On In Love and Not Being Able to Write Pretty Words
Kata orang, kalo mau ngeblog,
tulislah perasaan paling kuat yang lagi kamu rasakan.
Well, saya lagi jatuh cinta,
dan saya ingin menulis tentang itu.
Now, this is the problem. Saya takut menulis tentang cinta. You know, tulisan tentang cinta, adalah tulisan yang paling susah untuk ditulis. Karena, sangat susah menulis tentang cinta tanpa terlihat dangdut, corny, atau downright menya-menye. Saya tidak ingin tulisan yang saya buat jadi terlihat seperti surat cinta mbak-mbak dan mas-mas pembantu rumah: “Kalau kamu jadi madu, aku jadi lebahnya.” Hoek. Atau, “Kalau kamu jadi kumbang, aku jadi sepedanya… sepeda kumbang.” Dobel hoek.
For me, what I have with you now,
lebih dari analogi yang melibatkan serangga.
Hmmmmm…
Tapi kalau mau dianalogikan, let me get a shot: falling in love with you is like prasmanan tanpa pernah terpuaskan. Semua detail-detail sifat yang kamu tawarkan: quirkiness kamu, ketidaklaziman kamu, kemengertian kamu terhadap keanehanku (begitu pun sebaliknya), seperti di tawarkan dalam piring-piring buffet dengan silver platter yang menyala rapih. Dan kuambil. Kukonsumsi. Namun, aku masih kelaparan. Lalu kuambil, kukonsumsi kembali. Dan aku, tetap kelaparan. Saya bisa menyalahkan ini kepada sifat aku yang menagih -dan tidak pernah puas-, atau kepada kamu yang terus menawarkan cita-rasa yang tak kunjung habis. Atau, kepada keduanya. I can only sum it up: I. Can’t. Get. Enough. Of. You.
Waduh. Maaf, lagi puasa,
jadi analoginya nyambung ke makanan.
Tuh kan. Maybe I can’t find cool analogies, pretty metaphors, or write a lovey dopey poem (you know, yang kayak “ketika langit tak berbintang, maka aku..”. Damn, Triple hoek dengan cuh), I definitely can’t write music. I’m a comedy writer, therefore I’m not even good with words for these kind of things.
So, I’m gonna make this ultra-simple,
the most primitive form of telling how I feel: “I love you”.
And I love being with you! I love your giggle, your silly grin, your energetic story-telling (with your hands waving aroud), your sharp bitchiness. I love our awkwardness when our hands meet, and the fact we act it cool.Oh and I love the way you walk, the way you dance, the way you sing (god, the way you sing make angels sound like Doraemon!) and how you apply your personality in a paste. I love the look in your eyes when you showed me those MJ videos, Bruce Lee interviews, those reflective eyes, longing for perfection, filled with deep thoughts and ambitions. The ambitions that I share. The way of thinking that I understand. The unconventional person, you are. You are the odd-shaped jigsaw puzzle that I’m looking to fit. And you completed me.
Thus, when they ask me: why do you love her?
I can safely say: what is not to love?
So, I am welcoming you to my life.
Now, let’s do this together, love.
PS: There. The first rule of blogging: write what you feel. Safely done. No insects involved.




October 30th, 2009 at 7:21 pm
[...] Kali ini saya akan menghadirkan testimoni2 indah lainnya. karena saya sadar, akan sulit menulis hal tentang cinta tanpa disertai hal – hal yang terkesan cengeng, corny, dll. (Raditya Dika). [...]
October 12th, 2009 at 8:37 am
[...] selama ini saya selalu liat segalanya dalam ukuran keegoisan diri sendiri dan pribadi.. saya sibuk dengan ambisi pribadi dan pemaksaan agar setiap orang harus ngertiin saya tanpa adanya reciprocal yang baik dari diri saya pribadi.. saya ingin sang pacar mengerti saya.. menuntut dia untuk jadi seperti yang saya mau.. dan lupa dengan keunikan yang dia miliki, cara mencintainya yang unik, keegoisan prianya yang unik, ambisinya dalam hidup yang unik.. bukankah saya mencintainya karna dia unik.. kenapa sekarang saya turn into wanita kebanyakan, wanita sinetron lainnya… for this time being.. saya sudah bisa menerima kamu.. dan saya belajar untuk ingat kenapa saya mencintai kamu *thanks to raditya dika for inspiring this* [...]
October 5th, 2009 at 5:09 pm
[...] blognya Dika dan siapa tau gue menemukan sebuah bentuk klarifikasi. Yeay, dan setalah gue baca blog ini kayaknya iya deh beneran mereka jadian, rumpi yha [...]
August 24th, 2009 at 1:13 pm
[...] View post: On In Love as well as Not Being Able to Write Pretty Words [...]
August 24th, 2009 at 12:24 pm
[...] View post: On In Love and Not Being Able to Write Pretty Words [...]