu Award gue menulis tulisan dengan judul “Tiga Elemen Penulisan Kreatif dalam Blog”. Gue share di sini juga ya, siapa tahu bisa ngebantu temen-temen yang pengen tulisan di blognya bagus, plus siapa tahu bisa ngebantu temen-temen lain yang emang lagi nulis buku..

A real blog entry coming up, I promise.
Tapi untuk kali ini silakan nikmati tulisan gue tentang teknis menulis.

Here goes..

***

Tiga Elemen Penulisan Kreatif dalam Blog
by Raditya Dika

Dalam menulis sebuah entry blog yang asyik, kita dapat menggunakan elemen-elemen penulisan kreatif yang kebanyakan dipelajari untuk membuat sebuah karangan fiksi. Di bawah ini saya mencoba untuk memberikan tiga elemen penulisan kreatif yang bisa diaplikasikan dalam membuat sebuah entry blog yang menarik.

1. First Sentences yang Menarik
Let’s face it. Di dalam ranah dunia internet, kita semua somewhat terkena ADD (attention disorder deficit). Pembaca punya attention span yang rendah. Jika mereka tidak suka dengan blog kita mereka bisa dengan mudah langsung pindah ke website lain dengan satu kali klik.

Nah, inilah mengapa kita perlu first sentence yang punya dahsyat di dalam entry kita.

Di dalam dunia perbukuan dan menulis, semua buku yang baik punya first sentences yang engaging untuk membawa pembaca larut ke kalimat-kalimat selanjutnya sampai buku tersebut habis. Di dalam dunia blog, entry Anda juga harus punya first sentences yang cihui agar orang tercantol dalam waktu singkat.

Apa yang terjadi jika Anda tersasar ke sebuah blog dan kalimat pertama yang Anda baca seperti ini:
“Gue pagi ini bangun terus gue mandi. Ke sekolah lagi. Males deh.” Kemungkinan besar, Anda berpikir “Yeah, diary anak sekolahan lagi. Biasa banget. Males ah.” Lantas Anda menutup browser tersebut.

Bandingkan jika Anda tersasar ke sebuah blog dan rangkaian kalimat yang pertama Anda baca seperti ini:
“Untuk pertama kalinya saya akan bercerita tentang sejarah “Seratus” dalam hidup saya. Bukan karena cerita itu teramat penting dan besar, tapi justru karena keremehannya yang luar biasa.”

Saya, begitu membaca first sentences barusan akan berpikir, “Apa sih ‘seratus’ ini? Seberapa remeh dia?” Selanjutnya, saya membaca tulisan tersebut sampai habis. Tulisan yang kedua, saya kutip dari blog Dewi Lestari.

Kecermatan dan kepiawaian kita untuk membuat first sentences yang menarik akan membuat pembaca tergelitik untuk membaca kalimat-kalimat berikutnya. Setelah itu, Anda hanya perlu konsisten untuk membuat kalimat-kalimat berikutnya bisa sebaik kalimat yang pertama Anda buat.

Ingat, tulisan Anda harus punya hook. Anda harus punya sesuatu yang merangsang rasa penasaran sekaligus keinginan pembaca yang tiba-tiba tersasar. Tanyakan ini pada diri Anda sendiri: “Jika gue nyasar ke blog gue sendiri dan ngebaca kalimat pertama ini, gue bakal mau baca sampe abis gak ya?”

2. Buatlah Tulisan yang Ekonomis
Robert McKee, seorang lecturer dalam bidang penulisan, pernah berkata “90% of first drafts is shit”. Ini berarti, kebanyakan, tulisan yang pertama Anda buat pertama kali adalah jelek. Tulisan dalam sebuah first draft adalah tulisan yang tidak terstruktur, patah-patah, dan lepas dari otak Anda begitu saja. Kemungkinan besar, tulisan di draft pertama Anda juga adalah tulisan yang verbosal, yaitu tulisan yang terlalu boros kata-kata dan tidak ekonomis.

Nah, sebelum Anda mengklik tombol “post” itu, coba cek kembali apa yang telah Anda tulis. Apakah penggunaan kalimatnya sudah logis? Cek kembali logika kalimat yang salah. Cek kembali ejaan, atau terminologi yang benar. Bunuh semua kata yang tidak perlu. Tulisan yang baik adalah tulisan yang tight: kencang dan sempit. Perhatikan pacing tiap kalimat. Kata demi kata. Apakah tulisan Anda punya tempo yang enak untuk diikuti? Tulisan yang baik adalah tulisan yang seperti musik, ada tempo teratur, ada jeda untuk menarik napas, ada nada yang mengalir.

Baca kembali first draft Anda sebagai seorang pembaca, cek dulu apakah diksi yang Anda gunakan tidak redundan. Misalnya, Anda menemukan kalimat: “gue pergi ke rumah gue pas adek gue pulang dari kampus malem-malem”, ini jelas redundan. Coret semua kata “gue” hingga kalimatnya lebih efektif dan ekonomis, menjadi: “Gue pergi ke rumah, pas adek pulang dari kampus.”

Seperti yang kebanyakan orang bilang, first draft ditulis hanya untuk “mengeluarkan apa yang ada di kepala”. Draft kedua ditulis untuk “memperbaiki apa yang sudah ditulis.” Dan draft ketiga untuk “membuat tulisannya bersinar”. Jangan terburu-buru dalam menulis sebuah tulisan, buatlah menjadi semenarik mungkin.

3. Menemukan dan Menggunakan Voice Anda Sendiri
Pernahkah Anda mengangkat telepon, dan hanya dari mendengar suara orang tersebut Anda mengenali siapa yang sedang berbicara dengan Anda? Setiap manusia diciptakan dengan warna suara yang berbeda-beda. Apa yang cempreng, ada yang berat/husky, ada yang kayak orang kejepit. Apa pun itu, warna suara dapat membedakan antara satu orang dengan orang yang lain.

Seperti halnya dengan dunia penulisan, setiap penulis yang baik pasti punya “voice”-nya sendiri. Anda tahu bagaimana gaya khas Hilman Hariwijaya dalam menulis. Anda tahu, bagaimana tulisan Gunawan Muhammad ketika Anda membacanya. Atau bahkan, Anda bisa menebak diksi (kosakata) apa yang biasanya ada dalam esai-esai politik Eep Saefuloh Fatah. Gaya menulis Djenar Maesa Ayu, gaya Ayu Utami, mereka punya gaya yang khas. Semua penulis tadi punya voice yang begitu khas sehingga orang tahu, begitu membaca tulisan mereka, itu adalah tulisan mereka.

Cara paling gampang untuk tahu apakah Anda sudah punya voice atau belum: jika ibu Anda membaca tulisan Anda, tanpa diberitahu bahwa itu adalah milik Anda, dan dia bisa bilang, “Wah, ini tulisan anak saya.” Berarti selamat, Anda sudah punya voice.

Voice yang khas membantu kita untuk mendeferensiasikan diri dari penulis yang lain. Dalam menulis blog, voice yang khas juga akan membuat kita terlihat berbeda dari penulis blog-blog yang lain. Punya voice akan memisahkan kita dari “blogger lainnya” menjadi “blogger yang itu tuh, yang tulisan begini nih…”. Ndoro Kakung, misalnya masuk ke dalam contoh blogger yang punya voice yang sangat khas.

Lantas, bagaimana cara menemukan voice kita sendiri? Jawabannya sederhana: banyak membaca dan berlatih. Dengan membaca banyak buku yang ditulis penulis lain, sambil menganalisa-nya, kita akan dengan sendirinya mengadaptasi gaya-gaya mereka untuk memperkuat personality dan voice kita sendiri. Mengadaptasi, tentu saja, bukan berarti mencuri.

Layaknya Nidji yang mengagumi britpop, terutama Coldplay, sampai akhirnya bisa menemukan kekhasan aliran lagu miliknya sendiri, mereka berhasil membuat voice yang khas pada karya-karyanya. Atau layaknya Tohpati yang pada awalnya mendengarkan pilihan-pilihan nada yang dimainkan gitaris John Scofield, pada akhirnya Tohpati memelajari dan mengadaptasi permainan gitar orang lain hingga akhirnya dia menemukan sebuah gaya yang uniquely his.

Pelajari bagaimana kekuatan Haruki Murakami dalam mengkonstruksi sebuah dialog, pelajari narasi Chuck Palahniuk yang minimalistik dan maskulin, pelajari bagaimana Hilman Hariwijaya menggiring orang untuk tertawa. Satukan apa yang telah Anda pelajari, tanamkan dalam-dalam dalam diri Anda, dan keluarkan personality Anda sendiri. Keluarkan voice Anda.

Dengan banyak membaca Anda akan mendapatkan banyak referensi. Di samping itu, dengan banyak berlatih Anda akan tahu cara penyampaian seperti apa yang paling asik untuk Anda. Anda akan memilih diksi yang paling mewakili gaya tulisan Anda. Menulis dan berlatih, dan jadilah berbeda dari orang-orang yang lain.
Tentu saja, tiga elemen di atas hanya sebagian kecil contoh bagaimana kita menggunakan elemen penulisan kreatif untuk membuat postingan blog kita menjadi lebih baik. Masih banyak elemen-elemen lain: komposisi narasi vs dialog, deskripsi yang efektif, setting dan konteks, dan lain-lain.

Hope that helps!

PA Break #1

Yo, maaaan!

Ada yang nonton debat Pilpres kemaren? Gila judul acara debatnya DEBAT PILPRES: FINAL. Yep, pake embel-embel FINAL! Emangnya ini The Master pake final-final segala? Untung aja gak ada adegan Megawati di sana dilindes pake stoom terus selamat, atau JK ngelempar-lempar kartu diiringi lagu Jepang, atau SBY dengan suara tenang bilang, “Masuki alam relaksasi Anda jauh lebih dalam.. jauh lebih dalam dari sebelumnya.”

Pilihan gue pribadi masih swinging sih. Gue masih dilematis memilih di antara dua calon. I am currently having hard time determining the lesser of two evils. Hehehehe.

Untungnya kampanye Pilpres udah mau masuk masa tenang. Baguslah, gue udah eneg ngeliat iklan-iklan politik dan segala macam bentuk manuver politik yang makin lama makin basi aja.

***

Anyhoo, gue udah empat hari gak nulis apa-apa buat Proyek Alfa, istilahnya lagi berak break dulu. Bukannya kenapa-kenapa, tapi beberapa hari kemarin gue harus nyelesein treatment skenario untuk proyek film komedi gue bersama Maxima Pictures (sekali lagi, bukan film dari buku gue). Pengen nge-share sedikit. Sekedar memberikan gambaran di mana posisi gue sekarang, tahap penulisan skenario itu kira-kira seperti ini:

1. Penulis memberikan Story Summary kepada produser
Story summary (atau sinopsis) adalah cerita lengkap dalam bentuk narasi tentang filmnya sendiri seperti apa. Kalau gue biasanya membuat story summary yang sudah dibagi ke dalam 8 sequence (bagian cerita). Story summary ini berisi kira-kira ceritanya bakal kayak apa, motivasinya apa, konfliknya seperti apa. Story summary yang biasa gue bikin terdiri dari 2 – 3 halaman.

Ketika story summary udah di acc, lanjut ke..

2. Penulis memberikan treament skenario ke produser/sutradara
Tahap selanjutnya, penulis membuat treament. Treatment yang biasa gue buat berformat seperti skenario biasa, tapi tanpa dialog. Dialog dijelaskan dengan narasi. Jadi bentuk treatment seperti sinopsis tapi dengan scene heading (itu lho yang INT. SEKOLAH DIKA – DAY).. Jadi melalui treatment ini kita sudah bisa mengira-ngira nanti filmnya jadi berapa scene, berapa panjang, dan kira-kira ceritanya udah cukup engaging apa belum. Tentu saja, semua hal bisa berubah ketika benar-benar jadi skenario. Misalnya, treament film Kambingjantan dengan skenarionya, itu banyak sekali mengalami perubahan.

Pas lagi ngebahas treatment ini, penulis biasanya berdiskusi bareng dengan produser dan sutradara. Nah, kemaren sutradara yang berencana ngebuat film ini, mas Rako Prijanto, ketemuan ama gue dan memberikan beberapa revisi treatment sebelom masuk ke skenario.

Sekarang, treatmentnya udah masuk draft 2, dan gue lagi menunggu acc dari produser dan sutradara untuk mulai masuk ke penulisan skenario.

Mumpung lagi menunggu acc mereka berdua, mulai hari ini gue bakalan ngelanjutin lagi Proyek Alfa. So, wish me luck. Mudah-mudahan banyak waktu luang yang nyelip-nyelip seperti ini. Mehehehe.

Karena bolak-balik ngerjain antara menulis buku dengan menulis film, gue jadi semakin berpikir menulis buku emang beda banget dari menulis film. Menulis film adalah kerja tim, jadi banyak kepala yang terlibat, memberikan masukan, dan lain-lain… kayak main bola. Menulis buku, di satu sisi yang lain, kayak main golf. You are all by yourself. Mau mainnya bagus atau jelek, kalau kalah ya kita sendiri yang rugi.

Nah, karena menulis film seperti bermain bola, kalau kitanya malas, atau jelek ngerjainnya, bisa-bisa satu tim yang rugi… terutama if there’s a big money involved. That’s why skala prioritas gue untuk saat ini lebih tinggi untuk menulis film dibandingkan menulis buku. I don’t want to let down the other team players. :D

***

Now, a little bit advertorial. Salah satu maenan online yang lagi gue maenin sekarang adalah http://www.tenangkandirisejenak.com. Jadi ceritanya di sana orang bisa nge-upload foto dan menyaksikan mereka main drama dan jadi pemeran utamanya.

Selain itu di sana ada ajang photocontest before-after minum joygreentea (yep, this is a marketing campaign albeit a clever one that is), hadiahnya 3 HP mini untuk foto yang paling banyak dikomen sama di vote. So, coba-coba aja guys. It’s fun.

Gue harus cabut, see you on twitter guys!

PA: Day 2

Kemarin akhirnya gue bisa menulis “Proyek Alfa” sebanyak 2,5 halaman. Hohohoho. Menurut itungan gue, supaya first draft bisa kelar dalam waktu dua minggu, gue butuh sebanyak 5 halaman/hari. Berarti, gue ketinggalan 2,5 halaman. Hmmmm. Tapi tak apa, segitu aja udah bagus menurut gue. Tinggal ngejar ketertinggalan halaman di hari ini.

Hal yang paling merepotkan dalam menulis, terutama pada masa-masa kayak gini, adalah menemukan waktu menulis dengan konsisten. Selama ini, karena kurangnya waktu, gue menulis secara sporadis: di Blackberry pas lagi nungguin orang, di laptop pas lagi di mobil, dan di kantor kalo lagi bosen. Sayangnya, dengan jadwal tidur yang semakin sedikit pula, gue jadi ngantukan dan kalau ada waktu kosong biasanya gue gunakan buat tidur.

Itu problem yang pertama.
Problem yang kedua, adalah adanya kerjaan lain.

Lawan berat dari Proyek Alfa, selain me-maintan kantor, adalah proyek menulis lainnya, yang saat ini sedang sangat mendesak adalah sebuah film layar lebar (bukan dari buku gue) yang lagi gue tulis untuk Maxima Pictures. Rencananya hari ini gue meeting sama produser dan calon sutradaranya. Gue pribadi sih suka sama calon sutradara yang mereka ajukan. which I cannot tell here sebelum semuanya fix. Nah, jika di meeting hari ini semuanya oke, berarti gue harus mulai menulis skenario untuk film tersebut. Ini berarti, lawan berat lagi untuk Proyek Alfa.

Proyek lain lagi, yaitu Komik Kambingjantan 2, buat gue gak terlalu menyita waktu, karena nulis skrip komik itu sangat ringan dibandingkan menulis buku. Plus, gue juga bisa nyicil nungguin Dio yang masih terus menggambar.

Yang jelas, sekarang yang harus dilakukan adalah menjadi jeli: mencari waktu renggang di antara jadwal yang padat dan memanfaatkannya semaksimal mungkin. Maju tak gentaaaar!

Talkshow dan Kenapa Gue Jadi Mirip Kambing

Talkshow resmi dari Gagasmedia akhirnya di Jakarta lagi!
Woo-hoo!

Kali ini gue ngisi di acara Pesta Buku Jakarta 2009
diskon buku yang dijual sampe 70% men. Parah abis.

Bagi yang mau ikutan:

Raditya Dika dan komikus Dio Rudiman
siap membagi semua cerita di balik Komik Kambing Jantan

Minggu, 28 Juni 2009.
Pesta Buku Jakarta 2009
Panggung Utama, Istora Senayan Jakarta,
pukul 19.00 sampai 21.00WIB
.”

Udah lama juga gak ketemu Dio dan ketemu pembaca-pembaca,
Pembaca lama, pembaca baru, silakan datang dan kita bakalan ngobrol-ngobrol bareng.

So I guess I’ll see you people there.
And, of course, it’s free. :D

***

Ada artikel super singkat tentang what I’ve been up to di Kompas.
bisa dibaca di http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/06/20/04434625/.begadang.setiap.hari

***

Masih nyambung sama artikel kompas tadi, gue emang lagi sering-seringnya tidur jam 6 pagi. Ada perasaan familiar ketika lagi nulis-nulis sampe pagi itu: duduk di depan laptop dengan suasana sepi, lengkap dengan Pocky coklat, dan Pokka Green Tea. Nulis, nulis, dan nulis, sampai tiba-tiba adzan subuh, nepok jidat dan bilang, “Anjrit! Udah subuh!” Terus nyoba buat tidur, tapi justru karena maksain diri buat tidur, otak jadi gak tenang, dan akhirnya malah baru bisa tidur jam enam pagi. Bangun jam sembilan.

Alhasil, beberapa hari ini mata gue bengkak. Di bagian bawahnya berkantung, dan kemana-mana nguap. Karena kurang tidur, otak juga jadi gak nyambung. Gue ditanyain apa, malah jawabnya ngaco. Misalnya:

Nyokap: “Bang, kamu tidur pagi lagi?”
Gue: (setengah ngantuk) “Iya, Ma. Belum nyalain air.”

Selain itu, gue udah agak jarang ngerawat diri. Dari beberapa minggu yang lalu gue udah jarang tampil rapi dan bersih. Seklias, gue udah keliatan kaya seniman-seniman berantakan itu: kumis gue udah lama gak dicukur, jenggot udah menyeruak seperti akar ginseng. Tinggal bawa karung, gue udah siap ikutan Dibayar Lunas.

Strangely, I like this scruffy look.
Walaupun jenggot + kumis ini membuat gue jadi mirip kambing.

Anyway, I’m currently enjoying my writing period. Seru rasanya menulis berpindah-pindah antara skrip film yang sudah lewat deadline, report kerjaan kantor yang belom beres, dan mencoba mengeluarkan ide buku-buku yang udah lama mengendap di kepala tapi gak bisa-bisa disalurkan.

Di hari yang baik, gue bisa dapet 5 – 6 halaman yang “layak terbit”. Tapi biasanya, dapet satu halaman aja udah syukur. Gak banyak yang tahu kalo dalam menulis itu, 90% tulisan yang kita hasilkan adalah sampah. Makanya kita perlu rewriting -menulis ulang.

Anyhoo, It’s been fun so far.

***

Aaaaand, thanks guys for following me at:
http://twitter.com/radityadika

Bring ‘em more!