H minus tiga

Ternyata gue berangkat hari Senin malem,bukan hari minggu, so… sekarang masih H minus tiga. Seperti bisa diduga, semakin deket hari keberangkatan, maka semuanya semakin rusuh. Pekerjaan yang dikebut, gue masih ngutang beberapa tulisan yang over-deadline, sementara hari Sabtu gue masih ada kuliah pagi dua kelas pula. Oh well…

Yang baru gue kerjain kemaren:

1. Kemarin gue foto-foto di tempatnya mas Rudi ceritanya buat stok foto-foto pacaran sama Fiza. Pas gue sadarin, kebanyakan hasilnya gue jadi lebih kayak berondong peliharaan dan Fiza jadi tante girang-nya. Hahaha. Tempat pacarannya juga gak lazim abis, kita foto di latar belakang ladang hijau yang luas, di deket pohon, di dekat Pura-Pura Bali. Pas fotonya diambil gue sama Fiza juga kebanyakan pas lagi ngomel-ngomelin satu sama lain, jadinya kayak orang berantem bukan pacaran. Hahahaha. Tapi jadinya lucu sih, gue mau pajang di sini eh fotonya lupa ke ambil.

2. Kemarin gue juga ada sesi latihan band, karena di filmnya bakalan ada enam scene ngeband. Seru juga, sambil foto-foto dan nyanyi-nyanyi. Oh ya, lagu yang dipakai di filmnya ada salah satu dari lagu gue yang judulnya Selamanya. Bisa dilihat di myspace gue. Untuk download, gue juga gak ngerti kenapa sebagian orang punya masalah pas mau ngedownload lagunya di myspace, mungkin yang udah bisa download bisa share gimana caranya.

Sementara, yang belum dikerjakan:

1. Potong rambut. Mbak Tyas (produser) pengen rambut gue bener-bener kayak pas kuliah dulu: pendek dengan poni dikit di bagian depan agak-agak ikal gitu, atau dengan kata lain… cupu.  Masalahnya, gue belum nemu waktu yang pas buat motong rambut.

2. Hari ini ada syukuran produksi menjelang hari pertama shooting, bakal ada semua cast, kru, orang-orang yang terlibat,  dan temen-temen dari media.

3. Nyiapin buku buat dibaca di pesawat, nambah-nambahin lagu di Ipod biar gak bosen.

4. Ngurus Blackberry XL gue supaya roamingnya kebuka. Kalau engga, gue gak bakalan bisa berkomunikasi dengan siapa pun pas di Australia nanti.

5. Nyelesein beberapa halaman project baru, supaya gak ketumpuk pas selesai shooting.

***

Berkat Jeanny, gue jadi tahu ternyata nama gue masuk di buku Ensiklopedia Sastra Indonesia sebagai penulis. Ini jelas kehormatan besar buat gue, berhubung buku gue sama sekali gak ada bau-bau “sastra”-nya. Tapi, ini jadi mencurigakan, ketika Jeanny ngasih lihat halaman profil gue, di halaman 355. Perhatikan kalimat yang dilingkari merah:

Sumpah aneh abis. Kenapa juga si penulis buku ini bilang cita-cita gue “mencerdaskan bangsa”? Hahahahaha. Gue ngakak banget pas baca kalimat terakhir itu. Gue gak diinterview dan gak diapa-apain, eh ditulisnya kayak gitu. Pasti cuman copy paste dari “tentang penulis” di buku Kambingjantan tuh. Hahahaha. Gue kebayang ada bule professor yang pengen tahu tentang sastra Indonesia dan membeli buku itu, terus dia baca pas profil gue, dia mungkin bilang, “Heybhat jugha si Radithya iyni yha. Dhia ingin mencherdaskan bhangsanya. So fangki yes? Yes, fangki.”

***

Yep. Ribet lagi dulu ya. Laters!

255 thoughts on “H minus tiga

  1. Ada cara yg lebih praktis buat ambil MoneyGram. Buka acocunt Lippo, lalu setiap kita mau ambil MoneyGram kita cantumin no acc kita di lembar MoneyGram. Gak perlu beli materai, gak perlu antri buat ambil duit nya (cash), jadi duit langsung masuk ke rekening kita. Dalam 15 menit bisa diambil via ATM.Tapi tetep harus fotocopy ktp, dan masih harus antri buat nyerahin lembar MoneyGram nya. Setidaknya itu aja udah ngehemat waktu beberapa puluh menit.Idelnya sih kalo kiriman duit dari LN pakai paypal withdraw langsung di ATM, atau kirim via transfer bank. Tapi yg terakhir ini prosesnya sering suit.[]

  2. korek api jenis apapun aeambnfrat sesuai jenisnyajaman susah, pada pake korek kayu dan kelebihannya cukup banyak:1. Buat korek kuping kalo lg stress2. Buat gigit2 b’gaya kalo gak punya rokok3. Buat tusuk gigi darurat4. Bisa buat colekin dewi sandra yg lagi ngelamunin orang ganteng5. buat mentungin maling sambil ditabrakin pake truck

  3. Sistem 3 digit ini sebenarnya bduiat untuk mempermudah proses pendaftaran, khususnya konfirmasi pembayaran. Kalau harus kirim bukti transfer dst, memang bisa juga, tapi sering merepotkan di pendaftar. Sedangkan kami tak mau merepotkan para pendaftar. Karena itulah sistem 3 digit ini diterapkan agar bisa praktis.Tapi kalau Mas Zainal tidak suka pada sistem 3 digit dan lebih memilih untuk mengirim bukti konfirmasi ke email kami misalnya, dipersilahkan.Semoga penjelasannya membantu ya

  4. , we are dealing with metaphysical bafflegab. The terms yin and yang are metaphysical bafflegab terms. Please desist from putting words into my mouth, and learn to read with discernment. My argument is actually that cocoa is bitter, and peanuts are not, and chocolate is a stimulant,whereas peanuts are not. Bitter and Sour flavours are associate with yang (in Wu Xing theory, or as the semi literate refer to it, “Five Elements” theory). Though I began with the commercial products, in all of their highly processed forms, I quickly retreated from that, because the processed forms do not offer answers as shown by the arguments against my explanation. Their is an extensive range of materials that can be considered “peanut butter” and “chocolate”, though in this situation we are dealing with the most modified of commercial products, as this question would not be asked unless their is an association, and the association usually presented is the commercial one of “peanut butter cups”. However, to ascertain a less biased answer, I actually took it back to base ingredients, since the commercial products are both “sweet”, and therefore neither yin nor yang. Colour had nothing to do with my reasoning. More evidence of the correlations: peanuts are used as bar food, whereas chocolate is not. Drunkeness is a state of unbalanced yang, induced by the input of additional yang energies. Peanuts are there to counter this, bringing one closer to a state of harmony, and therefore yin.The assoication of chocolate with females is actually counterproductive to the claim that it is yin. The natural ideal state is to be in a state of balance. Females have a greater tie to chocolate, but the evidence is that is the case because it is somewhat of a male replacement (it causes the release of similar hormones etc). Much like the peanuts countering the excess forces of yang that is drunkeness, the limitless yin of the female is offset by chocolate by bringing them closer to harmonious balance. Ergo, chocolate must be yang to achieve such a state of balance. One could also argue that what we are dealing with are a type of chocolate (one modified by a filling), rather than a type of peanut butter (which has been modified by another ingredient). This puts the peanut butter in a subordinate position to the chocolate in this situation. Since chocolate is dominant (one eats peanut butter and chocolate together when one is looking to eat chocolate, not when one is looking to eat peanut butter), it must be yang in this situation.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>