Untungnya Pacar Saya Tidak Mirip Megawati

Comment by Email

di simpan di : lagi bener
May 14, 2009 , 5:35 pm

Gue lagi pending dulu ngerjain buku kelima dan komik kambingjantan 2. Soalnya, gue lagi Ujian Akhir Semester. Ini berarti begadang ampe pagi ngerjain makalah, fotocopy semua bahan yang ketinggalan, daaaan mempersiapkan otot mata supaya nyonteknya lancar. Haaaaah… nasib jadi mahasiswa gak lulus-lulus. :P

Ngomong-ngomong soal kuliah, karena gue kuliah di Politik UI, gue seneng banget untuk tahu ada website politik 2.0 di mana temen-temen bisa belajar/menulis soal politik, bernama Politikana. Wajib ikut.

Gue sempet nulis satu artikel di sana, ini gue post di ini, itung-itung jadi postingan ganjelan. Hehehe. :P Tulisan asli beserta komentar orang-orangnya bisa dilihat di sini http://politikana.com/baca/2009/05/08/dia-masuk-dpr-soalnya-mukanya-mirip-pacar-gue.html

***

Kadang saya berpikir tentang teman-teman muda saya yang memilih dengan kurang rasional sewaktu pemilihan legislatif lalu. Alasan-alasan mengapa mereka memilih seorang caleg -yang sebenarnya seharusnya lebih kepada performa politik, background, integritas, dan visi-misi mereka- terkadang sangat absurd.

Salah satu teman yang saya kenal menyatakan bahwa “Gue milih si Anu, soalnya itu temennya pacar gue”. Kabar terakhir, si Anu masuk DPR. Beruntunglah si Anu karena berteman dengan orang yang benar.

Teman yang lain, menyatakan memilih si Ani karena menurut dia, “Titelnya paling banyak. Berarti dia pinter.”

Ada yang memilih dengan sangat asal: begitu masuk bilik suara dia langsung mencoblos salah satu nama secara random, benar-benar ngacak, kalau ada waktu lebih -biar lebih ngacak- dia mungkin akan berputar-putar sampai muntah, baru menyoblos lalu kemudian pingsan. “Yang beruntung yang terpilih,” begitu moto dia.

Ada teman yang ketika sudah di bilik suara, kebingungan, dia lalu menelepon temannya minta diberikan petunjuk. Seakan-akan ini adalah Who Want’s to Be A Millionaire, dan dia baru menggunakan bantuan Phone a Friend.

Ada seorang teman, kali ini sudah cukup tua, yang memilih karena nomor urut si caleg rendah. Katanya dengan muka serius, “Nomor urut rendah, biasanya berarti dia gak punya banyak duit buat beli nomor urut yang atas, kita kan harus membela orang yang lemah!”. Sungguh, baik hati sekali teman saya itu. Saya jadi merasa terharu.

Sebelum pemilu berlangsung, beberapa teman saya first time voters yang baru lulus SMU ramai-ramai merencanakan memilih seorang X dari Gerindra karena kata mereka “Ih dia ganteng banget lho di baliho itu”. Mereka kompakan, janjian ingin memilih X. Pada akhirnya, mereka mengurungkan niat untuk untuk memilihnya karena “pas di tipi ternyata jelek!” Gedubrak.

Tentu, tidak semua teman muda saya seperti itu.

Ada mereka yang memang informed voters, terutama teman kampus. Yah, walaupun kebanyakan juga pseudo-intellectual juga (you know, yang di setiap percakapan bawaannya nge-quote Hegel, Weber, atau Marx. Berasa keren ya, Bang?). Tapi setidaknya, mereka lebih punya basis yang lebih “asik” dalam memilih.

Kembali lagi, salah satu alasan paling absurd dari teman saya ketika menentukan pilihannya, get this: “Gue milih dia habisnya, mukanya mirip pacar gue.”

Gedubrak.

Bisa jadi, mereka yang terpilih di DPR adalah mereka yang mukanya paling banyak mirip dengan pacar orang-orang, mereka yang ganteng, atau mereka yang punya banyak titel. Either way, ada yang salah dengan sosialisasi parpol atau ada yang salah dengan anak-anak muda… atau mungkin, saya berteman dengan orang yang salah.

Bagaimana dengan Pilpres nanti?
Masih ada alasan ganteng, banyak titel, mirip pacar?

Entahlah,
Tapi untungnya, pacar saya tidak mirip Megawati.

Responses are currently closed, but you can trackback from your own site.

Comments are closed.