<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!-- generator="wordpress/2.3.1" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>Raditya Dika, dan hal gak penting lainnya</title>
	<link>http://radityadika.com</link>
	<description></description>
	<pubDate>Thu, 17 Jul 2008 17:02:11 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.3.1</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Pada Sebuah Malam</title>
		<link>http://radityadika.com/pada-sebuah-malam/</link>
		<comments>http://radityadika.com/pada-sebuah-malam/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Jul 2008 17:02:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>radith</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://radityadika.com/pada-sebuah-malam/</guid>
		<description><![CDATA[Kadang,
sakit hati bisa membuat seseorang susah tidur.
Tengah malem kemarin, gue baca lagi postingan gue yang ini. Sambil ngebaca tulisan itu, gue juga mendengarkan lagu ini. Gak tahu kenapa, ngebaca sambil mendengarkan lagu tersebut ngebuat gue ngerasa sedih, nostalgic, dan ada urgensi untuk nulis sesuatu. Ada semacam perasaan yang pengen keluar, pengen cerita, yang tidak bisa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kadang,<br />
sakit hati bisa membuat seseorang susah tidur.</p>
<p>Tengah malem kemarin, gue baca lagi postingan gue <a href="http://radityadika.com/rasa-selai-kacang-itu/">yang ini</a>. Sambil ngebaca tulisan itu, gue juga mendengarkan <a href="http://www.youtube.com/watch?v=7HVRzdlLN6Q">lagu ini</a>. Gak tahu kenapa, ngebaca sambil mendengarkan lagu tersebut ngebuat gue ngerasa sedih, nostalgic, dan ada urgensi untuk nulis sesuatu. Ada semacam perasaan yang pengen keluar, pengen cerita, yang tidak bisa gue definisikan.</p>
<p>Di tengah perasaan yang menggebu-gebu, gue mulai menulis pengalaman gue yang paling menyakitkan dalam hidup: <u>cinta yang tak berbalas</u>. Huruf demi huruf merangkai kalimat merangkai paragraf, dan tanpa gue sadari&#8230; satu halaman jadi. Lalu gue menyederkan badan ke kursi. Membaca tiap huruf, dan gue tertawa sambil menggelengkan kepala. Belum pernah gue ngerasa begitu deket dengan tulisan gue, begitu rapuh, begitu lancar, seperti mengobrol dengan teman lama yang sudah lama hilang. Seperti mengobrol dengan seorang teman, yang baru pulang dari suatu tempat yang jauh.</p>
<p>Gue keluar kamar,<br />
bikin kopi panas.</p>
<p>Lalu gue melanjutkan menulis. Satu demi satu gue tulis, dan gue menyelesaikan empat file tulisan setengah jadi. Gue baca ulang, resapi, tertawa, sedih. Saat itu, baru gue menyadari, ternyata gue udah lama gak menulis humor yang kontemplatif. Udah lama gak ngebuat sebuah tulisan yang ngebuat gue berpikir kembali tentang hal-hal pahit yang gue alami dalam hidup, lalu di saat yang bersamaan, menertawakannya.</p>
<p>Udah lama gue gak keluar dari comfort zone gue, menceritakan sesuatu yang ngebuat gue tutup mata, lalu balik lagi ke waktu yang gue ceritakan. Memberitahu pembaca kalau hidup gue gak selalu seneng. Membuat orang paham bahwa gue punya masa-masa gelap dalam hidup gue. Bahwa, pada satu masa, gue pernah sakit hati, pernah ngerasa kehilangan, pernah ngerasa paling bodoh, paling lemah. Pernah merasakan apa yang orang-orang lain pernah rasakan. Pernah menjadi manusia.</p>
<p>You see, seseorang bisa menjadi lucu ketika jujur bercerita. Seseorang juga bisa menjadi menangis ketika bercerita tentang cinta. Gue pengen menulis keduanya. Gue pengen membuat sesuatu yang membuat orang tertawa dan menangis. Karena itulah inti dari hidup ini:<em> tertawa, dan menangis</em>.</p>
<p>Gue menulis, menulis, dan menulis. Sampai capek menulis, gue ngeliat ke langit-langit kamar&#8230; merenung sendirian. Di sini lah gue:  ribuan kilometer dari rumah, menulis tentang seseorang yang tidak pernah gue dapatkan. Seseorang yang pernah membuat hati gue  dipecahkan menjadi ribuan serpihan kecil yang lalu coba gue kumpulkan kembali. Yang gue coba, perlahan-lahan, bentuk kembali..untuk bisa diberikan kepada orang lain.</p>
<p>Kopi di cangkir putih,<br />
habis gue teguk.</p>
<p>Gue melihat jam, sudah jam dua pagi. Lalu gue membuat satu folder baru di desktop gue. Gue mengisi folder tersebut dengan semua tulisan yang baru gue buat. Lalu gue namain folder baru tersebut: BUKU KELIMA - WORK ON PROGRESS. Tidak berapa lama, gue membuang waktu dengan mengedip, tanpa berpikir apa-apa. Gue menutup laptop, lalu dengan malas tiduran di atas tempat tidur.</p>
<p>Sepuluh, dua puluh menit,<br />
gue masih gak bisa tidur.</p>
<p>Mungkin memang benar:<br />
kadang, sakit hati bisa membuat seseorang susah tidur.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://radityadika.com/pada-sebuah-malam/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Untuk Kalian yang Tidak Bisa Duduk&#8230;</title>
		<link>http://radityadika.com/349/</link>
		<comments>http://radityadika.com/349/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Jul 2008 18:59:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>radith</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://radityadika.com/349/</guid>
		<description><![CDATA[UPDATE: Errr&#8230; buset yang komentar kok pada serius, harap kalian ketahui si Ahmad Syaltut ini ngirim email dengan nada becanda bukan protes beneran. Jawaban gue adalah tanggepan atas becandaan dia. Nampaknya orang-orang pada nganggep in si Ahamd beneran protes dan isi komentar malah kebanyakan berdebat jongkok vs duduk. Hahaha. Mari kita bergandengan tangan dan bersatu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>UPDATE:</strong> Errr&#8230; buset yang komentar kok pada serius, harap kalian ketahui si <u>Ahmad Syaltut ini ngirim email dengan nada becanda bukan protes beneran</u>. Jawaban gue adalah tanggepan atas becandaan dia. Nampaknya orang-orang pada nganggep in si Ahamd beneran protes dan isi komentar malah kebanyakan berdebat jongkok vs duduk. Hahaha. Mari kita bergandengan tangan dan bersatu dalam boker yang khusyuk.</em></p>
<p>&#8211;</p>
<p>Di buku Babi Ngesot, gue menulis: <em>&#8220;Gue sempet beberapa kali antriannya disela sama orang yang kampungan yang gak mau ngantri. Bagi gue, orang yang gak bisa ngantri adalah orang kampungan. Tau kan, tipe-tipe orang yang kalo masuk di WC duduk pas boker bakalan tetep nangkring jongkok. Ada apa sih dengan orang-orang ini?&#8221;</em></p>
<p>Minggu lalu,<br />
ada email masuk seperti ini:</p>
<ul><strong>email Ahmad Syaltut</strong><strong></p>
<p>Kepada Yang terhormat Saudara Raditya Dika,</strong><strong></p>
<p>Dengan e-mail ini saya ingin menyatakan keberatan saya atas beberapa tulisan yang telah anda tulis dalam buku terbaru anda yang berjudul Babi Ngesot. Ada beberapa komentar yang anda tulis dalam buku tersebut telah menyinggung perasaan beberapa orang, termasuk saya. Tulisan yang saya maksud tersebut adalah ketika anda menyinggung sikap &#8220;orang kampungan&#8221; yang anda gambarkan sebagai orang-orang yang tidak mau mengantre dengan semestinya, dst,  dst.</strong><strong>Poin yang saya maksud adalah ketika anda setelah memaparkan sikap-sikap kampungan tersebut lalu anda menulis &#8220;tau kan, jenis orang-orang yang cuman bisa BAB di WC jongkok ( ada apa sih dengan orang-orang seperti itu?) dengan tidak berperasaannya. </strong><strong>Harap anda ketahui saja, ada beberapa jenis orang yang tidak bisa melakukan panggilan ilahinya dengan cara-cara tertentu yang telah ditetapkan oleh society modern secara umum, seperti misalnya BAB di WC duduk, dan saya adalah salah satu di antaranya.</p>
<p></strong><strong>Asal anda pahami lebih dalam, Kami ( orang2 yang hanya bisa BAB di WC jongkok) pun tidak mempunyai alasan yang spesifik mengenai  tata cara buang air besar yang baik dan benar.  Karena cara tersebut kami dapati adalah cara yang paling nyaman untuk melakukan&#8221;nya&#8221;. Tidak  ada alasan secara medis maupun psikologis dari hal ini. </strong><strong></p>
<p>Teima kasih atas perhatiannya,<br />
harap anda lebih peka mengenai hal-hal yang lebih sensitif dalam buku berikutnya,<br />
semoga sukses.</strong></p>
<p><strong>Bay de wey IDUP BOKER DI WE CE JONGKOK<br />
peace out</strong></ul>
<p>Kepada Bapak Ahmad Syaltut,<br />
di mana pun Anda jongkok.</p>
<p>Terus terang saya terkejut dengan email Anda. Saya kaget. Saya syok. Saya sampai gosok gigi. Saya tidak mengira bahwa ada orang-orang yang memang &#8220;dari sono&#8221;-nya tidak bisa pup duduk di WC duduk. Percayalah, Bapak, saya sungguh-sungguh prihatin atas kondisi Anda.</p>
<p>Membaca kalimat demi kalimat yang ada di dalam email Anda, secara tak sadar&#8230; saya menangis. Badan saya bergetar. Gigi saya gemertak. Upil saya meledak. Saya sedih. Sedih sekali. Saya tidak bisa mengerti kenapa Yang Maha Esa tidak bisa mengizinkan Anda duduk di WC duduk.</p>
<p>Sebagai lambang permohonan maaf saya, dan wujud dari rasa penyesalan saya,<br />
mulai saat ini saya akan pup duduk di WC jongkok. Semoga Anda menerima penyesalan ini.</p>
<p>Dengan kekuatan bulan,</p>
<p>Raditya Dika</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://radityadika.com/349/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Mmmmm.. Yoghurt..</title>
		<link>http://radityadika.com/mmmmm-yoghurt/</link>
		<comments>http://radityadika.com/mmmmm-yoghurt/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Jul 2008 17:29:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>radith</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://radityadika.com/mmmmm-yoghurt/</guid>
		<description><![CDATA[Summer course gue di Utrecht University bakalan kelar empat hari lagi.
Sedihnyaaaa&#8230; masih pengen di sini nih.Sejauh ini it&#8217;s been fun.
Satu hal yang gue masih gak pas adalah makanan orang Eropa yang kebanyakan roti. Dikit-dikit makan roti. Pagi makan roti, siang roti, malem baru makanan &#8220;panas&#8221;. Bagi gue, yang perutnya Indonesia banget, kalo gak makan nasi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Summer course gue di Utrecht University bakalan kelar empat hari lagi.<br />
Sedihnyaaaa&#8230; masih pengen di sini nih.Sejauh ini it&#8217;s been fun.</p>
<p>Satu hal yang gue masih gak pas adalah makanan orang Eropa yang kebanyakan roti. Dikit-dikit makan roti. Pagi makan roti, siang roti, malem baru makanan &#8220;panas&#8221;. Bagi gue, yang perutnya Indonesia banget, kalo gak makan nasi rasanya gak kenyang. Sedihnya, makan siang nasi di sini gak bisa diandalkan. Kentucky Fried Chicken di sini gak ada nasinya, dan kalo mo maksa makan nasi di restoran&#8230; jatoh-jatohnya mahal banget.</p>
<p>Nevertheless, di Utrecht gue mengembara mencoba makanan di beberapa tempat. Sejauh ini ada dua hal yang gue suka dari menu makanan di Utrecht:</p>
<p><strong>1. Roast Duck di Paradijs</strong></p>
<p><img src="http://radityadika.com/wp-content/uploads/2008/07/utrechtmakan-bebek.jpg" /><br />
<em>mana yang bebek, mana yang makan?</em></p>
<p>Hmmmmm&#8230; bebeknya enak banget. Gue dapet rekomendasi tempat makan ini dari Mas Eka, produser radio Netherlands yang mewawancarai gue. Kita melakukan sesi interview di restoran ini. Seperti kata Mas Eka, Paradijs memang restoran paling enak di Utrecht. Gue gak bakalan bisa nemuin tempat makan lain seenak ini di Utrecht. Bebeknya beda-beda tipis sama restoran Xin di Jakarta, salah satu tempat makan bebek favorit gue di Indonesia.</p>
<p><strong>2. Yoghurt McD Netherlands</strong></p>
<p><img src="http://radityadika.com/wp-content/uploads/2008/07/utrechtmakan-yoghurt.jpg" /><br />
<em>makanan sadis</em></p>
<p>McDonald&#8217;s di luar negeri selalu punya menu sampingan yang dasyat abis. Kalau di Adelaide ada Apple Pie, yang sumpah makanan dewa&#8230; enak banget! Kalau di Belanda, McDnya punya menu fruit yoghurt. Begitu gue liat bentuknya di menu, gue langsung kebayang blueberry Yoghurt ala Yunani gitu. Gue langsung pesen. Harganya murah, cuman satu euro doang. Begitu gue makan&#8230; MAMPUS&#8230; ENAK BANGET!!!! Rasanya autentik, yoghurt Yunani banget.  Blueberry dan Raspberry yang ada di atasnya juga ngebuat makan yoghurt ini makin nikmat. Sadis. Ini makanan sadis. Gue tiap hari pasti makan paling enggak satu cup. This will be the most thing I miss from Netherlands.</p>
<p>Selain makanan-makanan dewa di atas,<br />
gue juga nyoba makanan khas Belanda: ikan haring mentah.</p>
<p>Yup, ikan haring mentah. Jangan berpikir makanan ini bakalan sama kayak sushi, no no no. Ikan haring ini dimakan bulet-bulet, kulitnya gak dikupas, masukin mulut dari atas, langsung gigit. Mau mampus gak lo? Berhubung gue anaknya santai kayak anak pantai, pas kita ke Den Haag kemarin gue nyobain. Dan apa yang terjadi saudara-saudara? Lihat perubahan mimik wajah gue pas lagi nyoba makan ikan ini:</p>
<p><img src="http://radityadika.com/wp-content/uploads/2008/07/makan-harring.jpg" /><br />
<em>ah cemen ginian doang&#8230; HUP! Hmmm&#8230; HOEEEEEEEEKKKK!!!!</em></p>
<p>Amis abis. Dengan bawang segitu banyak aja masih kerasa amis.<br />
Tapi kalau tahan sama amisnya sih berasa rada enak.<br />
Gak tau juga deh kenapa orang Belanda betah makan ikan kayak gini.</p>
<p>Dan setelah lama gak muncul,<br />
pertanyaan dari pembaca&#8230;</p>
<ul><strong>email dari Asti Pamungkas:</strong><strong>aslm bang brad,,,</strong><strong>kenalin, aku asti di makassar. aku mau nanya nih bang dan harus dijawab dengan penuh kejujuran. he..he..he.. (ketawa setan)</strong><strong>nih pertanyaan sih udah aku tanyain di commentnya bang brad, tapi supaya bang brad mau jawab, aku tampilin lagi deh lewat email. gini, pertanyaanQ ada 2</strong><strong><br />
</strong></p>
<p><strong>1. bang, temen2 bule bego abang yang ga tau indonesia itu tau ga kalo abang itu penulis sinting yang dielu2kan di indonesia??? abang pernah gak nyeritain kesuksesan abang dalam menebar virus kambing di indonesia??? kira-kira apa yah reaksi mereka kalo tahu abang ini sebenarnya capres 2009 eh salah maksudQ selebritis kambing di indonesia??? mungkin mereka koprol ke samping sambil minum susu kali ya bang??? he he he</strong></p>
<p><strong>2. abang kan sering banget nyeritain tentang kebudegan orang-orang bule kalo soal nyebut nama indonesia, nah abang pernah juga gak kesulitan saat berkenalan dengan orang yang memiliki nama aneh banget kayak perek, eh merek, siapa tadi tuh??? yerek yah&#8230; ah apaun itu. hayo&#8230;.. jangan-jangan abang juga suka budeg kalo kenalan dengan orang yang namanya seperti bahasa planet pluto itu, nagku deh bang brad&#8230;</strong><strong>itu dia pertanyaanQ bang, dijawab yah plis&#8230;&#8230;&#8230;.. supaya asti ga penasaran lagi nih.</strong></ul>
<p>Welll, cuman si Yerek yang tahu kalo gue penulis buku, dan dia kayaknya biasa aja. Haha. Gue juga gak ngerasa gimana-gimana kok. Kebanyakan orang Indonesia yang jadi temen maen gue di sini juga gak tau kalo gue penulis buku. Jadi santai-santai aja sih ya. Iya, gue juga sering lupa cara nyebutin nama temen-temen gue yang bule, terutama yang berasal dari Eropa Timur. Mereka punya nama yang aneh-aneh seperti&#8230; seperti&#8230; nah itu aja gue dah lupa. Tapi gue tahu satu hal: cewek-cewek Eropa Timur cantik-cantik abis.</p>
<p>Oh ya, satu hal lagi, gue gak ada rencana bakalan ada foto kayang lagi di sini, dan jangan kirim email yang berisi pertanyaan tentang tabib ke email gue, karena gak bakalan dibales/ditaro website juga. Semua pertanyaan di bab &#8220;Pertanyaan Untuk Tabib&#8221; di buku gue berasal dari email ke majalah Bukune (yang mana majalahnya udah gak terbit lagi). So, there it goes.</p>
<p>Udah ah, capek.<br />
Makan malem dulu ah dan mengerjakan assignment (masih jaman?).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://radityadika.com/mmmmm-yoghurt/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kulari ke Pantai..</title>
		<link>http://radityadika.com/kulari-ke-pantai/</link>
		<comments>http://radityadika.com/kulari-ke-pantai/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Jul 2008 23:31:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>radith</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://radityadika.com/kulari-ke-pantai/</guid>
		<description><![CDATA[Gue baru balik dari Den Haag!
Kesan pertama begitu sampai di Den Haag, it is waaaay more cooler than Utrecht. Bagi gue, Utrecht itu kayak kota yang cocok untuk mereka yang ogah repot: kecil, gak ribet, dan semuanya tenang. Den Haag di satu sisi, keliatan lebih ramai. Bangunannya juga lebih besar dan bagus-bagus.
Pemberhentian  pertama kita di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Gue baru balik dari Den Haag!</p>
<p>Kesan pertama begitu sampai di Den Haag, it is waaaay more cooler than Utrecht. Bagi gue, Utrecht itu kayak kota yang cocok untuk mereka yang ogah repot: kecil, gak ribet, dan semuanya tenang. Den Haag di satu sisi, keliatan lebih ramai. Bangunannya juga lebih besar dan bagus-bagus.</p>
<p>Pemberhentian  pertama kita di Den Haag adalah ke pantainya. Termotivasi melihat cewek cantik dengan bikini seksi, gue udah seneng-seneng aja. Tapi begitu sampai ke pantai, ternyata udaranya dingin banget. Dan percayalah, temanku, udara dingin dan pantai adalah kombinasi yang sangat membuat pengen mati. Dari pantai kita lanjut ke Mahkamah Internasional dan kantor Perdana Menteri.</p>
<p>Di Den Haag, gue jalan bareng anak-anak Indonesia. Salah satunya adalah <a href="http://www.speosphotographers.com/Speos-photographers/SitesEtudiants/08dewi/index.html">Dewi,</a> anak Indo yang belajar fotografi di Paris, yang kebetulan lagi liburan ke Den Haag. Plus, juga ada <a href="http://www.aaqq.net/">Rizki</a>, temen gue dari pertama kali nginjek Utrecht, yang juga punya interest ke fotografi. Jadi apa yang terjadi? Gue dapet banyak foto keren dari mereka untuk dipamerin di <a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=544486963">Facebook</a>. (dalam kata lain: memanfaatkan keahlian orang lain untuk kenarsisan diri sendiri).  Mehehehehe.</p>
<p>Inilah foto-fotonya yang menurut gue bagus-bagus banget. Yah, gue sih gak mo songong yah&#8230; tapi mungkin fotonya bagus-bagus gara-gara ada gue kali yaaaa (dengan gaya minta digampar):</p>
<p><img src="http://radityadika.com/wp-content/uploads/2008/07/den-haag-2.jpg" /><br />
<em>Kulari ke pantai&#8230; lalu ku kedinginan</em></p>
<p><img src="http://radityadika.com/wp-content/uploads/2008/07/loncat2.jpg" /><br />
<em>&#8220;Tolong, kebawa angiinnnn&#8230;&#8221;</em></p>
<p><img src="http://radityadika.com/wp-content/uploads/2008/07/den-haag-4.jpg" /><br />
<em>Berasa model iklan coca-cola zero</em></p>
<p><img src="http://radityadika.com/wp-content/uploads/2008/07/den-haag-1.jpg" /><br />
<em>Kulari ke kantor perdana menteri&#8230; lalu tetep kukedinginan</em></p>
<p><img src="http://radityadika.com/wp-content/uploads/2008/07/den-haag-3.jpg" height="370" width="248" /><br />
<em>Fotografernya Oke, sayang modelnya ngerasa ABG</em></p>
<p>Nah itu dulu, besok gue mau jawabin beberapa email dari pembaca lagi, udah lama gak majang email pembaca di sini. Untuk sekarang, gue mo tidur dulu, udah jam setengah dua pagi dan kuliah gue jam 10. Beeeeh.</p>
<p>Later, guys!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://radityadika.com/kulari-ke-pantai/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>This Belgian Trip</title>
		<link>http://radityadika.com/this-belgian-trip/</link>
		<comments>http://radityadika.com/this-belgian-trip/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Jul 2008 09:27:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>radith</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://radityadika.com/this-belgian-trip/</guid>
		<description><![CDATA[Gue baru balik dari jalan-jalan ke Antwerp dan Brussel, Belgia.
Capek mampus banget sekali.
Perjalanan dari Utrecht ke Antwerp kurang lebih dua jam. Kita nginep satu malem di Antwerp, dapet lecture dari University of Antwerp tentang uni-eropa, lalu besoknya lanjut ke Brussel untuk mengunjungi musium seni dan kantor administratif uni-eropa. Terdengar sangat melelahkan? Ember.

kembali meracuni Eropa
So, ada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Gue baru balik dari jalan-jalan ke Antwerp dan Brussel, Belgia.<br />
Capek mampus banget sekali.</p>
<p>Perjalanan dari Utrecht ke Antwerp kurang lebih dua jam. Kita nginep satu malem di Antwerp, dapet lecture dari University of Antwerp tentang uni-eropa, lalu besoknya lanjut ke Brussel untuk mengunjungi musium seni dan kantor administratif uni-eropa. Terdengar sangat melelahkan? Ember.</p>
<p><img src="http://radityadika.com/wp-content/uploads/2008/07/peta-brussels.jpg" /><br />
<em>kembali meracuni Eropa</em></p>
<p>So, ada apa di Belgia? Banyak hal yang terkenal dari Belgia. Komik dari Belgia termasauk yang sangat terkenal di dunia, seperti Tintin dan Smurf. Coklatnya juga terkenal. Mungkin yang paling terkenal adalah bir Belgia. Di Belgia sendiri ada puluhan macam bir yang sangat bervariasi, dari mulai yang pahit sampai manis.</p>
<p>Salah satu temen jalan gue sepanjang excursion adalah seseorang bernama Yerek (iya, emang namanya jelek banget), anak 19 tahun dari Prague, Ceko. Perkenalan gue dimulai pada saat gue ngeliat dia ngider-ngider sendirian tanpa ada teman, pas lagi bengong gue ajak ngobrol aja. Kebetulan gue suka banget sama Milan Kundera, sastrawan dari Ceko, jadi begitu kita pertama kali ngobrol langsung nyambung ngomongin Kundera.  Terimakasih Kundera, telah menyatukan kami berdua! Abis itu, gue sama dia pergi ke mana-mana terus.</p>
<p><img src="http://radityadika.com/wp-content/uploads/2008/07/yerek.jpg" /><br />
<em>rambut gue basa-basi banget</em></p>
<p>Salah satu hal yang bikin gemes datang dari Indonesia adalah hampir semua orang mengira Indonesia adalah negara yang miskin dan kampung banget. Pengakuan ini datang sendiri dari mulut si Yerek.</p>
<p>Yerek: So, you have tall buildings in Jakarta?<br />
Gue: Of course we have.<br />
Yerek: How about malls?<br />
Gue: WE HAVE MALLS IN JAKARTA!<br />
Yerek: I thought your country is all covered in sands&#8230; Sands everywhere&#8230;<br />
Gue: NO!!!</p>
<p>Ck, ck, ck. Makanya, PEREK, lain kali coba browsing-browsing bentar cari tahu tentang Indonesia. Pasir sih ada pasir, tapi kalo lo mo nginep di Ancol! Negara kita gak segitunya amat kok. Ini sama kayak pertanyaan yang temen gue dapet waktu di sini: &#8220;Is there any taxi in Indonesia?&#8221; Doh.</p>
<p><img src="http://radityadika.com/wp-content/uploads/2008/07/maria.jpg" /><br />
<em>seperti bos bule dengan pembantunya</em></p>
<p>Sama aja kayak temen gue dari Mexico, Maria.<br />
Pertama kali dia nanya tentang gue..</p>
<p>Maria: So where do you come from?<br />
Gue: Indonesia.<br />
Maria: OH! Is it in India?<br />
Gue: &#8230;</p>
<p>Kayaknya India dan Indonesia jauh deh, Maria.<br />
I cannot blame her, though, kita emang belom seterkenal itu sampai orang-orang tahu.</p>
<p>Di Brussel kita nginep di hostel yang berisi empat tempat tidur untuk satu kamar. Bagi orang biasa backpacking mungkin udah biasa tidur nyampur-nyampur dengan orang yang gak dikenal. Tapi tetep aja, bagi gue konsep berbagi kamar tempat tidur dengan orang yang belum pernah gue kenal agak-agak nyeremin aja. Cowok-cewek nyampur pula.</p>
<p><img src="http://radityadika.com/wp-content/uploads/2008/07/hostel.jpg" /><br />
<em>campur-campur di hostel</em></p>
<p>Di musium seni, gue agak-agak bingung kenapa lukisan di zaman Renaissance banyak banget yang berisi cewek/cowok telanjang. Apakah ada hubungannya dengan pembaruan? Entahlah. Patung-patung juga seperti ini. Banyak patung cewek/cowok telanjang. Kalo gue hidup di zaman itu gue mau deh jadi pematung. Hahaha.</p>
<p><img src="http://radityadika.com/wp-content/uploads/2008/07/nice-job.jpg" /><br />
<em>&#8220;Mister, bagus juga mister.&#8221;<br />
</em></p>
<p>Pendapat gue tentang Belgia sendiri adalah sangat menyenangkan. Well, kalo punya kaki dari besi sih pasti lebih menyenangkan lagi. Di sini semuanya ditempuh dengan jalan kaki. Dari mulai musium, tempat makan, ke mana-mana pasti jalan kaki. Untungnya, pemandangannya menyenangkan untuk berjalan-jalan sambil melihat-lihat. Bunga-bunga di mana-mana, bangunan peninggalan penjajahan Spanyol&#8230; pasti seru juga kalau bisa tinggal lebih lama.</p>
<p><img src="http://radityadika.com/wp-content/uploads/2008/07/belgia-marketplace.jpg" /><br />
<em>Brad, tersesat di Belgia</em></p>
<p>So that&#8217;s that from Belgia.<br />
Gue udah nyampe lagi di Utrecht, baru aja bangun.<br />
Abis ini gue mau mandi, dan siap-siap berangkat ke Deh Haag! Hohoho.</p>
<p>Onwards we go!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://radityadika.com/this-belgian-trip/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Jadi Siswa Lagi</title>
		<link>http://radityadika.com/jadi-siswa-lagi/</link>
		<comments>http://radityadika.com/jadi-siswa-lagi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Jul 2008 20:42:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>radith</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://radityadika.com/jadi-siswa-lagi/</guid>
		<description><![CDATA[Yap, sekarang gue udah mulai kuliah di Universiteit Utrecht.
Hari-hari bergaul dengan buku pun kembali dimulai.
Kuliah disampaikan dengan bahasa Inggris, which is a good thing for me.  Semua profesor dan tutor gue bahasa Inggrisnya jago banget. Tadinya gue kira mereka bakalan heavily accented, tapi lucunya aksen mereka malah kayak orang Inggris. Kemampuan berbahasa inggris mereka juga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Yap, sekarang gue udah mulai kuliah di Universiteit Utrecht.<br />
Hari-hari bergaul dengan buku pun kembali dimulai.</p>
<p>Kuliah disampaikan dengan bahasa Inggris, which is a good thing for me.  Semua profesor dan tutor gue bahasa Inggrisnya jago banget. Tadinya gue kira mereka bakalan heavily accented, tapi lucunya aksen mereka malah kayak orang Inggris. Kemampuan berbahasa inggris mereka juga perfect banget, ada satu tutor gue bahkan aksen dan expression yang dia pakai Amerika abis, gue kira dia dari Amerika, ternyata dia orang Belanda tulen.</p>
<p><img src="http://radityadika.com/wp-content/uploads/2008/07/ruangkelas.jpg" /><br />
<em>suasana kelas besar </em></p>
<p>Kelas dibagi menjadi dua. Satu kelas besar (lecture) yang berisi 80-an orang, satu lagi kelas kecil (seminar) berisi 8 orang. Kelas kecil gue terdiri dari empat orang Hongkong, empat orang Amerika, satu orang Kroasia, Hungaria, Syria, dan gue sendiri. Pas sesi perkenalan, kita memperkenalkan nama kita satu per satu. Pas giliran gue..</p>
<p>Gue: My name is Dika.<br />
Tutor: Sorry?<br />
Gue: Dika.<br />
Tutor: Oh, thank you, Dika.</p>
<p>Wow, sempurna. Jarang-jarang orang bule bisa menyebutkan nama gue dengan sempurna dalam sekali dengar. Tapi kekaguman gue hilang di tengah-tengah pelajaran.</p>
<p>Tutor: Can anyone answer to this one? Anyone?<br />
Gue: (menunjuk tangan)<br />
Tutor: Yes, you, DIMYANA.<br />
Gue: &#8230;</p>
<p>Seharusnya sih gue biasa aja dipanggil Dimyana,<br />
tapi&#8230; DIMYANA ITU NAMA NENEK GUE, SAMBEL.</p>
<p>Serius, gue ngerasa aneh banget dipanggil dengan nama nenek sendiri. Ya ya ya, bule akan selalu bolot dan nama orang Indonesia akan selalu susah untuk disebutkan. Lucunya, di kelas gue ada tiga anak Hongkong, gue kira nama mereka juga bakalan susah disebutin bagi orang bule.. eh tapi ternyata mereka punya nama panggilan yang amerika banget: Joe-ann, Jessy, Lily. WTF? Seharusnya gue juga punya nama bule&#8230; <em>Brad</em>. Tsah.</p>
<p>Hal yang paling membedakan antara bangunan universitas Utrecht dengan kampus-kampus lain yang gue pernah jambangi adalah tata letak ruang kuliahnya. Kalau di UI, semua bangunan universitas ada di satu lokasi, dengan Salemba sebagai pengecualian. Begitu juga dengan Pelita Harapan, atau Adelaide University. Tapi kalau di Utrecht, kampus menyebar di bagian kota dan tiap kelas berupa bangunan-bangunan semacam ruko gitu.</p>
<p>Ini salah bagian luar  kelas:</p>
<p><img src="http://radityadika.com/wp-content/uploads/2008/07/luar-kelas.jpg" /><br />
<em>berasa di film Godfather gitu gak sih? </em></p>
<p>Kira-kira ini bangunan-bangunan kelas. Tapi gak semuanya isinya kelas sih, beberapa ada yang kantor advertising, ada yang akupuntur, jadi nyampur-nyampur dengan usaha-usaha orang lain gitu. Beda banget sama tata letak universitas di Indonesia.</p>
<p><img src="http://radityadika.com/wp-content/uploads/2008/07/jalanan-kampus-2.jpg" /><br />
<em>Brad, si orang Indonesia fangki</em></p>
<p>It&#8217;s been very good course sih sampai sejauh ini. Gue belajar banyak tentang Eropa dari yang gue bayangkan sebelumnya. Pikiran gue jadi bener-bener kebuka, tentang permasalahan &#8220;identitas&#8221; orang Eropa, European Union, dan kebudayaan Eropa pada umumnya. It&#8217;s been fun.</p>
<p>So yeah, sekarang jam 10.37 malem, dan besok gue harus berangkat jam 7 ke Belgia.<br />
More fun to come.</p>
<p>Oh ya, untuk menutup, udah lama gue gak naro email kiriman pembaca di sini.<br />
Yang ini bener-bener aneh sampai gue harus pasang di sini&#8230;</p>
<p><strong>email dari Khairul Rumam:</strong></p>
<p><strong>dear radit</strong></p>
<p><strong>hallo salam kenal,gw umam,<br />
gw cuma pengen kasih terawangan gw buat seorang superradititit,hhhe<br />
gini,gw pengen kasih tw lo klo pembaca buku lo sekarang  dh makin luas,gk terkecuali cewek, dan<br />
lo pernah nulis dibuku lo klo lo nyari cwe yg blm pernah baca buku lo,krn takut cwe tersebut dh keburu ilfil n lo di cengin abis2an hhe,nah atas prefensi itulah gw menarik kesimpulan makin banyak cwe yg banyk baca buku lo and cwe makin banyak yg ilfil ma lo,hhe, dan penerawangan gw,peluang lo bakalan besar utk jd seorang homo,Hhhhhhaaaaa.</strong></p>
<p><strong>umam<br />
jakarta</strong></p>
<p>Terimakasih atas terawangannya, Khairul Rumam.<br />
Kawin dah lo ama Mama Lauren.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://radityadika.com/jadi-siswa-lagi/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Orang-Orang Tersesat Itu..</title>
		<link>http://radityadika.com/orang-orang-tersesat-itu/</link>
		<comments>http://radityadika.com/orang-orang-tersesat-itu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Jul 2008 17:20:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>radith</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://radityadika.com/orang-orang-tersesat-itu/</guid>
		<description><![CDATA[So how&#8217;s your holiday so far?
Liburan gue kali ini menyenangkan. 
Ya ya ya, secara teknis ini bukan &#8220;liburan&#8221;, tapi summer course di Utrecht. Tapi, di sini bener-bener menyenangkan sampai-sampai bagi gue jadi berasa liburan banget. Gue menikmati waktu-waktu gue sendirian di sini, semuanya begitu tenang, damai, dan my god, Utrecht, adalah kota yang cantik sekali. 
Eniwei, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>So how&#8217;s your holiday so far?<br />
Liburan gue kali ini menyenangkan. </p>
<p>Ya ya ya, secara teknis ini bukan &#8220;liburan&#8221;, tapi summer course di Utrecht. Tapi, di sini bener-bener menyenangkan sampai-sampai bagi gue jadi berasa liburan banget. Gue menikmati waktu-waktu gue sendirian di sini, semuanya begitu tenang, damai, dan my god, Utrecht, adalah kota yang cantik sekali. </p>
<p>Eniwei, kelas gue baru dimulai besok, jadi hari ini gue gak ngelakuin kegiatan yang worth noting. Tadi pagi pas daftar ulang sempet ketemu beberapa calon temen sekelas. Rata-rata dari Hongkong dan Amerika. Sedangkan, temen satu flat gue pasangan Turki. So, kehidupan sosial gue dalam beberapa hari ini bakalan rame abis.</p>
<p>Ngomongin liburan, gue udah nerima banyak foto pembaca yang menjawab tantangan gue untuk &#8220;kayang saat berlibur&#8221; di <a href="http://radityadika.com/tantangan-balik/" target="_blank">postingan yang ini</a>. Dan sekarang gue persembahkan, tiga orang tersesat yang kayang di tempat liburan mereka masing-masing. Mari kita doakan agar mereka kembali ke jalan yang benar:</p>
<p><strong>1. Muhammad Suhandwifa, Kuburan</strong><br />
<img src="http://radityadika.com/wp-content/uploads/2008/07/kayang-kuburan.jpg" />  <br />
<em>ternyata, ada orang yang berlibur di kuburan</em><strong></p>
<p>2. Faikar Izzani, Hong Kong</strong><br />
<img src="http://radityadika.com/wp-content/uploads/2008/07/beijing.jpg" /><br />
<em>berasa salah satu atlit olimpiade Beijing</em><strong></p>
<p>3. Ghani, Monas.</strong><br />
<img src="http://radityadika.com/wp-content/uploads/2008/07/madesu-3.JPG" /><br />
<em>entah apa yang diucapkan dalam hati oleh orang-orang yang berlalu-lalang</em></p>
<p>So, there it goes.<br />
Kasian ya?</p>
<p>Bagi yang udah ikutan dan fotonya belom dipajang, gue berterimakasih dan minta maaf. Kalau gue pajang semua websitenya bakalan jadi berat banget. Ntar kita bikin acara main-main bareng lagi ya. <img src='http://radityadika.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>PS: Makasi banget untuk yang nge-add gue di <a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=544486963">facebook</a>. It turns out to be, gue suka banget sama fitur-fiturnya facebook. Gue jarang maenin aplikasinya, tapi gue menyarankan nge-add gue di FB aja daripada Friendster. Eniwei lagi, gue ada myspace music sekarang, jadi yang mau denger lagu-lagu gue, bisa didownload dan didengarkan <a href="http://myspace.com/radityadikaproject">di sini</a>. Cheers.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://radityadika.com/orang-orang-tersesat-itu/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Hal-hal di Belanda yang Bikin Gue Bengong</title>
		<link>http://radityadika.com/hal-hal-di-belanda-yang-bikin-gue-bengong/</link>
		<comments>http://radityadika.com/hal-hal-di-belanda-yang-bikin-gue-bengong/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Jul 2008 19:43:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>radith</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://radityadika.com/hal-hal-di-belanda-yang-bikin-gue-bengong/</guid>
		<description><![CDATA[1. Orang-orang di sini jarang mandi, dalam seminggu hanya beberapa kali mandi. Agak masuk akal juga, soalnya kalau kita keseringan mandi kulit bisa kering banget.
2. Kalau ada makan-makan pas lagi ulangtahun dan kita diundang, jangan seneng dulu. Kalau di sini, begitu makan-makannya bubar, kita disuruh bayar sendiri-sendiri. 
3. WC umumnya agak-agak eksibisionis seperti dibawah ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>1. Orang-orang di sini jarang mandi, dalam seminggu hanya beberapa kali mandi. Agak masuk akal juga, soalnya kalau kita keseringan mandi kulit bisa kering banget.</p>
<p>2. Kalau ada makan-makan pas lagi ulangtahun dan kita diundang, jangan seneng dulu. Kalau di sini, begitu makan-makannya bubar, kita disuruh bayar sendiri-sendiri. </p>
<p>3. WC umumnya agak-agak eksibisionis seperti dibawah ini (gue gak kencing beneran!):</p>
<p><img src="http://radityadika.com/wp-content/uploads/2008/07/wc-umum-aneh.jpg" alt="" /><br />
<i>ini baru namanya WC yang bener-bener &#8220;umum&#8221;</i></p>
<p>4. Mereka actually mengira kalau lumpia berasal dari vietnam, seperti foto yang gue ambil dari salah satu stand lumpia:</p>
<p><img src="http://radityadika.com/wp-content/uploads/2008/07/lumpia-vietnam.jpg" alt="" /><br />
<i>apakah semarang ada di vietnam?</i></p>
<p>5. Ternyata, kita gak usah bisa bahasa Belanda untuk bisa survive di sini. Temen-temen Indonesia yang ada di sini rata-rata kemampuan bahasa Belandanya engga bisa sama sekali. Bahasa Inggris mereka bagus. </p>
<p>Ngomong-ngomong bahasa belanda, gue mencatat momen bersejarah: pertama kalinya berdialog dengan orang Belanda dan berhasil. Kejadian kronologisnya: gue aus, ngeiat ada toko roti, minta diajarin ngomong &#8220;minta aer putih&#8221; sama Rizky, dan beli sendiri. Gue datengin penjualnya dan gue bilang, &#8220;Spableau!&#8221; Dan berhasil saudara-saudara. Berhasil. Gue dapet satu botol aer putih. Berikut foto yang diambil setelah momen bersejarah tersebut:</p>
<p><img src="http://radityadika.com/wp-content/uploads/2008/07/momen-bersejarah.jpg" alt="" /><br />
<i>Raditya Dika, si expert bahasa Belanda</i></p>
<p>Btw, belakangan gue dikasih tau, spa bleu ternyata bukan bahasa Belanda sama sekali, tapi lebih kayak merek minuman. Jadi sama aja kayak minta &#8220;Aqua&#8221; dan dikasih aer putih. Biarin aja deh, yang penting gue beli aer. (gak mo kalah).</p>
<p>PS: gue udah banyak nerima foto kayang para pembaca yang lagi liburan. Keep em coming guys, di postingan berikutnya, gue pajang yang paling menarik. Hehehe.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://radityadika.com/hal-hal-di-belanda-yang-bikin-gue-bengong/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Tantangan Balik!</title>
		<link>http://radityadika.com/tantangan-balik/</link>
		<comments>http://radityadika.com/tantangan-balik/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Jul 2008 17:51:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>radith</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://radityadika.com/tantangan-balik/</guid>
		<description><![CDATA[Yes, gue sekarang lagi di Utrecht, Belanda. 
Ada baiknya gue ceritakan kembali secara kronologis, bagaimana gue bisa terdampar di Utrecht. Pertama-tama, gue dapet invitation dari Netherland Education Support Office Indonesia untuk belajar di Utrecht, semacem beasiswa gitu. Karena gue lagi libur kuliah, dan course-nya cuman dua minggu, gue pikir, &#8220;Kenapa engga?&#8221;. Lalu gue urus VISA [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Yes, gue sekarang lagi di Utrecht, Belanda. </p>
<p>Ada baiknya gue ceritakan kembali secara kronologis, bagaimana gue bisa terdampar di Utrecht. Pertama-tama, gue dapet invitation dari Netherland Education Support Office Indonesia untuk belajar di Utrecht, semacem beasiswa gitu. Karena gue lagi libur kuliah, dan course-nya cuman dua minggu, gue pikir, &#8220;Kenapa engga?&#8221;. Lalu gue urus VISA Eropa (Schengen) yang surprisingly bener-bener gampang), lalu gue ke airport, ngurus fiskal, bla bla bla&#8230; 12 jam penerbangan kemudian&#8230; gue tiba di bandara Schipol, Belanda, dengan leher bengkok ke kanan gara-gara salah tidur.</p>
<p>Lanjut,</p>
<p>Ketakutan terbesar gue di Belanda adalah kendala bahasa. Gue SAMA SEKALI gak bisa bahasa Belanda. Namun, begitu sampe bandara Schipol, gue cukup merasa lega karena kendala bahasa tidak menjadi masalah. Hal ini disebabkan oleh:</p>
<p>1. Gue dijemput di Schipol sama Rizky, mahasiswa S3 Indonesia yang lagi belajar di Utrecht yang sangat-sangat baik sekali  bantuin beli tiket kereta, beli kartu telepon, dan lain-lain.<br />
2. Ternyata orang Belanda cukup fasih berbicara bahasa Inggris.<br />
3. Jika ternyata lawan bicara gue gak bisa bahasa Inggris, gue akan menggunakan bahasa pergaulan dunia yang bisa diterima di mana saja di dunia, yaitu: bahasa Tarzan. Bahasa Tarzan adalah sejenis bahasa yang menggunakan kombinasi gerakan tangan, kaki, serta mulut buka-tutup tanpa suara untuk menunjukkan maksud tertentu. </p>
<p>Belum ada satu jam turun pesawat,<br />
Rizky langsung ngajakin gue ke Amsterdam,</p>
<p>Rizky: Kita kemana? Mau langsung ke Utrecht? Apa Amsterdam?<br />
Gue: Koper gue gimana ntar kalo langsung ke Ams?<br />
Rizky: Taro di penitipan koper aja di Amsterdam.<br />
Gue: Bisa ya? Hmmm.</p>
<p>Wah, dilematis nih.</p>
<p>Gue belom mandi, baru turun dari pesawat, dan mata udah mulai berkantung,<br />
meskipun begitu, gue pengen banget jalan-jalan.</p>
<p>Rizky: Gimana, Dit? Ke Amsterdam gak?<br />
Gue: (tanpa pikir panjang) BERANGKAAAAT!</p>
<p>So, sambil geret-geret koper, kita ngambil kereta ke Amsterdam.<br />
dua puluh menit kemudian, gue tiba.</p>
<p>Kita ngider-ngider kota Amsterdam, yang sepi banget berhubung kita jalan jam sembilan pagi, jadi toko masih belum pada buka. Setelah agak capek dan laper, kita berhenti untuk sarapan di sebuah kedai kecil di pinggir jalan. Wisata kuliner Belanda gue pun dimulai dengan menghantam sandwich italian bread yang rasanya agak-agak salty gitu. Hmmmmm&#8230; enak tenan. </p>
<p><img src="http://radityadika.com/wp-content/uploads/2008/07/sarapan.jpg" alt="" /><br />
<i>muka penuh rasa lapar</i></p>
<p>Memenuhi tantangan pembaca gue di <a href="http://radityadika.com/adelaide-belanda-stress">postingan yang ini</a>, gue pun kayang di depan Royal Palace, di Dam Square, Amsterdam. Oh indahnya kayangku, dengan bentuk U terbalik yang sempurna. Penuh kedamaian, sungguh menggugah hati. </p>
<p><img src="http://radityadika.com/wp-content/uploads/2008/07/kayang.jpg" alt="" /><br />
<i>tidak ada turis sekampung ini</i></p>
<p>Gue dan Rizky kembali ngider-ngider kota Amsterdam. To be honest, gue kira Amsterdam bakalan seperti New York yang megah, besar, kosmopolit. Tapi ternyata lebih sepi dari yang gue bayangin. Kalau dibandingin, Jakarta sama Amsterdam jauuuuuh banget lebih rame Jakarta. Mall-nya juga banyakan Jakarta, macetnya juga, dan sibuknya juga. Amsterdam ternyata lebih relaxed dari yang gue bayangkan.</p>
<p>Yang bagus dari Amsterdam, tramnya cantik-cantik, dan susunan kotanya bener-bener rapi. Pemandangannya juga menarik, dengan bangunan tua yang dilestarikan, dihiasi oleh taman-taman kota yang kecil. Banyak anjing yang lucu-lucu berjalan-jalan di Amsterdam. Di dalam tram gue sempet ngeliat keluar ada satu anjing kecil yang berjalan sama pemiliknya, dan gue bilang dengan nada sok imut, &#8220;Ih liat, anjingnya lucu banget. Ih liat anjing lari-lari ke deket kanal. Ih liat anjingnya.. anjingnya.. MASYALLAH ANJINGNYA E&#8217;EK!!!!!&#8221; Gue mau muntah.</p>
<p>Ngomong-ngomong kanal,<br />
begitu ketemu kanal, gue langsung kayang. </p>
<p><img src="http://radityadika.com/wp-content/uploads/2008/07/kayang-danau.jpg" alt="" /><br />
<i>tetep: tidak ada turis sekampung ini</i></p>
<p>Nah, I keep my promise don&#8217;t I?<br />
Sekarang, gantian gue menantang,</p>
<ul><b><u>TANTANGAN RADITH:</u><br />
Bagi yang lagi liburan, beranikah Anda kayang di tempat liburan Anda?!<br />
kirimkan foto kayang Anda ke raditya.dika@gmail.com.<br />
Foto kayang paling menarik akan dipajang di website ini.</b></ul>
<p>Dari Amsterdam gue balik lagi Utrecht,<br />
dan sekarang lagi ngaso-ngaso di flat-nya Rizky. </p>
<p>Oke,<br />
segitu dulu deh. </p>
<p>Kelas gue di Utrecht University baru mulai Senin depan, so I have plenty of time untuk main-main (dan istirahat). Kabarnya, dormitori tempat gue tinggal nanti punya akses internet sepanjang hari. Ini berarti: bisa posting seenak jidat. Hohohohoho. </p>
<p>Nantikan cerita hari-hari gue jadi international student lagi di Belanda!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://radityadika.com/tantangan-balik/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Sajak Seseorang yang Hendak Pulang</title>
		<link>http://radityadika.com/sajak-seseorang-yang-hendak-pulang/</link>
		<comments>http://radityadika.com/sajak-seseorang-yang-hendak-pulang/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Jul 2008 11:10:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>radith</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://radityadika.com/sajak-seseorang-yang-hendak-pulang/</guid>
		<description><![CDATA[memandang orang berjalan,
dari dalam tram di Melbourne,
saya jadi berpikir,
ternyata, kesenangan dalam sebuah pengembaraan,
datang bukan dari tiba di tempat yang dituju,

tapi kesenangan datang,
dari perjalanan itu sendiri:
dari langkah kaki yang lelah berjalan,
dari jam yang belum sempat diputar,
dari telepon jarak jauh itu,
dari rasa kangen,
pada masakan pinggir jalan,
yang biasa dimakan,
dengan tergesa-gesa.
dari penyadaran,
bahwa kita berjalan, berjalan, berjalan,
berjalan, berjalan,
dan berjalan..
untuk sampai,
pada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>memandang orang berjalan,<br />
dari dalam tram di Melbourne,<br />
saya jadi berpikir,</p>
<p>ternyata, kesenangan dalam sebuah pengembaraan,<br />
datang bukan dari tiba di tempat yang dituju,</p>
<p><img src="http://radityadika.com/wp-content/uploads/2008/07/hoodietrammelb.jpg" alt="" /></p>
<p>tapi kesenangan datang,<br />
dari perjalanan itu sendiri:</p>
<p>dari langkah kaki yang lelah berjalan,<br />
dari jam yang belum sempat diputar,<br />
dari telepon jarak jauh itu,</p>
<p>dari rasa kangen,<br />
pada masakan pinggir jalan,<br />
yang biasa dimakan,<br />
dengan tergesa-gesa.</p>
<p>dari penyadaran,<br />
bahwa kita berjalan, berjalan, berjalan,<br />
berjalan, berjalan,<br />
dan berjalan..</p>
<p>untuk sampai,<br />
pada rasa tidak sabar,<br />
untuk menceritakan ini semua,<br />
pada orang lain.</p>
<p>PS: aaaah gue gak sempet kayaaangggg, di sini gagal mulu nih. Huhuhuhu. Doakan gue di Belanda lancar-lancar saja! Cabut dulu ke Jakarta, istirahat sehari, terus lanjut ke Belanda yak!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://radityadika.com/sajak-seseorang-yang-hendak-pulang/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
