H-24: What I Learned From Salman Aristo
Minggu kemarin banyak media yang mewawancara gue, mulai dari Kompas sampai ke Showbiz. Mungkin karena hype film Kambingjantan udah mulai kedengeran kali ya? Atau gue diduga sebagai pacar rahasia Ryan Jombang? Entahlah. Di antara pertanyaan-pertanyaan yang itu-itu aja, dengan jawaban yang itu-itu aja, ada satu wartawan yang bertanya:
“Mas, apa sih rahasianya untuk bisa membagi waktu kerja, nulis, kuliah di antara semua kesibukan ini?”
yang gue jawab, “Waduh, saya juga gak bisa baginya tuh.”
Gedubrak.
The truth is, hal ini baru gue sadarin akhir-akhir ini. Well, udah hampir setengah tahun terakhir sih ya..
Ternyata emang waktu, terutama waktu untuk menulis, jadi kemewahan banget buat gue.
Ini kerasa banget buat gue, yang biasanya hanya bisa “on” menulis kalau: 1) malem hari, atau 2) di cafe yang nyaman, atau 3) sedang tidak ada urusan mendesak yang harus diselesaikan. Masalahnya sekarang: 1) gue kalau pulang ke rumah udah lewat tengah malam (berasa jadi babi ngepet), 2) gak pernah ada waktu lagi ke cafe, dan 3) semua urusan sedang terasa mendesak. Ini jelas bagi gue, fakap banget. Gimana caranya gue menulis di tengah semua kehebohan ini?!

Gue dan Mas Salman Aristo
Problem ini terpecahkan pas gue ketemu sama Mas Salman Aristo beberapa waktu ini.
Gue: Mas Aris, masih sempet nulis gak sekarang?
Mas Aris: Masih dong.
Gue: Gimana caranya sih nyempilin waktu buat nulis?
Mas Aris: Dulu sih di rumah, tapi sekarang udah gak bisa lagi.
Gue: Jadi?
Mas Aris: Yah di mana aja sekarang. Gue sih ada supir, beli meja kecil di mobil, terus nulis pas lagi di mobil, terutama pas lagi macet.
Wow, that actually make sense.
Entah kenapa gue merasa sangat bodoh untuk tidak bisa berpikir sampai ke sana.
Gue harus beradaptasi sama kondisi gue sekarang. Seorang penulis gak boleh dimanjain dengan “hanya bisa menulis kalau…”. Harus ada perubahan di cara-cara gue menulis kreatif. Tidak boleh ada alasan untuk tidak menulis. Tidak boleh mem-procrastinator diri lagi. Tidak boleh malas. Tidak boleh manja.
Penulis tidak boleh manja.
Keesokan harinya, gue ke iBox Cilandak Town Square, gue pun langsung beli meja kecil, beli converter buat charger laptop di mobil… dan voila! Mobil gue pun berubah jadi tempat menulis. Sanctuary gue sendiri. Supir di depan, gue duduk di jok belakang, laptop di charge dan di taruh di atas meja. Dan pas kemaren di perjalanan ke Bandung, gue bisa ngelarin satu halaman naskah baru. Gue bisa ngerjain sinopsis buat skrip film. Gue bisa nulis ideas-ideas gue di jalanan. Gue bisa aktif di waktu yang biasa gue habiskan untuk bengong. Dan gue.. tinggal nungguin aki mobil gue jebol.
Di antara belajar membuat konstruksi skrip film yang kuat (Mas Aris adalah penulis utama skrip film Kambingjantan yang menaungi Mouly Surya dan gue), berkenalan dengan Woody Allen, tahu pentingnya sebuah struktur penceritaan, ternyata masih banyak yang gue harus pelajarin dari seorang Salman Aristo.
I’ll catch up with you soon, Mas. Nulis lagi ah.



