studying comedy

Banyak orang yang gak tahu, sebenernya menulis komedi itu gak cuman bermodal "genetik" dan "bakat" ngelucu aja. Emang sih, ada orang yang punya bakat untuk bisa membuat komentar-komentar bego dan langsung diketawain orang, tapi sebenernya komedi itu lebih banyak ke arah seni dibandingkan science. Nah, seperti kebanyakan seni, teknik-tekniknya bisa dipelajari.

Tema ini gue sempet bawa waktu acara Rotaract di Wahid Institute, di mana gue mencoba untuk presentasi makalah super singkat gue yang berjudul "Tentang Menulis Komedi". Tapi, dasar gue orangnya gak bisa serius, waktu presentasi makalah cuman kepake 10 menit, sisanya cerita-cerita pengalaman nulis dengan bodohnya.

Eniwei, gue coba buat ringkasan terhadap makalah super singkat gue,
dan berharap bisa berbagi buat temen-temen pembaca di sini. I'm open for discussion! :)

gaya banget

Sewaktu masih di Australia, gue suka banget nonton stand-up comedy dan menganalisa bagaimana bermacam-macam orang ngelawak. Sesuai dengan namanya, stand-up comedy berarti stand-up (berdiri) di atas panggung, memegang mic sendirian, lalu menceritakan jokes-jokes secara langsung. Hal ini pernah dicoba oleh Taufik Savalas di acara Comedy Club, tapi gak berhasil karena Taufik Savalas hanya menghapalkan cerita-cerita lucu dari buku, bukannya membuat cerita dan personality-nya sendiri. Stand up comedy sangat berbeda dengan “menceritakan cerita lucu”.

Dengan ngebedah stand-up comedy gue jadi tahu bahwa semua joke itu terdiri dari dua buah kompenen dasar. Pertama setup, yaitu penjelasan dari sebuah joke, bagian dari joke itu sendiri yang tidak untuk ditertawai tapi menjadi sebuah eksposisi atau pengantar dari joke itu sendiri. Setup akan mengarah kepada punch line, ini adalah bagian yang lucu dari sebuah joke.

Berikut ini contoh dari joke dengan tipe observational comedy yang dilakukan oleh Jerry Seinfeld:

SET-UP:
Kenapa orang harus memberikan bunga? Untuk merayakan cinta saja mereka kok harus membunuh makhluk hidup, kenapa harus dibatasi dengan bunga saja?

PUNCHLINE:
Kenapa gak bilang, “Sayang, baikan yuk. Nih, bangkai tupai.”

Kita bisa mengadaptasi ini untuk novel atau tulisan komedi yang kita buat, set up bisa terdiri dari beberapa kalimat, bahkan beberapa paragraf. Contoh lain dari penggunaan setup dan punchline dapat kita lihat berikut, yang gue coba buat sendiri...

SET-UP:

Edgar mengambil botol minum, tas ransel, dan kotak makanannya. Dia memang masih kelas 4 SD, tapi sifat rajinnya udah mulai muncul. Edgar tersenyum kepada ibunya dan berkata, “Mak! Berangkat sekolah dulu ya.”
Ibunya bilang, “Oke. Hati-hati di sekolah ya.”

PUNCH-LINE:

“Edgar! Tunggu!” Bapaknya keluar dari ruang tamu dan menghampirinya. “Kamu belum bercelana, Nak!”

Menurut gue, menganalisa hubungan setup dengan punchline sebanyak-banyaknya komedian yang kita tahu, bisa membuat kita jadi semakin tajam membuat joke sendiri.

Gue setuju banget dengan apa yang ditulis Sastrawan Pilihan Tempo 2004 yang sempet jadi bos gue, AS Laksana, di harian Pikiran Rakyat: “riwayat hidup seorang penulis biasanya adalah juga riwayat hidup seorang pembaca. Ia melahap banyak bacaan, penasaran pada karya-karya yang sudah ditulis orang, dan kemudian menjadi penulis. Pada mulanya mungkin ia melakukan beberapa peniruan (bukan penjiplakan); itu proses yang wajar untuk akhirnya menemukan otentitas.”

Di Indonesia, gue suka sama Samuel Mulya, menurut gue dia termasuk orang yang benar-benar tajam, lucu, dan cerdas sekaligus sewaktu menulis kolomnya yang hadir di Kompas akhir pekan. Gaya humornya yang kasual, cynical, dan sarkastik bisa membuat pembaca tersenyum dan mengangguk-angguk sendiri.

Di Amerika sendiri, komedi telah menjadi sebuah industri besar. Mereka berhasil menelurkan komedian-komedian baru yang mengambil perspektif yang sangat unik. Membedah bagaimana American comics (orang yang bekerja sebagai stand up comedian) perform di atas panggung dengan jokes-jokesnya itu sangat menyenangkan. Aura dan personality mereka pun bermacam-macam. Robin Williams sang improvisationalist terlihat seperti orang yang kerjaannya marah melulu. Jerry Seinfeld mengungkapkan keheranannya dengan dunia kita sehari-hari (observational comedy). David Letterman bener-bener wacky. Woody Allen.. wow, he's just the best! Salah satu transkrip dari komedian paling intelek sepanjang zaman (menurut gue), Woody Allen, bisa dibaca sepenuhnya di http://ibras.dk/comedy/allen.htm.

Itu tadi para stand up comedian, kalau untuk penulis komedi, gue suka memperhatikan bagaimana Hilman Hariwijaya dengan kosakatanya yang lucu dapat ngebuat gue ketawa geli, atau gimana Sophie Kinsella yang pendekatan komedinya lebih ke situasional. David Sedaris, dengan bukunya yang baru diterjemahkan Me Talk Pretty One Day (Transmedia, 2007) jago banget ngebuat humor dengan what-if-nya dia. Sekali lagi, gue termasuk orang yang percaya semakin banyak stand up comedian yang kita tonton, dan buku humor yang kita baca, semakin tajam insting kita untuk menulis komedi.

Tapi ingat, tentu aja ada perbedaan mendasar antara mempelajari dengan meng-copy. Yang boleh dilakukan, untuk pembelajaran, adalah menganalisa struktur komedi dan formula komedi yang orang lakukan lalu menuliskannya kembali (rewrite). Dengan rewriting kita pasti akan punya gambaran jelas dalam menemukan gaya komedi sendiri.

Wah, kok jadi panjang ya..
Hehehe..

Ada banyak hal lagi yang sebenernya pengen dibahas, seperti gue kemaren baru aja baca buku yang membedah komedi secara filosofis dengan Schopenhauer sebagai pisau analisanya. Yang dibedah? Jokes-jokesnya Woody Allen di film Annie Hall. Menarik banget! Tapi itu untuk lain waktu kali ya.. Hehe.

Intinya, komedi itu suatu dunia luas untuk ngejawab satu pertanyaan..
Pertanyaan yang sebenernya, simpel banget: "Apa yang membuat saya tertawa?"

PS: Tengkiu berat buat club Rotaract yang mengundang gue di Wahid Institute. Foto-foto lain bisa dilihat di web para peserta Ardian, Yuniar, Jejen, Tuhu


lagi bener