Anggi

Comment by Email

di simpan di : rumah & keluarga
September 21, 2007 , 10:49 am

Dalam buku Radikus Makankakus, gue cerita soal adek gue Anggi, adek gue yang masih SD, dan kegemarannya menggambar komik (Stripper, halaman 193). Lucunya, semenjak gambarnya masuk buku Radikus, Anggi sekarang jadi suka ngejilid sendiri (baca: ngeklip) komik-komiknya yang lama menjadi sebuah buku.

Namanya juga anak SD yang dodol, ngeklip komikaja gak beres -hasil halamannya kebalik-balik. Ato menurut pembelaan Anggi, “Baca komikku emang agak susah bang, lompat-lompat. Sengaja, biar seru”. Edgar, adeknya, yang mengetahui kebenaran yang sesungguhnya, berkata, “Ah, itu mah dia aja bang yang salah ngeklip. Jadinya kebalik-balik halamannya!” Anggi gak terima, mereka pun berantem (yang akhirnya dimenangkan oleh Anggi yang berhasil mencakar Edgar dan menyebabkan Edgar lari pontang-panting ke arah dapur).

Eniwei, seperti yang dijanjikan, gue bakal ngasih poto-poto adek-adek gue. Ini adalah poto dan biodata singkat (baca: ngawur) yang gue tulis tentang Anggi. Kalo wujudnya Ingga, kembarannya, kurang lebih sama tapi lebih gendutan Ingga. Tadinya gue pengen Anggi nulis biodatanya sendiri, eh tapi kita jarang ketemu karena gue kalo pulang malem mulu. Jadi gue tulis aja biodatanya menurut sepengetahuan gue, yang sebenernya gak tau apa-apa. Mehehehehe.

Anggi hormat nazi
Ya, anak ini memang dididik secara Nazi

Nama Lengkap : Gianty Yuneztia Putri (Anggi)
Keluarga: Anak ke 4 dari 5 bersaudara
Jenis Kelamin : sepertinya Perempuan
Tempat/ Tanggal Lahir : Jakarta, 23 Maret 1996
Sekolah: Al Azhar Kemang
Kelas: Kayaknya kelas 5.. atau 6? Ah, pokoknya sekolah deh!
Kebangsaan : Jakarta Selatan
Acara TV Favorit: Sponge Bob sama Tukul (hampir mirip, emang)
Makanan Favorit: Mie goreng bikinan sendiri
Minuman Favorit: Fruit Tea rasa stroberi, jus jeruk gak pake jeruk
Binatang Favorit: Edgar
Mainan Favorit: boneka Bratz
Game Favorit: Pokemon
Teman Favorit: Mbak Irah (pembantu)
Hobi: Baca komik, bikin komik, ngasih makan Edgar
Artis Idola: Raffi Ahmad
Lagu favorit: Kekasih Sejati – Monita Idol, lagunya es krim Walls
Motto Hidup: “Ada gula ada semut”

Oh ya, selama bulan puasa ini gue gak ada talkshow. Jadi, untuk tanggal 29 di Toga Mas diundur sampai ada pemberitahuan lebih lanjut. Untuk toko-toko buku Gramedia lain gue juga dapet tawaran, tapi jadwal emang belom fix. Berita tentang talkshow atau apa pun akan diberitakan melalui website dan milis gue. So, smell ya later!

itu serbet, Edgar

Comment by Email

di simpan di : adek-adek
September 18, 2007 , 12:15 pm

So, how’s your fast? Many holes? (diterjemahkan ngawur: gimana puasanya? Banyak yang bolong?). Udah lama gue gak buka puasa bareng keluarga. Ya, salahkan pada jadwal kuliah gue yang sangat-sangat brutal. Setiap hari gue kerja jam 8 pagi, pulang jam 5, baru kuliah ampe jam 9 malem. Pulang ke rumah palingan udah jam 10, itu kalo biasa. Kalo lagi kangen dan nganterin pacar pulang gue bisa sampe ke rumah jam 12 malem. Tidur, dan ulangin lagi keesokan harinya deh.

Makanya, pas weekend kemaren gue bisa buka bareng keluarga, itu jadi hal yang “wah” banget buat gue. Kita, satu keluarga, punya rencana untuk buka di restoran korea deket rumah. Begitu hari yang ditentukan tiba, eh Bokap ada urusan kantor.. jadi yang buka puasa bareng cuman gue, nyokap dan empat orang adek-adek gue itu (Yudit, Ingga-Anggi, dan Edgar).

Hahhh, seharusnya gue tahu, kalo pergi sama empat adek gue itu, pasti kehebohan luar biasa. Yak, bener aja, baru naek mobil udah pada berisik. Pake ada sesi berantem segala yang terjadi antara Ingga dan Edgar. Penyebab pertikaian ini dimulai ketika Edgar ngerasa tempat duduknya di jok belakang terlalu sempit. Ingga, yang pantatnya segede bibir Ian Kasela, menjadi tersangka utama atas mubazirnya tempat duduk. Mereka pun bertengkar. Ingga tereak-tereak, “Edgar apa seeeeh, jangan geser-geser dooong!” Sementara Edgar membela diri, “Kamu tuh Ingga.. aku sempiiiiiit!”

Pertengkaran Ingga dan Edgar akhirnya bisa dilerai setelah gue naek pitam (ditandai dengan kalimat penuh rasa perasaudaraan seperti “Bisa diem gak, kalo engga… ABANG LEMPAR DARI JENDELA MOBIL!”). Yak, cara paling efektif dalam menghentikan pertengkaran saudara adalah mempraktikan kekerasan dalam rumah tangga.

Begitu makan di restoran korea, rebutan daging juga menjadi potensi bertengkar adik-kakak. Kita masak daging di restoran korea kayak di film-film survival itu, siapa yang kuat dia yang dapet daging, dialah yang akan bertahan hidup di rimba kehidupan ini. Yang lemah dan gak dapet daging? Silakan kelaparan dan mati meringkuk. Mehehehe.

Seperti bisa ditebak, gue malem itu paling banyak dapet daging karena kelihaian gue memainkan sumpit (ditambah sorot mata mengancam setiap ada adek gue yang dapet daging yang udah mateng). Di urutan kedua ada Yudith. Yang terakhir banget dapet daging cuman Ingga, itu juga karena dia duduknya di pojokan hingga susah ngedapetin daging-daging harum yang baru dimasak itu. Walhasil, Ingga pun meringkuk dan sekarat di pojokan.

Akhirnya kita semua senang dan kenyang, dan bersiap untuk pulang. Eh tiba-tiba Edgar dipanggil ama mbak-mbaknya. “Dek, itu jaketnya ketinggalan!” Ternyata, karena terlalu semangat, Edgar meninggalkan jaketnya bewarna garis-garis item putih di atas meja.

Edgar, yang malu ditegor, langsung balik ke meja, ngambil jaketnya, dan ngedekepnya sambil senyum tersapu-sapu. Ealah, baru jalan beberapa langkah, mbak-mbaknya tereak, “DEK, ITU BUKAN JAKETNYA, ITU SERBET!!!!!” Kita semua ngakak.

Ya ampun Edgar.. serbet dengan jaket, biarpun warnanya mirip.. BENTUKNYA JUGA KERASA BEDA. Emang bener-bener deh. Apa ada yang salah dengan indera peraba kamu, Edgar? Kayaknya emang indera perabanya gak beres deh. Gue gak bakal heran kalo suatu saat Edgar bertanya pada gue, “Abang, mukaku ini beneran muka apa pantat sih? Abis aku raba-raba teksturnya kayak pantat, Bang!”

Abis buka puasa bareng, gue langsung balik ke rumah. Dan entah kenapa, semaleman itu gue ngerasa bad mood banget. Gue tiduran bentar, sambil nontonin beberapa episode Prison Break season 2. Dan begitu tidur.. eh kelewat sahur.

On other things, gue lagi ngerasa kuliah gue rada terbengkalai neh. Berhubung di kantor lagi ada project lumayan bikin pusing. Catetan aja belom punya. Padahal, pelajaran perkuliahan gue lagi susah-susahnya dan dosennya banyak yang rebek. Terutama dosen gue hari sabtu, si kakek-kakek tua yang doyaaaan banget ngobrol sampe waktu pulang kuliah jadi melar gara-gara dia kebanyakan ngobrol. Gue curiga, jangan-jangan tuh kakek emang kesepian banget, di rumah gak ada temen, jadi dilampiaskan ke mahasiswa-mahasiswanya. Oh well, drama anak kuliahan. Hehe.

PS: gue dapet foto ini dari pembaca gue yang ngirimin email.

dari fitryati

Thx banget ya Fitriyati (v3_irvi***@yahoo.com). It looks really nice on you. :)

kematian, menurut Allen

Comment by Email

di simpan di : lagi bener
September 17, 2007 , 11:20 am

Pernah mikirin dan takut gak kalau suatu saat orangtua kita bisa meninggal? Kadang gue ngerasa pengen mati muda, you know, biar gue gak usah ngeliat mereka -semua orang yang gue sayangin- meninggal.

Ya, kematian ngebuat gue ngerasa gak nyaman. Adeknya salah satu temen gue meninggal kemaren. Dia masih duduk di bangku SD. You see, hal-hal mengejutkan seperti ini ngebuat gue ngerasa bahwa semua yang kita punya sekarang ini bisa aja diambil. Seolah-olah benang yang nyambungin idup kita bisa dipotong begitu aja. Lalu ilang. Gak ada lagi. Nothing matters.

Secara kebetulan, sewaktu membuka email kemaren, seorang teman gue lulusan Filsafat UGM, Adi Baskoro, mengirimkan email berisi essai yang membedah buku Radikus Makankakus secara filosofis. Dalam esainya, dia membedah tulisan gue tentang kematian dan hidup dalam buku Radikus Makankakus. Ini cuplikannya:

“Kisah Radith semasa SMA mengandung pertanyaan klasik mendasar tentang apa itu hidup [Arti Hidup? , Radikus Makankakus halaman 87].Yakni ketika ketika Radith presentasi pada pelajaran Biologi soal asal usul kehidupan. Walaupun berujung tak terjawab, kisah Radith semasa SMA cukup mengusik ketenangan kita. Juga soal meninggalnya Bu Irfah dan keluarganya secara tak disangka-sangka. Kisah ini cukup untuk membuat kita hening sejenak dan melupakan tawa. Mengakui adanya peristiwa kematian adalah mengakui konsekuensi dari eksistensi, seperti kata Martin Heidegger, seorang filsuf Jerman.”

Sejujurnya, sewaktu gue nulis cerita itu, gue juga semakin berpikir tentang kematian. Gue jadi inget, seorang filsuf Amerika, Mark Conard, pernah menulis esai God, Suicide, and the Meaning of Life yang membedah film-film Woody Allen dan hubungannya tentang hidup. Nah, dalam esai itu, dengan menggunakan cerita film Shadows and Fog-nya Woody Allen sebagai alat bantu, Mark Conrad mengatakan, “Kita butuh distraction, kita butuh ilusi dan penipuan-diri, untuk menghindarkan kita terhadap “kenyataan menyakitkan dari hidup”. Kenyataan, bahwa apa yang kita punya sekarang hanyalah sementara. Engga ada kekal, engga ada yang selamanya.”

Memang, ilusi-ilusi kesenangan yang kita ciptakan ini: jatuh cinta, bekerja di bidang yang disukai, nonton film, marathon DVD sampai pagi, makan sampai kekenyangan, bisa membantu kita dalam menghadapi kenyataan paling pahit dalam hidup.. kita bisa aja tiba-tiba mati.

Ah, nulis cerita Arti Hidup dalam Radikus Makankakus, ngebuat gue jadi takut lagi pada kematian. Tapi, memang “distraction” adalah kata kuncinya untuk tetap jalan seperti biasa tanpa memikirkan kematian. Seperti yang ada dalam film September-nya Woody Allen, Stephanie berkata pada Lane yang mencoba untuk bunuh diri:

Stephanie: Besok akan datang dan kamu akan menemukan beberapa distraction. Kamu akan pergi dari tempat tempat ini, kamu akan kembali ke kota, kamu akan bekerja, kamu akan jatuh cinta, dan mungkin itu akan work out, atau mungkin tidak, tapi kamu akan menemukan sejuta hal-hal kecil yang akan membuat kamu terus berjalan, dan distraction yang akan menjauhkan kamu dalam memikirkan…
Lane: Kebenaran.

Maka, ketika Sabtu kemarin ada temen gue curhat, “Gue gak seneng deh ama pacar gue. Berantem mulu kerjaannya. Dia tuh demanding banget. Manja, dikit-dikit ngambek, dikit-dikit marah, pake teriak-teriak pula.” Gue cuman bisa bilang, “Lah, pacaran sama yang gitu-gituan kan hanya distraction kita. Pil injeksi kesenangan. Kalo udah kebanyakan gak enak daripada enaknya ngapain diterusin? Hidup terlalu singkat buat dijalanin dengan rasa gak nyaman.”

Balik ke Woody Allen, karakter-karakter dalam filmnya, walaupun mereka selalu takut dan insecure atas kematian, karakter-karakter ini menanggapinya dengan biasa: mereka semua seolah-olah hidup bahagia, terlepas dari semua chaos, kekosongan, dan kedinginan alam semesta yang mereka alami. Mereka bisa berinvestasi dalam kehidupan individual masing-masing dengan menggunakan nilai-nilai dan pemahaman sebuah relationship sebagai sarana untuk itu.

mirip gak ama gue? hehehe
Woody Allen lupa minum panadol

That’s what I love from Woody Allen. Dia selalu bisa menghadirkan humor kontemplatif yang memberitahu bahwa ketawa aja gak cukup, tapi kita butuh pemahaman. Atau seperti kata Socrates, “An unexamined life is a life not worth living.” Sebuah hidup tanpa pemahaman, adalah hidup yang tak layak untuk dijalani. Sedangkan, humor yang bagus, menurut gue, adalah humor yang membuat kita berpikir, and that’s what Allen do best.

Lanjut, seperti tokoh Ben yang religius dalam film Crimes-nya Woody Allen, kita juga mempunyai Tuhan untuk bersandar, dan menjadi sarana untuk menjalani hal-hal keras dalam hidup. Berhubungan dengan Tuhan, bulan Ramadhan, dan kematian; setidaknya kita saat ini bisa “nabung” pahala. Setidaknya, ketika kematian itu datang dan membawa kita pergi ke alam lain itu, kita bisa berada di tempat yang lebih baik. Tempat yang engga cuman ilusi, tapi kekekalan penuh rasa senang, dan kebanggaan karena kita bisa menaklukan hidup, dan pada akhirnya.. end up eternally happy.