Berikut ini beberapa catatan saya soal membaca:
1. Saya membaca karena saya tidak suka rugi. Membaca itu adalah return investment terbaik yang bisa kita lakukan dengan waktu kita. Terutama untuk buku non-fiksi. Bayangkan, seorang penulis non-fiksi bisa tahunan menulis buku pemikirannya, riset, editing, revisi, untuk bisa menulis sebuah buku yang kita lahap habis dalam satu minggu. Hasil kerja seseorang selama bertahun-tahu masuk ke dalam kepala kita hanya dalam hitungan hari. Betapa menguntungkannya membaca buku itu.
Tapi, ini bukan berarti membaca buku fiksi tidak ada gunanya. Membaca buku fiksi memupuk rasa empati: kita merasakan hidup di tokoh orang lain. Kita tahu persoalan orang lain, bagaimana dia mengatasi konflik, bagaimana dia bersikap adil, bagaimana orang jahat bisa kena batunya.
Membaca buku fiksi, berarti nyawa kita masuk ke dalam badan karakter-karakter rekaan ini, membiasakan diri melihat dunia dengan perspektif yang beda. Membuat kita lebih rileks menghadapi perbedaan pendapat dan prinsip orang lain.
2. Cara saya membaca buku adalah dengan mencicilnya sedikit demi sedikit. Saya baca beberapa halaman di bandara ketika menunggu pesawat. Ketika sudah duduk di pesawat, saya baca beberapa halaman berikutnya. Tahu-tahu sudah setengah buku yang habis terbaca.
Bookmark saya sering hilang. Awalnya saya lipat bagian kanan atas buku setiap kali selesai membaca. Nah, lama-kelamaan kasian juga bukunya jadi jelek terlipat-lipat. Akhirnya sekarang saya menggunakan trading card untuk menandai halaman. Selain sayang kalau kartunya hilang, tapi juga lucu saja kalau kita lihat.
Saya bisa membaca dimana saja. Di mobil, di pesawat, kadang di keramaian. Setelah saya rutin jalan kaki untuk merawat badan dan kesehatan, sekarang saya jadi terbiasa untuk membaca di atas treadmill. Jangan ditiru ya, ini lumayan berbahaya kalau tidak biasa melakukannya.
3. Biasanya, saya membaca buku yang sesuai dengan project yang saya lakukan. Ketika saya mengawali karir sebagai penulis dan bingung cara menjual buku, saya membaca habis buku Guerilla Marketing For Writers, yang anehnya masih relevan sampai sekarang.
Dalam buku tersebut, penulisnya mengajarkan cara-cara “budget” bagaimana kita bisa menjual buku kita. Penulis yang budgetnya terbatas seperti saya dulu makanya bisa menjadi memasarkan buku saya sendiri.
Saya percaya semua bisa dipelajari dan semua ada bukunya. Ketika kuliah dulu saya hampir setiap hari ke perpustakaan, karena di Adelaide University, perpustakaan sampai dua lantai ke bawah tanah. Di sana saya pernah ketiduran sampai diusir. Di masa-masa itu saya baca semua buku soal penulisan, karena masih aktif menulis blog. Setelah itu saya baca cara menulis skenario, sampai ke cara menulis komedi.
Pada saat kuliah juga saya bertemu dengan buku-buku filsafat. Bidang keilmuan ini juga berpengaruh banyak terhadap diri saya. Karena buku filsafat saya jadi belajar menjawab “kenapa”. Kenapa orang tertawa? Kenapa cinta bikin sakit sakit? Kenapa hal-hal di dunia ini terjadi? Ini modal besar untuk membuat saya menganalisa hidup saya sendiri. Menaruh apa yang saya alami di dalam mikroskop untuk diteliti. Ini ternyata menjadi modal besar untuk karir saya nanti. Mencari kegelisahan muaranya dari sini.
Jadi, supaya lebih inilah tips praktif untuk kalian yang mau mulai baca: perlakukan buku sebagai alat bantu project kalian. Di kantor bingung karir gak naik? Baca buku soal pengembangan karir. Susah lepas dari trauma? Baca buku soal sembuh dari pengalaman masa lalu. Selalu ada buku untuk membantu hidup kalian. Jangan baca buku yang populer tanpa tahu apa efek buku itu terhadap diri kalian.
Di satu sisi, tidak membaca sampai habis juga tidak apa-apa. Tidak perlu berpikir semua buku harus habis. Kalau tidak seru, tinggalkan.
4. Buku yang saya baca biasanya ada dua kategori: untuk pengayaan cara pikir, ini buku-buku Ryan Holiday soal Stoikisme misalnya, atau buku Die With Zero yang mengubah cara pandang saya tentang mengumpulkan uang. Atau kategori berikutnya adalah buku yang mengajarkan teknik. Teknik menulis, teknik persuasi, teknik bicara sama orang.
Sedangkan untuk fiksi, sejujurnya belakangan ini saya sudah jarang membaca buku fiksi, terutama novel. Saya lebih senang membaca cerpen seperti kumpulan cerpen-cerpen di majalah New Yorker. Untuk ini, New Yorker bahkan punya podcast yang membahas cerpen-cerpen yang ada di majalah mereka. Jadi, membaca dan mempelajarinya jadi lebih seru.
Waktu kecil memang saya lebih berat ke fiksi. Di usia sekarang, saya lebih banyak membaca non-fiksi.
5. Ketika sekarang saya aktif bikin podcast, saya jadi semakin sering membaca buku. Ini karena ternyata membaca buku membuat saya jadi better podcast host.
Membaca buku buat saya untuk mengisi tanki percakapan. Sehingga ketika ada topik menarik yang tamu saya ucapkan, saya bisa mengambil referensi dari buku yang saya baca. Hal ini sering saya lakukan ketika bicara dengan tamu-tamu saya. Sebagai contoh, jika sedang ngobrol dengan seorang seniman, saya bisa me-referensi beberapa pemikiran di buku Real Artist Don’t Starve yang bisa me-reframe percakapan saya dengan tamu dari sisi yang lain. Ini membuat podcast saya selalu ada yang bisa dibicarakan.
Membaca fiksi membuat berbicara juga menjadi mengalir. Karena dalam fiksi, narasi dibangun dari logika antar-kalimat. Kita berbicara dengan konteks membuat cerita maju. Ini yang membuat berbicara di podcast juga menjadi runut.
Membaca buku membuat kita pasif dalam menerima informasi. Ini juga bisa berguna dalam dunia podcasting. Dengan biasa menerima informasi secara pasif, membuat kita biasa juga mendengarkan. Kita dengar, rekoleksi, lalu tanggapi. Membaca buku secara rutin melatih otot untuk mendengarkan.
Terakhir, dengan membaca buku kita memperluas cara kita mengungkapkan isi kepala. Kita belajar cara memperluas spektrum perasaan. Bukan hanya “gue capek” tapi bisa menjadi “gue sedih kok kerjaan kayak gak abis tapi kalau mengeluh jadinya gak bersyukur”. Elaborasi perasaannya jadi lebih luas. Emosinya lebih kompleks buat disampaikan.
6. Saya berpendapat kalau orang tidak suka baca buku ya juga gak apa-apa. Tidak semua orang juga harus baca. Pola konsumsi informasi juga bisa berubah. Sekarang ada blog, newsletter, audio book. Jadi gak perlu merasa secara intelektual lebih inferior jika tidak gemar membaca buku.
Di sisi yang lain, kalau mau tertarik baca buku, bisa dengan baca yang ringan-ringan dan sesuai dengan minat. Kalau sukanya cerita horor, bisa baca buku Goosebumps yang serem-serem. Jika suka baca cerita tentang olahraga bisa baca banyak novel soal olahraga. Intinya, baca buku juga tidak perlu harus “berat” dan ambisius.
Saya pribadi lebih senang membaca cerpen karena lebih pendek waktu konsumsinya. Jika saya tertarik sama salah satu penuh setelah membaca cerpen itu pun saya juga bisa lanjut mencari novel yang ditulis.
7. Kegemaran saya terhadap buku nampaknya muncul dari kebiasaan orang tua saya dulu membelikan buku banyak-banyak ketika saya kecil. Dimulai dari saya bisa membaca, saya sudah melahap banyak buku yang dibelikan oleh orang tua. Saya masih ingat, dulu saya dibelikan Ensiklopedia Disney, di dalamnya ada berbagaimacam hal tentang dunia yang membuat saya tertarik.
Selanjutnya, saya semakin tenggelam dalam buku karena memang dari kecil saya tidak terlalu punya banyak teman. Buku adalah “rumah” buat saya. Saya bisa berlindung di dalam dunia rekaan di dalam cerita-cerita dalam buku tersebut. Jadi orang lain di dunia yang lain, tenggelam dalam imajinasi.
Inilah kenapa saya senang sekali ketika saya mengantarkan Alea, anak saya, ke sekolah, dan menemukan tulisan “Reading is Magical” di tembok sekolah. Saya tanya ke Alea, ‘Emang artinya apa, Kak, reading is magical?’ Dia bilang, ‘Artinya membaca itu bisa bikin kita ke macam-macam dunia, Pa. It’s magical.’ Mata dia berbinar-binar.
Sampai sekarang anak-anak saya suka membaca. Saya juga senang masih punya perasaan yang sama dengan buku hingga saat ini. Memang benar, magical.