suatu minggu di ratu plaza

Comment by Email

di simpan di : sehari-hari
July 2, 2007 , 10:18 am

Minggu adalah hari beli DVD buat gue, hari dimana gue akan ngubek-ngubek satu Ratu Plaza untuk nyari DVD terbaru atau TV series yang mau gue tonton. Beberapa waktu lalu gue lagi asik ngubek-ngubek satu toko, sampai kemudian ada penjaga toko sebelah yang dateng lalu nanya penjaga toko yang lagi gue datengin.

Penjaga toko sebelah (P 1): Mbak, mbak, ada pelanggan nanyain DVD nih..
Penjaga toko yg gue datengin (P 2): Apa Mas?
P 1: Dia nyari DVD di toko saya, tapi gak ada.. agak malu sih ngomongnya..
P 2: Apa emang?
P 1: Judulnya.. SEKS!

Gue yang daritadi lagi ngubek DVD di toko itu langsung berhenti.
Buset, ada gitu DVD judulnya Seks? Ekstrim banget.

P 2: SEKS? Udah gitu doang?
P 1: Iya, tuh orangnya ngeliatin. Aneh banget, aku belom pernah denger deh film baru judulnya SEKS.
P 2: Seks? Film baru?

Si mbak-mbak itu akhirnya manggil temennya yang ada di kejauhan.

P 2: (sambil tereak) HOI! LO TAU DVD SEKS GAK?
Temennya P 2: SEKS? GAK TAU! FILM SEKS, GAK JUAL!

Si temennya ngira justru si mas-mas ini adalah lelaki hidung belang,
mencari DVD bokep.

P 2: Kita gak jualan film seks tuh mas..
P 1 (merasa terhina): Engga! Bukan film seks! Katanya filmnya lucu!
P 2: Ada gitu film komedi judulnya seks?! SEKS?
P 1: Iya, coba ditanya..
P 2: (sambil tereak) HOI! KATANYA FILM SEKSNYA FILM LUCU!

Gue masih mendengar percakapan itu dengan terpana.

P 2: Gak ada tuh mas.
P 1: Oh iya, sampulnya ijo kok, filmnya judulnya SEKS, sampulnya ijo..

Gue mendapat pencerahan.

Gue: (sambil ngambil DVD Shrek) Shrek kali ya mas judulnya?!
P 1: AAAAAAAH! IYA! IYA KALI YA! SHREK!
P 2: OOOOH SHREK! ITU EMANG LUCU, TAPI BUKAN SEKS!

Dia lalu pergi ke pelanggannya dan memberikan signal “bener, ini filmnya”
Gubrak.

Oh ya, minggu ini gue mo nonton seinfeld season 4,5,6 dan baru memulai nonton serial tv-nya David E. Kelley (yg bikin Ally McBeal) berjudul Boston Legal. Gue baru nonton episode pertama, en kayaknya bakalan seru banget. I dunno, entah kenapa gue suka serial trial drama gini. Jadi pengen jadi lawyer (telat bener yak).

setelah penyerahan naskah

Comment by Email

di simpan di : menjadi penulis
June 27, 2007 , 4:10 am

Oh ya, sebelum lupa, buat temen-temen di Bandung, gue ada talkshow di..

Pesta Buku Murah Bandung 2007
Paris Van Java, Bandung
Sabtu, 30 Juni 2007
18.30 – 20.00
Panggung Utama (Depan Gramedia)

Oke deh,
sampai ketemu di sana yak!

On an unrelated note, akhirnya gue menyerahkan naskah buku ketiga gue ke redaksi Gagasmedia minggu lalu. Ada perasaan geli-geli basah setiap kali gue ngasih naskah baru ke Gagas, semacem perasaan gelisah, penasaran, dan gak sabar ngeliat bukunya terbit. Tadinya sih, gue pengen tuh buku ketiga keluar bulan September, tapi pas ngasih ke Redaktur Pelaksana Gagas, Mbak Windy, gue bilang..

Gue: Mbak Windy, terbitnya gak usah September aja deh..
Mbak Windy: Jadi?
Gue: Yah, aku terserah Gagas aja.. kalo bisa sih cepetan..
Mbak Windy: Katanya tadi terserah?!
Gue: Terserah, tapi lebih cepet dari September..
Mbak Windy: Dit, namanya itu bukan terserah!
Gue: TERSERAH DEHHHH!

Sama halnya ketika gue ngasih lihat design covernya (gue berusaha design sendiri tiap cover buku gue, makanya jelek semua mehehehe)..

Gue: Mbak Windy, ini design cover bukunya
Mbak Windy: Oke..
Gue: Terserah aja ntar mo digimanain, pokoknya kayak gini dari aku
Mbak Windy: Oke..
Gue: Kalo bisa sih gak banyak berubah, gini aja..
Mbak Windy: KATANYA TERSERAH!

Untuk judul bukunya, gue dapetin tuh judul baru tiga hari sebelum naskah dikasih ke Gagasmedia. Nyari judul buku emang susah mampus, harus yang unik dan menarik. Setelah pertapaan yang cukup panjang (dan dapet inspirasi dari nungguin nonton film di 21) akhirnya gue dapet judul yang pas. Untuk judulnya, Mbak Windy bilang, “Lucu nih judulnya!” Judulnya apa? Ada deeeh. Hehe.

Yang lucu sebenernya proses penulisan buku terbaru gue ini, karena gue nulis nih buku dan ngumpulin bahan mulai dari Cinta Brontosaurus keluar.. eh tau-tau jadi buku! So, sekarang tuh buku ada di Gagasmedia, gue gak tau dapet jadwal di-edit kapan, begitu selesai di-edit mereka akan setting untuk pra-cetak, abis itu dicetak dan akhirnya masuk ke toko buku. I hope it wont take too long! :)

PS: Gue udah ngapus comment moderation, jadi semua orang bisa langsung comment tanpa harus gue approve. Gue baru tau caranya soalnya, gue kira kalo pake Worpress (dan jujur, lebih keren ini daripada pake Blogger.com) semua comment harus di moderate. Hehe. :P

studying comedy

Comment by Email

di simpan di : lagi bener, menjadi penulis
June 22, 2007 , 10:56 am

Banyak orang yang gak tahu, sebenernya menulis komedi itu gak cuman bermodal “genetik” dan “bakat” ngelucu aja. Emang sih, ada orang yang punya bakat untuk bisa membuat komentar-komentar bego dan langsung diketawain orang, tapi sebenernya komedi itu lebih banyak ke arah seni dibandingkan science. Nah, seperti kebanyakan seni, teknik-tekniknya bisa dipelajari.

Tema ini gue sempet bawa waktu acara Rotaract di Wahid Institute, di mana gue mencoba untuk presentasi makalah super singkat gue yang berjudul “Tentang Menulis Komedi”. Tapi, dasar gue orangnya gak bisa serius, waktu presentasi makalah cuman kepake 10 menit, sisanya cerita-cerita pengalaman nulis dengan bodohnya.

Eniwei, gue coba buat ringkasan terhadap makalah super singkat gue,
dan berharap bisa berbagi buat temen-temen pembaca di sini. I’m open for discussion! :)

gaya banget

Sewaktu masih di Australia, gue suka banget nonton stand-up comedy dan menganalisa bagaimana bermacam-macam orang ngelawak. Sesuai dengan namanya, stand-up comedy berarti stand-up (berdiri) di atas panggung, memegang mic sendirian, lalu menceritakan jokes-jokes secara langsung. Hal ini pernah dicoba oleh Taufik Savalas di acara Comedy Club, tapi gak berhasil karena Taufik Savalas hanya menghapalkan cerita-cerita lucu dari buku, bukannya membuat cerita dan personality-nya sendiri. Stand up comedy sangat berbeda dengan “menceritakan cerita lucu”.

Dengan ngebedah stand-up comedy gue jadi tahu bahwa semua joke itu terdiri dari dua buah kompenen dasar. Pertama setup, yaitu penjelasan dari sebuah joke, bagian dari joke itu sendiri yang tidak untuk ditertawai tapi menjadi sebuah eksposisi atau pengantar dari joke itu sendiri. Setup akan mengarah kepada punch line, ini adalah bagian yang lucu dari sebuah joke.

Berikut ini contoh dari joke dengan tipe observational comedy yang dilakukan oleh Jerry Seinfeld:

SET-UP:
Kenapa orang harus memberikan bunga? Untuk merayakan cinta saja mereka kok harus membunuh makhluk hidup, kenapa harus dibatasi dengan bunga saja?

PUNCHLINE:
Kenapa gak bilang, “Sayang, baikan yuk. Nih, bangkai tupai.”

Kita bisa mengadaptasi ini untuk novel atau tulisan komedi yang kita buat, set up bisa terdiri dari beberapa kalimat, bahkan beberapa paragraf. Contoh lain dari penggunaan setup dan punchline dapat kita lihat berikut, yang gue coba buat sendiri…

SET-UP:

Edgar mengambil botol minum, tas ransel, dan kotak makanannya. Dia memang masih kelas 4 SD, tapi sifat rajinnya udah mulai muncul. Edgar tersenyum kepada ibunya dan berkata, “Mak! Berangkat sekolah dulu ya.”
Ibunya bilang, “Oke. Hati-hati di sekolah ya.”

PUNCH-LINE:

“Edgar! Tunggu!” Bapaknya keluar dari ruang tamu dan menghampirinya. “Kamu belum bercelana, Nak!”

Menurut gue, menganalisa hubungan setup dengan punchline sebanyak-banyaknya komedian yang kita tahu, bisa membuat kita jadi semakin tajam membuat joke sendiri.

Gue setuju banget dengan apa yang ditulis Sastrawan Pilihan Tempo 2004 yang sempet jadi bos gue, AS Laksana, di harian Pikiran Rakyat: “riwayat hidup seorang penulis biasanya adalah juga riwayat hidup seorang pembaca. Ia melahap banyak bacaan, penasaran pada karya-karya yang sudah ditulis orang, dan kemudian menjadi penulis. Pada mulanya mungkin ia melakukan beberapa peniruan (bukan penjiplakan); itu proses yang wajar untuk akhirnya menemukan otentitas.”

Di Indonesia, gue suka sama Samuel Mulya, menurut gue dia termasuk orang yang benar-benar tajam, lucu, dan cerdas sekaligus sewaktu menulis kolomnya yang hadir di Kompas akhir pekan. Gaya humornya yang kasual, cynical, dan sarkastik bisa membuat pembaca tersenyum dan mengangguk-angguk sendiri.

Di Amerika sendiri, komedi telah menjadi sebuah industri besar. Mereka berhasil menelurkan komedian-komedian baru yang mengambil perspektif yang sangat unik. Membedah bagaimana American comics (orang yang bekerja sebagai stand up comedian) perform di atas panggung dengan jokes-jokesnya itu sangat menyenangkan. Aura dan personality mereka pun bermacam-macam. Robin Williams sang improvisationalist terlihat seperti orang yang kerjaannya marah melulu. Jerry Seinfeld mengungkapkan keheranannya dengan dunia kita sehari-hari (observational comedy). David Letterman bener-bener wacky. Woody Allen.. wow, he’s just the best! Salah satu transkrip dari komedian paling intelek sepanjang zaman (menurut gue), Woody Allen, bisa dibaca sepenuhnya di http://ibras.dk/comedy/allen.htm.

Itu tadi para stand up comedian, kalau untuk penulis komedi, gue suka memperhatikan bagaimana Hilman Hariwijaya dengan kosakatanya yang lucu dapat ngebuat gue ketawa geli, atau gimana Sophie Kinsella yang pendekatan komedinya lebih ke situasional. David Sedaris, dengan bukunya yang baru diterjemahkan Me Talk Pretty One Day (Transmedia, 2007) jago banget ngebuat humor dengan what-if-nya dia. Sekali lagi, gue termasuk orang yang percaya semakin banyak stand up comedian yang kita tonton, dan buku humor yang kita baca, semakin tajam insting kita untuk menulis komedi.

Tapi ingat, tentu aja ada perbedaan mendasar antara mempelajari dengan meng-copy. Yang boleh dilakukan, untuk pembelajaran, adalah menganalisa struktur komedi dan formula komedi yang orang lakukan lalu menuliskannya kembali (rewrite). Dengan rewriting kita pasti akan punya gambaran jelas dalam menemukan gaya komedi sendiri.

Wah, kok jadi panjang ya..
Hehehe..

Ada banyak hal lagi yang sebenernya pengen dibahas, seperti gue kemaren baru aja baca buku yang membedah komedi secara filosofis dengan Schopenhauer sebagai pisau analisanya. Yang dibedah? Jokes-jokesnya Woody Allen di film Annie Hall. Menarik banget! Tapi itu untuk lain waktu kali ya.. Hehe.

Intinya, komedi itu suatu dunia luas untuk ngejawab satu pertanyaan..
Pertanyaan yang sebenernya, simpel banget: “Apa yang membuat saya tertawa?”

PS: Tengkiu berat buat club Rotaract yang mengundang gue di Wahid Institute. Foto-foto lain bisa dilihat di web para peserta Ardian, Yuniar, Jejen, Tuhu