Penyelidikan Atas Lagu Ayu Tingting

Saat pertama kali gue denger lagunya Ayu Tingting, gue langsung berpendapat “gile ini lagu galau maksimal“. Ceritanya di lagu itu emang sedih banget: si Ayu Tingting ditinggal cowoknya, dan pas dia ngedatengin rumah cowoknya.. ternyata alamat cowoknya palsu.

(yang belum denger lagunya, ada videonya di sini)


Iya mbak, sabar ya mbak..

Nah, setelah gue mendengarkan dengan seksama lagunya,
naluri detektif gue muncul.

Gue berpikir,
jangan-jangan sebenarnya yang salah adalah Ayu Tingting,
bukan cowoknya.

Gue dengerin lagi lagunya, gue baca liriknya.
Ternyata bener. Ada yang janggal.

Coba kita perhatikan lirik dalam lagu Ayu Tingting dan kejanggalan yang menyertai lirik lagu tersebut:

Kemana kemana kemana ku harus mencari kemana
Kekasih tercinta tak tahu rimbanya
Lama tak datang ke rumah
Dimana dimana dimana tinggalnya sekarang dimana

Di sini diceritakan bahwa cowoknya Ayu Tingting udah lama gak main ke rumah, dia mencari-cari si kekasih ini rimbanya di mana (cowoknya mungkin semacam Tarzan), dan pas ke alamat rumah si cowok eh palsu.

Ini berarti, selama Ayu Tingting berpacaran dengan cowok tersebut Ayu TingtTing belum pernah ke rumah cowok tersebut. Masa sih orang pacaran tapi belum tau rumah cowoknya di mana? Kesimpulan pertama: Ayu Tingting masih baru pacarannya sehingga belum sempet main ke rumah si cowok.

Kita analisa bait berikutnya:
Ke sana kemari membawa alamat
Namun yang ku temui bukan dirinya
Sayang yang ku terima alamat palsu

Ayu Tingting di sini cerita bahwa dia pergi kemana-mana bawa alamat ai cowok. Nyari alamat emang rada ribet, terutama kalau cowoknya tinggal di Jakarta. Belum lagi kalau Ayu TingTing dibuat nyasar sama tukang taksi. Wah, itu sedih banget bisa-bisa nyesel dan trauma naik taksi lagi (maaf, jadi curhat).

Dengan berasumsi bahwa Ayu Tingting betul-betul mendapat alamat tersebut dari cowoknya, gue mendapat kesimpulan kedua: si cowok sengaja memberikan alamat palsu kepada Ayu TingTing.

Ku tanya sama teman-teman semua
Tetapi mereka bilang tidak tahu
Sayang mungkin diriku tlah tertipu
Membuat aku frustrasi dibuatnya

Dari lirik di atas kita mengetahui bahwa Ayu Tingting bertanya kepada teman-temannya, tapi mereka tidak tahu apapun soal cowoknya. Nah, pertanyaannya adalah: di mana si Ayu Tingting kenalan sama cowoknya? Kok teman-temannya enggak tau? Kesimpulan ketiga: Ayu Tingting kenal cowoknya bukan dari teman-temannya, berarti dari suatu tempat pada suatu kebetulan.

Lirik berikutnya:

Dimana dimana dimana tinggalnya sekarang dimana

Ayu Tingting, sekali lagi bertanya di mana cowoknya berada. Emangnya cowoknya gak punya Foursquare? Di Twitter emangnya gak bisa dicari? Jangan-jangan mereka pacarannya belum terlalu akrab sampai belum tuker-tukeran Foursquare dan akun Twitter. Lalu, apa motivasi si cowok sehingga memberikan alamat palsu?

Maka, gue menarik kesimpulan inilah yang terjadi: Ayu Tingting kenalan sama cowok ini di halte bus, lalu si Ayu TingTing maksa-maksa buat ditembak saat itu juga, cowoknya nembak, mereka jadian, lima menit kemudian bus si cowok tiba, Ayu Tingting tidak memperbolehkan dia pergi, Ayu TingTing nanya nomer hape si cowok, lalu si cowok berbohong bilang ‘gue gak punya hape!’ dia lalu menuliskan alamat palsu di amplopnya dan bilang ‘ini rumah gue!’ lalu si cowok pergi. Ayu Tingting mencari alamatnya. Ayu Tingting galau. Bikin lagu deh.

Demikian hipotesa gue.

Bagian Paling Merepotkan Dari Membuat Buku

Setelah naskah buku baru gue selesai disetor ke penerbit (draft ke-3), judul berhasil ditetapkan (Manusia Setengah Salmon), dan jadwal terbit keluar (Desember 2011), maka masuklah kita kepada bagian paling ribet dari membuat buku: menentukan design cover.

Masih inget pepatah: jangan menilai buku dari covernya?
Pepatah itu salah.

Cover itu penting banget untuk sebuah buku. Kalau bukunya bagus tapi covernya aneh, pasti orang jadi gak suka. Itulah mengapa menentukan design cover yang bagus sangat penting dalam proses penerbitan sebuah buku. Sayangnya, proses ini biasanya juga yang paling susah.

Dari pengalaman gue selama ini, memilih design cover untuk buku baru perlu proses yang lama dan berubah-ubah. Tidak jarang design cover yang sudah capek2 dibuat eh ditolak oleh penerbit/distributor dan harus diganti dengan design lain.

Sebagai contoh, cover awal buku kelima gue, Marmut Merah Jambu,
tadinya begini:

Tapi, penerbit merasa kurang cocok, gue pun mencari designer cover baru, dan akhirnya cover yang disetujui, dan terbit di toko2 buku adalah yang ini:

Cover awal buku ketiga gue, Radikus Makankakus adalah ini:

Cover tersebut dirasa belum catchy, lantas setelah melalui proses yang panjang, cover yang akhirnya terbit adalah ini:

(Dan sekarang, Radikus Makankakus diterbitkan ulang dalam bentuk cover buku yang lain, yaitu ini:

Perhatikan bahwa muka gue jauh lebih hina di cover yang paling baru.)

Inti dari posting kali ini adalah: menentukan cover buku yang akan terbit sangat sulit. Buku Manusia Setengah Salmon sendiri belum disetujui covernya. Sejauh ini gue udah nyobain tiga orang designer grafis, dan belum ada yang cocok. Terakhir, karena sudah putus asa, gue akhirnya minta bantuan Dio Rudiman, komikus gue, untuk membuatkan design cover Manusia Setengah Salmon. Rencananya, tanggal 20 Oktober ini, dia akan menyelesaikannya.

Eniwei, followers gue di Twitter ada yang berinisiatif membuat design Manusia Setengah Salmon versi dia, dan jadinya begini:

Errr.. kenapa jadi kayak putra duyung gitu..
kayaknya enggak deh.

Doakan gue segera menemukan design cover untuk buku baru gue!

Manusia Setengah Salmon: Terbit Desember 2011

Buku baru gue akhirnya udah ketemu judulnya: Manusia Setengah Salmon.
Sama kayak buku sebelumnya,
judulnya ada aroma kebinatang-binatangannya. Hehe.

Mencari judul buku yang pas emang gampang-gampang susah.
Tadinya gue sempet kepikiran judulnya Salmon Galau aja,
tapi setelah bertanya ke banyak pihak,
mencari banyak pendapat,
tetep, kayaknya yang paling pas adalah Manusia Setengah Salmon.

Kenapa judulnya Manusia Setengah Salmon,
nah itu, tunggu aja pas bukunya terbit. Desember 2011. Hehe.

Kamis ini gue mau berangkat ke Bandung untuk foto cover bukunya,
yang nanti akan men-design covernya adalah Dio Rudiman,
komikus gue yang sangat berbakat.

Gue bakalan sering ngeblog,
untuk cerita tentang proses pengerjaan,
buku terbaru gue ini. So, stay tune!

Buku Baru Terbit Desember!

Gue lagi excited banget,
karena.. BUKU BARU GUE UDAH SELESAI DI TULIS!

Mhuahahahahahahahaha.

Naskahnya udah dikirim ke penerbit,
untuk segera diedit,
dan sekarang gue duduk2 ganteng aja,
nungguin kapan kelar diedit..

Jadwal terbitnya adalah Desember 2011.

Sekarang gue lagi sibuk nyari judul,
begitu judulnya udah ketemu gue akan infoin di sini.

Oh ya,
gue juga lagi dalam progress mengubah penampilan website ini,
mudah2an bulan depan bisa selesai.

Superexcited.

Postingan yang ada mobil kerennya

Jadi ceritanya gue baru balik dari nonton F1 Grand Prix di Singapura.

Pertama2, biar tidak timbul kesalahpahaman, gue mau bilang… gue gak ngerti F1. Pas gue cerita gue mau ke sana, followers di Twitter pada bilang “titip sama buat Lewis Hamilton ya, Bang!” gue cuma manggut2 mengang blekberi sambil mikir.. sapa pula Lewis Hamilton? Satu2nya pembalap yang namanya familiar di telinga gue adalah Dani Pedrosa, dan ternyata dia juga pembalap MotoGP, bukan F1. Hyah. Berhubung gue udah terlanjur di Singapura nonton F1, gue pelan2 mencari tau peraturannya dan mencari cara untuk menikmati nonton F1.

Gue sendiri udah beberapa kali ke Singapura, jadi pas sampai di sana gue langsung tau mau ngapain aja. Pertama2, setelah menaruh semua barang-barang di hotel, gue langsung cabut ke Bras Basah Complex. Setiap kali ke Singapura, gue lumayan sering ke Brash Basah, tempat ini penuh dengan buku2 bekas yang langka. Sebagai seorang kutubuku super, tentu gue langsung beringas ngambilin buku ini itu. Tempat yang paling jadi langganan gue banget adalah BookPoint di lantai 3. Gue banyak nemuin buku Haruki Murakami di sana.

Setelah jalan-jalan, gue ketemuan sama beberapa temen2 dari Singapore Tourism Board, dan diajakin makan di sebuah restoran Thailand di Clifford Bay. Restoran Thailandnya agak lebih ekstrim dari biasanya, tapi ternyata enak. Contohnya ini, makanan yang kelihatannya berbentuk bunga, tapi sebenarnya dari mangga, toge, dan saus kacang:

Di restoran yang sama,
gue juga makan ada leci yang dikasih sambel dalam saus kacang.
Asem, pedes, seret2 gimana gitu.

Dan ternyata gue menemukan, bahwa perjalanan gue ke Singapura nonton F1 kali ini banyak makannya. Kalau kemarin2 banyak jalan2, nyobain nemuin hal baru, ke museum, dan lain-lain.. sekarang jalan2 gue kali ini justru banyak berpusat ke makan. Dan ternyata makanan2 di Singapura endang bambang maksimal.

Misalnya, di restoran Wild Rocket makanan2 khas jajanan Singapura dibawa ke level fine dining. Ibaratnya, jajanan jelata ini di makeover menjadi bener2 keren dan jadi jauh lebih “mahal”. Contoh ini, es chendol aja jadi begini:


es cendol elit

Yang gue kerjakan di sana tentu bukan hanya makan, gue juga sempet ke St. James Powerstation, yaitu sebuah pusat listrik yang diubah menjadi tempat clubbing dengan 12 stage. Gue sempet mampir di stage khusus pop-mandarin di sana, walopun gak ngerti artinya tapi crowdnya rame banget. Jadi gue ikutan manggut2 aja deh.

Gue juga sempet ke Marina Bay Sands ke Louis Vitton yang baru.. dan cuman bisa ngiler. Gue juga mampir ke toko H&M yang baru buka di Orchard, dan beli satu baju.. sisanya ngiler. Yang jadi pengalaman seru juga gue nonton di teater Imax dengan layar cekung super besar, seakan-akan kita ikutan masuk di dalam filmnya. Jadi yah, seru2 banget.

Tapi tetep, makanan nomor satu! Ini dia makanan yang paling gue suka dari trip gue kemaren, yaitu Four Fingers Chicken. Sebuah chicken wings dengan saus soy-garlic extra enak:


nyandu banget

Saking sukanya gue makan four fingers chicken wings ini, gue makan sekali di jam 11, dan di jam 3 gue udah kembali lagi untuk makan lagi. Ya. Segitu enaknya. Gosip2nya di Jakarta ada cabangnya lho.

Kalo ini wagyu burger mini di Fullerton Hotel, ini endang bambangnya juga berlebihan:


seharusnya mulut gue tidak selebar itu

Masih inget tadi gue bilang gak ngerti F1 seruya di mana? Ternyata pas gue nonton F1 langsung di tempatnya.. seru banget. Gue duduk di sebelah bule2 yang aktif banget ngobrolin mesin, supir, dan taktik pit stop. Ternyata lebih banyak yang bisa dilihat dari F1 ketimbang hanya ngeliatin mobil jalan muter2. Yang tadinya gue nonton cuman sekilas2 aja, pas di bangku penonton jadi gemes sendiri kalau jagoan gue (Mark Webber) nyaris kebalap, atau membalap orang lain.


ini bukan foto hantu

Sebagai penutup, gue kasih foto gue sama mobil gue:


apa pun yang anda pikirkan, orang di sebelah mobil ini bukan supirnya

That was a fun trip! :D