Tadinya gue gak mau nanggepin sih dan mau posting foto-foto shooting,
tapi gerah juga lama-lama..
Nampaknya postingan gue yang kemaren menimbulkan banyak asumsi-asumsi yang aneh-aneh. Jadi daripada banyak yang salah nebak dan jadinya rancu, gue mau jelaskan sedikit bahwa: 1) Iya, gue jadian sama Fiza (bukan Edric! Demi Tuhan, bukan Edric!) 2) gue putus sama Diva bukan gara-gara Fiza, dan 3) gue masih orang yang sama seperti dulu.
Kenapa bisa timbul asumsi-asumsi aneh, komentar-komentar miring,
sampai gue harus bikin postingan seperti ini?
Gampang aja: gue baru saja sadar bahwa banyak banget orang yang menilai sebuah kejadian tanpa tahu apa yang terjadi sebenarnya. Banyak orang yang mengambil kesimpulan hanya dari apa yang mereka lihat, baca, dan tiba-tiba nebak sendiri. Banyak yang mengambil kesimpulan tanpa tahu apa yang terjadi di antara gue dan Diva, bahkan gue dan Kebo. Mereka tidak tahu apa yang sebenar-benarnya terjadi, lalu merajut informasi yang sepotong-sepotong ini menjadi fantasi mereka sendiri. Alesan gampangnya: orang selalu tertarik dengan cerita-cerita yang bombastis… jadi dengan informasi sepotong-sepotong ini mereka akan berusaha untuk membuatnya jadi sedramatis mungkin.
Begitu gue nulis ini gue juga baru selesai telponan sama Diva, dan gue cerita tentang banyak komen-komen seperti itu. Lucunya, dia biasa aja. Dia tahu sekarang gue jadian ama Fiza, dan dia juga gak pernah cerita apa pun ke orang lain. Gue masih baik-baik aja sama Diva, kita masih temenan baik. Diva bahkan mau rekaman satu lagu untuk album soundtrack KambingJantan The Movie, yang akan diproduseri Yoyo Padi.
Jadi,
semua asumsi itu salah.
Hmmmmmm… Gue jadi inget lagi kenapa gue harus berhenti menulis cerita yang terlalu pribadi dan sensitif ini di blog: karena tidak semua yang terjadi pada diri gue dan hubungan-hubungan gue harus gue ceritakan. Dan tidak banyak orang yang cukup dewasa untuk tidak mengambil kesimpulan sendiri dan menilai cerita orang lain dengan setengah matang.
Banyak hal yang tidak bisa gue buka di sini karena memang terlalu pribadi: alesan gue kenapa gak bisa balik lagi sama Kebo hingga detik ini (dan itu bagi gue sakiiiiiit banget) atau alesan kenapa gue putus sama Diva. Gue gak bisa cerita, karena… it’s too personal, bukan diumbar untuk dibaca 4000 orang per hari blog ini dan banyak hidup yang terlibat di cerita gue. Kalau gue cerita, gak bakalan jadi fair buat Kebo, gak bakalan jadi fair buat Diva. Yang jelas, gue gak pernah mutusin orang gara-gara ketemu orang baru. Yang jelas, gue gak pernah membuat mereka sebagai korban.
Jujur, gue bisa sama Fiza karena waktu itu gue udah putus sama Diva, dan gue menemukan orang yang bisa “ada” di sebelah gue, setidaknya saat itu. Gue ngerasa kalau gue ketemu Fiza di kesempatan yang lain, katakanlah di sebuah pesta ulangtahun, atau apa pun itu, pasti gue bakalan “jadi” juga sama dia. Sesimpel itu aja. Sama seperti orang-orang pada umumnya: mereka lagi gak ada pacar, ketemu orang cocok, dan semuanya lancar-lancar aja… jadi deh. Wajar kan? Jadi gue heran… kenapa harus dibuat gak wajar.
Rasanya cukup ah gue ngebahas ini di satu posting aja. Postingan berikutnya gue mau balik lagi ngomongin filmnya, ngomongin komik. Rasa-rasanya gue juga kapok untuk ngomongin hal-hal pribadi lagi di blog gue ini. Gue jadi nyadar, banyak kepala yang membaca bisa berarti banyak penilaian yang aneh. Gue paham itu.
Banyak juga yang merasa takut gue akan “berubah” setelah film ini. Satu hal yang harus temen-temen tahu: pembaca gue adalah segalanya buat gue. Gue bisa besar dan tumbuh dan difilmkan seperti ini adalah karena pembaca gue. Gak banyak hal yang bisa gue janjiin, tapi satu yang gue bisa pegang pasti: gue gak pernah lupa sama orang yang membesarkan gue. Gue gak pernah lupa sama pembaca gue, semua adegan yang ada di film, semua tulisan yang ada di buku, adalah jembatan emosional gue dengan orang yang mengapresiasi karya-karya gue.
Satu hal yang gue sangat sukai dengan menjadi penulis: menulis sesuatu adalah kegiatan yang sangat emosional, dan buku gue adalah media yang selalu gue pake untuk bercerita ke orang lain, untuk punya perasaan di dengarkan, untuk tahu bahwa di suatu tempat di suatu waktu, ada orang yang baca buku gue dan tertawa atas sesuatu yang gue tulis. Itu terlalu berharga untuk gue tutupin demi popularitas dan gaya-gayaan belaka. It’s true.
So, don’t you all worry, I won’t forget my roots. Gue gak bakalan jadi orang songong ala ala artis-artis itu lah. Gue gak bakalan operasi plastik, kawin di Amerika, atau punya anak adopsi dari Etiopia. Suwer samber geledek.
Satu hal lagi yang harus gue sampaikan:
I might not always know what I want.
But I always be true to myself.
Udah ah. Cukup ngomongin beginian. Gak penting abis. Berasa artis sinetron aja. Gue sampai detik ini selalu merasa, gue hanya seorang anak muda biasa yang cukup beruntung untuk punya buku, dan sekarang lain main film. Gue hanyalah orang yang berusaha memanfaatkan kesempatan yang gue dapat dengan sebaik-baiknya. Sama seperti kalian.
PS: Foto-foto syuting udah menumpuk, gue kayaknya mau bikinin FLICKR dan segala macemnya. Ada saran tempat nyimpen foto online di internet gak?
PS lagi: Hari ini gue ada di O Channel di program Work Hard Play Hard jam 22.30, dan besok gue ada di O Channel jam 23.00